http://www.suaramerdeka.com/harian/0503/10/opi4.htm
Kamis, 10 Maret 2005WACANA
Quo Vadis Jaringan Islam Liberal
Oleh: Sumanto Al Qurtuby
JARINGAN Islam Liberal (JIL) , kemarin, 9 Maret 2005, genap berusia 4 tahun.
Sebuah usia yang relatif belia untuk mengukur sebuah capaian prestasi.
Memperingati kelahiran ke-4, sejak Februari, mengadakan serangkaian kegiatan
seperti SWOT, pameran buku, diskusi, pemutaran berbagai film bernuansa
kritik agama seperti Osama, The Magdalene Sister, Monsieur Ibrahim, The
Afghan Alphabet, Flying to the Heaven, The Believer dll.
Di antara kegiatan JIL yang sangat penting adalah SWOT akhir Februari lalu
di Bogor. Dalam pertemuan yang dihadiri para pionir dan mentor JIL ini (saya
diundang sebagai "peninjau" bersama Fathi Aris Omar, aktivis-intelektual
dari Malaysia), dibahas beberapa agenda penting mengenai rencana ke depan ,
di samping tentu saja sebagai ajang evaluasi dan kritik internal sejak
dideklarasikan 4 tahun silam.
Walau belum cukup dewasa sebagai sebuah gerakan, JIL secara bertubi-tubi
telah mendapatkan kritik dan sorotan amat tajam dari pelbagai pihak.
Pandangan keagamaan yang liberal, pluralis, humanis dan demokratis yang
disiarkan lewat berbagai media (seminar, talk show, tulisan dll) kerap
menimbulkan resistensi dari para tokoh agama. Bukan hanya kelompok
fundamentalis-radikal saja tetapi juga oleh ulama yang dikenal moderat. Oleh
mereka, JIL dianggap (dituduh) menciptakan keresahan di tengah masyarakat
muslim, melakukan kegiatan yang bermuara pada pendangkalan akidah,
penghinaan agama Islam beserta doktrin keislaman dan semacamnya.
Sudah banyak buku yang ditulis khusus untuk mendiskreditkan JIL seperti
Bahaya Islam Liberal yang ditulis Hartono Ahmad Jaiz, mantan wartawan,
Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal (Adnin Armas), Islam
Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya (Adian Husaini) dan
lain-lain. Ini belum termasuk berbagai tulisan di media massa.
Tidak hanya agamawan yang mengkritik JIL, para aktivis-intelektual juga
banyak yang melontarkan kritik tajam pada komunitas yang dikoordinatori Ulil
Abshar-Abdalla ini. Jika para agamawan mengkritik JIL lebih banyak karena
faktor "teologis" maka aktivis intelektual mengkritik JIL lebih pada
platform, visi, misi, dan agenda gerakannya.
Masdar Farid Mas'udi misalnya, mengkritik karena JIL dianggap terlalu banyak
menekankan pada aspek wacana dan persoalan "remeh-temeh" keislaman lain
(jilbab, jenggot, cadar dll) ketimbang pada persoalan kebutuhan dasar yang
dihadapi umat Islam seperti pengangguran, kemiskinan, kebodohan,
keterbelakangan dan lain-lain.
Atas dasar ini, maka Masdar membentuk Jaringan Islam Emansipatoris yang
tujuan utamanya mendialogkan Islam dengan problem real yang dihadapi umat.
Ada juga kaum aktivis intelektual seperti Bisri Effendy, Ahmad Baso dan
"jaringan Islam postra" mengkritik JIL karena dianggap mengabaikan tradisi
lokal yang begitu melimpah di Indonesia. Menurut mereka, tradisi, kultur dan
kebudayaan lokal adalah bagian dari local wisdom ("kearifan lokal") yang
sudah semestinya harus ditempatkan secara proporsional dalam wacana
keislaman.
Tradisi lokal-termasuk Islam lokal atau agama lokal lain-harus dibela sebab
banyak kelompok keislaman yang "atas nama pemurnian ajaran Islam" kemudian
melakukan tindakan pemaksaan teologis kepada mereka. Hal ini bertentangan
dengan wawasan inklusif dan watak demokratis yang dikembangkan Islam.
Selain dua kelompok di atas, ada lagi para aktivis-intelektual (terutama
mazhab Jogya dengan LKiS sebagai "sponsor utama" dan dalam hal tertentu
keislaman yang dikembangkan The Wahid Institute) yang mengkritik JIL karena
dipandang terlalu "ke-Barat-Barat-an," corong modernisme, mengembangkan
wawasan sekularisme, kapitalisme global dan lain-lain.
Menurut mereka, wajah Islam yang mestinya ditampilkan adalah "Islam Kiri"
sebagai kritik atas hegemoni kebudayaan Barat yang mencengkeram di hampir
semua kawasan Islam bukan malah "berlindung" di balik jubah modernisme
Barat. Masih banyak lagi kritikan yang dialamatkan ke JIL.
Fenomena ini sekaligus menepis anggapan Prof. Abu Su'ud (SM, 4/3), yang
menganggap JIL ini sebagai wadah anak muda NU liberal. Harap diketahui,
mungkin hanya 20% para aktivis JIL yang berlatar belakang NU, selebihnya
adalah para aktivis-intelektual Islam modernis yang tidak ada hubungannya
dengan NU. Mereka tergabung dalam "sindikat JIL" karena memiliki wawasan dan
semangat yang sama untuk membangun peradaban Islam yang gemilang di masa
depan sekaligus mengikis gerakan fundamentalisme agama yang menyesatkan.
Selain itu, para aktivis-intelektual NU-meskipun berpandangan
"liberal"-tidak mesti tergabung dalam sindikat JIL, sebab mereka mempunyai
wadah sendiri seperti Jaringan Islam Emansipatoris (JIE),
Post-Tradisionalisme, Islam Kiri dan lain-lain.
Dalam beberapa kesempatan, kaum muda NU ini berdebat sengit mengenai agenda
gerakan keislaman dan corak keislaman yang sesuai dengan semangat zaman dan
tidak jarang di antara mereka terjadi perbedaan yang sangat tajam.
Dinamika Pemikiran
Sesungguhnya fenomena di atas sangat lumrah dan wajar. Hal itu merupakan
bagian dari dinamika sejarah pemikiran manusia. Di mana pun dan kapan pun,
sebuah pemikiran yang "menyimpang" dari mainstream akan selalu mendapatkan
resistensi dari kelompok lain. Itu tidak hanya terjadi dalam sejarah Islam
saja tetapi juga dalam sejarah agama-agama dan bahkan sejarah ideologi di
dunia ini.
Dalam menyikapi berbagai kritik (maupun fatwa sesat ulama/kiai), JIL
hendaknya tidak reaksioner dan membalas dengan "kekerasan" yang sama
melainkan melalui diskusi akademik-ilmiah yang sangat demokratis dan
terbuka. Ini perlu saya tekankan di sini mengingat ada beberapa aktivis JIL
yang ingin melawan (tepatnya membalas) sikap kasar dan vandalistik yang
dilakukan para aktivis Islam fundamentalis-radikal terhadap JIL.
Sebagai sebuah arus pemikiran baru, maka sangat wajar jika kehadiran JIL
menimbulkan banyak kritik. Sepanjang kritik itu masih proporsional, akademik
dan ilmiah, maka harus disikapi secara positif. Dunia, kata Abdul Karim
Soroush-seorang intelektual publik terkemuka Iran, seperti sebuah pasar,
tempat tukar-menukar ide dan gagasan. Dunia adalah "pasar bebas ide" (free
market ideas) di mana setiap orang boleh bertransaksi dengan bermacam
pendapat dan pikiran asalkan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah
melalui metode-metode keilmuan. Haram hukumnya sebuah tindakan pelarangan
terhadap sebuah pemikiran yang bebas, otonom, independen dan merdeka.
Jika dalam Islam, tuak diharamkan karena dikhawatirkan bisa merusak akal
sehat dan pikiran manusia, maka perbuatan atau tindakan orang atau kelompok
keagamaan yang membelenggu sebuah pemikiran jelas lebih diharamkan.
Atas dasar pemikiran ini, maka berbagai faksi pemikiran yang terjadi
antaraktivis-intelektual (di luar Islam fundamentalis) di atas hendaknya
jangan sampai mengarah pada kecaman saling memboikot dan menyudutkan satu
sama lain. Sebagai sebuah NGO pemikiran dan gerakan Islam, masing-masing
memiliki "keunikan" dan karakteristik sendiri-sendiri. Justru seharusnya
mereka saling melengkapi untuk membendung laju/arus fundamentalisme Islam
yang semakin menguat.
Kelompok yang mengkritik JIL hanyalah "NGO wacana" tidak melakukan tindakan
nyata di masyarakat, tidak menyadari bahwa "tindakan lahir dari sebuah
pemikiran". Pikiran yang sehat akan melahirkan perbuatan yang sehat dan
sebaliknya pikiran yang kotor akan melahirkan tindakan jahat.
Fundamentalisme radikal yang melakukan sejumlah tindakan dehuman: teror,
bom, membunuh, merusak dll pada dasarnya lahir dari pikiran yang tidak
sehat, yakni menganggap komunitas di luar Islam sebagai kafir dan sesat
serta menganggap kelompok keislaman di luar mereka sebagai "menyimpang" dan
"salah jalan". Inilah yang diutamakan JIL: melakukan restorasi pemikiran!
Dari sini diharapkan akan melahirkan suatu pemikiran keislaman yang jernih,
humanistik, inklusif dan demokratis sehingga akan melahirkan tindakan
keislaman yang ramah terhadap yang lain, menghargai human rights dan civil
rights, terbuka terhadap keberagaman dan sebagainya.
Mewaspadai JIL
Satu hal yang harus dicermati oleh para penggiat JIL adalah jangan sampai
arus atau model pemikiran yang dikembangkan mengarah pada bentuk
konservatisme baru. Ingatlah sejarah Protestantisme. Awalnya, mazhab agama
ini bersikap sangat liberal dan kritis terhadap dogma-dogma Katolik. Tetapi
pada perkembangan selanjutnya, justru di dalam Protestan itulah tumbuh subur
sekte-sekte keagamaan yang sangat eksklusif, konservatif dan fundamentalis
(meskipun ada faksi liberal dalam Protestan seperti yang dikembangkan mazhab
Graduate Theological Union, Berkeley).
Mengapa bisa terjadi? Di samping faktor politik, mereka berpegang kukuh dan
meyakini akan kebenaran tafsir baru kekristenan mereka.
Ke depan, JIL harus "mewaspadai" fenomena ini. Meskipun mengembangkan model
atau jenis pemikiran baru keislaman yang berlawanan dengan model kelompok
fundamentalis, jangan sampai tafsir pemikiran baru itu diyakini. Produk
pemikiran tetaplah relatif sehingga tidak bisa dimutlakkan. Ketika JIL sudah
memutlakan sebuah corak pemikiran keislaman yang dikembangkan, maka di
situlah mulai muncul benih-benih konservatisme dan fundamentalisme sehingga
harus dilawan.(18)
- Sumanto Al Qurtuby, Direktur Eksekutif The Institute of Cross Religion &
Humanity (Ilham Institute) Semarang
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/