JURNAL KEMBANG KEMUNING:
GEJALA ATAU MEMASTIKAN KEKUATAN SISTEM KERJA JARINGAN? [Menyambut Diskusi Sastra oleh Majalah Sastra-Budaya Aksara dan Forum Meja Budaya, 24 Maret 2005 Di TIM Jakarta] Manik Praba pemimpin redaksi dan penanggung jawab Majalah Sastra-Budaya Aksara, Jakarta, pada tanggal 16 Maret 2005, memberitahukan kepada saya bahwa pada hari Kamis, 24 Maret 2005 yang akan datang bertempat di Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jln. Cikini Raya 73, Jakarta, pukul 14.30 WIB s/d selesai akan dilangsungkan diskusi antologi puisi "Ekspedisi Waktu", karya Indra Tjahyadi dari Surabaya. Antologi puisi ini merupakan buku pertama yang diterbitkan oleh Majalah Aksara & Atlas Publishing. Nuruddin Ashyadie akan tampil sebagai pembicara yang membahas "Ekspedisi Waktu" ini sedangkan Imam Mutahrom akan tampil sebagai pembanding dalam diskusi sastra yang dimoderatori oleh penyair-cerpenis Sihar Ramses Simatupang. Rencananya selain Manik Praba, Donny Anggoro dari Majalah Aksara, diskusi akan dihadiri juga oleh novelis Martin Aleida, jumlah editor majalah ibukota dan para pegiat Komunitas sastra-budaya Forum Meja Budaya asuhan Martin Aleida dkk. Sedangkan Indra Tjahyadi sendiri yang khusus datang dari Surabaya untuk pembahasan antologi puisi ciptaannya, pada kesempatan ini akan membacakan beberapa puisinya dari antologi tersebut. Diskusi sastra ini diselengarakan secara bersama-sama oleh Forum Meja Budaya - TIM dan Majalah Aksara. Sebelumnya, pembahasan antologi puisi ini juga telah dilakukan di Surabaya dan Tasikmalaya. Sedangkan Komunitas Terapung, komunitas sastra yang berpangkalan di Palangka Raya, juga bermaksud melangsungkan kegiatan sejenis. Barangkali Nurul Khawari yang juga redaksi Aksara dari Solo bersama-sama Halim HD, budayawan dan networker budaya asal Banten yang tinggal di Solo akan mengikuti kegiatan yang telah dilakukan oleh kota-kota lainnya. Sedangkan komunitas-komunitas budaya Yogyakarta seperti Beni Luar Biasa, Elkis, Taring Padi, Komunitas Ombak, dan lain-lain saya percaya masih memelihara dan mengembangkan tradisi solidaritas antar komunitas senimannya. Sedangkan Mas Darmanto JT di Semarang, barangkali terlalu dipanggari oleh kesibukannya dalam status seperti sekarang untuk leluasa berbuat seperti masa muda Yogyanya dahulu sekali pun semangat itu masih marak di lubuk jiwanya. Yang sangat menarik perhatian saya, sebelum diskusi sastra di TIM atas kerjasama antara Forum Meja Budaya dan Majalah Aksara ini adalah diskusi tentang buku ini yang diselenggarakan oleh Sanggar Sastra Tasikmalaya [SST] yang telah pula menerbitkan sejumlah karya-karya sastra dalam bentuk buku secara mandiri. Diskusi yang diselenggarakan oleh SST atas karya Indra Tjahyadi mengesankan saya, karena mereka tanpa pamrih egoistik dengan penuh antusiasme melangsungkan diskusi karya dari komunitas lain yaitu dari Jawa Timur, sedangkan SST terdapat di bagian barat Jawa. Semangat tanpa pamrih egoistik begini, menggarisbawahi betapa di kalangan SST terdapat semangat dan ide kuat yang memandang penting usaha pengembangan sastra-seni kepulauan dan daerah secara bersama-sama. Melalui kegiatan SST yang mengesankan ini, saya melihat bahwa kepentingan SST adalah kepentingan nasional. Dari tindakan ini saya melihat SST seperti ketika berdiri di kampung-halaman mereka memandang tanahair dan merangkul dunia. Jika burung, mereka memang bersarang di kampunghalaman tapi dengan sayap-sayapnya mereka menerbangi angkasa seluas bumi melampaui tempurung langit kampung itu. Barangkali apa yang dilakukan oleh SST adalah pengejawantahan ide Paul Ricoeur, filosof Perancis yang sekarang masih hidup dan produktif, bahwa "kebudayaan itu majemuk tapi kemaanusiaan itu tunggal". Semangat ini pun secara tersirat saya saksikan pada Pondok Rumah Dunia [PRD] di Banten pimpinan Gola Gong dkk ketika melalui websitenya mereka menganjurkan kepada semua komunitas di mana pun untuk memperkenalkan diri melalui website PRD. Sikap ini pun sering dinyatakan oleh Herman dari Komunitas Lingkom di Batu, Malang. Agaknya Komunitas sastra-budaya, sejak Orba, terutama pada pasca Orba, merupakan bentuk organisasi baru para seniman guna mengembangkan diri secara berprakarsa dan mandiri untuk mewujudkan desentralisasi kongkret di bidang kebudayaan, menolak ketunggalan standar dan dominasi tradisional. Saya menyebut gejala ini sebagai petunjuk akan adanya kreativitas seniman dan kreativitas serta kecerdikan massa yang sering dilecehkan dan dipandang dengan sebelah mata oleh penghuni menari gading. Sungguh membanggakan bahwa komunitas-komunitas ini bergiat tanpa kompleks, kecuali dengan penuh kepercayaan diri menuju titik janji yang diterakan di peta mimpi-mimpi mereka. Jika kebudayaan disetujui sebagai bidang yang menangani masalah dasar pola pikir dan mentalitas manusia untuk memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat, maka bisakah dikatakan kegiatan-kegiatan komunitas budaya dari bawah ini sebagai awal mendasar dari usaha membangun Republik dan Indonesia sesungguhnya? Apalagi penggiat-penggiat komunitas budaya ini umumnya dari kalangan angkatan muda yang menyandang tangungjawab atas timbul-tenggelamnya bangsa dan negeri, yang jika menggunakan rumusan Indra Tjahyadi sebagai suatu "ekspedisi waktu". Bisa tidaknya angkatan sekarang merampungkan tantangan "ekspedisi waktu" ini akan menentukan kualitas angkatan ini apakah mereka menjadi "besi tenggelam" [sanaman leteng] ataukah "besi timbul" [sanaman lampang] jika meminjam ungkapan orang Dayak Ngaju Kalimantan Tengah! Tentu saja tantangan "ekspedisi waktu" ini tidak akan terjawab oleh satu dua komunitas apalagi oleh orang-perorang yang merasa diri sebagai manusia supra -- yang hanyalah keangkuhan belaka yang gampang menjatuhkan orang ke jurang fasisme dalam segala bentuk. Barangkali pengajuan konsep "ekspedisi waktu" angkatan, merupakan jasa dari Indra Tjahyadi dalam menyimpulkan zaman dan misi zamannya. Dari sudut pandang inilah saya melihat arti pentingnya jaringan dan kerjasama jaringan sekaligus arti penting serta peran networkers. Kerjasama antara Forum Meja Budaya dan Majalah Aksara di Jakarta dalam menyelenggarakan diskusi buku "Ekspedisi Waktu" tentu akan mendorong pengembangan lebih lanjut kerjasama antar komunitas budaya ini. Artinya kerjasama komunitas yang bermula dari daerah sekarang sudah mencapai ibukota yang sering pongah dengan keibukotaannya hingga sering lupa hakekat. Sekali pun komunitas-komunitas bisa dihubungkan satu dengan yang lain melalui internet sebagai tekhnologi canggih yang kuasa mengatasi hambatan ruang dan waktu, tapi peranan media cetak sebagai organisator dan wadah kegiatan bersama tetap tidak tersingkirkan. Di sinilah saya kira, Majalah sastra-budaya Aksara muncul mengisi aspirasi dan keperluan bersama. Saya masih belum bisa memastikan apakah kerjasama antar jaringan yang sudah menjalar hingga ke ibukota ini masih merupakan gejala saja ataukah memang memastikan kekuatan sistem jaringan yang benar-benar dikhayati. Yang saya pasti bahwa kerja keras, sabar dan ulet masih ditagih dari kita masing-masing, diharapkan dari semua komunitas untuk mengembangkannya sehingga gejala bisa berobah kualitas menjadi memastikan. Dari kwantitas berkembang menjadi kwalitas. Andaikan komunitas-komunitas lain yang ada di Jakarta dan sekitarnya, seperti Jaringan Kerja Budaya [JKB], PRD dan lain-lain, bisa muncul dan memanfaatkan diskusi ini sebagai kesempatan tukar pikiran dan pengalaman, saling kenal sebagai awal dari konsolidasi kerjasama, barangkali diskusi di TIM kelak akan memberikan hasil sampingan lain. Hasil sampingan besar dan menjangkau jauh melebihi sekedar jam-jam diskusi. Sambil menuliskan baris-baris ini, saya sedang membayangkan betapa kemudian, seusai diskusi di ruangan Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), pohon rindang teduh, angin yang lewat di antara dedaunan dan dedahanan, menyaksikan para peserta memenuhi warung-warung di halaman TIM melanjutkan perbincangan mengembangkan rencana dan saling jajag ide dengan mata hati memandang jauh ke cakrawala luas merentang di hadapan mereka. Betapa pun besarnya keinginan untuk hadir langsung, seperti dua tahun silam, tapi oleh keberadaan di Paris, di belahan barat planet, saya dipagari oleh syarat subyektif pribadi yang tak gampang saya langkahi. Hanya semangat saya saja yang ingin menyerbu langit seperti Sun Wukung memprotes sorga yang dianggapnya tak adil dan dusta. Untuk hidup, mimpi dan bersolidaritas, saya memelihara semangat "raja kera putih" ini. Dari jauh saya menyampaikan ucapan selamat yang menyimpan segala harapan terbaik seorang awam. Saya membayangkan pada saat diskusi itu nanti, Manik Praba dan Donny Anggoro dari Majalah Aksara, membagikan kepada para peserta, Majalah Aksara kepada hadirin, sebagai ajakan untuk bersama-sama melangkah merebut haridepan sastra-budaya Indonesia yang republiken dan berkindonesiaan. *** Paris, Maret 2005. ---------------- JJ.KUSNI [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to life by funding a specific classroom project. http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

