-------------------------------------
F r o m :  EC
D a t e :  Tue Mar 15, 2005  8:08 am
Subject :  Re: Minyak Jarak Lagi ...
-------------------------------------

<http://www.kompas.com/kompas-cetak/0503/15/utama/1618615.htm>

Selasa, 15 Maret 2005

----------------------------
Minyak Jarak Pengganti Solar
----------------------------


DI tengah hiruk-pikuk aksi protes di jalanan maupun rencana sejumlah
anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah menggugat
keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak, serta tidak
adanya kebijakan energi yang andal dari pemerintah menghadapi
kelangkaan sumber daya minyak di dalam negeri, ada yang tanpa banyak
bicara terus bekerja mencari energi terbarukan yang ramah lingkungan
dan dapat meningkatkan pendapatan petani miskin.

PENELITIAN yang dilakukan Dr Ir Robert Manurung MEng, pengajar di
Jurusan Kimia Industri Institut Teknologi Bandung (ITB), bersama
timnya sudah memperlihatkan titik terang. Tinggal satu tahap
penelitian akhir untuk pemantapan hasil, maka hasil penelitian
Manurung bisa dimanfaatkan publik.

"Minyak jarak bisa menggantikan minyak diesel untuk menggerakkan
generator pembangkit listrik. Karena pohon jarak bisa ditanam di
hampir semua wilayah Indonesia, maka minyak jarak sangat membantu
membangkitkan energi listrik daerah terpencil dan minyak ini bisa
diproduksi sendiri oleh komunitas yang membutuhkan listrik," kata
Manurung awal pekan lalu kepada Kompas.

Potensi lain adalah ekspor karena tekanan pada negara-negara 
industri maju untuk lebih berperan menurunkan emisi gas rumah kaca.

Manurung didampingi Eiichi Nagayama dan Masanori Kobayashi dari New
Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO),
lembaga di bawah Pemerintah Jepang yang membantu penelitian sumber
energi baru untuk, antara lain, memenuhi kesepakatan Protokol Kyoto
dalam menurunkan emisi buangan bahan bakar minyak (BBM) yang
menyebabkan efek rumah kaca. Penelitian Manurung dengan ITB-nya
dikerjakan bersama-sama Mitsubishi Research Institute (Miri) dan
dibiayai oleh NEDO.

MINYAK jarak didapat dari jarak pagar (Jatropha curcas L) yang
merupakan tanaman semak keluarga Euphorbiaceae. Dalam waktu lima bulan
tumbuhan yang tahan kekeringan ini mulai berbuah, produktif penuh saat
berumur lima tahun, dan usia produktifnya mencapai 50 tahun.

Semua bagian tanaman ini berguna. Daunnya untuk makanan ulat sutra,
antiseptik, dan antiradang, sedangkan getahnya untuk penyembuh luka
dan pengobatan lain. Yang paling tinggi manfaatnya adalah buahnya.
Daging buahnya bisa untuk pupuk hijau dan produksi gas, sementara
bijinya untuk pakan ternak (dari varietas tak beracun) dan yang dalam
pengujian sudah terbukti adalah untuk bahan bakar pengganti minyak
diesel (solar) dan minyak tanah.

"Kita bisa menghemat devisa sangat banyak dengan mengganti 2,5 miliar
liter per tahun solar yang digunakan Perusahaan Listrik Negara, untuk
pembangkit listrik di luar Jawa dengan minyak jarak," papar Manurung.

Manurung amat optimistis karena penelitian setahun terakhir bersama
Miri sudah membuktikan penggunaan minyak jarak 100 persen tanpa
campuran apa pun pada mesin pembangkit listrik dapat menggantikan
solar. Pengujian tahap pertama parameter fisika-kimia pada motor
bakar, dengan bekerja sama dengan Mitsubishi Heavy Industries, sudah
dipublikasikan di ITB bulan lalu (Kompas, 19/2). Sekarang penelitian
memasuki uji tahap akhir untuk menstabilkan minyak jarak dan melihat
dampak pada generator dalam penggunaan operasional 1.000 jam.

Keuntungan lain, minyak jarak dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat,
terutama di daerah dengan sumber alam marjinal. Jika tiap petani
diberi hak mengelola tiga hektar lahan kering, dengan kerapatan
tanaman 2.500 pohon per hektar dan produktivitas 10.000 kilogram biji
per hektar serta harga biji Rp 500 per kilogram, per bulan satu
keluarga petani bisa memperoleh penghasilan Rp 1,25 juta hanya dari
biji jarak. Pendapatan ini dapat bertambah jika bagian lain tanaman
juga dimanfaatkan, misalnya dengan memelihara ulat sutra serta
beternak.

Minyak jarak itu bisa diperoleh dengan pemerasan langsung secara
sederhana sehingga investasi Rp 3 juta-Rp 4 juta sudah memadai untuk
menghasilkan 40 liter minyak per hari. "Berbeda dari biodiesel lain,
minyak jarak tidak perlu penambahan apa pun, tidak perlu etanol atau
metanol seperti yang lain. Penggunaannya juga bisa 100 persen, tidak
perlu dicampur solar lagi," kata Manurung lagi.

Dalam membangkitkan listrik juga tidak diperlukan generator (genset)
baru karena minyak jarak bisa langsung digunakan pada genset yang ada.
Dari sisi lingkungan, minyak ini juga rendah kadar emisi gas sulfur
(SOx), nitrogen (NOx), dan karbon, selain bisa dipakai untuk tanaman
penghijauan dan reboisasi. Karena itu, Manurung yakin penanaman satu
juta hektar jatropha pada tanah marjinal akan menghasilkan 4,3 miliar
liter minyak jarak per tahun dan berarti 
akan menghemat devisa lebih dari Rp 12 triliun, lebih dari penghentian
impor solar senilai Rp 2.800 per liter.

MELIHAT potensinya sebagai sumber pendapatan petani, Himpunan
Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) kini juga bekerja sama dalam penanaman
jarak dengan Dr Manurung. "Kami membayangkan, bila 
petani menanam jarak, diambil minyaknya, lalu digunakan untuk bahan
bakar 100.000 penggilingan padi saja di Indonesia, itu akan
meningkatkan pendapatan petani. Belum hitungan nilai tambah lain 
dan konservasi lingkungan," kata Mindo Sianipar, Ketua HKTI Bidang
Pertanian.

Selain HKTI, proyek ITB-Miri ini juga bekerja sama dengan Pemerintah
Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur dalam penanaman
jarak.

"Yang sekarang kita butuhkan adalah kebijakan energi dari pemerintah
untuk jangka pendek, menengah, dan panjang yang komprehensif. Jangan
bersifat jangka pendek dan reaktif. Harga minyak dunia naik, subsidi
dicabut. Selalu begitu. Kenapa tidak mengembangkan energi alternatif
terbarukan seperti jarak?" kata Untung Anwar dari HKTI.

Manurung yakin, produksi komersial oleh masyarakat tahun depan 
sudah bisa dilakukan. "Sekarang saya ingin mendokumentasikan semua
prosesnya dan memastikan semua berjalan dengan baik, supaya ketika
masyarakat memproduksi sistemnya sudah benar-benar mantap," papar
Manurung.

Untuk proses produksi minyak jarak pengganti diesel, Manurung 
tidak mengajukan paten. "Paten itu salah-salah malah mematikan
kreativitas," katanya. Yang akan dipatenkannya adalah proses 
lanjutan yang lebih canggih dan efisien dalam mengubah limbah
pemerasan minyak jarak untuk menjadi minyak yang bisa mengganti minyak
tanah.

Jika produksi minyak jarak oleh masyarakat sudah berjalan, ujar
Manurung, BBM bukan lagi disiapkan pemerintah bagi rakyat, tetapi
rakyat yang menyediakan BBM bagi dirinya sendiri.








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke