hikmah nyepi terkait isyu malaysia yang makin usil
kita mesti makin waspada jangan abai pentingnya keindonesiaan jangan lagi berpikir parsial termasuk bidang budaya bahasa yang di masa2 lalu diguyur 'mitos' keserumpunan dan buktinya plintiran malaysia menyakitkan juga kan ? kembalilah ke BHINNEKA TUNGGAL IKA buktikan janji mau basmi korupsi, kepicikan agama dll salam damai santi rahayu --- In [email protected], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Media Indonesia > Sabtu, 12 Maret 2005 > > OPINI > > Satu Hari Mati Api > > Putu Wijaya; Budayawan > > PADA 11 Maret, adalah hari Nyepi. Di Bali itu dimaknakan sebagai mati geni (api). Satu hari tanpa api. Tungku tidak menyala. Rokok tidak disulut. Mobil dan motor tidak dihidupkan. Listrik pun padam. Bahkan api di dalam diri juga dihentikan. Masyarakat diajak menjauhi kerja. Naik pohon, naik sepeda, mengangkat yang berat- berat, pendek kata yang menguras energi tidak diperkenankan. Di dalamnya termasuk tidak boleh berbicara keras, bertengkar, apalagi baku-hantam. Konon pemali bertengkar di Hari Nyepi karena tak akan pernah bisa berbaikan kembali. > > Hari itu menjadi spesial, karena permukiman damai dan senyap. Jalanan lengang. Penduduk duduk-duduk bahkan tiduran di tengah jalan, tidak perlu takut dihajar kendaraan. Kota sunyi dengan anehnya bernuansa seperti suasana di desa, sehingga suara kepak burung melintas pun terdengar jelas, apalagi salak anjing. Dan, malam hari jadi gelap pekat. Malam yang benar-benar menjadi malam. Hanya rumah sakit yang boleh menyalakan lampu, demi si sakit, itu pun sedemikian rupa sembunyi-sembunyi, hingga cahayanya tak sampai menodai kegelapan. Tak ada dendang dangdut di radio, tak terdengar celoteh para selebriti di televisi, bahkan anak-anak pun dilarang berteriak dan menangis. > > Penghematan total energi dalam satu hari penuh itu, sebuah distorsi atas kerutinan dalam satu tahun. Semuanya seperti lumpuh dan berhenti. Waktu termangu dan semua orang tampak tenang, otot- ototnya kendur, muka pun tidak beremosi. Namun, tak berarti tak ada yang terjadi. Itulah saat yang menggiring ke arah kontemplasi. Sebuah perenungan massal dalam wujud fisik. Seisi keluarga tinggal di rumah dalam komplotan masing-masing. Sebuah liburan serentak yang mengembalikan suasana alami, wajar sebagaimana ketika keadaan belum dibisingi motor-motor yang kini menyemut dan bersimaharajela di jalan raya. Distorsi itu menghasilkan keheningan, karena itu ada tafsir bahwa Nyepi adalah saat perenungan menyambut lembaran baru dalam tahun Caka. > > Hari Nyepi di Bali pernah jatuh dalam satu hari dengan Idul Fitri sekitar awal tahun 60-an. Dua hal yang kontras berjumpa. Namun, tidak terjadi tabrakan. Keduanya berlangsung dengan baik. Tidak ada polemik, diskusi, ataupun insiden. Tetapi kebanggaan juga tidak ada. Semuanya dilalui dengan wajar dan biasa-biasa saja. Itu sebuah kenang-kenangan yang indah tentang hidup berdampingan dengan keyakinan berbeda yang sangat wajar dan damai. Sesuatu yang kini menjadi benda asing yang baru mulai kita pelajari ketika Barat mengingatkan kita, bahwa dunia sedang memasuki tata gaul baru yang bernama multikultur. > > Kita boleh terperangah. Kenapa sesuatu yang begitu mudah, bahkan nyaris tak kita sadari terjadi di masa lalu, sekarang menjadi semacam ketertinggalan yang harus kita pelajari/kejar dengan begitu alotnya? Bahkan untuk mendapat ijazah tanda kita lulus dalam mengadaptasi fenomena yang dianggap 'baru' itu, kita harus menguasai kiat-kiat yang dinyatakan mulai ditemukan/disusun oleh mereka yang notabene tak punya tradisi hidup dalam perbedaan kultur? > > Apakah kita tak ingat pada sejarah. Dengan kata lain, demikian terpukaunyakah kita, pada segala fenomena yang dikemas oleh modernisasi sebagai sesuatu yang 'baru' yang mutlak harus kita pelajari, sehingga lupa pada kebijakan-kebijakan masa lalu? Pertanyaan itu bahkan seperti tak punya waktu untuk dijawab, karena kita sudah ditaruh di peringkat paling bawah yang berarti harus hanya memikirkan upaya untuk mengejar ketertinggalan. Kalau tidak, kita menjadi fosil yang hanya layak menghuni museum sebagai mumi. > > Bahwa kita menjadi tak pandai lagi hidup berbeda, memang benar, banyak buktinya. Potensi konflik di beberapa wilayah Indonesia karena berbagai perbedaan dan kemudian berbagai alasan, sudah berkobar dan memakan korban. Masyarakat multikultur yang sebenarnya sudah merupakan kenyataan berabad-abad dalam kehidupan kita, seakan baru terasa getahnya hari ini dan langsung mengganggu. Ke mana perginya keterampilan hidup berdamping dengan toleransi tinggi di masa lalu? Apakah kita baru ngeh bahwa kita berbeda. Lalu kenapa yang kini menyiksa itu, dulu semuanya terasa sebagai semacam kekayaan, kelebihan bahkan juga kebanggaan. Punya seorang tetangga yang berbeda pemahamannya pada segala aspek kehidupan, dulu disamakan dengan kita punya tamu. Dan tamu di dalam tradisi, kedudukannya terhormat. Kita bahkan selalu menjamu tamu dengan yang terbaik, bila perlu dengan mengorbankan kepentingan sendiri. > > Sejarah menjadi tak berharga. Apa dosa kita, atau kesalahan dalam pendidikan sehingga pelajaran sejarah tak membelajarkan kita apa-apa. Bahkan banyak manusia Indonesia kini lebih senang melupakan sejarah dan 'malu menjadi orang Indonesia'? Memang benar banyak hal yang amat memalukan sudah terjadi. Tapi, yang paling memalukan bukankah rasa malu memiliki wajah yang memalukan itu sendiri. Apakah kita punya alasan untuk mengatakan bahwa semuanya itu adalah gara- gara perbuatan orang lain yang ingin mencelakakan kita? Walhasil yang memalukan itu bukan wajah kita yang sebenarnya? > > Awal bulan Januari, saya pergi ke Batam, bertemu dengan tiga pemuda, aktivis kelompok budaya. Yang satu orang Batak, satunya Sunda, satunya penduduk asli namun besar di Jakarta. Ketiga-tiganya mengeluh tentang fenomena di daerah otoritas Batam yang semula menjadi pilot proyek terciptanya masyarakat multikultur sebagai embrio ke arah manusia Indonesia baru yang satu, sudah tukar jalur. Belakangan, berbagai kelompok etnik di Batam, baik dari Papua, Ambon, Timor, Bali, Jawa, Bugis dan sebagainya di samping juga Melayu, cenderung mengelompok lalu ada upaya untuk mempertahankan identitas aslinya, yang bertolak belakang dengan kenyataan yang bahwa Batam adalah sebuah komunitas multikultur. > > Mereka berusaha dengan aktivitas budaya bergerilya untuk memecah sekat-sekat tersebut. Yang mereka lakukan adalah mengurangi kesadaran yang begitu tinggi pada budaya Melayu yang memang merupakan mayoritas budaya di Batam, karena langkah-langkah pelestarian budaya daerah setempat seperti menahan proses Batam sebagai etalase multikultur. Sikap komunitas itu pasti tidak populer dalam era euforia otonomi daerah sekarang. Komunitas kebudayaan Melayu, sudah menyelenggarakan Kenduri Seni Melayu Sedunia pada Desember 2002 dengan diikuti oleh negara-negara ASEAN, Madagaskar, dan Suriname. Festival tersebut secara implisit memberikan indikasi bahwa memang ada kesengajaan untuk memprioritaskan, untuk tidak mengatakan memenangkan budaya Melayu di Batam. > > Tetapi apakah upaya untuk melestarikan budaya Melayu salah? Kenapa mesti dimultikultur-multikulturkan kalau masyarakat ingin tetap memuliakan kebudayaannya sendiri? Siapa tahu dengan membenarkan, bahkan mungkin mendukung pelestarian/dominasi kebudayaan Melayu, akan terjadi diam-diam peristiwa multikultur yang sebenarnya. Bukankah inti dari multikultur adalah toleransi. Mengapa toleransi hanya dituntut kepada mayoritas, apakah minoritas bukannya lebih berkewajiban lagi untuk toleran? > > Saya mengajak ketiga musketeer itu untuk membalikkan sudut pandang, bukan untuk melupakan aspirasinya, namun justru demi mewujudkan cita-citanya dengan cara lain. Cara terbalik. Cara yang tidak umum. Cara mati api dalam satu hari namun dengan harapan akan bisa menyala sepanjang masa meskipun tidak kasatmata. Kami pun terlibat diskusi yang panjang dan saya tahu saya akhirnya hanya seorang penonton yang mungkin tak menanggung beban, sehingga terlalu 'seenaknya' bicara. Mereka yang di lapanganlah yang sebenarnya paling tahu apa yang sebaiknya dilakukan. > > Lepas dari mana yang terbaik, upaya melakukan tindakan penyimpangan dalam melihat persoalan, minimal sebagai upaya, tidak ada ruginya. Mati api dalam satu hari sebagaimana juga berpuasa yang membunuh rasa dan rutinitas sementara, tidak akan menyebabkan kekacauan, tetapi penyegaran pada raga dan jiwa. Sesuatu yang layak sekali dilakukan oleh setiap orang, khususnya mereka yang memikul persoalan-persoalan berat yang menyiksa hidupnya setiap hari, seperti seorang presiden, menteri, wakil rakyat, pejabat, perwira, ilmuwan, budayawan, seniman, dan pemimpin masyarakat bahkan juga pemuka agama. Saya percaya itu bisa terjadi, mengingat Nyepi dan Idul Fitri pernah jatuh berbareng satu hari itu dengan begitu cantiknya.*** > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today! http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

