Hy friends,
Memang kesal banget kalo mikirin negeri ini seperti jalan ditempat, bahkan ditipu kiri kanan, termasuk negara tetangga ataupun lembaga internasional. Adakah sih yang pinter di negeri ini ?? Rw. 050309 Wahai SBY, mengapa Indonesia miskin ? Andalah SBY, satu2-nya dalam sejarah negeri ini, kepala negara yang dipilih langsung oleh rakyat. Sebuah predikat paling terhormat lahir bathin dalam kehidupan negeri ini, mengalahkan predikat apapun lainnya. Mampukah anda menyandangnya ? Saranku, jangan anda berencana mengumpulkan kekayaan untuk tujuh turunan anda selagi jadi presiden sekarang ini. Toh anak cucu (cicit dst.) anda juga punya rezeki sendiri. Mending harumkan namamu dengan membangkitkan negeri ini dari kemiskinan dan menjadi negeri yang terhormat dan tidak dijadikan ejekan bangsa lain. Sudah sekian lama saya heran, mengapa Indonesia yang konon negeri nomor tiga di dunia paling kaya dalam sumber alam ini, koq bisa �bisanya menjadi salah satu negara yang rakyatnya di bawah garis kemiskinan baik pendapatan perkapitanya ataupun jumlah hutang negaranya yang jumlahnya tidak kunjung surut. Kalau ada menteri atau siapa saja yang bangga bisa memperoleh �kepercayaan� memperoleh kredit CGI sekian billions USD, saya kira inilah kebodohan yang sangat memalukan. Indonesia pernah hampir berhasil. Dulu, waktu jaman Suharto yang bekerja pragmatis, dan membuat program lima tahunan pembangunan negeri ini, diperkirakan Indonesia akan tinggal landas setelah Pelita ke lima. Artinya dua puluh lima tahun lagi sejak dicanangkannya Pelita pertama pada awal masa jabatan kepresidenan, yaitu 1967. Saya optimis waktu itu, dengan pembangunan industri di mana2, Indonesia menjadi negara terkemuka di Asia Tenggara, pembangunan pencakar langit di Jakarta seperti berlomba-lomba adu cepat dan indah serta megah. Kesalahan fatal ialah bahwa kita membangun dengan dana pinjaman jangka pendek untuk pembiayaan investasi jangka panjang, sehingga pada saat jatuh temponya kita kedodoran menyediakan devisa. Keadaan ini sekalian dimanfaatkan oleh para pialang / petualang pasar uang dunia untuk menghantam cadangan devisa kita, dan hancurlah nilai kurs dari 2500.-/ 1USD menjadi 15000.-/ 1 USD. Dan langsung hancur konglomerat kita yang terjebak dengan pinjaman valuta asing. Lalu sekalian para konglomerat itu meminjam dana talangan BLBI yang disalah gunakan bukan untuk membayar dana nasabah banknya tetapi dipakai untuk memborong USD dalam rangka menyelamatkan harta maling-an-nya, dan sekalian melarikan diri ke luar negri, dan membiarkan banknya yang berdomisili di Indonesia bangkrut menjadi beban pemerintah untuh mebayarkan dana nasabah. Gubernur BI dan MenKeu RI melihat kenyataan ini hanya berpangku tangan. Petaka Ekonomi Terbesar 1998 Jadi bangsa ini pada 1998 kebobolan tiga kali sekaligus yaitu pertama, habisnya devisa (ulah IMF), kedua, dimalingnya BLBI (ulah konglomerat hitam), dan ketiga, Pemerintah harus membayar dana talangan bagi nasabah bank yang bangkrut. Berapa jumlah kerugian yang sesungguhnya, hanya BI dan Dep Keu yang tahu. Itupun kalau mereka peduli dan mau capek2 menghitung.Yang jelas dari �event� itu salah seorang pialang saja (George Soros saja) melaporkan memperoleh kenaikan kekayaan 11 billions USD. Penulis perkirakan kerugian devisa Indonesia di pasar uang sekitar 20 billions USD. Belum lagi BLBI yang dibawa lari para konglo hitam sebesar tidak kurang dari 110 trilyun rupiah, serta dana talangan yang dilakukan pemerintah mengganti uang nasabah bank yang bangkrut tidak kurang dari 60 trilyun rupiah. Belum lagi masyarakat yang menyimpan kekayaannya di rekening rupiah seluruhnya tidak kurang senilai 80 trilyun rupiah langsung ambles tinggal seperenamnya. Total kasar kerugian bangsa ini bisa sekitar Rp. 600 trilyun rupiah. Sayangnya BI dan DepKeu bungkam saja, mungkin malu atau takut diusut. Sehingga rakyat kebanyakan hanya bisa memperkirakan saja. Polri dan Kejaksaan Agung sepertinya hanya samar saja melihat persoalan ini dan begitu gampang mengeluarkan SP3. Apalagi BPPM dengan SPL-nya yang kini sudah bubar, tentu sudah sekalian musnah bukti2 otentiknya. Kita hanya bisa melihat mantan para pejabatnya yang kini ganti menjadi konglomerat yang bersembunyi di balik istana masing2. Sebetulnya waktu itu juga ada beberapa tokoh yang mengingatkan kebobrokan / kebodohan yang terjadi yang bakal menimpa negeri kita seperti misalnya Kwik Kian Gie, sayangnya tokoh �jujur� (setahu saya) seperti ini malah terpinggirkan. Maka Indonesia langsung jatuh miskin habis. Dan tercapailah tujuan pihak2 yang tidak menginginkan tumbuhnya �macan2 asia� yang berani menentang maksud mereka untuk mengucilkan Myanmar. Tidak jauh2 sih mereka para konglomerat hitam itu melarikan diri, ke Singapore saja, yang justru terkesan sebagai negara penampung dan melindungi para maling ini. Sampai sekarang unsur tradisional di pemerintahan Singapore masih terikat secara etnis dengan para pelarian Indonesia ini, sehingga belum bisa secara ikhlas membiarkan Perdana Menterinya menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Kita lihat saja sejauh apa mereka ini akan bertahan. Apakah Indonesia memang tidak punya Pemimpin bangsa yang baik dan mampu ? Bukan hanya kerja keras, tapi juga kudu jujur dan cerdas. Saya lebih cenderung untuk berpikir positip, bagaimana bisa menjadikan Indonesia ini negara yang baik, setelah Indonesia sekian lama terseok-seok. Sementara negara lain seperti Thailand, dan Malaysia yang sumber alamnya relatip jauh di bawah Indonesia, tetapi cerdas, malahan sekarang ekonominya sudah jauh melesat meninggalkan Indonesia. Apakah Indonesia memang tidak punya Pemimpin bangsa yang baik dan mampu ? Terlalu banyak yang koruptor ? Memang sih, kalau berbicara mengenai Habibie, Gus Dur dan Mega, jangan terlalu disalahkan walaupun mereka ini pribadi juga memetik manfaat dari keboborkan itu, tetapi sesungguhnyalah mereka ini kepala negara amatiran, tidak siap dengan tugasnya. Dulunya, sebelum terpilih memang dikenal sebagai orang baik, tetapi setelah terpilih, dan sekarang setelah lengser, biarlah rakyat bebas menilainya. GBHN yang program pokoknya dilahirkan MPR, tegasnya Badan Pekerja MPR, sebetulnya sudah realistis, sayang realisasinya di lapangan banyak digerogoti oleh para pelaksananya sendiri. Dan yang tidak kalah fatal adalah policy sumber pembiayaan yang terlalu mem �beo� kepada IMF yang pada hakekatnya tidak jauh berbeda dengan pedagang biasa (pedagang uang), dan pimpinan IMF adalah manusia biasa yang mempunyai rasa keberpihakan tertentu, baik keberpihakan dari sisi filosofi politik, keagamaan, etnis, sejarah masa lalu, dsb.. Tetapi Soekarno dan Soeharto harus kita akui sebagai kepala negara yang mampu, hanya kemampuannya itu dalam bidang tertentu, yang ternyata mengandung kelemahan fatal. Kalau Soekarno dulu karena terjebak teorinya sendiri yang akan menghidupkan NasAKom, yang ternyata berakhir tragis dan menjadikan dirinya sendiri korban pertikaian 3 kekuatan kelompok politik yang justru ia bina selama itu. Sedangkan kalau di jaman Soeharto, ia terlena oleh kekuatannya sendiri yang di baliknya banyak penumpang gelap terselubung yang banyak memanfaatkan nama keluarganya. Dan di samping itu kesalahan fatal Soeharto ialah memakai penasihat IMF yang memang dari �sono�nya tidak ingin negara Asia maju, yang waktu itu dikenal sebagai macan2 Asia, apalagi menandingi kekuatan ekonomi (mengancam hegemoni) Amerika dan Eropa. Pemicu terakhir yang lalu mengerahkan Soros cs untuk menyerang keuangan Asia, adalah keengganan Asean ( yang anggautanya yang paling berpengaruh ialah Indonesia ) untuk mengucilkan Myanmar yang tidak memberi hidup kepada �demokrasi�. Indonesia dinilai sebagai ABG yang tidak tahu diri, dan bodoh. Setidaknya MenKeu dan Gubernur BI kita waktu itu, entah karena bingung atau karena terbius oleh �saran memaksa� IMF membiarkan kurs rupiah tetap mengambang dan habislah dikuras devisa kita dan untung besarlah Soros. Walaupun juga Myanmar tetap saja begitu2 saja. Perhatian Amerika kesedot peristiwa 9/11 dan segala langkah ikutannya. Tidak demikian Malaysia dengan PM Mahathir yang cerdik Ternyata tehnokrat kita (Gubernur BI dan MenKeu) tidak tahu (bodoh atau disuap?) bahwa waktu itu sedang berlangsung proses pemiskinan Indonesia secara habis-habisan. Sekarang SBY memakai lagi tehnokrat IMF dengan menempatkannya di Bapenas, MenKeu dan Meperdag. Mungkin maksudnya supaya kita tidak terkucilkan di dunia pinjam meminjam di dunia internasional. Sekarang Memperdag sudah akan membuka kran ekspor rotan mentah. Mungkin tidak lama lagi juga kayu gelondongan, barang2 yang tidak bernilai tambah dulu dari dalam negeri. Demi apa ? Demi teori perdagangan bebas. Maka Indonesia akan tetap menjadi negara pengimpor barang jadi dan pengekspor barang mentah, dan tetap miskin. RRC akan menjadi pengekspor furnitur rotan ke Indonesia karena lebih murah, lantaran kebijakan kurs dumpingnya. Rakyat Indonesia akan menjadi buruh ke luar negri dan diperlakukan seperti budak. Sebetulnya pada pemerintahan kita yang lalu kita punya Rizal Ramli di jaman Gus Dur dan Kwik Kian Gie di jaman Mega, yang mereka ini sebetulnya adalah orang yang cinta tanah air. Sayangnya mereka seperti sendirian. Rizal Ramli dua tahun gak jelas misinya apa, bahkan Kwik Kian Gie tidak dapat angin dari Mega, justru konon Mega malahan lebih banyak memberi angin kepada langkah2 menteri lainnya yang loyalitasnya kepada negara diragukan oleh banyak pihak, sehingga lebih banyak langkah2 yang justru tidak membela rakyat dengan menjual aset-aset negara secara obral dan sulit diterima kewajarannya. Akibatnya orang pecinta tanah air seperti Kwik ini malahan terpinggirkan. Ini juga salah satu sebab utama kekalahan Mega. Bukan �Debat TV� tetapi �Diskusi TV� para ekonom yang berseberangan, Drajat Wibowo, sang anggauta DPR yang berani mengkritisi para kader IMF di kabinet Indonesia bersatu, mestinya bukan mengarahkan kritisi nya secara a la carte per kasus donk. Mestinya konsep dasar pembangunan Indonesia sebaiknya gimana, baik yang jangka pendek 5 tahun ke depan gimana dan kerangka jangka panjang 25 tahun ke depan gimana. Mungkin tidak usah berupa buku yang terlalu tebal, cukup lima puluh halaman saja, sekaligus sebagai masukan bagi Sri Mulyani cs., sejauh mana ia akan membandingkan dengan teorinya sendiri, dan berdebatlah dengan fair. Rakyat akan senang bila suatu saat dalam tahun ini juga ada diskusi (bukan debat) melalui TV antara Kwik Kian Gie, Drajat Wibowo, Rizal Ramli di satu front berhadapan frontal dengan Yusuf Anwar, Sri Mulyani, Marie Pangestu. Bukan untuk mencari siapa yang lebih jago, tapi secara tulus berargumentasi dan mengambil mana yang baik untuk bangsa dan negara. Paling tidak diskusi terbuka seperti ini akan membangkitkan kepercayaan rakyat bahwa dua tahun lagi, seperti kata Sri Mulyani, Indonesia akan �menggeliat� mulai membangun. Tolong dong, tahapannya itu apa saja bisa sampai ke sana tuh gimana ? Memang pro IMF banyak untungnya, artinya tidak terkucilkan dalam pergaulan di dunia internasional yang dikuasai oleh Amerika, Eropa dan Jepang. Terbukti juga sumbangan bencana Aceh cukup mengejutkan besarnya. Akan tidak demikian bila kita bersikap tertutup seperti China di dekade 70, 80, 90 an atau Iran yang kontroversial dengan doktrin Khomeini nya. Sebagus-bagusnya hubungan dengan IMF. Tetapi sebagus-bagusnya berteman dengan IMF sebaiknya sampai tingkat tertentu saja. Oleh karena politik kita dalam jangka panjang dapat diperkirakan akan tetap masih bertema Dasa Sila Bandung, anti imperialisme ekonomi, politik dll., pro Palestina, pro Arab, pro Afganistan dan Irak, anti Israel, dan kita lunak kepada Islam garis keras, maka kita tidak akan �direstui� menjadi negara maju, karena hal ini akan menciptakan duri dalam daging, seperti halnya Sadam Husein, Khadafy, Mahathir Mohammad. Akan sama dengan sikap mereka kepada negara Arab yang tidak akan membiarkan setara dengan Israel. Tidak akan Indonesia di bantu seperti halnya Marshal Plan atau rehabilitasi Jepang pasca PD II. Sedangkan Soeharto saja yang tempo hari tidak mau ikut mengucilkan Myanmar juga sudah dianggap sebagai �bukan teman� makanya kerja sama militer dihentikan, ekonominya dihancurkan, daripada kalau dibiarkan besar akan mempermalukan Amerika bahwa saran2nya tidak diterima, dan bisa berbahaya seperti China sekarang ini, yang jumlah devisanya sudah lebih besar dari devisa Amerika sendiri. Terus terang China adalah musuh besar berikutnya setelah Irak, Iran, Korea Utara. Sesungguhnyalah Malaysia juga tidak direstui menjadi negara yang maju. Tidak lama lagi menara kembarnya, Petronas, akan digantikan oleh Freedom Tower nya New York City dengan ketinggian 560 m, menggantikan WTC Building yang rontog oleh teroris yang konon beragama Islam. Walaupun sampai sekarang tidak ada bukti kuat bahwa penghancur menara kebanggan Amerika tersebut adalah orang Islam, (dan bukannya misalnya para ekstrimis yang kebetulan beragama Islam). Pendapat umum sudah terlanjur menuduh demikian, dan orang Islam juga tidak ada yang membantah. Membantah tanpa bukti juga tidak ada gunanya. So jadi bagaimana mesti melangkah ? Selama kita berpolitik begini2 saja, kita paling banter akan jadi negara kelas sedang2 saja, yang setelah sumber daya alam habis kita akan menjadi negara yang mempunyai ketergantungan sangat tinggi kepada negara produsen. Dengan demikian akan menjadi semakin miskin dan akhirnya jadi bangsa budak, merantau dan dikejar diperas tanpa dibayar seperti TKI kita di Malaysia sekarang. Ada gak sih bangsaku yang prihatin mengenai masalah ini ? Gerakan anti korupsi yang sekarang dilancarkan oleh pemerintahan SBY harus didukung. Terlepas dari suara2 miring dari para �tokoh� yang kadernya banyak terlibat korupsi di daerah, bahwa penangkapan para bupati, anggauta DPRD dsb., adalah bermotif politik, sesungguhnyalah ini bisa diartikan oleh rakyat bahwa SBY bersungguh2 memberantas korupsi. Bahwa yang ditangkepin yang kecil2 dulu, ya gak apa2 deh, sekalian buat latihan. Mudah2 an berani dan mampu nangkep yang gedean juga mulai semester II tahun ini juga. Mendesak. 1. Jadi saranku, wahai DPR, cobalah berpikir besar. Bukan hanya mikir perut sendiri dengan minta tambah naik gaji Rp.10 juta,- / bln. Juga bukan hanya masalah kecil2 yang anda anggap memberikan peluang untuk impeach SBY, untuk memberikan peluang bergantian memegang kekuasaan, tetapi lebih utamakan bagi kepentingan bangsa ke depan. Garis besar rencana pembangunan kedepan, tolong dicermati. Misalnya ajak berdiskusi / minta penjelasan para menteri ekonomi kita sejauh mana kehandalan pemikiran dan rencana langkah2 mereka dalam mengusahakan kemakmuran rakyat Indonesia yang paling kaya nomor tiga di dunia akan sumber alam ini, tetapi sekarang ini rakyatnya masih miskin terus. 2. Dan wahai SBY, andalah peran utama negeri ini, jangan terkecoh oleh berbagai saran muluk yang tidak jelas hakekat persoalannya, dari manapun sumbernya. Jadikan Indonesia makmur, adil dan aman dalam lima tahun ini. Salam, Rw __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to life by funding a specific classroom project. http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

