Kapitalisme memang merusak, kita sadari bersama.

Tetapi, tidakkah kita lupa, bahwa satu satunya azas politik, yang 
secara systematis mau menghancurkan tatanan kapitalisme, yaitu 
sosialisme, dihancurkan oleh kekuatan Islam di-mana2 dengan dukungan 
US? Ingat tahun 1965/66?

Ingat Afganistan melawan Rusia? Siapakah yang mendukung Arab Saudi, 
Kuweit dan kerajaan kerajaan kaya raya berdasar kapitalisme, kalau 
bukan US? Disini kekuatan Islam bermain manis dengan kapitalisme.

Mas, kapitalisme menghancurkan tatanan di-mana mana. Yang jadi korban 
bukan hanya umat Islam, tetapi juga umat Katholik, misalnya di 
Amerika Latin, umat Buddha di Tibet, orang Hindu di India (rakyatnya, 
bukan para elit yang bermain manis dengan kapitalisme), orang Indian, 
Aborigin, penduduk di Afrika...

Tidakkah penguasa dari segala agama, Islam, Kristen dll, bermain 
manis dengan kapitalisme?

Salam
Danardono



--- In [email protected], A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> From: "Studia Publication" <[EMAIL PROTECTED] >
> Subject: [STUDIA] Edisi 235: "Berhenti Berharap Kepada
> Kapitalisme"
> 
> 
> Assalaamu'alaikum wr. wb.
> 
> Sobat muda muslim, ini artikel Studia edisi 235/Tahun
> ke-6 (14 Maret 2005)
> 
> Edisi cetaknya di Jabodetabek udah beredar sejak hari
> Senin kemarin. Oke deh. Selamat membaca...
> 
> *[Dapatkan juga edisi cetaknya di jaringan kami di
> berbagai kota besar lainnya: Aceh, Padang, Bengkulu,
> Palembang, Pangkalpinang, Bandarlampung,
> Serang, Sukabumi, Bandung, Sumedang, Cirebon,
> Indramayu, Yogyakarta, Solo, Semarang, Bangil,
> Pasuruan, Surabaya, Jember, Banjarmasin, Samarinda,
> Balikpapan, Kendari, dan Makasar]
> 
> Saran dan kritik, silakan kirim ke:
> Redaksi: [EMAIL PROTECTED]
> Penerbit: [EMAIL PROTECTED]
> HP: 08128841181
> 
> Kunjungi situs kami di: <http://www.dudung.net>
> Akses via HP: <http://mobile.dudung.net> (dan dapatkan
> arsip artikel sebelumnya. Free!)
> 
> Salam,
> Redaksi Buletin Studia
> Bogor
> ---
> Berhenti Berharap Kepada Kapitalisme
> STUDIA Edisi 235/Tahun ke-6 (14 Maret 2005)
> 
> Apa sih kapitalisme itu? Kalo kamu mendengar berita
> ada anak SD yang berupaya melakukan bunuh diri dengan
> cara menggantung dirinya gara-gara nggak bisa bayar
> uang sekolah, itulah korban kapitalisme. Lho, kok bisa
> sih?
> Iya, karena dalam kapitalisme berlaku hukum: siapa
> yang punya kekuatan (termasuk duit), merekalah yang
> berhak mendapatkan segalanya (termasuk pendidikan).
> Buat rakyat miskin, harap tahu diri. Karena sekolah
> hanya boleh bagi mereka yang punya duit cukup (atau
> lebih).
> 
> Apa sih kapitalisme itu? Kapitalisme adalah ketika
> kamu melihat "bisnis hukum". Siapa yang bisa menyogok
> para oknum hakim dan jaksa dengan duit dan harta,
> dialah yang akan memenangkan perkara. Tengok
> deh para bankir bermasalah yang kini mungkin sedang
> menikmati surga dunia di negeri orang. Pinjam uang ke
> negara, terus bisnis. Bisnisnya gagal (atau
> sengaja digagalkan), lalu kabur bawa sebagian uang
> pinjaman itu. Untuk mengamankan diri, ia sebar ratusan
> juta rupiah kepada para oknum penegak hukum (polisi,
> kejaksaan, dan mungkin juga petugas bagian emigrasi).
> Beres kan? Itulah kapitalisme.
> 
> Apa arti kapitalisme? Ketika negara tak lagi punya
> taring untuk memberangus para pengusaha, para
> konglomerat nakal. Penguasa dikalahkan oleh para
> pengusaha kelas kakap. Di Amerika, setiap ada
> pemilihan presiden, pasti para pengusaha sudah
> menyemut mendekati calon presiden sambil berjanji akan
> membantu kampanyenya. Sebagai imbalannya, jika sang
> calon terpilih, maka presiden terpilih harus
> mempermudah usaha para konglomerat yang telah
> mendanai kampanyenya.
