15.03.2005
Manusia dan sikap tanpa pamrih
(Dalam kasus bencana selalu muncul penolong tanpa pamrih)
Ketika bencana datang pada saat ratusan ribu orang menderita, selalu saja ada
orang-orang yang bekerja tanpa pamrih dengan menjadi relawan, mengumpulkan
bantuan dan menolong mereka yang menderita. Evolusi ternyata membentuk sikap
tanpa pamrih di paguyuban manusia.
Sejak lama para pakar perilaku, pakar ekonomi dan pakar evolusi mengamati
gejala menarik dalam kebudayaan manusia ini. Di masa kini, yang secara kiasan
disebut zaman orang makan orang, ternyata sikap tanpa pamrih tetap menonjol.
Lihat saja, ketika jutaan orang di Asia menderita akibat bencana tsunami,
secara spontan para relawan bekerja untuk menolong sesamanya yang menderita.
Padahal, mereka yang menderita adalah orang lain, bukan keluarga atau kenalan
para relawan tsb.
Jika melihat pada kebiasaan di dunia binatang, terutama pada primata yang
berderajat tinggi, sikap tolong-menolong memang kerap terlihat di dalam sebuah
kelompok atau gerombolan. Pada monyet misalnya, dapat dilihat perilaku saling
menolong ini. Akan tetapi, pertolongan biasanya hanya diberikan terbatas pada
anggota kelompok. Dalam kerajaan binatang tidak dikenal pertolongan lintas
kelompok. Yang lebih menonjol justru persaingan antar kelompok, yang seringkali
berakhir dengan perkelahian mati-matian.
Manusia tanpa pamrih
Manusia, ternyata memiliki kelebihan.Manusia bersedia menolong dan mengulurkan
tangan, melewati kelompok keluarga, kenalan atau komunitasnya. Mereka siap
menolong orang tidak dikenal, dari etnis atau bangsa lain tanpa pamrih dan
tanpa meminta imbalan.
Tentu saja di balik tindakan tanpa pamrih itu, selalu muncul pertanyaan, apakah
memang betul-betul tindakannya tidak mengharap imbalan? Apakah dalam dunia yang
sudah sangat materialistik, dimana segala sesuatu diukur dengan uang dan
imbalan, sikap tanpa pamrih dan sukarela masih dapat eksis? Keuntungan apa yang
dapat diperoleh dengan sikap semacam itu? Rangkaian pertanyaan semacam itu,
selama bertahun-tahun dilontarkan oleh para ilmuwan.
Penelitian lebih lanjut selama beberapa dekade ini menunjukan, sikap tanpa
pamrih pada manusia adalah produk evolusi. Baik itu evolusi genetis maupun
evolusi kebudayaan. Keduanya berkaitan amat erat, karena jika evolusi terjadi
hanya di satu sektor saja, pola tindakan tanpa pamrih manusia seperti saat ini,
diduga tidak akan berkembang. Boleh dikatakan, paguyuban manusia merupakan
sebuah anomali. Sebab, paguyubannya berbasis pemisahan yang amat rinci, antara
pekerjaan dan kerjasama diantara individu yang tidak memiliki hubungan
kekerabatan.
Dalam masyarakat modern, dimana paguyuban manusia dipisah-pisahkan menjadi
komunitas atau negara, ternyata sikap dan naluri paguyuban pemburu di zaman
purba masih bertahan. Dalam arti, masing-masing kelompok tetap menjalin
jaringan relasi tukar-menukar. Serta tetap mempraktekan bentuk yang lebih
canggih dari saling membagi bahan pangan, perburuan dan perang kolektif.
Egoistis merugi
Dalam evolusinya manusia belajar, jika mereka bersikap egois dan ingin untung
sendiri, seluruh kelompok akan dirugikan. Dan pada akhirnya, yang paling merugi
adalah si egois itu sendiri. Sementara dalam evolusi kebudayaan, berkembang
semacam hukuman komunal terhadap kelompok egois, yang diketahui akan merugikan
ketahanan paguyuban secara keseluruhan.
Dalam evolusinya, manusia terus mengalami seleksi alamiah. Penelitian
menunjukkan, jika kelompok mendahulukan sikap tanpa pamrih, secara bersama
kelompok bersangkutan akan memetik keuntungan genetis. Model komputer dari
berbagai penelitian terbaru juga memperlihatkan, jika terdapat kelompok egois
yang masuk ke dalam kelompok bersangkutan, secara spontan paguyuban akan
bereaksi menghukumnya. Seberapa mahalpun biaya yang harus dibayar oleh
paguyuban, dan tidak ada keuntungan bagi individu yang tanpa pamrih. Bagi
kelompok egois, hanya tinggal dua pilihan. Keluar atau mengikuti sikap bersama
paguyuban. Dengan begitu, skenario evolusi tidak akan terganggu.
Sadar atau tidak evolusi terus berjalan, juga di zaman semua urusan harus
bayar, dimana manusia sudah dijuluki homo economicus, sikap tanpa pamrih atau
tindakan menghukum mereka yang egois secara umum tetap berlaku. Memang terdapat
kekecualian, misalnya di negara-negara yang otoriter, namun demikian evolusi
juga berjalan di sana. Terbukti, kebanyakan negara otoriter semakin lemah dan
tidak memiliki keunggulan lagi. Banyak bekas negara otoriter pecah dan terpuruk
dalam penderitaan.
Untunglah, sikap tanpa pamrih dan siap menolong, selalu muncul sebagai
jawabannya.Prof. Ernst Fehr, pakar dari institut penelitian empirik dalam
ekonomi di Universitas Z�rich di Swiss, melakukan penelitian lebih jauh dari
sikap tanpa pamrih tsb. Disebutkannya, manusia di zaman ini biasanya
memperhitungkan segala tindakannya, dengan kalkulasi untung rugi. Akan tetapi,
manusia juga ternyata bukan semata makhluk ekonomi.
Interaksi saling menguntungkan
Penelitian dengan dua responden, memang menunjukkan apa yang disebut tindakan
murah hati yang saling menguntungkan. Tetapi, ketika polanya diperluas menjadi
sebuah paguyuban masyarakat, sikap saling menguntungkan dari dua individu tidak
berlaku lagi. Penyebabnya, hubungan timbal balik dalam paguyuban yang lebih
besar, menjadi jauh lebih rumit. Selain itu, pola interaksi dan upaya menaikan
reputasi lintas kelompok, memiliki dampak besar dalam kerjasama antar manusia.
Dalam hal ini, evolusi genetika menjadi terkait amat erat dengan ko-evolusi
kebudayaan. Berdasarkan pandangan ilmu sosiobiologi, teori seleksi genetika
untuk menumbuhkan sikap tanpa pamrih dan kedermawanan tidak bisa dipertahankan
jika sudah berbicara paguyuban, dimana di dalamnya terjadi migrasi dan
interaksi lintas kelompok. Interaksi ini, menyebabkan percampuran antara
kelompok tanpa pamrih dan kelompok egois, yang memudarkan keuntungan seleksi
alam dari sikap saling memberi.
Dalam paguyuban masyarakat yang lebih luas, di satu kota atau satu negara
misalnya, transmisi budaya yang justru memainkan peranan besar dalam tumbuhnya
sikap saling memberi dan tanpa pamrih. Transmisi budaya ini tumbuh dari
perilaku keteladanan dan dengan pendidikan. Dengan cara pembelajaran sosial
semacam itulah, norma perilaku yang secara genetik menguntungkan diteruskan
kepada generasi berikutnya. Dalam penelitian selama beberapa dekade terakhir,
semakin dimengerti adanya mekanisme, yang siap menghukum mereka yang egois,
semahal apapun harga yang harus dibayarkan. Dalam dunia yang semakin
materialistik dan penuh hitungan ekonomi, sikap tanpa pamrih dan saling
memberi, ternyata tetap terbukti merupakan produk evolusi, yang masih mampu
mengangkat derajat manusia itu sendiri.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/