http://www.waspada.co.id/opini/artikel/artikel
Saat Presiden Soekarno mengumandangkan ganyang Malaysia pada tahun 1963, sebagian analis menganggap Soekarno termakan provokasi negara- negara imperialis (intelijen). Terlepas absurditas PKI dengan komunismenya, peristiwa G30S juga dianggap hasil provokasi Inggris (intelijen) dengan isu Dewan Revolusi dan Dewan Jenderal. Pola sama mungkin dapat diibaratkan ketika Saddam Hussein terjebak provokasi Barat (intelijen) untuk memberi keyakinan baginya memerangi Iran, dan dekade berikutnya menganeksasi Kuwait yang kesemuanya berujung sia- sia. Bagaimana menyikapi perilaku Malaysia dalam sengketa Ambalat. Apakah harus mengikuti arus emosional menempuh jalan perang? Perundingan bilateral, menerima fasilitator atau apakah memanfaatkan lembaga internasional? Sampai akhirnya disepakati memanfaatkan konvensi hukum laut PBB : UNCLOS 1982 (United Nations of Convention on the Law of the Sea). Kalaulah berpikir jernih, ada sesuatu ketidakwajaran dalam sengketa ini karena tiba-tiba saja kita kaget tingginya suhu "panas" di sebahagian wilayah timur Indonesia bagai akan terjadi perang terbuka dengan Malaysia di tengah rasa prihatin yang mendalam atas tewasnya ribuan manusia akibat bencana tsunami di Aceh, longsor sampah dan naiknya harga BBM. Kalaulah benar sengketa ini juga bagian dari upaya provokasi pihak-pihak tertentu apakah Indonesia tidak semakin terjerumus dalam kubangan krisis? Keangkuhan Toke Jiran Sebagai bangsa kita memang sangat bersabar saat tingkah polah pemimpin Singapura selama ini kerap menghina harkat martabat bangsa Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Bagaimana saat Lee Kuan Yew mantan Perdana Menteri Singapura paranoid terhadap negara-negara tetangganya sehingga selalu berkomentar kasar dan angkuh tentang Indonesia. Misalnya pada 1990-an dia pernah menyatakan di depan para petinggi Singapura bahwa Soekarno hanya pintar berorasi. Di lain waktu Presiden Abdurrahman Wahid yang sempat marah karena Lee Kuan Yew terlalu banyak mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Saking jengkelnya, Gus Dur bahkan sempat mengancam akan menghentikan semua pasokan sumber daya alam ke Singapura. Presiden Habibie juga pernah gusar ketika Lee Kuan Yew berkomentar bahwa beliau tidak akan sanggup memperbaiki perekonomian negeri ini. Belakang hari terbukti bahwa Habibie berhasil menurunkan nilai tukar rupiah, serta tidak pernah menaikkan harga BBM, bahkan sebaliknya sebagai satu-satunya presiden Indonesia yang berhasil menurunkan harga BBM. Terakhir pemimpin tua bangka ini juga beberapa kali pernah mengumbar keangkuhannya terhadap rakyat Indonesia dengan tuduhan-tuduhan emosional tanpa bukti serta senantiasa berbau sentimen ras dan agama, tidak peduli menyinggung para jirannya apa tidak. Pencurian Pasir Laut Lautan Indonesia telah lama kehilangan harta-bendanya. Selain pencurian ikan, minyak/gas, kapal tenggelam yang menyimpan barang berharga, ternyata pasir yang di dasar laut dijadikan barang curian oleh suatu konspirasi rapi dan kuat yang menggerus kedaulatan bangsa. Nani Hendiarti, peneliti laut sekaligus ketua ekspedisi Pulau Nipah dari BPPT mengatakan sebagaimana dikutip dari bulletin Gali-Gali � Jatam : bahwa kondisi pulau Nipah saat ini sangat memprihatinkan dan hampir tenggelam akibat pengerukan pasir laut secara terus-menerus di sekitar Selat Malaka. Bila dibiarkan akan mengancam keberadaan pulau- pulau lain di sekitarnya akibat abrasi. Semua itu lanjut Nani, akibat pengerukan pasir di sekitar Pulau Karimun. Bila terus dibiarkan, maka perbatasan laut antara Indonesia dan Singapura akan terganggu. Batas laut Indonesia semakin mengecil sedangkan Singapura dengan reklamasi pantainya meluas. Akibat penambangan pasir illegal diperkirakan negara mengalami kerugian sangat besar. Tercatat resmi volume ekspor pasir legal Riau 0,93 meter3/hari, sedangkan volume impor pasir Singapura dari Riau diketahui mencapai 2,02 juta meter3/hari dengan nilai mencapai Rp 11,33 miliar. Berarti terdapat selisih sebesar 1,10 juta meter kubik setiap hari. Jumlah yang tidak tercatat ini merupakan pasir curian, dengan perhitungan itu, negara telah dirugikan sebesar Rp 6,14 miliar/hari dan dalam setahun angka tersebut mencapai Rp 2,24 triliun. Tahun 1991, luas daratan Singapura = 633 kilometer per segi, 10 tahun kemudian 760 kilometer per segi. Sesuai konvensi hukum laut maka sebuah pulau yang dulunya milik Propinsi Riau akan diklaim menjadi milik Singapura (wilayah laut dihitung berdasarkan coastal base line atau titik-titik terluar dari suatu wilayah). Mengemis Perjanjian Ekstradisi Perjanjian ekstradisi dengan Singapura yang diupayakan sejak tahun 1973 sampai saat ini tidak pernah terwujud. Sangat mengherankan memang bagaimana negara kota Singapura yang luasnya tidak lebih luas dari Provinsi DKI Jakarta atau dibanding Indonesia yang luasnya 1,919,443 km2 begitu angkuh tidak bersedia bekerjasama. Para koruptor bagai hidup di surga Singapura dan tidak perlu jauh- jauh dari ladang korupsinya bernama Indonesia. Kedatangan Presiden sebagai Kepala Negara RI baru-baru ini ternyata tidak cukup berharga bagi Singapura untuk mewujudkan perjanjian ekstradisi yang lazim bagi kerjasama negara-negara yang menginginkan pemerintahannya bersih. Ekspor Limbah Berbahaya Ekspor limbah dari Singapura membuat pusing pejabat dan LSM lingkungan hidup Indonesia apalagi rakyat kecil tentunya. Tahun lalu saja impor limbah B3 beracun dan berbahaya bagi lingkugan hidiup masuk ke pulau Galang pada 29 Juli 2004 berjumlah 1.762 kantung (1.149,4 ton). Untuk itu Singapura dengan arogan menolak reekspor (pengembalian) yang diminta Indonesia dan menyatakan limbah tersebut hanyalah pupuk biasa. Data Kantor Lingkungan Hidup (KLH) menyebutkan, kasus impor limbah dari Singapura itu bukan yang pertama kali. Sebelumnya Singapura mengekspor material keruk yang terkontaminasi limbah B3 ke Pulau Bangka (ketika masih bergabung dengan Prov. Sumsel), rencana ekspor limbah serupa ke Pulau Karimun dan Pulau Nipah, dan ekspor limbah carbon black yang mengandung limbah B3 ke Pulau Batam. KLH juga menerima laporan, eksportir limbah dari Singapura terus mendekati beberapa kepala daerah, seperti kota Palembang, kabupaten Bengkalis, dan kabupaten Karimun, Riau, agar mengizinkan impor limbah yang disebut sebagai pupuk dan urukan bangunan dari Singapura. Benar- benar perbuatan nista seolah menganggap bahwa negara ini tong sampah? Berkaitan angkatan bersenjata, seorang pengamat militer dunia menilai Singapura mempunyai anggaran militer terlalu besar, setiap tahun rata- rata mencapai 6 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB). Pada tahun fiskal 2000/2001 saja nilainya mencapai US$ 4,3 miliar. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan Thailand 1,5 persen dari PDB, Malaysia 2,1 persen, dan Indonesia sebesar hanya 1,7 persen. "Dengan anggaran itu, kekuatan militer Singapura terlihat tidak proporsional dan justru dianggap menjadi ancaman di Asia Tenggara," ungkap Robert Karniol, editor Jane's Defense Weekly, sebuah jurnal pertahanan internasional top dunia. 10 Persen dari 3,2 juta warga Singapura bekerja di militer, sejumlah 50.000 ribu personel bekerja full time dan sekitar 250.000 cadangan yang bisa digerakkan kapan saja. Bandingkan Indonesia dan Malaysia yang masing-masing hanya sekitar 300.000 dan 115.000 personel, padahal luas wilayah dan penduduknya jauh melebihi Singapura. Kembali berkaitan dengan anggaran militernya, terkuak informasi dari sidang parlemen Singapura tahun 1999, bahwa negara ini menghabiskan sekitar 7,27 milyar dolar dalam setahun, atau sekitar 25 persen dari anggaran belanja negara untuk alokasi pertahanan. Dan pada tahun 2000, menurut laporan Asian Defense Journal, tak kurang Singapura memiliki 4 pesawat F-16B, 10 F-16D fighters, 36 F-5C fighters, dan 8 F-5T fighters. Sedangkan Indonesia, kini hanya memiliki 6 F-16, itu pun tak semuanya bisa dan layak terbang karena terus-menerus melakukan kanibalisasi untuk perbaikannya. Harian Republika pernah memberitakan bahwa Singapura dan Israel juga telah membangun kerjasama satelit pengintai bernama Ofeq. Dr Azmi Hasan pakar dari Universitas Teknologi Malaysia di Johor Malaysia menulis di The New Straits Times, yang pada intinya beliau menyebutkan bahwa kerja sama satelit intelijen itu bakal menambah ketegangan berjiran di Asia Tenggara. Disebut-sebut bahwa kerja sama satelit intelijen itu merupakan bagian dari kepentingan jangka panjang Singapura untuk menguasai persaingan di ruang angkasa, komunikasi, dan intelijen di Asia Tenggara. Satelit Ofeq menurut Azmi sejak awal memang dibuat dengan fungsi sebagai satelit pengintai (intelijen), karenanya satelit itu memiliki kemampuan, seperti mencetak foto satelit serta kemampuan intelijen secara elektronik. "Dengan kemampuan seperti itu, cukup buat Singapura untuk memata-matai negara-negara tetangganya." Dengan demikian Singapura memang harus diwaspadai, sama dengan Malaysia. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to life by funding a specific classroom project. http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

