Bung, Ambalat itu bukan pulau, tapi perairan...:)
----- Original Message -----
From: "Hery Hadityo Sugiarto" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Friday, March 04, 2005 2:14 PM
Subject: RE: [ppiindia] DPR: Lawan Malaysia!


>
> Buat teman2 mailing list ada yang punya peta pulau yang disengketakan ini
?
> mohon bantuannya untuk dikirim via japri di [EMAIL PROTECTED] terima
> kasih
>
> -----Original Message-----
> From: yono buddi [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: 04 Maret 2005 14:01
> To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [ppiindia] DPR: Lawan Malaysia!
>
>
>
>
> Malaysia mengajak pihak Indonesia melakukan perundingan untuk membahas
pulau
> Ambalat, namun pemerintah harus waspada dan jangan menilai bahwa sikap
> pemerintah Malaysia tersebut mengarah ke kemajuan positif buat NKRI.
>
> Saya merasakan ada suatu strategi yang diyakini kuat Malaysia untuk
> memenangkan perundingan tersebut al:
>
> 1. Malaysia paling tidak sudah mengetahui kekuatan Armada Laut kita dan
> sudah mempertimbangkan baik / buruknya.
>
> 2. Malaysia mau mengulangi kejadian Sipadan Ligitan, dimana dalam hal
> diplomasi Indonesia  kalah.
>
> 3. Malaysia adalah negara persemakmuran, dia merasa bahwa kalau dibahas
> dalam perundingan Internasional, banyak negara yang pro Malaysia.
>
> 4. Malaysia merasa lebih bagus kemampuan diplomasinya di banding
pemerintah
> Indonesia yang seperti telah terbukti pada kasus Sipadan dan Ligitan.
>
> 5. Malaysia merasa bahwa Pengadilan UN telah memutuskan bahwa kepulauan
> tersebut milik Malaysia.
>
> untuk itu kepada Pemerintah, harus hati-hati dalam melakukan perundingan
> tersebut, bagaimanapun juga bahwa Ambalat merupakan bagian dari wilayah
> Indonesia adalah kata terahir dan tidak bisa di tawar lagi...
>
> Kalau jaman pak Karno berani berkata "GANYANG MALAYSIA" kenapa sekarang
> tidak!!!!!
>
>
> Buddy
>
>
> DPR: Lawan Malaysia!
> Jakarta, BPost
>
> Sejumlah anggota Komisi I DPR mendesak TNI melakukan perlawanan terhadap
> sikap arogan Angkatan Laut Diraja Malaysia yang menduduki wilayah perairan
> Indonesia. TNI diminta menambah banyak armada militernya di Laut Sulawesi
> untuk menghadapi negara Jiran tersebut.
>
> "Malaysia seolah tidak menghargai kita. Kalau dibiarkan terus, bisa-bisa
> kasus Sipadan Ligitan akan terjadi lagi, bagian lain dari wilayah RI
> benar-benar mereka kuasai. Kalau perlu, jangan hanya tiga atau lima kapal.
> Sepuluh kapal sekalian," kata Wakil Ketua Komisi I Effendi Choirie, kepada
> wartawan, Kamis (3/3), di gedung DPR.
>
> Effendi menyatakan hal itu menyusul berbagai insiden yang ditengarai
karena
> Malaysia ingin menguasai pulau-pulau di sekitar Sipadan Ligitan yang
> sebelumnya telah dicaplok Negeri Jiran tersebut.
>
> Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kemarin memerintahkan
> Panglima TNI Jenderal TNI Endriartono Sutarto, tiga kepala staf TNI,
Menteri
>
> ESDM dan Menteri Perhubungan menyelesaikan konflik dengan Malaysia di
> wilayah perbatasan Indonesia di Kalimantan bagian Timur.
> Secara khusus, Yudhoyono kepada panglima dan 3 kepala staf TNI
memerintahkan
>
> tetap melakukan pertahanan di perbatasan sesuai tugas yang diberikan
> sehingga tidak ada hal-hal ekstrim ataupun di luar protap pertahanan.
> "Presiden tengah mencari solusi terbaik agar klaim perbatasan
> Indonesia-Malaysia dapat diselesaikan dengan baik dan tidak menimbulkan
> konflik terbuka. "Kita coba sejauh mungkin dengan diplomasi yang ada,"
kata
> Jenderal Endriartono usai pertemuan di Kantor Kepresidenan.
> Yang jelas, katanya, kewajiban TNI adalah mengamankan wilayah tersebut.
> "Presiden memutuskan bagaimana caranya agar solusi ini bisa diselesaikan
> secara baik," imbuhnya.
> Terlepas keterkaitannya dengan negara tetangga, kata Effendi Choirie,
"kalau
>
> memang ada negara lain menduduki secara sengaja atau tidak sengaja wilayah
> Indonesia, maka harus dilawan." Karenanya dia meminta Kapal Perang
Indonesia
>
> (KRI) tetap disiagakan di seluruh perairan yang pernah diduduki Malaysia
> itu.
>
> Senada, anggota Komisi I dari FPDS Jeffrey Johannes Massie mengatakan, RI
> harus menujukkan kekuatan agar negara-negara tetangga tidak seenaknya
> mencaplok wilayah RI. Gelar pasukan boleh dilakukan secara besar-besaran
> agar bisa dilihat mereka, hingga tidak berani lagi masuk ke wilayah
> Indonesia.
>
> "Kita harus menyiapkan kapal-kapal perang yang cukub baik untuk melakukan
> perlawanan," tandasnya.
>
> Menhan Juwono Sudharsono dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi I, Rabu
> (2/3) lalu, mengatakan TNI AL telah melakukan aksi gelar pasukan. "Kita
> sudah melakukan penggalangan kekuatan, sebagian gelar kekuatan dan
sebagian
> patroli untuk mendesak tentara Malaysia yang akan mengklaim kawasan
> Indonesia. Kami harapkan gelar kekuatan ini akan mendukung wilayah kita,"
> tandasnya.
>
> Target dari gelar pasukan itu sendiri, lanjut Juwono antara lain agar
suara
> Indonesia di dengar oleh pihak Malaysia. "Sebagai tekanan agar
penyelesaian
> secara diplomasi didengar. Sikap lebih lanjut atas persoalan itu,"
katanya.
>
> Ketua Komisi I DPR Theo L.Sambuaga meminta pemerintah bertindak tegas atas
> pelanggaran terhadap wilayah kedaulatan RI di Laut Sulawesi yang
belakangan
> diklaim sebagai wilayah Malaysia. "Kita tahu persis bahwa kawasan Ambalat
di
>
> Laut Sulawesi, itu adalah wilayah perairan kita," kata Theo
>
> Oleh karena itu, kalau ada upaya-upaya pihak asing untuk menguasai wilayah
> itu melalui kehadiran kapal-kapal mereka, apalagi sampai menggelar pasukan
> di sana, maka pemerintah harus mengambil tindakan tegas.
>
> Mengutip Kompas, pemerintah Malaysia melalui PM Datuk Seri Abdullah Ahmad
> Badawi belum lama ini mengakui kawasan kaya migas di Laut
Sulawesi --mereka
> menyebut sebagai Blok XYZ-- sebagai milik Malaysia.
>
> Di area Blok XYZ itu, Malaysia memberikan konsesi pertambangan minyak
kepada
>
> perusahaan raksasa pertambangan minyak Inggris/Belanda, Shell. Konsesi itu
> terletak di Blok ND 7 dan ND, bagian dari Blok XYZ.
>
> Indonesia menyebut blok yang diklaim Malaysia itu sebagai Blok Ambalat dan
> Blok East Ambalat. Di Blok Ambalat, Indonesia telah memberikan konsesi
> kepada ENI (Italia) pada tahun 1999. Sedangkan konsesi di Blok East
Ambalat
> diberikan kepada Unocal (AS) pada tahun 2004.
>
> Status Blok Ambalat kini sudah dalam tahap eksplorasi (penambangan). Untuk
> Blok East Ambalat, kontrak baru ditandatangani pada 13 Desember 2004 oleh
> Pemerintah RI dan Unocal. Namun, kontrak ini menjadi kontroversial karena
> wilayah itu diklaim Malaysia sebagai wilayahnya.
>
> Malaysia berpendapat wilayah pertambangan minyak dan gas lepas pantai di
> East Ambalat otomatis menjadi milik Malaysia setelah Pulau Sipadan dan
> Ligitan dinyatakan sebagai wilayah Malaysia beberapa waktu lalu
berdasarkan
> keputusan internasional.
>
> Klaim sepihak Malaysia itu langsung mendapat protes Indonesia. Departemen
> Luar Negeri RI menyampaikan nota protes bahwa tindakan Malaysia sebagai
> melanggar kedaulatan Indonesia. Selain itu, pemerintah Indonesia juga
telah
> membuat kontrak pengelolaan Blok Ambalat dan Blok East Ambalat itu kepada
> investor asing.
>
> Peringatkan Shell
> Deplu RI juga perusahaan minyak Shell agar tidak mencampuri urusan
Indonesia
>
> dan Malaysia mengenai konsesi minyak di wilayah perairan Pulau
> Sipadan-Ligitan. Deplu RI juga memprotes agreement dari Shell kepada
> Malaysia terkait konsesi tersebut.
>
> "Kita memperingatkan Shell bahwa perairan di sekitar Pulau Sipadan-Ligitan
> itu adalah wilayah kita, dan kita menganggap agreement itu melanggar
> kedaulatan kita," kata Direktur Perjanjian Politik, Keamanan dan
Kewilayahan
>
> Deplu Arif Havas Oegroseno.
>
> Havas mengaku jika masalah itu diselesaikan melalui pengadilan
> internasional, maka masalah pengakuan wilayah Indonesia oleh Malaysia bisa
> diteruskan melalui pengadilan internasional, dan dia optimis Indonesia
dapat
>
> memenangkannya. "Karena itu memang milik kita," katanya.
>
> Diakuinya, berdasarkan keputusan Internasional Court of Justice
> (ICJ/pengadilan internasional) Malaysia memang memiliki Pulau
> Sipadan-Ligitan. "Tapi disebutkan oleh hakim bahwa kepentingan pemetaan
> kedaulatan Indonesia atas dua pulau ini tidak mempunyai pengaruh langsung
> terhadap deliminasi landas kontinen. Dengan kata lain, wilayah perairannya
> adalah tetap milik Indonesia," ungkap Havas.
>
> Data otentik
> Sementara itu, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi kepada pers mengatakan,
> konflik perebutan wilayah di perbatasan Indonesia dengan Malaysia
sebaiknya
> diselesaikan berdasarkan data otentik yang sudah ada.
>
> "Memang ada beberapa patok yang sudah rusak dan ini yang salah satunya
harus
>
> diselesaikan untuk mencegah hal-hal yang merugikan wilayah kedaulatan
> Indonesia," tukasnya.
>
> Ditegaskan, KSAL Laksamana Madya Slamet Subiyanto, Indonesia memiliki
bukti
> kuat bahwa Pulau Karang Gumarang merupakan daerah yang masuk dalam wilayah
> NKRI, meski pulau itu tidak ada penduduknya.
>
> "Menurut referensi, pulau Karang Gumarang merupakan titik ukur dari
wilayah
> Indonesia terluar. Dan itu pun sudah dipasang bendera Indonesia,"
ungkapnya.
>
> Sementara itu, Malaysia tetap bersikukuh dan menolak klaim Indonesia atas
> blok minyak ND 6 dan ND 7 di Laut Sulawesi. Wisma Putra, jubir pemerintah
> Malaysia mengklaim bahwa daerah itu masih dalam kawasan teritori Malaysia.
>
> "Malaysia memiliki hak dan juridiksi untuk mengeksplorasi dan
> mengeksploitasi sumber alam yang berada dalam kontinennya terkait dengan
> onvensi PBB mengenai Hukum Laut 1982," katanya.JBP/ewa/kcm/tnr/dtk
>
>
> Sengketa Sipadan-Ligitan
> 1961 : Indonesia mengklaim perairan sekitar Pulau Sipadan-Ligitan.
Indonesia
>
> memberikan konsesi dengan berbagai perusahaan minyak, termasuk Shell.
>
> 1979 : Malaysia membuat peta dan memasukkan Pulau Sipadan-Ligitan sebagai
> wilayah teritori mereka.
>
> 1980 : Indonesia mengajukan protes. Protes diikuti Singapura, Filipina,
> Thailand, Vietnam, Cina, Taiwan, dan Inggris
>
> 1998 : Indonesia memberikan konsesi minyak kepada Shell.
>
> 2000 : Malaysia membawa masalah dua kepulauan itu ke Internasional Court
of
> Justice (ICJ/pengadilan internasional)
>
> 2002 : ICJ memutuskan Pulau Sipadan-Ligitan menjadi milik Malaysia. Namun
> dalam putusan tidak ditetapkan wilayah perairannya kedua pulau itu menjadi
> milik Malaysia.
>
> 2005 :
> 7 Januari : Tentara Laut Diraja Malaysia mengejar dan menembak sebuah
kapal
> nelayan Indonesia. Marin Laut (AL Malaysia) menangkap dan menyiksa
karyawan
> PT Asiha Samudera yang sedang memperbaiki lampu suar sebagai rambu laut di
> Karang Unarang.
>
> 15 Februari : Malaysia memberikan konsesi kepada perusahaan minyak dari
> Belanda, Shell melakukan eksplorasi.
>
> 20 Februari : TNI AL mengerahkan tiga kapal perang; KRI Nuku, KRI Rencong,
> dan KRI Wiratno di Laut Sulawesi.
>
> 2 Maret : Koarmatim memberangkatkan KRI Tongkol dan KRI Karel Satsuit
Tubun.
>
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
> Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
>
>
> ---------------------------------
> Yahoo! Groups Links
>
>    To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
>
>    To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
>
>    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>
> Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
>
>
>
>
> ---------------------------------
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>    To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
>
>    To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
>
>    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke