http://www.kompas.com/kompas-cetak/0503/12/opini/1614777.htm
Sabtu, 12 Maret 2005

Indonesia? "I Don't Care"
Oleh Kartono Mohamad

MENGIKUTI berita tentang blok Ambalat, sedih hati ini. Pertama, karena 
Malaysia, negara sesama anggota ASEAN, bangsa serumpun, yang selama ini kita 
anggap tetangga yang baik, telah menunjukkan sikap arogan dan tidak 
menghargai kita. Sebagai tetangga baik, seyogianya dia berbicara dulu dengan 
tetangganya jika dia merasa bahwa ada kerancuan dalam kepemilikan sepotong 
lahan di perbatasan.

Yang kedua, sedih karena kita, khususnya TNI, hanya dilihat dengan sebelah 
mata oleh Malaysia. Keberanian Malaysia menggerakkan kapal perang ke blok 
Ambalat, bahkan menembak kapal nelayan Indonesia, tentu bukan tanpa 
perhitungan. Dengan mengerahkan kapal perang dan pesawat tempur, Malaysia 
sudah berperhitungan bahwa hal itu akan mengundang reaksi serupa dari 
Indonesia yang dapat berakibat terjadi benturan fisik.

Agaknya Malaysia sudah berperhitungan, jika terjadi benturan fisik, secara 
teknis dan peralatan (mungkin juga keterampilan) tentara mereka ada di atas 
angin. Mereka tahu, kapal-kapal perang Indonesia sudah ketinggalan zaman, 
begitu pula pesawat-pesawat tempur Indonesia. Kalaupun terjadi perang laut, 
mereka yakin dapat mempermalukan Indonesia meski Indonesia mengaku sebagai 
negara maritim.

SAYA lebih melihat hikmah dari persengketaan ini. Dengan jalan "menantang" 
secara fisik, sebenarnya Malaysia ingin mengingatkan kita, jangan kita 
berslogan sebagai negara bahari jika tidak mampu menjaganya. Selama ini yang 
tertanam adalah negara kita adalah negara kepulauan, tetapi nyaris tidak 
melihat laut sebagai sumber kekayaan. Laut lebih dikatakan sebagai pemisah 
di antara pulau ketimbang dianggap pemersatu negara kepulauan. Selama 
merdeka mungkin baru dua periode kita mempunyai Menteri Kelautan, itu pun 
mungkin dengan anggaran minim dan program yang terpaku melihat nelayan 
sebagai kelompok miskin yang harus ditolong.

Selama puluhan tahun di bawah Soeharto, industri galangan kapal tidak 
berkembang sehingga sebagai negara lautan kita hanya bisa membeli jika ingin 
memiliki kapal yang agak canggih. Kapal nelayan kita kalah canggih dibanding 
kapal nelayan Thailand sehingga dengan mudah mereka mencuri ikan-ikan kita.

Pelni dan Jakarta Lloyd harus membelinya dari Jerman atau Korea jika ingin 
memiliki kapal penumpang atau kapal barang yang modern. Pembangunan 
pelabuhan laut pun nyaris tidak terdengar.

Selama Soeharto TNI AL dan TNI AU yang lebih tepat dalam menjaga integritas 
negara kepulauan, mengalami pengerdilan. Berpuluh tahun tidak ada peremajaan 
kapal perang dan pesawat tempur. Bahkan, untuk memelihara persenjataan yang 
ada pun tidak sanggup. Entah karena Soeharto melihat TNI AL dan TNI AU 
sebagai "ancaman tersembunyi" (mengingat dukungan yang dianggapnya "setengah 
hati" saat G30S tahun 1965) atau karena melihat, basis pertahanan Indonesia 
adalah TNI AD. Praktis TNI AL dan TNI AU diperlakukan sebagai subordinat TNI 
AD. Ketika TNI AL memperoleh kapal perang eks Jerman Timur dalam jumlah 
lumayan, kondisinya praktis hanya body-nya yang masih baik. Mesin dan 
persenjataannya sudah tidak layak pakai lagi.

Kemampuan TNI AL dan TNI AU yang rendah itu tampak dari ketidakberdayaan 
mereka menghadapi penyelundupan, pencurian ikan, dan bajak laut. Sampai- 
sampai Amerika Serikat menawarkan "jasa baik" untuk ikut menjaga Selat 
Malaka dari para bajak laut. Ketika Aceh terkena tsunami, makin tampak 
ketidakberdayaan itu sehingga perlu bantuan kapal dan pesawat terbang dari 
negara lain. Sebagai negara lautan kita hanya memiliki satu pangkalan TNI AL 
yang besar, yang sebenarnya juga tidak memenuhi syarat, yaitu Surabaya. 
Gagasan di masa Bung Karno untuk menjadikan Lampung, Natuna, dan Biak 
sebagai pangkalan TNI AL pengganti Surabaya menguap entah ke mana.

Kini bukan hanya Malaysia dan Singapura (kita meminjam helikopter AU 
Singapura untuk membantu Aceh) yang menganggap enteng pertahanan kita, 
tetapi juga nelayan pencuri ikan dan penyelundup.

PARA pemimpin kita selama ini agaknya tidak serius memikirkan Indonesia. 
Dalam tulisannya tentang Irak di Straits Times beberapa pekan lalu, Douglas 
Borer (pakar ilmu politik dari Stanford) menyatakan, nasionalisme Irak itu 
sebenarnya tidak ada karena tiap kelompok masyarakat, yaitu Syiah, Sunni, 
dan Kurdi, lebih memperjuangkan kepentingan kelompoknya daripada kepentingan 
Irak. Jika pandangan Borer itu diterapkan untuk Indonesia, di Indonesia 
banyak orang yang mengaku sebagai orang Indonesia, tetapi yang mereka 
perjuangkan hanya kepentingan pribadi. Jangankan kepentingan bangsa, 
kepentingan kelompok pun tidak. Setiap kedudukan dilihat sebagai kesempatan 
untuk memperkaya diri. Korupsi dibiarkan merajalela, sampai anggota DPR dan 
DPRD yang seharusnya mengawasi eksekutif ikut-ikutan ramai- ramai menjarah 
uang rakyat.

Pertamina yang berdiri di negara yang kaya akan minyak, kalah dibandingkan 
Petronas Malaysia yang usianya pun lebih muda. Petronas mampu membangun 
menara kembar kebanggaan Malaysia, sementara Pertamina mengalami kerugian 
sehingga tanker raksasa pun harus dijual. Petronas sudah mampu investasi di 
negara lain, sementara Pertamina masih sibuk melayani tuntutan Karaha Bodas.

Bagi para pemimpin, baik di eksekutif, legislatif, ataupun di BUMN, "I don't 
care about Indonesia". Yang penting kepentingan pribadi. Jauh lebih buruk 
dari Irak seperti digambarkan Borer. Lalu ke mana gerangan pemimpin-pemimpin 
kita yang benar-benar nasionalis, yang sungguh- sungguh memikirkan 
Indonesia, seperti di masa Bung Karno dan Bung Hatta? Mereka pun mengalami 
pengerdilan dan diganti dengan generasi pemimpin yang kerdil. Maka tidak 
heran jika dalam persaingan dengan bangsa lain di segala bidang, kita 
dilecehkan oleh bangsa lain. Kita berkhayal sebagai bangsa yang besar tetapi 
sebenarnya kita tampil sebagai bangsa yang kerdil.

Kartono Mohamad Mantan Ketua Umum PB IDI 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources 
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke