Senin, 14 Mar 2005,
Nelayan Dikerahkan ke Ambalat 


Tunjukkan Eksistensi RI, TNI-AL Jamin Keselamatannya
TARAKAN - Untuk menjaga eksistensi kedaulatan Indonesia di perairan 
Ambalat, mulai kemarin pemerintah daerah Kalimantan Timur mengerahkan 
nelayan Nunukan untuk mencari ikan di laut yang diklaim Malaysia itu.

Karena itu, jangan bila hari-hari ini sejumlah kapal nelayan hilir 
mudik di antara kapal perang milik TNI-AL dan kapal perang Malaysia 
yang mencoba memasuki perairan Indonesia. Sebagai jaminan 
keselamatan, TNI-AL akan mengawal dan mengawasi para nelayan selama 
melaut. 

Danlanal Tarakan Letkol Laut (P) Ibnu Parna kepada wartawan koran ini 
kemarin sore di kediamannya mengatakan, instruksi pengerahan para 
nelayan itu langsung dari Gubernur Kaltim Suwarna Abdul Fatah. "Jadi, 
waktu di bandara Pak Gubernur panggil saya dan wakil wali kota 
Tarakan (H Thamrin A.D. SH), lalu menginstruksikan untuk segera 
mengerahkan nelayan ke Ambalat," jelasnya. 

Tentu saja tujuannya bukan untuk perang. Tetapi, itu sebagai bukti 
kepada dunia internasional maupun pihak Diraja Malaysia bahwa sejak 
dahulu secara fisik para nelayan Indonesia telah menangkap ikan di 
Ambalat. Dan, penangkapan ikan di Ambalat berlangsung turun-temurun 
sampai sekarang ini.

Menurut Parna, pengerahan nelayan ke Ambalat akan sangat bermanfaat 
bagi nelayan sendiri. Pasalnya, mereka bisa kembali mencari makan 
setelah beberapa hari ini merasa terganggu atas klaim sepihak 
Malaysia terhadap Ambalat. 

Nelayan Indonesia yang sudah puluhan tahun menjadikan perairan 
Ambalat sebagai ladang pencarian ikan, sejak awal tahun ini takut 
melaut. Pasalnya, mereka diteror Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) 
yang berpatroli di kawasan itu. 

Sudah tiga kapal nelayan Nunukan yang menjadi korban tentara 
Malaysia. Bahkan, KM Jaya Sakti, pada 7 Februari 2005 dengan sengaja 
ditabrak kapal patroli TLDM, KD Sri Melaka 3147. Awak Jaya Sakti 
melaporkan masalah ini ke TNI-AL. 

Bukan hanya itu. TLDM juga mengintimidasi pekerja Indonesia yang 
membangun mercusuar di Karang Unarang. Kini pemerintah Indonesia 
memutuskan melanjutkan pembangunan mercusuar itu dengan pengawalan 
dari Pasukan Katak, Marinir TNI-AL. 

Sampai kapan TNI-AL melakukan pengawasan? 

Menurut Parna, pihak TNI-AL menginginkan aktivitas nelayan ini 
berkesinambungan. TNI-AL juga akan melindungi nelayan. Yang jelas, 
katanya, para nelayan harus mempunyai kapal yang layak karena Ambalat 
merupakan laut lepas yang cuaca dan gelombangnya tidak menentu.

"Yang paling penting sekarang ini adalah kita harus menunjukkan bahwa 
aktivitas nelayan di Ambalat tidak terhenti. Persoalan alat tangkap 
dan lainnya menjadi nomor dua," tegas Danlanal.


Dephan Akui Kelemahan RI

Sementara itu, Dirjen Sarana Pertahanan (Ranahan) Dephan Aqlani Maza 
mengemukakan pandangannya bahwa Indonesia lemah, baik dari segi hukum 
maupun sarana militer, dalam konflik dengan Malaysia ini. 

Dari segi hukum, meski memiliki berbagai dokumen otentik tentang 
kepemilikan Blok Ambalat dan Perairan Sulawesi di utara Pulau 
Kalimantan, sampai kini Indonesia belum memiliki UU tentang Wilayah 
RI yang menetapkan secara tegas garis-garis perbatasan di darat serta 
laut. Namun, Aqlani tidak berkomentar saat ditanya kemungkinan hal 
itu menjadi penyebab Indonesia menghindari sengketa ini ke Mahkamah 
Internasional. 

Dari aspek SDM, kemampuan rata-rata personel militer Indonesia, kata 
dia, lebih rendah dibandingkan Malaysia yang banyak mendapatkan 
pelatihan di luar negeri. Demikian juga dari segi kekuatan armada 
perang serta anggarannya. Armada kapal TNI-AL yang paling muda 
berusia 20 tahun. Jumlah kapal pun sangat minim dibandingkan luas 
wilayah RI. Padahal, tidak mungkin kita mengerahkan sebagian besar 
kapal yang ada ke suatu tempat, sedangkan lokasi lain dibiarkan 
kosong tanpa penjagaan.

Dua unit pesawat pengintai jenis Nomad tidak didukung peralatan radar 
yang memadai. Bahkan, pengintaian masih harus dilakukan secara manual 
menggunakan mata personel, bukan dengan alat canggih. Boeing 737 TNI-
AU yang kabarnya mendukung monitoring di atas Ambalat pun tidak 
akurat lagi memotret posisi musuh serta kawan dari ketinggian 28 ribu 
kaki. Padahal, foto-fotonya digunakan sebagai data intelijen. 

Dengan adanya gap antara kebutuhan dan kemampuan serta ditunjang 
meruncingnya sengketa dengan Malaysia, sangat mungkin Dephan 
mengalihkan prioritas dari pengadaan armada angkut menjadi pengadaan 
armada dan peralatan tempur, terutama untuk TNI-AL. "Dua pertiga 
wilayah NKRI adalah lautan. Jadi, wajar dong armada untuk TNI-AL 
lebih diprioritaskan," tegas pensiunan pati TNI-AD tersebut. 

Tahun ini Dephan akan merealisasikan pembelian dua unit kapal 
Corvette dari Belanda seharga USD 77 Juta, satu unit LPD (landing 
platform dock) dari Korea senilai USD 41 juta, dan rudal C-802 untuk 
TNI-AU senilai USD 22 juta dari China. Litbang Dephan dan ITB pun 
tahun ini akan membuat lima hingga enam unit pesawat intai tanpa awak 
yang dilengkapi radar dan kamera inframerah dengan biaya USD 10 juta. 

Dalam kesempatan itu, Aqlani juga menyatakan bahwa desakan sejumlah 
anggota Komisi I DPR menolak penghentian pembangunan Menara Suar di 
Karang Unarang dan menolak ajakan Malaysia mengadakan patroli bersama 
di wilayah sengketa, sangat masuk akal. "Joint patrol itu di wilayah 
masing-masing, bukan di wilayah sengketa. Sedangkan penghentian 
sementara pembangunan menara suar memang menunjukkan pengakuan kita 
atas wilayah mereka," katanya.

Mengenai perlunya dilakukan tembakan peringatan kepada armada 
Malaysia yang masuk wilayah RI, menurut Aqlani, hal itu bergantung 
tingkat kegentingan. Kalau masih bersifat direncanakan, itu atas 
instruksi presiden. Bila sudah bersifat ancaman, komando di tangan 
panglima TNI atau kepala staf. Namun, bila eskalasinya sudah tingkat 
sangat mengancam, komandan KRI bisa langsung memerintah tembakan 
peringatan atau tembakan balasan.


MUI Kirim Tim ke Kuala Lumpur 

Sementara itu, empat tokoh Islam Indonesia akan bertemu dengan PM 
Malaysia Abdullah Ahmad Badawi di Malaysia hari ini berkaitan dengan 
krisis Blok Ambalat. 

Wakil Ketua PP Muhammadiyah yang juga Sekretaris Umum Majelis Ulama 
Indonesia (MUI) Dien Syamsuddin di Jakarta menyatakan bahwa dirinya 
bersama tiga tokoh Islam lain, yaitu KH Said Agil Siradz (NU), Cholil 
Badawi (DDII), dan Nazri Adlani (MUI), direncanakan bertemu dengan PM 
Malaysia Abdullah Ahmad Badawi untuk membicarakan perkembangan Islam 
pada umumnya dan perkembangan krisis Blok Ambalat khususnya.

"Kami akan meminta Malaysia bisa menyelesaikan sengketa Ambalat 
secara damai," jelas Dien kepada pers di Jakarta kemarin.

Dia mengingatkan agar RI dan Malaysia tidak sampai terjebak politik 
adu domba yang mungkin saja dimunculkan pihak ketiga yang dapat 
merugikan kedua negara dan Islam khususnya.

Pada bagian lain, Dien menyatakan bahwa mereka juga akan menyampaikan 
berdasarkan kajian ilmiah dan histori Blok Ambalat adalah bagian dari 
NKRI. Meski demikian, penyelesaian kasus itu hendaknya dilakukan 
secara bijak dan tidak emosional. (arm/agm/naz)


Harus Gunakan Satelit 

Sementara itu, menanggapi dugaan gelombang komunikasi KRI di-jamming 
(blok) kapal Malaysia, Senior Vice President PT Indosat Tbk Djoko 
Prajitno menyarankan agar KRI menggunakan telepon satelit. 

Menurut dia, pola penyadapan antarkapal selama ini sering dilakukan 
dengan long wave. "Sangat mungkin jamming yang dilakukan kapal 
Malaysia itu dilakukan lewat gelombang long wave. Yaitu, gelombang 
antarkapal biasa," jelasnya kepada koran ini kemarin. Gelombang long 
wave digunakan karena gelombang tersebut merupakan frekuensi yang 
melewati atas permukaan bumi atau di atas laut. 

Mantan direktur satelit Satelindo itu menambahkan, gelombang long 
wave tersebut memang biasa digunakan di antara kapal-kapal, apalagi 
jika jarak antarkapal tersebut berdekatan. "Kalau kapal kita sudah di-
jamming, susah keluarnya. Sebenarnya kita yang harus nge-jam duluan, 
Mas. Kapal kita juga bisa nge-jam kok," tegasnya. 

Menurut dia, jika mau keluar dari jamming tersebut, kapal RI harus 
menggunakan jaringan komunikasi melalui satelit. "Meski sebenarnya 
lebih ke arah komersial, jika untuk kepentingan TNI, satelit ini bisa 
digunakan," ungkapnya. 

Sementara itu, Kadispen TNI-AL Laksamana Pertama TNI Abdul Malik 
Yusuf maupun Kadispen Koarmatim (Komando Armada RI Kawasan Timur) 
Letkol (L) Guntur Wahyudi sama-sama mengaku tidak mengetahui benar 
tidaknya dugaan jamming (pengeblokan) atau penyadapan oleh pihak 
Malaysia terhadap kapal-kapal perang Indonesia yang sedang berpatroli 
di Ambalat. Menurut Guntur, yang mengetahui pasti analisis 
perkembangan terakhir adalah personel di lapangan. Saat dihubungi, 
Guntur sedang berada di Surabaya. 

Di Tarakan dan Nunukan, sejumlah operator telepon megalami gangguan 
sejak pukul 14.00 kemarin. Hingga tadi malam belum diketahui 
penyebabnya. (arm/wda)








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke