kalau pemerintah tidak atau kurang mampu menangani/mengangkat nasib pendidikan 
rakyat miskin, memang seharusnya masyarakat yg mampu dan peduli yg tampil ke 
muka. dalam hal ini tugas pemerintah adalah mendukung sepenuhnya ide dan 
tindakan baik masyarakat, bukan malah mempersulit.

contoh kecil dari desa kelibening ini bisa jadi contoh.
MG



Rabu, 23 Maret 2005  
 
Sekolah Global di Desa Kecil Kalibening 


FINA Af�idatussofa (14) bukan siswa sekolah internasional dan bukan anak orang 
berada. Ia lahir sebagai anak petani di Desa Kalibening, tiga kilometer 
perjalanan arah selatan dari kota Salatiga menuju Kedungombo, Jawa Tengah. 
Karena orangtuanya tidak mampu, ia terpaksa melanjutkan sekolah di SMP 
Alternatif Qaryah Thayyibah di desanya. Namun, dalam soal kemampuan Fina boleh 
dipertandingkan dengan siswa sekolah-sekolah mahal yang kini menjamur di 
Jakarta.

MESKI bersekolah di desa dan menumpang di rumah kepala sekolahnya, bagi Fina 
internet bukan hal yang asing. Ia bisa mengakses internet kapan saja. Setiap 
pagi berlatih bahasa Inggris dalam English Morning. Ia pernah menjuarai 
penulisan artikel on line di kotanya. Ia juga berbakat dalam olah vokal meski 
ia mengatakan tidak ingin menjadi seorang penyanyi.

"Kalau menjadi penyanyi, pekerjaanku hanya menyanyi. Padahal, cita-citaku 
banyak. Aku ingin jadi presenter, aku ingin jadi penulis, pengarang lagu, 
ilmuwan, dan banyak lagi�. Aku juga ingin berkeliling dunia," kata Fina.

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah resmi terdaftar sebagai SMP Terbuka, sekolah 
yang sering diasosiasikan sebagai sekolah untuk menampung orang-orang miskin 
agar bisa mengikuti program wajib belajar sembilan tahun. Namun, siswa SMP 
Alternatif Qaryah Thayyibah sangat mencintai dan bangga dengan sekolahnya.

Pukul 06.00 sekolah sudah mulai dan baru berakhir pada pukul 13.30. Akan 
tetapi, jam sekolah itu terasa sangat pendek bagi murid-murid sekolah tersebut 
sehingga setelah makan siang mereka biasanya kembali lagi ke sekolah. Mereka 
belajar sambil bermain di sekolahnya sampai malam, bahkan tak jarang mereka 
menginap di sekolah.

Murid-murid SMP Qaryah Thayyibah memang sangat menikmati sekolahnya. Bersekolah 
merupakan sesuatu yang menyenangkan. Guru bukanlah penguasa otoriter di kelas, 
tetapi teman belajar. Mereka bebas berbicara dengan gurunya dalam bahasa Jawa 
ngoko, strata bahasa yang hanya pantas untuk berbicara informal dengan kawan 
akrab.

Di kelas mereka juga sangat bebas. Mereka bisa asyik mengerjakan soal-soal 
matematika dengan bersenda gurau, ada yang mengerjakan soal sambil 
bersenandung, yang lain bermain monopoli. Suasana bermain itu bahkan di taman 
kanak-kanak pun kini makin langka karena mereka dipaksa oleh gurunya untuk 
membaca dan menulis.

SMP Qaryah Thayyibah lahir dari keprihatinan Bahruddin melihat pendidikan di 
Tanah Air yang makin bobrok dan semakin mahal. Pada pertengahan tahun 2003 anak 
pertamanya, Hilmy, akan masuk SMP. Hilmy telah mendapatkan tempat di salah satu 
SMP favorit di Salatiga. Namun, Bahruddin terusik dengan anak-anak petani 
lainnya yang tidak mampu membayar uang masuk SMP negeri yang saat itu telah 
mencapai Rp 750.000, uang sekolah rata-rata Rp 35.000 per bulan, belum lagi 
uang seragam dan uang buku yang jumlahnya mencapai ratusan ribu rupiah.

"Saya mungkin mampu, tetapi bagaimana dengan orang-orang lain?" tuturnya.

Bahruddin yang menjadi ketua rukun wilayah di kampungnya kemudian berinisiatif 
mengumpulkan warganya menawarkan gagasan, bagaimana jika mereka membuat sekolah 
sendiri dengan mendirikan SMP alternatif. Dari 30 tetangga yang dikumpulkan, 12 
orang berani memasukkan anaknya ke sekolah coba-coba itu. Untuk menunjukkan 
keseriusannya, Bahruddin juga memasukkan Hilmy ke sekolah yang 
diangan-angankannya.

"Saya ingin membuat sekolah yang murah, tetapi berkualitas. Saya tidak berpikir 
saya akan bisa melahirkan anak yang hebat-hebat. Yang penting mereka bisa 
bersekolah," kata Bahruddin.

Bahruddin mengadopsi kurikulum SMP reguler di sekolahnya. Ia menyatakan tidak 
sanggup menyusun kurikulum sendiri. Lagi pula sekolah akan diakui sebagai 
sekolah berkualitas jika bisa memperoleh nilai yang baik dan mendapatkan ijazah 
yang diakui pemerintah. Karena itulah ia memilih format SMP Terbuka. Akan 
tetapi, ia mengubah kecenderungan SMP Terbuka sekadar sebagai lembaga untuk 
membagi-bagi ijazah dengan mengelola pendidikannya secara serius.

Sekolah itu menempati dua ruangan di rumah Bahruddin, yang sebelumnya digunakan 
untuk Sekretariat Organisasi Tani Qaryah Thayyibah. Jumlah guru yang mengajar 
sembilan orang, semuanya lulusan institut agama Islam negeri dan sebagian besar 
di antaranya para aktivis petani.

Guru pelajaran Matematika-nya seorang lulusan SMA yang kini mondok di 
pesantren. Akses internet gratis 24 jam diperoleh dari seorang pengusaha 
internet di Salatiga yang tertarik dengan gagasan Bahruddin. Dengan modal 
seadanya sekolah itu berjalan.

Ternyata pengakuan terhadap keberadaan SMP Alternatif Qaryah Thayyibah tidak 
perlu waktu lama. Nilai rata- rata ulangan murid SMP Qaryah Thayyibah jauh 
lebih baik daripada nilai rata-rata sekolah induknya, terutama untuk mata 
pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.

Sekolah itu juga tampil meyakinkan, mengimbangi sekolah-sekolah negeri dalam 
lomba cerdas cermat penguasaan materi pelajaran di Salatiga. Sekolah itu juga 
mewakili Salatiga dalam lomba motivasi belajar mandiri di tingkat provinsi, 
dikirim mewakili Salatiga untuk hadir dalam Konvensi Lingkungan Hidup Pemuda 
Asia Pasifik di Surabaya. Pada tes kenaikan kelas satu, nilai rata-rata mata 
pelajaran Bahasa Inggris siswa Qaryah Thayyibah mencapai 8,86.

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah juga maju dalam berkesenian. Di bawah bimbingan 
guru musik, Soedjono, anak-anak sekolah bergabung dalam grup musik Suara 
Lintang. Kebolehan anak-anak itu dalam menyanyikan lagu mars dan himne sekolah 
dalam versi bahasa Inggris dan Indonesia bisa didengarkan ketika membuka alamat 
situs sekolah www.pendidikansalatiga.net/ qaryah. Grup musik anak-anak desa 
kecil itu telah mendokumentasikan lagu tradisional anak dalam kaset, MP3, 
maupun video CD album Tembang Dolanan Tempo Doeloe yang diproduksi sekaligus 
untuk pencarian dana. Seluruh siswa bisa bermain gitar, yang menjadi 
keterampilan wajib di sekolah itu.

Sulit dibayangkan anak- anak petani sederhana itu masing-masing memiliki sebuah 
komputer, gitar, sepasang kamus bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris, 
satu paket pelajaran Bahasa Inggris BBC di rumahnya. Semua itu tidak 
digratiskan. Anak-anak memiliki semua itu dengan mengelola uang saku 
bersama-sama sebesar Rp 3.000 yang diterima anak dari orangtuanya setiap hari. 
Uang sebesar Rp 1.000 dipergunakan untuk mengangsur pembelian komputer. Untuk 
sarapan pagi, minum susu, madu, dan makanan kecil tiap hari Rp 1.000, sedangkan 
Rp 1.000 lainnya untuk ditabung di sekolah. Tabungan sekolah itu dikembalikan 
untuk keperluan murid dalam bentuk gitar, kamus, dan lain-lainnya.

Tidak mengherankan jika anak-anak dan orangtua mereka bangga dengan sekolah 
itu. Betapa tidak, di sekolah yang berdekatan dengan rumah di sebuah desa kecil 
mereka mendapatkan banyak hal yang tidak diperoleh di sekolah-sekolah yang 
dikelola dengan logika dagang.

Ismanto (43) menceritakan, anaknya sempat down saat mendaftar SLTP di Salatiga 
dua tahun lalu. Uang masuknya Rp 200.000, belum termasuk buku dan seragam. 
Tidak ada seorang murid pun ke sekolah dengan berjalan kaki selain anaknya, Emi 
Zubaiti (13). Kini Emi menjadi seorang anak yang pandai dalam berbagai mata 
pelajaran, pintar bernyanyi, dan percaya diri. Ia tidak pernah membayangkan 
bisa menyekolahkan Emi, anak pasangan tukang reparasi sofa dan bakul jamu 
gendong, mendapat sekolah yang baik.

Bahkan Ismanto ikut menikmati komputer yang dikredit dari uang saku anaknya. 
Dibimbing anaknya, sekarang Ismanto mulai belajar komputer. "Tidak pernah 
terpikir, saya bisa membelikan komputer. Kini saya malah bisa ikut menikmati," 
kata Ismanto.

(P Bambang Wisudo/ Rien Kuntari)
 
courtesy: 
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0503/23/utama/1636607.htm



Mario Gagho
Political Science
Agra University, India

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke