http://padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=7636&PHPSESSID=29767f7504ffb21038ba5505c137e165


Dana Pendidikan Kompensasi BBM
Oleh Prof Dr Ki Supriyoko MPd
Oleh Redaksi
Kamis, 31-Maret-2005, 14:23:4338 klik


Pendidikan nasional akan mendapat durian runtuh, yaitu berupa dana kompensasi 
BBM yang besarnya sekitar 5,6 triliun rupiah. Kalau kita bandingkan dengan 
jumlah anggaran pendidikan tahun 2004 yang 15,2 triliun rupiah, besarnya dana 
kompensasi BBM untuk pendidikan tersebut cukup signifikan, yaitu di atas 36,8 
persen atau lebih dari sepertiga anggaran yang lalu.

Meskipun masih jauh dari kebutuhan, dana 5,6 triliun rupiah tersebut terhitung 
besar untuk bidang pendidikan. Karena itulah, kemudian muncul berbagai pendapat 
masyarakat tentang penggunaan dan/atau pengelolaannya. 

Ada anggota masyarakat yang berpendapat, sebaiknya dana tersebut digunakan 
untuk merenovasi gedung-gedung sekolah -terutama gedung SD yang sudah bobrok-, 
menyekolahkan guru-guru yang berkualitas rendah, melengkapi kebutuhan sekolah 
seperti alat-alat laboratorium yang masih tidak lengkap, membantu biaya 
pendidikan penduduk miskin, sampai dengan menggratiskan pendidikan. 

Ibaratnya, sebuah keluarga miskin yang jarang pegang uang banyak, ketika 
keluarga tersebut tiba-tiba mendapatkan uang yang jumlahnya cukup banyak, maka 
segala keinginan terus muncul. Dan keluarga itu tidak tahu bahwa uang yang 
diperoleh secara tiba-tiba tersebut -meskipun jumlahnya relatif banyak- menjadi 
sedikit ketika dibandingkan dengan keinginannya. 

Pendapat sebagian masyarakat tentang penggunaan dana untuk merenovasi dan 
bahkan mendirikan gedung baru SD yang sudah bobrok itu kiranya memang sangat 
beralasan. Sebab, sekarang ini banyak sekali gedung SD yang rusak; dari rusak 
ringan hingga rusak berat. Gedung SD yang terkesan lusuh, cat temboknya pada 
mengelupas, atapnya bocor, dindingnya bengkah, temboknya ada yang miring, 
dan/atau sebagian konstruksi atasnya keropos merupakan pemandangan sehari-hari. 

Mari sekarang kita bicara konkret. Dari data Balitbang Depdiknas dalam 
Indonesia Educational Statistics in Brief 2002/2003 (2003) dapat diketahui 
karakter SD kita sbb: jumlah sekolah mencapai 146.052 lembaga yang terdiri atas 
988.597 kelas dan menampung murid 25.918.898 anak, serta diasuh oleh 1.234.927 
guru. Angka itu khusus untuk SD dan tidak termasuk madrasah ibtidaiyah (MI). 

Adapun jumlah fisik ruang kelas mencapai 865.258 ruang dengan kondisi sbb: 
364.440 atau 42,12 persen berkondisi baik, 299.581 atau 34,62 persen mengalami 
kerusakan ringan, dan 201.237 atau 23,26 persen mengalami kerusakan berat. 
Kalau kondisi MI diperhitungkan, angka kerusakannya lebih tinggi karena kondisi 
MI lebih buruk daripada SD pada umumnya. 

Berapa biaya yang diperlukan untuk merenovasi gedung SD yang rusak tersebut? 
Katakanlah, dana yang diperlukan untuk merenovasi gedung yang rusak berat itu 
50 juta per ruang. Angka ini diambil dari standar imbal swadaya untuk 
mendirikan ruang baru. Logikanya, dana untuk merenovasi ruang yang rusak berat 
disamakan dengan membangun ruang baru karena sering justru dana renovasi lebih 
mahal. 

Selanjutnya, untuk merenovasi ruang SD yang rusak berat diperlukan dana sekitar 
10 triliun rupiah (dari 201.337 ruang dikalikan 50 juta rupiah). Untuk 
merenovasi ruang yang rusak ringan ditaksir 20 juta rupiah per ruang. Jadi, 
untuk merenovasi gedung SD yang rusak ringan diperlukan dana sekitar 6 triliun 
rupiah (dari 299.581 ruang dikalikan 20 juta rupiah). 

Jadi, untuk merenovasi gedung SD saja, diperlukan dana 16 triliun rupiah, belum 
termasuk gedung MI. Jadi, dana kompensasi BBM yang 5,6 triliun rupiah itu 
menjadi kecil nilainya ketika dihadapkan pada kebutuhan konkret yang ada. 

Koreksi Terhadap Pemerintah 

Dalam mengelola dana kompensasi BBM untuk pendidikan tersebut, tampaknya, 
pemerintah sudah memilih prioritas, yaitu untuk memberikan beasiswa kepada 
siswa dari golongan rakyat miskin. Dengan 5,6 triliun rupiah di tangan, 
diharapkan sekitar 9,6 juta anak sekolah dari golongan rakyat miskin akan 
terselamatkan. 

Soal pemilihan prioritas tersebut tak perlu dipermasalahkan. Nyatanya, di 
negeri yang konon gemah ripah loh jinawi ini, ternyata masih sangat banyak anak 
yang tidak sekolah dan anak yang putus sekolah disebabkan alasan ekonomi, baik 
yang bersifat langsung (directly effect) maupun yang bersifat tidak langsung 
(indirectly effect). 

Banyak anak yang terpaksa tidak dapat sekolah dan putus sekolah karena orang 
tua tidak dapat membayar uang sekolah dan/atau kebutuhan pendidikan lainnya 
(langsung). Di sisi lain, banyak anak yang terpaksa tidak dapat sekolah dan 
putus sekolah karena diminta membantu pekerjaan orang tua untuk memenuhi 
kebutuhan hidupnya (tidak langsung). 

Tanpa bermaksud mempermasalahkan, prioritas pemerintah kiranya perlu dikoreksi. 
Dari sisi perundangan, dalam konteks SD dan SMP di mana dua satuan pendidikan 
ini adalah satuan yang diwajib-belajarkan, maka pemilihan siswa miskin dan kaya 
menjadi tidak relevan. Sebab, biaya pendidikan seluruh siswa SD dan SMP tanpa 
memandang miskin dan kaya menjadi tanggung jawab pemerintah. Dengan demikian, 
kriteria miskin dalam penentuan beasiswa siswa SD dan SMP menjadi gugur. 

Masalahnya menjadi berbeda dengan siswa SMA dan SMK. Sampai saat ini, ketentuan 
wajib belajar kita belum menjangkau satuan SMA dan SMK. Dengan demikian, secara 
perundangan, tidak ada kewajiban pemerintah untuk menanggung (seluruh) 
kebutuhan pendidikan siswa. Dalam hal ini, kriteria miskin dalam penentuan 
beasiswa siswa SMA dan SMK dapat ditempuh dan sangat relevan dengan realitas 
sosial yang ada. Semoga pemerintah mau memperhatikan koreksi ini. 

*Prof Dr Ki Supriyoko MPd, guru besar Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa 
Jogjakarta.

 
  

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources 
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke