Mungkin kalau amina wadud berak di masjid, JIL akan menganggap itu satu "gebrakan." Di Al Qur'an dan hadits sudah jelas mana yang halal dan mana yang haram.
Assalamualikum, Tulisan Ust. Syamsi Ali Assalamu'alaikum WrWb. Terlalu perbincangan tentang shalat Jum'at yang dikomandoi oleh Aminah Wadud di NYC. Dari sekian banyak perbincangan ini, mayoritasnya dibangun di atas persepsi yang tidak punya basis, atau minimal dikira-kira demikian adanya. Saya tidak bermaksud membahas panjang masalah ini, karena dengan sendirinya terjatuh ke dalam kegiatan yang tidak populer. Justeru yang membesar-besarkan adalah segelintir media, yang khususnya punya agenda tersendiri. Masalah ini tidak ditanggapi secara over reaktif oleh Muslim New York, karena memang sangat tidak pepuler. Menurut site "wake up" ada ratusan yang ikut dalam jum'atan tersebut. Tapi kenyataannya, mayoritasnya hanya penonton dan non Muslims. Bahkan lelaki yang ikutan juga banyaknya non Muslim, dan juga beberapa Muslim yang saya dengar justeru dari kalangan yang secara seksual menyimpang (gay). Ada satu poin yang terlewat dari beberapa pembahasan dari Jum'atan aneh ini. Seringkali pembahasan dipusatkan pada masalah "syari'atnya", yaitu apakah boleh wanita mengimami kaum pria. Padahal, inti pelaksanaan jum'atan ini bukan karena apakah boleh atau tidak. Justeru Jum'atan ini adalah reaksi kaum "feminist" yang diilhami oleh Konferensi Wanita PBB (Conference on Women) baru-baru ini, yang melihat seolah wanita dalam Islam itu tidak memiliki kebebasan. Jadi Jum'atan itu adalah "cover" dan bukan inti permasalahan. Untuk itu, ada dua hal yang perlu diklarify: Pertama: Apakah wanita dalam Islam memang terzalimi atau being discriminated against; selanjutnya, apakah dengan tidak menjadinya wanita Imam menunjukkan mereka inferior? Kedua: Bolehkan seorang wanita menjadi Imam bagi kaum pria Untuk pertanyaan pertama, saya tulisakan artikel di bawah ini (maaf kalau kepanjangan): WANITA DAN PRIA DALAM ISLAM* Oleh: M. Syamsi Ali "Dan orang-orang yang beriman di kalngan pria dan orang-orang yang beriman di kalangan wanita, mereka adalah wali di antara mereka, yaitu menyeru kepada yang ma'ruf, melarang dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka menaati Allah dan rasulNya. Mereka itu akan mendapatkan rahmat dari Allah. Sungguh Allah Maha Mulia lagi Maha Bijaksana". Ada persepsi yang berkembang, baik di kalangan sebagian kecil umat Islam maupun sebagian umat non Muslim, bahwa ajaran-ajaran Islam dan petunjuk-petunjuk Rasulullah cenderung diskriminatif terhadap kaum wanita. Seolah-seolah ajaran Islam selalu berpihak dan mengajarkan dominasi pria atas wanita. Sehingga dalam berbagai seminar internasional, termasuk UN Conference on Women yang baru saja selesai di New York dua minggu lalu, hubungan Islam dan wanita selalu menjadi pembahasan yang hangat. Padahal, sejujurnya dalam sejarah Islam tidak pernah ada pergesekan antara ajaran Islam yang murni dengan hak-hak kaum wanita. Bahkan dapat dikatakan, tidak ada ajaran apapun yang mampu menyamai ajaran Islam dalam hubungannya dengan wanita, baik dalam konteks ajaran itu sendiri maupun dalam konteks sejarah kehidupan umatnya. Islam sepenjang sejarahnya tidak pernah menganggap wanita adalah produk syetan, tidak pula dianggap sebagai tangan-tangan kejahatan. Tak satupun ayat dalam AlQur'an yang pernah menempatkan pria sebagai wujud dominant yang dipertuhan oleh kaum wanita serta tunduk patuh kepada mereka tanpa pilihan. Bahkan tidak pernah terlintas dalam ajaran Islam sebuah pertanyaan yang popular di kalangan lain masa lalu, apakah wanita itu punya "ruh" sebagai manusia atau tidak. Antara kesetaraan (equality) dan keserupaan (sameness) Penyebab utama kesalah pahaman sebagain Muslim khususnya, dan juga sebagian non Muslim tentang hubungan Islam dan wanita adalah karena kesalahan dalam memahami equalitas (kesetaraan) itu sendiri. Seolah-olah "setara" berarti "sama". Pendekatan yang salah ini mengakibatkan sebuah kesalahan fatal dalam menilai s tatus "kesetaraan" itu sendiri. Ada perbedaan mendasar antara "kesetaraan" (equality) dan "keserupaan (sameness or being identical). Equalitas adalah indah, terpuji, adil dan merata. Tapi sama belum tentu indah, adil dan terpuji. Kesetaraan menyangkut keadilan dan kesesuaian (appropriateness). Tapi sama belum tentu adil dan sesuai. Justeru jika dua hal dipaksakan sama akan terjadi ketidak adilan dan ketidak sesuaian. Sebagian orang menilai, untuk setara diharuskan kesamaan. Dan di sinilah awal kesalahan dalam menempatkan "kesetaraan" itu. Semua orang dilahirkan secara setara. Perbadaan warna kulit, bahasa, suku atau kebangsaan, atau status sosio ekonomi, tidak mengganggu konsepsi keseteraan (equalitas) yang Allah anugerahkan kepada semuanya. Tapi memaksakan kesetaraan dengan kesamaan (sameness) akan memaksa manusia menyamakan warna kulit, bahasa, suku dan kebangsaan maupun status-status sosio ekonomi lainnya. Dan ini adalah bencana dalam kehidupan manusia itu sendiri. Dari sinilah Islam tegas bahwa setara tidak berarti sama. Kita dilahirkan semuanya dalam keadaan setara (equal) tidak ada dua manusia yang sama (same). Sehingga kita diingatkan oleh kisah Maryam, di mana ibunya telah bernadzar untuk mengabdikannya ke rumah ibadah. Tapi sesuai konteks sosial saat itu, wanita tidaklah sama dengan pria. Maka perbedaan ini diabadikan dalam Al Qur'an: "Dan tidaklah pria itu sama dengan wanita" (Al Qur'an). Memahami equalitas dalam Islam Untuk memahami kesetaraan atau equalitas dalam Islam, diperlukan pemahaman yang menyeluruh dan tidak parsial. Dalam hal ini, hak-hak selalau dikaitkan dengan tugas-tugas dan kewajiban. Sementara tugas-tugas (duties) akan selalu terkait dengan kesesuaian dari mereka yang akan melaksanakan tugas-tugas tersebut. Dalam dunia apa saja, hak selalau ditentukan oleh kewajiban. Kewajiban ditentukan oleh "kesesuaian" dari pihak-pihak yang terkait. Al Qur'an memberikan ilustrasi yang sangat indah tentang hak, kewajiban, dan kesesuaian perihal pria dan wanita. S. Al Lael (92: 1-4) memberikan ilustrasi dengan persamaan antara penciptaan siang dan malam: "Demi malam jika telah gelap gulita. Demi siang jika terang benderang. Dan bagaimana Allah menciptakan pria dan wanita". Ayat-ayat di atas menjelaskan dengam gamblang perpautan/kelengketan dua jenis manusia, lelaki dan wanita, ibarat siang dan malam. Seolah Allah menyatakan bahwa pria dan wanita adalah dua sosok ibarat dua mata uang. Keduanya terpaut/lengket dan tidak mungkin terpisahkan, seperti siang dan malam. Bahkan sebenarnya antara mereka adalah satu wujud, hanya saling berganti untuk saling melengkapi dalam fungsi dan kemanfaatan. Inilah yang kemudian digambarkan dalam ayat lain: "Mereka adalah pakaian bagi kamu dan kamu adalah pakaian bagi mereka". Namun demikian, sedekat apapun wujud kedua ciptaan Allah ini, mereka dalam fungsi dan peranan berbeda-beda. Allah melanjutkan ayat-ayat di atas dengan penentuan: "Inna sa'yakum lasyattaa" (sungguh usaha/amalan kamu berbeda-beda). Artinya, kewajiban-kewajiban yang kamu perankan dalam kehidupan ini berbeda-beda (syatta). Kenapa harus berbeda? Jawabannya kembali kepada "kesesuaian" masing-masing. Siapapun pasti tahu bahwa antara pria dan wanita dalam hubungan pelaksanaan kewajiban dan fungsi memiliki perbedaan-perbedaan. Ada tugas-tugas atau kewajiban yang hanya "sesuai" dengan pria. Sebaliknya, ada pula fungsi-fungsi yang hanya sesuai dengan wanita. Ambillah contoh fungsi reproduksi. Keduanya terlibat dalam melakukan fungsi dan kewajiban. Hanya akan terjadi keturunan jika terjadi hubungan suami-isteri. Keduanya terlibat dalam memernkan fungsinya. Tapi, tetap yang bertanggung jawab meneruskan tugas reproduksi (keturunan), mulai dari hamil, melahirkan hingga menyusui adalah kaum ibu. Hingga Hari Kiamat, walau kaum pria menuntut emansipasi pria untuk hamil, melahirkan dan mnyusui, mereka tidak akan mendapatkan hak-hak tersebut. Demikian sebaliknya, ada proses-proses tertentu setelah itu yang secara "kesesuaian" seharusnya diperankan oleh kaum lelaki. Kesetaraan sejak awal kejadian Equalitas atau kesetaraan antara pria dan wanita, menurut Al Qur'an, terjadi seiring dengan penciptaan manusia itu sendiri. Adam dan Hawa diciptakan dari unsur yang sama, yaitu tanah. Allah menggariskan dalam Al Qur'an: "Dan di antara tanda-tanda kebesaran Allah adalah Dia menicptakan kamu dari tanah dan tiba-tiba kamu menjadi manusia yang bertebaran" (AR-Rum). Di sini disebutkan secara gamblang penciptaan awal manusia, tentunya pria dan wanita, dari unsur yang sama yaitu tanah. Lalu bagaimana dengan ayat yang mengatakan: "Dan di antara tanda-tanda kebesaranNya bahwa Dia menciptakan dari diri-diri kamu pasangan untuk kamu cenderung kepadanya, dan menjadikan cinta dan kasih saying di antara kamu. Sungguh yang demikian itu adalah tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berfikir" (AR-Rum). Pertama, ayat ini tidak lagi berbicara pada penekanan "penciptaan" tapi penekanannya pada "pasangan". Artinya, tanda kebesaran Allah di sini bukan lagi karena menciptakan manusia, karena ini sudah dijelaskan pada ayat sebelumnya. Tapi tanda kebesaranNya yang ingin disebutkan pada ayat ini adalah bahwa Dia menciptakan "pasangan" dari diri masing-masing. Apa makna diri masing-masing? Apakah itu dari tulang rusuk pria sebagaimana seringkali dipahami oleh banyak kalangan? Ternyata, pemahaman ini bagi saya pribadi tidak adalah sesuai karena hadits yang menjelaskan bahwa wanita itu diciptakan dari tulang rusuk sebenarnya lebih kepada perumpamaan atau perbandingan yang diberikan oleh Rasulullah kepada sahabatnya untuk mempermudah pemahamannya. Maksud beliau, wanita itu seperti tulang rusuk yang cenderung membengkok tapi berfungsi vital dalam memproteksi organ-organ sensitif manusia, seperti hati dan jantung. Untuk itu, jika meluruskannya jangan dipaksakan karena bisa patah dan merusak organ-organ tubuh lainnya. Jadi makna "menciptakan pasangan dari diri-diri kamu" bukan dimaksudkan dari fisik pria, tapi secara "nature" (tabiat). Yaitu penciptaan yang secara alami sama, tidak berbeda sama sekali. Di sinilah kekeliruan beberapa ulama yang ternyata lebih banyak dipengaruhi oleh Perjanjian lama, yang secara gamblang memang menyebutkan demikian. Hal ini juga diperkuat kemudian pada ayat 13 S. Alhuhjurat yang menempatkan semua manusia pada proses penciptaan yang sama: "Wahai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari sepasang suami isteri dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha mengetahui lagi Maha Ahli". Kesetaraan dalam berinteraksi dengan hukum Disebutkan dalam Al Qur'an, ketika Allah menempatkan Adama dan isterinya di Syurga, keduanya secara setara (equal) diperbolehkan untuk menikmati kesenangan syurga, tapi juga keduanya diberi aturan yang sama secara setara (equally) untuk tidak mendekati pohon yang terlarang. Dan ketika keduanya (equally) tergoda oleh Iblis dan memakan buah terlarang itu, keduanya setara mendapatkan konsekwensi yang sama. Namun ketika keduanya secara sama-sama meminta ampun, keduanya juga secara setara diampuni oleh allah SWT. Berikut ayat-ayat tersebut: "Dan Kami berfirman: wahai Adam, diamilah syurga dan isteri kamu, dan makanlah semua di dalamnya dengan bebas dan bersenang-senang, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim" (Ch. 2: 35) Pada ayat ini disampaikan secara gamblang "kesetaraan" dalam karunia kenikmatan kepada Adam dan isterinya, Hawa. Keduanya diberikan kesempatan untuk menikmati semua kesenangan syurga (anta wa zawjuka), kamu dan isterimu. Artinya, kenikmatan apa saja dalam kehdiupan ini, layak dinikmati secara merata antara kedua pihak. Suami menikmati, isteri juga memiliki hak yang sama dalam kenikmatan itu. Selanjutnya, ketika Allah menetapkan sebuah aturan untuk tidak mendekati hanya satu dati sekian banyak pohon itu, aturan itu berlaku juga kepada keduanya secara merata. Kata "laa taqrabaa" biasanya disebut "lil muthanna" atau penyebutan untuk dua orang. Larangan bukan hanya untuk lelaki, tapi juga untuk wanita. Artinya, keduanya setara di hadapan hukum, yang jika kedunya melanggar maka keduanya akan menanggung konsekwensi yang sama. "Lalu keduanya digelincirkan oleh syetan dari syurga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula (kenikmatan) dan Kami berfirman: turunlah kalian semua, sebagian kamu menjadi musuh yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kenikmatan hingga waktu yang ditentukan" (Ch. 2:36). Di sini jelas, dosa awal manusia tidak ditanggung oleh satu pihak semata. Apakah itu Adam, atau sebaliknya Hawa. Berbeda dengan keyakinan popular sebagian orang, bahwa oleh karena wanita itulah (Hawa) yang menggoda Adam, maka dia terjatuh ke dalam dosa yang asli (original sin). Sehingga wajar jika wanita dinlai oleh mereka sebagai perpanjangan tangan sang Iblis. Islam jelas menolak asumsi ini, karena menurut ayat di atas, keduanya digoda oleh Iblis. Dengan demikian, awal kesalahan bukan pada salah satu diantara mereka, tapi ada pada Iblis. Maka, kesetaraan itu gamblang sejak awal semua proses kehidupan manusia. Pada akhirnya, keduanya setara dalam menerima ampunan Ilahi setelah keduanya memohon ampun kepadaNya: "Lalu Adam mendapatkan kata-kata dari Tuhannya, maka Allah mengampuninya. Sungguh Allah Maha pengampun dan Maha Penyayang" (Ch. 2: 37). Untuk jelasnya kesetaraan penerimaan ampunan ini, lihat juga S. 7: 23. Kesetaraan yang menyatu Kesetaraan antara pria dan wanita dalam ajaran islam adalah kesetaraan yang menyatu dan tidak terpisahkan. Ibarat dua sisi mata uang yang tidak mungkin terpisahkan, karena hanya akan menghilangkan nilai keduanya. Inilah yang digambarkan dalam kisah Adam di syurga pertama kali. Beliau telah menikmati semua kenikmatan syurga, tapi ketika itu belum ada pendamping, maka beliau pun kesepian. Bisa dibayangkan, semua bentuk kenikmatan ada di syurga, kecuali wanita. Itupun menjadikan Adam tidak mampu menikmati semua kenikmatan itu. Ketenangan atau "sakinah" hanya akan bisa didapatkan dengan "partnership" antara keduanya. Inilah yang ditegaskan dalam Al Qur'an: "Dan dari tanda-tanda kebesaran Allah, bahwa Dia menjadikan bagi kamu pasangan untuk kamu merasakan "sakinah" kepadanya, lalu Dia menjadikan cinta dan kasih sayang di antara kalian. Sungguh yang demikian itu adalah tanda-tanda bagi orang yang berilmu" (AR-Rum). Gambaran kedekatan "kesetaraan" ini dilustrasikan dalam ayat: "Mereka adalah pakaian bagi kamu dan kamu adalah pakaian bagi mereka". Penyebutan pakaian pada ayat di atas adalah gambaran kebutuhan yang sangat mendasar bagi kedua belah pihak untuk saling menyatu. Keduanya tidak terpisahkan. Jika terpisahkan, maka keduanya akan saling "telanjang" dengan berbagai kekurangan dan ketidak sempurnaan. Hanya dengan pakaian seseorang akan tertutupi dari ketelanjangan, dari udara dingin di musim dingin dan udara panas di musim panas. Pada ayat lain, lebih indah lagi Allah menyubutkan lelaki dan wanita seperti siang dan malam. Keduanya sebenarnya satu, tapi silih berganti dalam melakukan fungsinya. Allah berfirman: "Dan demi malam jika telah gelap gulita, dan demi siang jika telah terang benderang. Dan bagaimana Allah menciptakan pria dan wanita. Sesungguhnya amalanmu berbeda-beda" (S. Al Lael: 1-4). Maka, kesetaraan antara pria dan wanita dalam Islam bukanlah kesetaraan semu, yang diciptakan berdasarkan tuntutan hawa nafsu atau lingkungan semata. Kesetaraan yang memang karena tuntutan "fitrah" dan hajat manusiawi. Sebuah kesetaraan sejati yang tidak terbangun di atas dasar provokasi rekayasa semata. Kesetaraan dalam appresiasi Walaupun dalam peranan dan fungsi mereka berbeda, tapi dalam apresiasi atau pahala mendapatkan hal yang sama dari Allah SWT. Bahkan dalam beberapa hal yang seringkali dianggap mengurangi hak-hak wanita, seperti tidak shalat di saat ha id atau nifas, tidak mengurangi pahala sama sekali. Pemahaman ini didasarkan pada realita bahwa yang memerintahkan untuk shalat adalah Allah, dan sebaliknya juga yang memerintahkan untuk tidak shalat pada masanya adalah juga Allah. Jadi inti pahala sesungguhnya bukan pada melakukan shalat atau tidak, tapi apakah kita mengikut aturan atau tidak. Orang yang shalat ketika diperintah mendapat pahala, dan orang yang tidak shalat ketika diperintah untuk tidak shalat juga mendapat pahala. Jadi keduanya memiliki peluang yang sama dalam pahala. Kisah kaum wanita yang protes kepada rasulullah SAW karena mereka tidak ikut dalam peperangan fisik melawan kaum kafir. Mereka tidak mengayungkan pedang, tidak ikut terluka atau bahkan syahid dalam peperangan. Rasulullah menyatakan kepada mereka, bahwa setiap "tasbih, tahmid, tahlil" yang mereka ucapkan disetarakan dengan ayunan pedang suami mereka dalam peperanagn. Menjaga amanah suami dan kehormatan mereka adalah bentuk jihad yang mendapat pahala peris dengan apa yang diberikan kepada suami mereka. Al Qur'an menegaskan hal ini dalam beberapa tempat, antara lain: "Dan Tuhan mereka memenuhi doa mereka, (berfirman): Sungguh Aku tidak akan menyia-nyiakan amalan setiap pelaku amal di antara kalian, baik dari kalangan pria maupun wanita" (Ali Imran). Bahkan ayat yang saya sebutkan di pendahuluan tulisan ini: "Dan orang-orang yang beriman di kalngan pria dan orang-orang yang beriman di kalangan wanita, mereka adalah wali di antara mereka, yaitu menyeru kepada yang ma'ruf, melarang dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka menaati Allah dan rasulNya. Mereka itu akan mendapatkan rahmat dari Allah. Sungguh Allah Maha Mulia lagi Maha Bijaksana" Ayat di atas menunjukkan kesetaraan dalam kewajiban, walau memiliki format atau bentuk yang berbeda-beda (syatta). Tapi di ujung ayat tersebut ditegaskan, bahwa setelah melakukan semua persyaratan-persyaratan terkait, termasuk amr ma'ruf nahi mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta selalu menaati Allah dan RasulNya, Allah akan memberikan rahmat atau kasih sayangNya secara setara kepada keduanya: "Dan mereka itu akan dirahmati oleh Allah SWT". Dengan demikian, tidak ada kekhawatiran akan adanya diskriminasi dalam pemberian pahala atau apresiasi terhadap kedua belah pihak. Perubahan revolusioner Rasulullah SAW Tak dapat disangkal bahwa perubahan yang dibawa Rasulullah etrhadap status wanita ketika itu merupakan perubahan revolusioner. Saat itu, wanita di seluruh penjuru dunia berada dalam situasi yang sangat menyedihkan. Di saat wanita tidak memiliki harga diri, yang dapat diwariskan kepada siapa saja sepeninggal suaminya, Rasulullah datang dengan menempatkan mereka pada posisi yang setara dengan kaum pria. Bahkan dalam beberapa indikasi, Rasulullah memberikan tempat lebih kepada kaum wanita. Saat itu, wanita tidak lebih dari objek kepuasa lelaki dan tempat penampungan bayi-bayi yang akan lahir ke dunia ini. Di saat itulah Rasulullah datang dengan mewajibkan kaum wanita menuntut ilmu sejajar dengan saudara-saudaranya (shaqaaiq) dari kalangan pria. Hadits "menunut ilmu adalah wajib bagi kaum Muslim, pria maupun wanita" menunjukkan penekanan urgensinya kaum wanita memperdalam ilmu pengetahuan. Bahkan, dalam penilian saya pribadi, kaum wanita seharusnya lebih berilmu ketimbang pria, karena merekalah yang membentuk generasi, termasuk kaum pria. Rasulullah dengan tegas menyatakan: "Syurga itu terletak di bahwa telapak kaki kaum ibu" (hadits). Ini juga menunjukkan perubahan radikal yang di bawah oleh rasulullah, yang menghendaki penghormatan kepada mereka, karena itu menjadi persyaratan untuk mendapatkan kunci syurga Firdaus. Maka jangan heran, jika kemudian beliau mendeklarasikan bahwa kecintaan dan penghormatan seorang Muslim harus didedikasikan lebih besar (2/3) kepada kaum Ibu ketimbang kaum pria. Ini terungkap ketika ditanya oleh seseorang: "Siapa yang seharusnya saya cintai? "ibumu…3 x" lalu ketika ditanya untuk keempat kalinya, beliau merespon: "ayahmu!". Bahkan lebih transparan, beliau mewajibkan kepada kaum Muslim untuk bersikap baik kepada kaum wanita: "Saling berwasiatlah dalam berbuat baik kepada kaum wanita" (hadits). Bahkan beliau mengaitkan kesalehan seorang suami dengan "kebajikannya" kepada isterinya. "Sebaik-baik di antara kalian adalah yang terbaik kepada isterinya, dan saya adalah yang terbaik kepada isterinya" (hadits). Di tengah-tengah parasaan minder dan rendah diri jika memelihara anak perempuan, bahkan menjadikan kaum Arab ketika itu mengubur hidup-hidup anak perempuan mereka, Rasulullah SAW menyerukan keutaamaan memelihara anak-anak perempuan. Bahkan menurut beliau "memelihara 3 anak perempuan dengan tanggung jawab hingga dewasa, menjadikan seseorang masuk syurga tanpa hisab". Ketika ditanya bagaimana kalau hanya dua atau satu? Beliau menjawab "dia juga akan masuk syurga tanpa hisab". Sungguh ajaran yang menentang arus deras, perasaan malu dan hina di saat memelihara anak-anak perempuan. Kebebasan ekspresi dan opini Sejak awal ajaran Islam, kaum wanita selalu memiliki kebebasan ekspresi dan berpendapat. Islam tidak pernah, demikian pula praktek-praktek Rasulullah SAW mengungkung pendapat atau kebebasan ekspresi kaum wanita hanya karena mereka wanita. Hal ini dapat dibuktikan dengan kasus-kasus yang terjadi, baik antara Rasulullah dengan kaum wanita, maupun pemimpin-pemimpin Muslim setelahnya. Dalam S. Al Mujadalah (Ch. 58:1) mengisahkan seorang wanita yang dalam sejarah dikenal dengan khawlah binti Tsa'labah berdebat (jidaal) dengan Rasulullah perihal suami beliau bernama Aus bin Shomit. Allah menyebutkan kejadian ini: "Sungguh Allah telah mendengarkan perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendngar soal jawab antara kamu beedua. Sungguh Allah Maha mendengar lagi Maha mendengar". Isteri Rasulullah SAW, Khadijah memiliki peranan yang cukup dominan dalam masyarakat da'wah dengan kemampuan ekonomi yang dimilikinya. Bahkan ketika beliau meninggal dunia, Rasulullah SAW merasa kehilangan salah seorang dari dua "public defence" dan menyebut tahun itu sebagai "Tahun Kesedihan" (aamul huzni). Aisya R.A. adalah professor muda bagi banyak kalangan sahabat senior ketika itu. Tidak jarang juga Rasulullah SAW meminta pendapat para isterinya dalam banyak urusan publik. Barangkali kasus Perjanjian Hudaibiyah adalah contoh terdekat dalam hal ini. Di mana ketika Rasulullah SAW mendapatkan resistensi dari pengikutnya untuk menerima hasil perjanjian itu, isterinyalah yang memberikan saran agar Rasulullah diam dan melakukan apa yang seharusnya umat Islam lakukan. Maka ketika Rasulullah melakukan "tahallul" mereka pun mengikuti Rasulullah SAW. Pada zaman Umar, seorang pemimpin yang kharismatik dan tegas, pernah ditantang oleh seorang wanita karena keinginan beliau untuk membatasi mahar bagi kaum wanita. Sang wanita dengan tegas berdiri di hadapan khalifah Umar dan berkata: "Mahar adalah hak wanita dan bukan hak pria. Untuk itu, yang berhak menentukan mahar adalah kaum wanita". Kisah seorang wanita yang baru saja dinikahkan oleh ayahnya tanpa dimintai pendapatnya juga menjadi saksi kebebasan wanita dalam Islam. Wanita ini datang mengadukan keputusan ayahnya untuk mengawinkannya dengan seorang pemuda dari kalangan keluarganya sendiri. Rasulullah beranya, apakah dia menerima atau tidak. Pertama kali sang wanita mengatakan "tidak" dan Rasulullah menjawab "kamu ada hak untuk menerima atau menolak". Lalu dia meninggalkan Rasulullah SAW. Tapi sesaat kemudian, dia kembali dan mengatakan: "Wahai Rasulullah, saya sebenarnya menerima keputusan ayah saya. Saya hanya ingin memastikan bahwa kaum wanita memiliki hak untuk menolak atau menerima keputusan yang ditetapkan atas mereka" (hadits). Beberapa hal yang disalah pahami Ada beberapa hal yang menjadi penyebab kesalah pahaman sebagian tentang konsepsi islam tentang wanita. Yang disebutkan beriktu ini hanya sebagian dari hal-hal yang serignkali disalah pahami oleh sebagian, Muslim maupun non-Muslim. Imam Shalat Ada sebagian berpendapat bahwa Islam diskriminatif terhadap wanita karena Imam shalat hanya diperbolehkan bagi kaum pria. Belum pernah dalam sejarah, kecuali satu kisah yan masih controversial tentang Ummu Suraqah, seorang wanita pernah mengimami kaum pria atau jama'ah gabungan pria dan wanita. Tapi apakah aturan ini merupakan diskriminasi? Atau hal ini tidak lebih dari sebuah pengaturan berdasarkan kepada "kepatutan" (appropriateness?). Ada beberapa alasan kenapa wanita tidak menjadi Imam shalat dalam Islam: Pertama, shalat adalah ritual dan semua ritual dalam Islam sudah ditetapkan sejak zaman Rasulullah SAW. Ritual dalam Islam tidak boleh diperbaharui (reformed). Alasannya jelas, bahwa ritual adalah "jantung" praktek-praktek keagamaan. Jika jantungnya berubah dari masa ke masa, maka agama itu sudah bergeser dari "kelahian" (divine) ke "kemanusiaan" (humane). Bisa dibayangkan jika shalat bisa direformasi dari masa ke masa. Mungkin tahun depan, anak-anak kita melakukan shalat dengan lagu-lagu rapp ala Eminem. Kedua, ibadah shalat adalah ibadah yang dilakukan dengan mosi dan gerakan-gerakan (motions and movements), termasuk ruku' dan sujud. Sehingga sangat tidak tepat dan akan mengganggu secara sosial jika Imamnya adalah seorang wanita. Ini juga merupakan jawaban, kenapa pria dan wanita tidak berdiri satu saff dalam shalat. Ketiga, wanita memiliki halangan regular (haid) setiap bulan dalam beberapa hari dan juga akan mengalami hal yang sama setelah melahirkan. Sehingga sangat mengganggu tugas-tugas "imamah" jika mereka yang harus mengimami shalat di masjid-masjid. Dengan demikian, menjadi Imam atau tidak dalam shalat bukanlah ukuran inferioritas dan superioritas. Hal ini hanya seuah pengaturan berdasarkan kepada "tabiat" (nature) keadaan masing-masing pihak. Justru kehormatan ada pada apakah kita mengikuti aturan atau tidak. Dan dalam hal ini, kemuliaan seseorang ada pada ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Mengenai riwayat yang dikutip oleh At tabary tentang Ummu Suraqah, sebenarnya masih diperdebatkan kesahihannya oleh kalangan para "muhaddits". Tapi kalaupun itu benar, maka hadits itu jelas menyatakan bahwa Ummu Suraqah mengimami di antara mereka ada "budak lelaki". Hal ini sebenarnya juga bisa diterima, karena masih dalam pertentangan, apakah seorang budak bisa mengimami mereka yang merdeka. Untuk itu, riwayat ini tidak tepat untuk dijadikan dalil untuk menjustifikasi kebolehan wanita mengimami kaum pria. Kalau hal ini dipaksakan, seharusnya dipahami bahwa mereka yang rela untuk diimami seorang wanita telah menempatkan diri pada level budak, seperti kasus Ummu Suraqah tadi. Hal-hal lain Ada beberapa hal lain yang biasa dinilai sebagai ajaran diskriminatif terhadap kaum hawa, seperti hijab, kata "qawwamah", kasus "persaksian", pembagian "arisan". Insya Allah lain kali akan dijelaskan pada kesempatan pertama, jika ada kesempatan. Penutup. Dari semua penjelasana terdahulu, jelas bahwa ajaran Islam telah menempatkan kaum wanita pada tempat yang paling mulia. Bahkan ketika wanita masih saja objek syahwat kaum pria di berbagai belahan dunia, baik di barat, dalam kultur India, Persia, maupun China, Rasulullah telah datang dengan ajaran kesetaraan sejati. Tapi sebelum mengakhiri tulisan ini, saya juga perlu menegaskan bahwa praktek-praktek kaum Muslimin di berbagai belahan dunia, juga menjadi kontributor besar terhadap banyaknya kesalah pahaman terhadap ajaran Islam. Beberapa praktek cultural yang seringkali dianggap religious, justeru menambah suramnya pemahaman orang terhadap keindahan ajaran Islam dalam hal ini. Untuk itu, tanpa menyebutkan contoh-contoh atau kasus-kasus di berbagai belahan dunia Islam, sebaiknya kita kembali bercermin kepada prilaku kaum pria Muslim dan kemudian melihat apakah memang kita telah mengikuti ajaran Islam, atau sebenarnya kita sedang terjatuh dalam praktek-praktek kaum jahiliyah yang kemudian diatas namakan ajaran Islam? Wallahu a'lam! * Intisari khutbah Jum'at di Islamic Center of New York, tgl 11 Maret 2005. Untuk pertanyaan kedua, saya insya Allah susulkan. --- indah nuritasari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Date: Sat, 19 Mar 2005 21:20:56 +0100 > Subject: [ppiindia] Woman Leads Friday Prayers in > New York City > > http://www.arabnews.com/?page=4§ion=0&article=60658&d=19&m=3&y=2005 > > Saturday, 19, March, 2005 (08, Safar, > 1426) > > > Woman Leads Friday Prayers in New > York City > Barbara Ferguson, Arab News > > > > WASHINGTON, 19 March 2005 - In a > historic first in New York City yesterday, a group > of American Muslim activists broke with convention > and had a woman lead the Friday prayers, in order to > "send women from the back to the front of mosques." > > According to the Progressive > Muslim Union, which organized the event, Dr. Amina > Wadud, professor of Islamic Studies at Virginia > Commonwealth University, was the first woman to lead > public, mixed-gender Friday prayers. She also > delivered Friday's sermon. > > Dr. Wadud, the author of "Qur'an > and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman's > Perspective," believes Muslim women should be able > to lead in prayers. > > The Muslim world and the American > Muslim community generally believe that women cannot > lead mixed-gender prayers. It is only over the > centuries, they say, Muslim women have lost their > place as intellectual and spiritual leaders. > > "I have no objection to this > salah, even though I disagree with it. It is a > matter of opinion, it is not a fixed law that women > cannot lead the salah," Imam Mohamed Al-Hanooti, the > grand mufti of Washington metropolitan area, told > Arab News. > > "It is a very minor and irrelevant > trend, and should be treated as such." > > "Things are changing, so this is > not necessarily so unique," said Dr. Yvonne Haddad, > professor of Islam and history at Washington's > Georgetown University. > > "The National Muslim Student > Association of America was started by a very > conservative movement, mostly male foreign students. > But now for the first time, it has a woman for its > president, Hadia Mubarak, who is American born," > said Dr. Haddad. > > "Muslim kids in America say they > want to separate Islam from culture and religion, > and that they want to feel comfortable being > American and Muslim at the same time, so they've > been pushing the envelope. > > Their parents teach them that > their religion is their culture. But they want to > make a distinction from the culture and the > religion." > > Imam Shaker El-Sayed, former > general secretary of the Muslim American Society > said there is an established historic consensus > among all Muslim scholars that a woman may lead > other women in prayer, but she should not lead men > in prayer. > > "This is not because she is a > woman," he said, "but because of the awkwardness of > the position we Muslims take when we prostrate in > prayer. These positions would make both women and > men uncomfortable when a woman bows down and > prostrates in front of men." > > "Women may lecture to men," said > Imam El-Sayed, "but she may not lead the prayers and > consequently she cannot deliver the sermon, because > the sermon is traditionally offered by the imam who > leads the prayers." --- Abu 'Abdul 'Aziz <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > From: Tiara Ratih > > > As salaamu alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu > ....para ulama sudah menjelaskan tentang akidah > wanita bernama amina wadud ini, bahwa dia bukan > muslimah tapi kafirah. > Karena dia menolak hukum potong tangan bagi pencuri > karena perbuatan itu brutal menurut dia, juga > mendukung pernikahan gay dan lesbian, bahkan > menyuruh > orang untuk meninggalkan quran bila tidak faham. > Alhamdulillah, tidak ada 1 masjidpun yg bersedia > menjadi tempat shalat jumatnya, dan akhirnya acara > shalat jumat aneh itu dipindahkan ke salah satu > gereja > anglikan. Wallahul mustaaan > untuk mendengar atau membaca artikel tentang > penolakan > ulama terhadap amina wadud silahkan klik > www.albaseerah.org > wallahul alam bishawab > > Ur Sister In Islam > > Tiara Ratih (Ummu Hamzah) > > Narrated from Abdullah bin Mas'ood > The Prophet PBUH said "Do not wish to be like anyone > except in two cases. (The first is) A person whom > Allah has given wealth and he spends it righteously; > (The second is) The one whom Allah has given wisdom > (The Holy Qur'an) and he acts according to it and > teaches it to others (Fathul Bari page 177 vol.1) > Counter Liberalisme Oleh : Redaksi 22 Mar 2005 - > 9:17 am<?xml:namespace prefix = o ns = > "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /> > > > > > > > > > Lagi lagi umat Islam kecolongan, Sensasi Aminah > Wadud, yang menjadi imam shalat Jum'at pada jama'ah > pria mendapat kecaman para ulama sedunia, khususnya > Mesir dan Arab. Mereka kelompok Jaringan Islam > Liberal dunia bersama sama dengan Jaringan Islam > Liberal Indonesia kompak bersatu mendestructive > syariat Islam. > > Bukan itu saja, ironisnya kejadian luarbiasa ini > yang menampilkan satu satunya wanita Pertama yang > langka juga luput dari pemberitaan media > <?xml:namespace prefix = st1 ns = > "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" />massa > khususnya Islam di Indonesia yang berpenghuni > mayoritas umat Islam. Percaya tidak percaya ini > adalah Konspirasi Barat untuk Lemahkan Islam. Wahai > Umat Islam dimana kalian ?? - wakeup you all muslims > !!. > > > Ulama Menolak Tindakan Wanita Menjadi Imam > > > > Ulama Sheikh Yusuf Qaradhawi mengutuk keras > Aminah Wadud dengan menegaskan bahwa Islam melarang > wanita menjadi imam shalat kecuali semua jama'ahnya > adalah perempuan. Selain Qaradhawi, hampir semua > ulama Islam mengecam tokoh Islam Liberal tersebut > > Tindakan Aminah Wadud, seorang profesor Islam > wanita yang menjadi imam shalat Jum'at kepada > jama'ah bercampur lelaki dan perempuan di New York > minggu lalu terus mendapat bantahan keras seluruh > kaum muslimin dan ulama di seluruh dunia. > > Selain unjuk rasa yang diadakan di kota New > York, sebuah koran Mesir, Al-Messa dalam halaman > depan beritanya menyebutkan, "Mereka Mencemari Imej > Islam di Amerika." > > Koran itu menganggap Prof. Dr. Amina Wadud, > seorang profesor pengkajian Islam di Commonwealth > University, Virginia yang menjadi imam kepada tidak > kurang 80 jamaah bercampur antara pria dan wanita > sebagai 'wanita gila.' Di Arab Saudi, Mufti Besar > Abdul-Aziz al-Sheik turut mengutuk kejadian itu. > Imam Masjid Al-Azhar, Sheik Sayed Tantawi > mengatakan, Islam hanya membenarkan wanita menjadi > imam kepada golongan yang sama dengan mereka. > > Di New York, polisi semalam terpaksa membubarkan > kelompok pengunjuk rasa yang menolak tindakan Wadud > yang memaksa menjadi imam shalat Jum'at di di Synod > House di Gereja Besar Episcopal St John di > Manhattan. > > Wadud memaksa menjadi imam shalat Jum'at setelah > tiga masjid setempat enggan menerimanya berikut > ancaman bom. Bahkan kala itu, seorang wanita > mengumandangkan iqamat. > > Lebih 100 jama'ah pria dan wanita bershalat > Jum'at tanpa ada tirai yang memisahkan mereka > sebagaimana amalan biasa. Separuh jama'ah pria > bahkan beberapa kali dilihat gelisah dan keliru > dengan tindakan mereka. Peristiwa itu nampaknya > sudah didesain karena banyaknya liputan luas dari > wartawan, juru foto media cetak serta televisi. > > Sebelum pelaksanaan shalat, Wakil Direktur Pusat > Kebudayaan Islam di New York, Muhamamd Syamsi Ali, > sudah langsung menetangnya. Kepada harian Asyarqul > Awsath, koran Arab Saudi yang terbit di London edisi > Jumat lalu, ia menyatakan penolakan itu. "Tak jadi > masalah jika Wadud hanya menjadi imam bagi jemaah > wanita saja. Sebab, ini merupakan anugerah dan > ketentuan Allah. Tapi, jika dia juga menjadi imam > bagi jama'ah laki-laki, ini tak dibenarkan dalam > islam (ghayru masmuh) dan tidak sesuai dengan ajaran > islam," katanya > > Sabtu lalu, seorang ulama terkemuka dunia di > Al-Azhar di Kaherah, Mesir mengatakan, Islam hanya > membenarkan wanita menjadi imam kepada golongan yang > serupa dengan mereka tetapi tidak kepada orang > lelaki. > > Ulama terkemuka Sheikh Yusuf Qaradhawi turut > mengutuk keras tindakan Wadud dengan menegaskan > bahwa Islam melarang sama sekali wanita berbuat > begitu kecuali semua jama'ahnya adalah perempuan. > > Semua ulama Islam setuju bahwa wanita tidak > boleh menjadi imam kepada pria, kata Qaradhawi dalam > fatwanya yang disiarkan koran Qatar. > > "Shalat dalam Islam yang dilakukan secara > berdiri, menunduk (rukuk) dan sujud tidak sesuai > dilakukan dalam keadaan lelaki dan perempuan > bercampur. Sholat memerlukan ketenangan untuk > berkomunikasi dengan Allah," ujar Qaradhawi. > > Aminah Wadud adalah warganeara Amerika Serikat > keturunan Afrika. Ia adalah gurubesar sejarah Islam > di Universitas Virginia. Namanya mencuat berkat > bukunya yang berjudul Al-Quran dan Wanita, yang > menjadi best seller di Amerika. Dalam buku itu Wadud > banyak menjelaskan tentang posisi wanita dalam > Islam, termasuk bolehnya seorang wanita menjadi imam > salat bagi kaum laki-laki, yang kemudian menjadi > inspirasi aktifis Islam Liberal di Indonesia meski > semua ulama sepakat menolak. > > Bagaimanapun sensasi kaum liberal ini bukanlah > hal lucu. Kesetaraan hak dan jender, selama ini > sering menjadi isu yang dipaksakan dalam agama. > (ap/hid/cha/Hidayatullah.com) > > ---------------------------------------------------------------------------- > > > > > Sholat Jumat di New York dengan Imam Wanita: > Konspirasi Barat untuk Lemahkan Islam > > > > Sampai hari ini, tokoh-tokoh Islam di Timur > Tengah masih melontarkan kecaman terhadap > pelaksanaan sholat jumat di kota New York yang > diimami seorang wanita. Mereka menganggap tindakan > itu sebagai bentuk pelanggaran dan penyelewengan > ajaran agama Islam. > > Seperti diberitakan, Amina Wadud, seorang > Profesor studi Islam di Virginia Commonhealth > University, hari Jumat pekan kemarin, mengimami > pelaksanaan sholat Jumat yang diselenggarakan di > Synod House, gereja Kathedral St. John milik > Keuskupan di Manhattan, New York. Pelaksanaan sholat > jumat yang diikuti oleh sekitar 100 jemaah ini, > bukan hanya diikuti oleh jemaah wanita tapi juga > laki-laki, yang langsung memicu kecaman kalangan > pemuka Islam. Penyelenggara sholat jumat dengan imam > perempuan itu menyatakan, mereka ingin menarik > perhatian masyarakat terhadap adanya perbedaan hak > yang dialami kaum perempuan Muslim. > > Harian Al-Messa yang terbit di Mesir menurunkan > berita tentang pelaksanaan sholat jumat di New York > itu di halaman depan dengan judul yang cukup > keras,"Mereka === message truncated === - mon - setelah kita tinggalkan dunia, alam yang lain pula menanti test'; " type=text/css> __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/.DlolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Yahoo! Groups Links --- Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=783 > > Gebrakan Amina Wadud > Oleh Luthfi Assyaukanie > 28/03/2005 > Saya menganggap isu "imam perempuan" adalah bagian > dari tradisi keagamaan semata, dan bukan fondasi > asasi dari agama. Ulama sejak lama berdebat soal > ini, sama seperti mereka memperdebatkan soal jilbab, > bunga bank, eutanasia, dan kawin beda agama. Adapun > jika reaksi terhadap isu ini begitu besar, itu > karena Amina Wadud merupakan perempuan pertama yang > berani menarik masalah ini dari perdebatan fikih ke > ruang nyata. > > Kontroversi Amina Wadud, seorang intelektual > muslimah yang mengimami shalat Jum'at pekan lalu > (18/3) tampaknya masih terus berlanjut. Reaksi kaum > Muslim dan para ulama terus bermunculan. Seingat > saya, tak pernah ada reaksi dari para ulama dan > tokoh agama di Timur Tengah yang begitu keras sejak > novel Ayat-Ayat Setan karya Salman Rushdi beberapa > tahun silam. > Dr Yusuf Qardhawi, seorang alim yang bukunya banyak > diterjemahkan di Indonesia, mengecam Amina telah > menyimpang dari tradisi Islam yang telah berjalan 14 > abad. Sementara Abdul Aziz al-Shaikh, Mufti Agung > Arab Saudi, menganggap Amina sebagai "musuh Islam > yang menentang hukum Tuhan" (Associated Press, > 19/3). Beberapa koran di Mesir dan Arab Saudi > menempatkan berita itu di halaman utama, dan > menganggap Amina sebagai "wanita sakit jiwa" yang > berkolaborasi dengan Barat kafir untuk menghancurkan > Islam (Associated Press, 19/3). > > Mengikuti gelombang reaksi terhadap Amina Wadud saya > merasa kecewa, karena kaum Muslim ternyata masih > belum berubah: paranoid dalam menyikapi setiap > perubahan dalam tradisi agama mereka. Saya katakan > paranoid karena reaksi itu bersikap kolosal dan > berlebihan. Amina bukan hanya dicaci-maki dan > dikecam, tapi juga diancam bunuh karena dianggap > telah merusak Islam (Daily Times, 23/3). > > Saya menganggap isu "imam perempuan" adalah bagian > dari tradisi keagamaan semata, dan bukan fondasi > asasi dari agama. Ulama sejak lama berdebat soal > ini, sama seperti mereka memperdebatkan soal jilbab, > bunga bank, eutanasia, dan kawin beda agama. Adapun > jika reaksi terhadap isu ini begitu besar, itu > karena Amina Wadud merupakan perempuan pertama yang > berani menarik masalah ini dari perdebatan fikih ke > ruang nyata. > > Reaksi berlebihan kaum muslim menunjukkan bahwa > mereka tak pernah berkaca pada sejarah. Bagi yang > mengikuti perkembangan pemikiran Islam pasti tahu > bagaimana para ulama awal abad ke-20 hampir serempak > mengharamkan bunga bank, mengecam wanita karir, > menghujat keluarga berencana, dan melarang beberapa > produk teknologi. Mereka melakukan semua itu atas > nama agama. Tapi, perkembangan sejarah membuktikan > bahwa pandangan kolot itu tak cukup kuat melawan > arus perubahan dalam tubuh umat Islam. > > Saya kira, penerimaan kaum muslim terhadap "imam > perempuan" hanyalah soal waktu saja. Masalah itu > kini boleh dihujat, sama seperti para ulama Mesir > pernah menghujat Muhammad Abduh, tokoh reformis > Islam, karena menghalalkan bunga bank, atau > menghujat Ali Abd al-Raziq karena menganggap bahwa > sistem khalifah bukan bagian dari Islam. Suatu saat > nanti, saya meyakini, bahwa "imam perempuan" bisa > diterima, sama seperti sebagain besar kaum muslim > kini menerima pandangan kontroversial Abduh dan Ali > Abd al-Raziq itu. > > Sekarang pun, sebagian intelektual muslim dan ahli > fikih yang mengkaji secara tekun sudah sepakat bahwa > masalah "imam perempuan" adalah masalah konstruk > sosial-budaya semata yang sangat erat kaitannya > dengan masyarakat Arab yang patriarkis. Dengan kata > lain, ia bukan merupakan bagian dari doktrin agama > yang benar-benar datang dari Tuhan. Dr Khaled Abou > el-Fadl, ahli fikih dari UCLA, misalnya menegaskan > bahwa tak ada larangan dari al-Qur'an tentang > masalah ini. Sementara K.H. Husein Muhammad, kiai > asal Cirebon, meyakini bolehnya perempuan mengimami > shalat di depan jamaah campuran (laki-laki dan > perempuan). > > Keberatan sebagian ulama bahwa percampuan laki-laki > dan perempuan dalam satu ruang shalat pun > sesungguhnya kurang memiliki pijakan, semata-mata > karena tempat paling suci di dunia ini, yakni > Masjidil Haram (di mana ka'bah berada), laki-laki > dan perempuan shalat berjamaah bersama-sama tanpa > ada dinding pemisah sama sekali. Tak pernah ada > ulama yang keberatan dengan bercampurnya kaum > laki-laki dan perempuan dalam shalat di mesjid ini. > > Satu pelajaran yang bisa kita ambil dari kasus Amina > Wadud adalah bahwa kaum muslim masih sulit menerima > perbedaan pendapat, khususnya menyangkut agama > mereka. Fakta bahwa shalat Jum'at yang diimami Amina > diselenggarakan di Amerika, negara demokrasi yang > menjunjung tinggi kebebasan, menunjukkan bahwa > peristiwa ini hampir mustahil dilakukan di > negara-negara muslim. Bahkan di Amerika pun, Amina > harus melakukan ritual shalat itu di sebuah gereja > dengan penjagaan cukup ketat, semata-mata karena > adanya ancaman dari kaum fundamentalis muslim. > > Saya kira, perjuangan Amina patut didukung. Saya > melihat bukan shalatnya benar yang penting, tapi > bagaimana sebuah pemahaman agama bisa diterima dan > dihormati. Dan jika kita mengaku sebagai umat yang > toleran dan menjunjung tinggi kebebasan, mengapa > mesti gusar dengan sebuah pandangan dan penafsiran > yang hanya merupakan pernik kecil dari tradisi > agama? [] > > > [Non-text portions of this message have been > removed] > > Bacalah artikel tentang Islam di: http://www.nizami.org __________________________________ Do you Yahoo!? Yahoo! Small Business - Try our new resources site! http://smallbusiness.yahoo.com/resources/ ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who cares about public education! http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