> 
> Praktik seperti ini, berlaku hampir di semua negara
> yang menerapkan sistem kapitalisme. Termasuk, bukan
> nuduh lho, bisa jadi di negeri ini. Sudah bukan
> rahasia lagi tuh. Benar, saya sering mendengar, bahkan
> sempat ngobrol dengan
> seorang karyawan pemda bahwa untuk menjadi penguasa
> daerah setingkat bupati
> saja dana yang dibutuhkan sekitar 5 miliar perak. Saya
> penasaran bertanya:
> "Dari mana uang itu didapatkan dan akan disalurkan ke
> mana?"
> 
> "Gampang Mas, banyak pengusaha yang mendanai kok.
> Lagian uang itu akan
> dibagikan juga ke anggota DPRD dan ke Departemen Dalam
> Negeri. Tapi&#8230;
> dalam setahun atau dua tahun juga udah balik modal,
> Mas," jelasnya
> tanpa ragu.
> 
> "Wah, nggak takut dosa tuh?" tanya saya.
> 
> "Ya, gimana lagi, itu kan aturan yang berlaku,"
> katanya sambil
> terus menyetir mobil.
> 
> Hmm&#8230; ternyata begitu ya? Ya, inilah kapitalisme.
> 
> Apa yang dimaksud dengan kapitalisme? Jika kamu sering
> melihat ada orang
> yang mengejar kenikmatan jasadi dan materi, meski
> untuk meraihnya harus
> melanggar aturan masyarakat, juga aturan agama, itulah
> bagian dari gaya
> hidup yang diajarkan kapitalisme. Karena apa? Karena
> tujuan utama dalam
> berbuat menurut kaum kapitalis adalah kenikmatan
> (material). Orang yang
> tidak mencari kenikmatan material itu tidak realistis.
> Dalam faham itu,
> sistem nilai ditentukan oleh keuntungan fisik.
> 
> Jadi jangan heran jika pelacuran merajalela, peredaran
> miras dan narkoba pun
> sulit dihentikan. Pemerintah bahkan "melegalkan"
> bisnis
> pelacuran dengan memberikan jabatan kepada pelaku
> utamanya sebagai PSK alias
> Pekerja Seks Komersial. Perjudian seolah bukan
> kegiatan terlarang. Buktinya,
> meski sudah banyak bertebaran tempat dan permainan
> judi, pemerintah dari
> tingkat kelurahan sampe pusat menutup mata. Bukan tak
> bisa membereskan, tapi
> nggak ada niat. Bahkan sangat boleh jadi mereka sudah
> dicocok duluan
> mulutnya pake duit jutaan rupiah. Malah nih,
> seringkali yang jadi
> "centeng"-nya untuk mengamankan bisnis judi dan usaha
> birahi
> terlarang itu adalah oknum aparat keamanan. Inilah
> kapitalisme.
> 
> Kapitalisme itu apa ya? Ketika negara berbisnis dengan
> rakyat, ketika para
> penguasa ogah mengulurkan tangannya untuk
> mensejahterakan rakyat, malah
> membuat rakyat sengsara, itulah negara yang bermesraan
> dengan kekasihnya
> bernama kapitalisme. Karena prinsip utama paham ini
> adalah: di mana yang
> kuat harus (secara alami) mencaplok yang lemah. Jika
> ada yang menentang
> konsep semacam itu, maka ia dianggap tidak waras,
> terhalusinasi dan
> pembangkang karena "ingin merusak tatanan
> ko-eksistensi". Lebih
> dari itu, itulah keadilan, menurut mereka.
> 
> Sederhananya, kamu bisa melihat bagaimana "serangan
> fajar"
> dimulai pada 1 Maret 2005 oleh pemerintah untuk
> menaikkan harga BBM. Untuk
> menutupi kebiadaban dan keganasannya, mereka tampil
> bak pahlawan pembela
> rakyat. Tak henti berkampanye dengan
> menggembar-gemborkan bahwa subsidi
> untuk beberapa jenis BBM itu salah sasaran. Karena
> ternyata katanya
> dinikmati oleh mereka yang termasuk golongan berduit.
> Maka, atas nama
> &#8216;keadilan', mereka mencabut subsidi untuk BBM
> itu dengan cara
> menaikkan harganya. Katanya sih, denger-denger, dana
> kompensasi dari
> kenaikan harga BBM itu akan diberikan kepada rakyat
> kecil berupa tunjangan
> kesehatan dan pendidikan.
> 
> Terwujudkah? Ya, jangankan merasakannya, mungkin
> rakyat nggak pernah tahu
> dengan rencana itu. Bukti nyata di lapangan aja,
> ternyata minyak tanah pun
> (padahal katanya nggak dinaikkan), harganya meroket
> hampir menyamai harga
> bensin (premium). Wajar sih, karena pengusaha minyak
> di tingkat eceran juga
> berdalil, "Emangnya bahan bakar yang dikonsumsi truk
> pengangkut minyak
> tanah dari depo pertamina pake minyak tanah juga? Pake
> bensin tahu!"
> Walah!
> 
> Jadi kalo pun akhirnya biaya kesehatan murah dan
> sekolah murah, tapi untuk
> mengepulkan dapur kewalahan, itu baru minyak tanah
> yang naik, padahal harga
> sembako udah ikut-ikutan latah naik. Ongkos anak ke
> sekolah pun jadi tambah
> besar. Akhirnya, memang bukan membantu rakyat miskin,
> tapi membantu
> memiskinkan rakyat. Glek!
> 
> Beginilah hidup sengsara di bawah naungan kapitalisme.
> Kalo mau dirunut lagi
> kayaknya perlu satu buku khusus yang halamannya bisa
> mencapai ratusan atau
> bahkan ribuan untuk membeberkan segala kerugian yang
> diakibatkan sistem
> kapitalisme ini. Jujur saja, sebaiknya kita berhenti
> berharap kepada sistem
> kehidupan ini deh!
> 
> Standar ganda
> 
> Sobat muda muslim, dalam kapitalisme memang dikenal
> kebebasan. Siapapun
> bebas melakukan apa saja. Mulai dari kegiatan untuk
> menyenangkan diri
> sendiri sampe untuk mengajak orang lain
> bersenang-senang bersamanya. Bebas.
> Bahkan saking bebasnya, seringkali kebablasan.
> 
> Ngomongin kebebasan, jadi pengen ngejelasin dikit nih
> bahwa kapitalisme itu
> punya instrumen politik bernama demokrasi. Nah, dalam
> demokrasi inilah
> dikenal adanya kebebasan yang bisa dirinci jadi empat
> bagian: kebebasan
> beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan pemilikan,
> dan kebebasan
> bertingkah laku.
> 
> Lihat deh, dalam demokrasi ini orang boleh dan bebas
> mau beragama apa aja,
> sekaligus bebas mau beragama atau tidak. Karena agama
> adalah urusan pribadi.
> Orang lain jangan mengusik atau mempermasalahkannya.
> Tentang kebebasan
> berpendapat bisa kamu saksikan bahwa kini banyak orang
> bebas mengeluarkan
> pendapatnya. Baik pendapat yang salah maupun pendapat
> yang benar. Pokoknya
> bebas. Awalnya ada angin segar juga sih buat kita yang
> mendakwahkan Islam.
> Tapi, kalo menyuarakan kebenaran Islam itu untuk
> melawan demokrasi, tentunya
> bakalan digilas juga. Standar ganda dong?
> 
> Yup, silakan ikuti terus kasus Ustdaz Abu Bakar
> Ba'asyir yang nggak ada
> ujung pangkalnya itu. Tuduhannya aja jadi
> berlapis-lapis dan nggak logis.
> Amrik dan Australia pun berani-beraninya ikut-ikutan
> intervensi dalam kasus
> tersebut. Maklum, katanya sih karena berkaitan dengan
> terorisme. Tapi, dunia
> menutup mata ketika Amrik dan Inggris, juga Australia
> memercikkan api
> peperangan di Irak dan Afghanistan. Siapa sebetulnya
> yang jadi teroris?
> 
> Inilah standar ganda. Kapitalisme juga rajin membuat
> terminologi sendiri
> kepada mereka yang nggak suka dengan konsep
> kapitalisme, lalu
> menggembar-gemborkannya dengan kekuatan propaganda di
> segenap pelosok dunia.
> Terminologi itu menjelaskan bahwa yang bukan liberal
> adalah totalitarian,
> antiplural, pembangkang, utopian, fanatik dan fasis,
> termasuk tentunya
> teroris.
> 
> Dalam demokrasi juga diajarkan kebebasan memiliki.
> Maka lihat deh, berapa
> juta hektar hutan yang dimiliki oleh para konglomerat
> di negeri ini.
> Padahal, itu milik umum yang seharusnya dikelola oleh
> negara dan hasilnya
> diberikan untuk rakyat banyak.
> 
> Kebebasan bertingkah laku pun dilindungi dalam
> demokrasi. Itu sebabnya, para
> pelacur dan pezina, tukang copet, maling, koruptor,
> perampok, dll tidak
> semuanya dihukum. Mereka yang dihukum biasanya yang
> nggak bisa membelinya
> dengan uang dan harta. Bisnis pelacuran aman karena
> rajin &#8216;setor'.
> Gawat!
> 
> Destroy capitalism, rise with Islam
> 
> Sobat muda muslim, sebagai remaja kita udah dewasa,
> sehingga pantas aja kalo
> mikirin soal kehidupan ini. Nggak tabu kok remaja
> ngomongin urusan politik.
> Karena yang namanya politik berarti "pengaturan urusan
> umat".
> Nah, kalo kamu udah mikirin kondisi umat ini, apalagi
> berusaha menyampaikan
> solusi dengan menghadirkan kebenaran Islam, kamu udah
> termasuk berpolitik
> lho. Bener.
> 
> Jangan anggap bahwa politik itu cuma urusan
> pemerintahan doang. Nggak. Itu
> keliru. Tapi politik itu mencakup urusan umat secara
> umum. Segala aspek
> kehidupan. Oke?
> 
> Itu sebabnya, ketika kamu udah membaca tulisan ini
> sejak awal, kemudian kamu
> kembangkan sendiri faktanya, kita yakin kamu udah ngeh
> dan paham sekarang,
> ternyata "inilah rasanya" hidup di bawah naungan
> kapitalisme.
> Nah, kalo udah ngeh kayak gini, seperti kata Sheila on
> 7 : "berhenti
> berharap". Ya, tapi kita tambahin menjadi, "berhenti
> berharap
> kepada kapitalisme".
> 
> Itu sebabnya, mari kita kampanyekan keagungan Islam
> dan berusaha
> menerapkannya sebagai ideologi negara. Karena saat
> ini, ketika Islam tidak
> diterapkan sebagai ideologi negara, berbagai kerusakan
> sudah nyata di depan
> kita. Kalo rajin baca koran atau lihat berita kriminal
> di layar kaca, kita
> jadi miris karena ternyata rasa aman begitu mahal.
> Banyak sekali tindak
> kekerasan di sekitar kita.
> 
> Soal pelacuran juga sungguh sangat mengkhawatirkan,
> sebagai contoh, di Jawa
> Barat saja berdasarkan Data dari Kantor Dinas Sosial
> Provinsi Jabar tahun
> 2003, ada 300-an tempat pelacuran terbuka di wilayah
> ini dengan jumlah PSK
> sekitar 6.276 orang. Dari jumlah itu, sekitar 30
> persen (sekitar 1.800) anak
> yang berusia di bawah 18 tahun bekerja sebagai PSK
> (Kompas, 27 Mei 2004)
> 
> Kalo dianggap bahwa itu terus bertambah, sudah berapa
> ribu coba? Itu yang
> terdata, belum yang liar. Seperti gunung es, kecil di
> permukaan ternyata
> besar di dalam. Itu baru di Jawa Barat, belum daerah
> lainnya. Mengerikan.
> Silakan kamu searching kasus lain yang jumlahnya
> banyak dan mudah kita
> jumpai.
> 
> Oke deh mulai sekarang, kita mulai mengkaji Islam
> dengan serius agar tahu
> keagungan Islam. Karena mustahil bisa kenal Islam,
> kalo nggak
> mempelajarinya. Terus, kalo udah tahu kita wajib
> mengamalkannya. Kita contoh
> perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabatnya yang
> dengan semangat
> menyebarkan Islam. Sehingga Rasulullah saw. sanggup
> mendirikan negara Islam
> pertama di Madinah. Negara Islam itu tegak berdiri
> sampe akhirnya (setelah
> 1300 tahun lebih), karena banyak perlawanan dari
> musuh-musuhnya, plus
> kemunduran berpikir umat Islam karena teracuni
> tsaqafah asing, runtuh pada
> tanggal 3 Maret 1924. Waktu itu, pemerintahan Islam
> berpusat di Turki.
> 
> Ya, semoga saja, dengan kegigihan kita untuk belajar
> dan memperjuangkan
> Islam ini, kita bisa segera melepaskan diri dari
> belenggu kapitalisme.
> Rasa-rasanya sangat layak kalo kita sekarang teriak:
> destroy capitalism,
> rise with Islam . Kapitalisme sudah basi! [solihin]
> 
> --
> Buletin Remaja Studia terbit setiap Senin sejak
> Januari 2000, "Gaul, Syar'i,
> dan Mabda'i"
> Penerbit: Studia Publication. Alamat: Jl. Raya
> Cilendek, Gg. Gotong Royong,
> Cilendek Barat,
> Kotamadya Bogor, HP 0812-8841181. Website:
> <http://www.dudung.net> e-mail:
> [EMAIL PROTECTED]  dan [EMAIL PROTECTED] 
> Mailing List:
> [EMAIL PROTECTED]
> Pimpinan
> Usaha: Abu Fadhlan. Pimpinan Redaksi: O. Solihin.
> Redaksi: Guslaeni Hafidz,
> Sausan Afrasana,
> Ria Fariana. Webmaster: Dudung AST. Sekretaris: Ummu
> Rafi'; Pemasaran:
> Zulhaidir 0812-
> 8638134 atau 0251-7113236. Perwakilan Jakarta dsk.:
> Angga [0817-4805638].
> Bandar Lampung
> dsk. : Nisa [0856-69619545]. Samarinda dsk. : Abu
> Silmi [0812-5533072]
> Balikpapan dsk.:
> Zahra [0816-4511177] Bangil-Pasuruan dsk.: Hakiky
> [0813-30682673] Harga: Rp
> 200,-/exp
> (Daerah: Rp 300,-/exp). Minimal pesanan 50 eks.
> 
> SMS bei wichtigen e-mails und Ihre Gedanken sind frei
> ...
> Alle Infos zur SMS-Benachrichtigung:
> <http://www.gmx.net/de/go/sms>
> 
> 
> 
> Assalaamu'alaikum wr. wb.
> 
> Sobat muda muslim, ini artikel Studia edisi 235/Tahun
> ke-6 (14 Maret
> 2005)
> 
> Edisi cetaknya di Jabodetabek udah beredar sejak hari
> Senin kemarin. Oke
> deh. Selamat membaca...
> 
> *[Dapatkan juga edisi cetaknya di jaringan kami di
> berbagai kota besar
> lainnya: Aceh, Padang, Bengkulu, Palembang,
> Pangkalpinang, Bandarlampung,
> Serang, Sukabumi, Bandung, Sumedang, Cirebon,
> Indramayu, Yogyakarta, Solo,
> Semarang, Bangil, Pasuruan, Surabaya, Jember,
> Banjarmasin, Samarinda,
> Balikpapan, Kendari, dan Makasar]
> 
> Saran dan kritik, silakan kirim ke:
> Redaksi: [EMAIL PROTECTED]
> Penerbit: [EMAIL PROTECTED]
> HP: 08128841181
> 
> Kunjungi situs kami di: <http://www.dudung.net>
> Akses via HP: <http://mobile.dudung.net> (dan dapatkan
> arsip artikel
> sebelumnya. Free!)
> 
> Salam,
> Redaksi Buletin Studia
> Bogor
> ---
> Berhenti Berharap Kepada Kapitalisme
> STUDIA Edisi 235/Tahun ke-6 (14 Maret 2005)
> 
> Apa sih kapitalisme itu? Kalo kamu mendengar berita
> ada anak SD yang
> berupaya melakukan bunuh diri dengan cara menggantung
> dirinya gara-gara
> nggak bisa bayar uang sekolah, itulah korban
> kapitalisme. Lho, kok bisa sih?
> Iya, karena dalam kapitalisme berlaku hukum: siapa
> yang punya kekuatan
> (termasuk duit), merekalah yang berhak mendapatkan
> segalanya (termasuk
> pendidikan). Buat rakyat miskin, harap tahu diri.
> Karena sekolah hanya boleh
> bagi mereka yang punya duit cukup (atau lebih).
> 
> Apa sih kapitalisme itu? Kapitalisme adalah ketika
> kamu melihat
> "bisnis hukum". Siapa yang bisa menyogok para oknum
> hakim dan
> jaksa dengan duit dan harta, dialah yang akan
> memenangkan perkara. Tengok
> deh para bankir bermasalah yang kini mungkin sedang
> menikmati surga dunia di
> negeri orang. Pinjam uang ke negara, terus bisnis.
> Bisnisnya gagal (atau
> sengaja digagalkan), lalu kabur bawa sebagian uang
> pinjaman itu. Untuk
> mengamankan diri, ia sebar ratusan juta rupiah kepada
> para oknum penegak
> hukum (polisi, kejaksaan, dan mungkin juga petugas
> bagian emigrasi). Beres
> kan? Itulah kapitalisme.
> 
> Apa arti kapitalisme? Ketika negara tak lagi punya
> taring untuk memberangus
> para pengusaha, para konglomerat nakal. Penguasa
> dikalahkan oleh para
> pengusaha kelas kakap. Di Amerika, setiap ada
> pemilihan presiden, pasti para
> pengusaha sudah menyemut mendekati calon presiden
> sambil berjanji akan
> membantu kampanyenya. Sebagai imbalannya, jika sang
> calon terpilih, maka
> presiden terpilih harus mempermudah usaha para
> konglomerat yang telah
> mendanai kampanyenya.
> 
> Praktik seperti ini, berlaku hampir di semua negara
> yang menerapkan sistem
> kapitalisme. Termasuk, bukan nuduh lho, bisa jadi di
> negeri ini. Sudah bukan
> rahasia lagi tuh. Benar, saya sering mendengar, bahkan
> sempat ngobrol dengan
> seorang karyawan pemda bahwa untuk menjadi penguasa
> daerah setingkat bupati
> saja dana yang dibutuhkan sekitar 5 miliar perak. Saya
> penasaran bertanya:
> "Dari mana uang itu didapatkan dan akan disalurkan ke
> mana?"
> 
> "Gampang Mas, banyak pengusaha yang mendanai kok.
> Lagian uang itu akan
> dibagikan juga ke anggota DPRD dan ke Departemen Dalam
> Negeri. Tapi&#8230;
> dalam setahun atau dua tahun juga udah balik modal,
> Mas," jelasnya
> tanpa ragu.
> 
> "Wah, nggak takut dosa tuh?" tanya saya.
> 
> "Ya, gimana lagi, itu kan aturan yang berlaku,"
> katanya sambil
> terus menyetir mobil.
> 
> Hmm&#8230; ternyata begitu ya? Ya, inilah kapitalisme.
> 
> Apa yang dimaksud dengan kapitalisme? Jika kamu sering
> melihat ada orang
> yang mengejar kenikmatan jasadi dan materi, meski
> untuk meraihnya harus
> melanggar aturan masyarakat, juga aturan agama, itulah
> bagian dari gaya
> hidup yang diajarkan kapitalisme. Karena apa? Karena
> tujuan utama dalam
> berbuat menurut kaum kapitalis adalah kenikmatan
> (material). Orang yang
> tidak mencari kenikmatan material itu tidak realistis.
> Dalam faham itu,
> sistem nilai ditentukan oleh keuntungan fisik.
> 
> Jadi jangan heran jika pelacuran merajalela, peredaran
> miras dan narkoba pun
> sulit dihentikan. Pemerintah bahkan "melegalkan"
> bisnis
> pelacuran dengan memberikan jabatan kepada pelaku
> utamanya sebagai PSK alias
> Pekerja Seks Komersial. Perjudian seolah bukan
> kegiatan terlarang. Buktinya,
> meski sudah banyak bertebaran tempat dan permainan
> judi, pemerintah dari
> tingkat kelurahan sampe pusat menutup mata. Bukan tak
> bisa membereskan, tapi
> nggak ada niat. Bahkan sangat boleh jadi mereka sudah
> dicocok duluan
> mulutnya pake duit jutaan rupiah. Malah nih,
> seringkali yang jadi
> "centeng"-nya untuk mengamankan bisnis judi dan usaha
> birahi
> terlarang itu adalah oknum aparat keamanan. Inilah
> kapitalisme.
> 
> Kapitalisme itu apa ya? Ketika negara berbisnis dengan
> rakyat, ketika para
> penguasa ogah mengulurkan tangannya untuk
> mensejahterakan rakyat, malah
> membuat rakyat sengsara, itulah negara yang bermesraan
> dengan kekasihnya
> bernama kapitalisme. Karena prinsip utama paham ini
> adalah: di mana yang
> kuat harus (secara alami) mencaplok yang lemah. Jika
> ada yang menentang
> konsep semacam itu, maka ia dianggap tidak waras,
> terhalusinasi dan
> pembangkang karena "ingin merusak tatanan
> ko-eksistensi". Lebih
> dari itu, itulah keadilan, menurut mereka.
> 
> Sederhananya, kamu bisa melihat bagaimana "serangan
> fajar"
> dimulai pada 1 Maret 2005 oleh pemerintah untuk
> menaikkan harga BBM. Untuk
> menutupi kebiadaban dan keganasannya, mereka tampil
> bak pahlawan pembela
> rakyat. Tak henti berkampanye dengan
> menggembar-gemborkan bahwa subsidi
> untuk beberapa jenis BBM itu salah sasaran. Karena
> ternyata katanya
> dinikmati oleh mereka yang termasuk golongan berduit.
> Maka, atas nama
> &#8216;keadilan', mereka mencabut subsidi untuk BBM
> itu dengan cara
> menaikkan harganya. Katanya sih, denger-denger, dana
> kompensasi dari
> kenaikan harga BBM itu akan diberikan kepada rakyat
> kecil berupa tunjangan
> kesehatan dan pendidikan.
> 
> Terwujudkah? Ya, jangankan merasakannya, mungkin
> rakyat nggak pernah tahu
> dengan rencana itu. Bukti nyata di lapangan aja,
> ternyata minyak tanah pun
> (padahal katanya nggak dinaikkan), harganya meroket
> hampir menyamai harga
> bensin (premium). Wajar sih, karena pengusaha minyak
> di tingkat eceran juga
> berdalil, "Emangnya bahan bakar yang dikonsumsi truk
> pengangkut minyak
> tanah dari depo pertamina pake minyak tanah juga? Pake
> bensin tahu!"
> Walah!
> 
> Jadi kalo pun akhirnya biaya kesehatan murah dan
> sekolah murah, tapi untuk
> mengepulkan dapur kewalahan, itu baru minyak tanah
> yang naik, padahal harga
> sembako udah ikut-ikutan latah naik. Ongkos anak ke
> sekolah pun jadi tambah
> besar. Akhirnya, memang bukan membantu rakyat miskin,
> tapi membantu
> memiskinkan rakyat. Glek!
> 
> Beginilah hidup sengsara di bawah naungan kapitalisme.
> Kalo mau dirunut lagi
> kayaknya perlu satu buku khusus yang halamannya bisa
> mencapai ratusan atau
> bahkan ribuan untuk membeberkan segala kerugian yang
> diakibatkan sistem
> kapitalisme ini. Jujur saja, sebaiknya kita berhenti
> berharap kepada sistem
> kehidupan ini deh!
> 
> Standar ganda
> 
> Sobat muda muslim, dalam kapitalisme memang dikenal
> kebebasan. Siapapun
> bebas melakukan apa saja. Mulai dari kegiatan untuk
> menyenangkan diri
> sendiri sampe untuk mengajak orang lain
> bersenang-senang bersamanya. Bebas.
> Bahkan saking bebasnya, seringkali kebablasan.
> 
> Ngomongin kebebasan, jadi pengen ngejelasin dikit nih
> bahwa kapitalisme itu
> punya instrumen politik bernama demokrasi. Nah, dalam
> demokrasi inilah
> dikenal adanya kebebasan yang bisa dirinci jadi empat
> bagian: kebebasan
> beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan pemilikan,
> dan kebebasan
> bertingkah laku.
> 
> Lihat deh, dalam demokrasi ini orang boleh dan bebas
> mau beragama apa aja,
> sekaligus bebas mau beragama atau tidak. Karena agama
> adalah urusan pribadi.
> Orang lain jangan mengusik atau mempermasalahkannya.
> Tentang kebebasan
> berpendapat bisa kamu saksikan bahwa kini banyak orang
> bebas mengeluarkan
> pendapatnya. Baik pendapat yang salah maupun pendapat
> yang benar. Pokoknya
> bebas. Awalnya ada angin segar juga sih buat kita yang
> mendakwahkan Islam.
> Tapi, kalo menyuarakan kebenaran Islam itu untuk
> melawan demokrasi, tentunya
> bakalan digilas juga. Standar ganda dong?
> 
> Yup, silakan ikuti terus kasus Ustdaz Abu Bakar
> Ba'asyir yang nggak ada
> ujung pangkalnya itu. Tuduhannya aja jadi
> berlapis-lapis dan nggak logis.
> Amrik dan Australia pun berani-beraninya ikut-ikutan
> intervensi dalam kasus
> tersebut. Maklum, katanya sih karena berkaitan dengan
> terorisme. Tapi, dunia
> menutup mata ketika Amrik dan Inggris, juga Australia
> memercikkan api
> peperangan di Irak dan Afghanistan. Siapa sebetulnya
> yang jadi teroris?
> 
> Inilah standar ganda. Kapitalisme juga rajin membuat
> terminologi sendiri
> kepada mereka yang nggak suka dengan konsep
> kapitalisme, lalu
> menggembar-gemborkannya dengan kekuatan propaganda di
> segenap pelosok dunia.
> Terminologi itu menjelaskan bahwa yang bukan liberal
> adalah totalitarian,
> antiplural, pembangkang, utopian, fanatik dan fasis,
> termasuk tentunya
> teroris.
> 
> Dalam demokrasi juga diajarkan kebebasan memiliki.
> Maka lihat deh, berapa
> juta hektar hutan yang dimiliki oleh para konglomerat
> di negeri ini.
> Padahal, itu milik umum yang seharusnya dikelola oleh
> negara dan hasilnya
> diberikan untuk rakyat banyak.
> 
> Kebebasan bertingkah laku pun dilindungi dalam
> demokrasi. Itu sebabnya, para
> pelacur dan pezina, tukang copet, maling, koruptor,
> perampok, dll tidak
> semuanya dihukum. Mereka yang dihukum biasanya yang
> nggak bisa membelinya
> dengan uang dan harta. Bisnis pelacuran aman karena
> rajin &#8216;setor'.
> Gawat!
> 
> Destroy capitalism, rise with Islam
> 
> Sobat muda muslim, sebagai remaja kita udah dewasa,
> sehingga pantas aja kalo
> mikirin soal kehidupan ini. Nggak tabu kok remaja
> ngomongin urusan politik.
> Karena yang namanya politik berarti "pengaturan urusan
> umat".
> Nah, kalo kamu udah mikirin kondisi umat ini, apalagi
> berusaha menyampaikan
> solusi dengan menghadirkan kebenaran Islam, kamu udah
> termasuk berpolitik
> lho. Bener.
> 
> Jangan anggap bahwa politik itu cuma urusan
> pemerintahan doang. Nggak. Itu
> keliru. Tapi politik itu mencakup urusan umat secara
> umum. Segala aspek
> kehidupan. Oke?
> 
> Itu sebabnya, ketika kamu udah membaca tulisan ini
> sejak awal, kemudian kamu
> kembangkan sendiri faktanya, kita yakin kamu udah ngeh
> dan paham sekarang,
> ternyata "inilah rasanya" hidup di bawah naungan
> kapitalisme.
> Nah, kalo udah ngeh kayak gini, seperti kata Sheila on
> 7 : "berhenti
> berharap". Ya, tapi kita tambahin menjadi, "berhenti
> berharap
> kepada kapitalisme".
> 
> Itu sebabnya, mari kita kampanyekan keagungan Islam
> dan berusaha
> menerapkannya sebagai ideologi negara. Karena saat
> ini, ketika Islam tidak
> diterapkan sebagai ideologi negara, berbagai kerusakan
> sudah nyata di depan
> kita. Kalo rajin baca koran atau lihat berita kriminal
> di layar kaca, kita
> jadi miris karena ternyata rasa aman begitu mahal.
> Banyak sekali tindak
> kekerasan di sekitar kita.
> 
> Soal pelacuran juga sungguh sangat mengkhawatirkan,
> sebagai contoh, di Jawa
> Barat saja berdasarkan Data dari Kantor Dinas Sosial
> Provinsi Jabar tahun
> 2003, ada 300-an tempat pelacuran terbuka di wilayah
> ini dengan jumlah PSK
> sekitar 6.276 orang. Dari jumlah itu, sekitar 30
> persen (sekitar 1.800) anak
> yang berusia di bawah 18 tahun bekerja sebagai PSK
> (Kompas, 27 Mei 2004)
> 
> Kalo dianggap bahwa itu terus bertambah, sudah berapa
> ribu coba? Itu yang
> terdata, belum yang liar. Seperti gunung es, kecil di
> permukaan ternyata
> besar di dalam. Itu baru di Jawa Barat, belum daerah
> lainnya. Mengerikan.
> Silakan kamu searching kasus lain yang jumlahnya
> banyak dan mudah kita
> jumpai.
> 
> Oke deh mulai sekarang, kita mulai mengkaji Islam
> dengan serius agar tahu
> keagungan Islam. Karena mustahil bisa kenal Islam,
> kalo nggak
> mempelajarinya. Terus, kalo udah tahu kita wajib
> mengamalkannya. Kita contoh
> perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabatnya yang
> dengan semangat
> menyebarkan Islam. Sehingga Rasulullah saw. sanggup
> mendirikan negara Islam
> pertama di Madinah. Negara Islam itu tegak berdiri
> sampe akhirnya (setelah
> 1300 tahun lebih), karena banyak perlawanan dari
> musuh-musuhnya, plus
> kemunduran berpikir umat Islam karena teracuni
> tsaqafah asing, runtuh pada
> tanggal 3 Maret 1924. Waktu itu, pemerintahan Islam
> berpusat di Turki.
> 
> Ya, semoga saja, dengan kegigihan kita untuk belajar
> dan memperjuangkan
> Islam ini, kita bisa segera melepaskan diri dari
> belenggu kapitalisme.
> Rasa-rasanya sangat layak kalo kita sekarang teriak:
> destroy capitalism,
> rise with Islam . Kapitalisme sudah basi! [solihin]
> 
> --
> Buletin Remaja Studia terbit setiap Senin sejak
> Januari 2000, "Gaul, Syar'i,
> dan Mabda'i"
> Penerbit: Studia Publication. Alamat: Jl. Raya
> Cilendek, Gg. Gotong Royong,
> Cilendek Barat,
> Kotamadya Bogor, HP 0812-8841181. Website:
> <http://www.dudung.net> e-mail:
> [EMAIL PROTECTED]  dan [EMAIL PROTECTED] 
> Mailing List:
> [EMAIL PROTECTED]
> Pimpinan
> Usaha: Abu Fadhlan. Pimpinan Redaksi: O. Solihin.
> Redaksi: Guslaeni Hafidz,
> Sausan Afrasana,
> Ria Fariana. Webmaster: Dudung AST. Sekretaris: Ummu
> Rafi'; Pemasaran:
> Zulhaidir 0812-
> 8638134 atau 0251-7113236. Perwakilan Jakarta dsk.:
> Angga [0817-4805638].
> Bandar Lampung
> dsk. : Nisa [0856-69619545]. Samarinda dsk. : Abu
> Silmi [0812-5533072]
> Balikpapan dsk.:
> Zahra [0816-4511177] Bangil-Pasuruan dsk.: Hakiky
> [0813-30682673] Harga: Rp
> 200,-/exp
> (Daerah: Rp 300,-/exp). Minimal pesanan 50 eks.
> 
> SMS bei wichtigen e-mails und Ihre Gedanken sind frei
> ...
> Alle Infos zur SMS-Benachrichtigung:
> <http://www.gmx.net/de/go/sms>
> 
> 
> 
> Bacalah artikel tentang Islam di:
> http://www.nizami.org
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources 
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke