----- Original Message ----- From: HKSIS To: HKSIS-Group ; [EMAIL PROTECTED] Sent: Sunday, April 03, 2005 12:37 AM Subject: [HKSIS] Fw: [tioin59] Re: Siauw Tiong Djin - BAPERKI
----- Original Message ----- From: jonathangoeij To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Sunday, April 03, 2005 5:44 AM Subject: [tioin59] Re: [HKSIS] Siauw Tiong Djin - BAPERKI > --- In [EMAIL PROTECTED], Hutagalung Bambang > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Sebaiknya, soal ini langsung diceritakan oleh bapak Go Gien Tjwan > misalnya,jangan bapak Tiong Jin yang tampil menceritakan. > Dibawah adalah cuplikan wawancara Hesri Setiawan dengan Go Gien Tjwan tentang Baperki. JG -- HS.: Kembali tentang "Baperki". Bagaimana sikap "Baperki" dulu? Go: Situasinya dulu itu begini. Di Jakarta ada PDTI, Partai Demokrat Tionghwa Indonesia. Di Banjarmasin, Padang, Ujung Pandang, Semarang (cabang PDTI), dan mungkin di tempat lain lagi ada juga organisasi serupa, yang eksklusif didirikan oleh dan untuk peranakan Tionghwa yang warganegara Indonesia. Tujuannya pendek: untuk membela kepentingan peranakan Tionghwa, minoritas yang merasa - dan memang benar - didiskriminasi oleh pemerintah dan masyarakat. Dalam praktik ini berarti menentang diskriminasi ras. Pada tanggal 12 dan 13 Maret 1954 mereka berkumpul di Jakarta, dan sepakat untuk membentuk satu badan politik yang menentang diskriminasi berdasarkan keturunan seseorang. HS.: Kalau begitu satu partai politik? Go: Bukan. Justru bukan. Sebab pemrakarsa, terutama unsur PDTI sadar, bahwa tidak mungkin ada satu partai politik, yang ideologinya "membela kepentingan golongan etnis Tionghwa" di dalam alam Indonesia Merdeka yang berlambang Bhineka Tunggal Ika. Yang mungkin ialah mendirikan ormas yang tidak mempunyai ideologi tertentu, sebab anggota anggotanya ada yang Kristen, Katolik, penganut Sam Kau Hwee Tridarma, Islam, dan bahkan mereka yang sudah berpartai politik. HS.: Baiklah. Jadi badan, bukan partai. Bagaimana latar belakang nama "Baperki" itu sendiri? Go: Jawaban saya panjang. Tapi riwayatnya begini. Di antara pengunjung kongres tanggal 12-13 Maret 54 itu ada dua orang yang tidak mewakili organisasi apa pun, yaitu Siauw Giok Tjhan dan saya Go Gien Tjwan. Sejak mula kami berdua dikenal republiken. Tahun 1946 kami berdua, dan beberapa peranakan Tionghwa lain, adalah anggota Partai Sosialis Syahrir - Amir Syarifuddin. Siauw diangkat anggota KNIP terus menerus, sampai RIS berdiri, dan otomatis dia pun menjadi anggota parlemen. Dalam kabinet Amir, semasa revolusi bersenjata, Siauw menjadi menteri dengan tugas mengerahkan funds and forces orang Tionghwa di dalam wilayah RI, demi suksesnya revolusi. Saya, setelah giat di dalam Angkatan Muda Tionghwa di malang, bersama berbagai macam organisasi pemuda seperti Pesindo, BPRI (Bung Tomo) dll., pada tahun 47 ditugasi Partai Sosialis bekerja di Kementerian Luar Negeri, yang ketika itu di bawah Sutan Syahrir. Sesudah Agresi Militer I oleh Kemlu dan Kementerian Pemuda (Supeno, Moh. Said) saya diberi tugas ke Negeri Belanda. Bersama Sunito, Dubes RI di Belanda dengan mandat Presiden Sukarno, saya di persona non grata dari negeri itu. Kembali ke Kongres tanggal 12-13 Maret 1954. Ketua Kongres Sdr. Thio Thiam Tjong, yaitu ketua PDTI saat itu, yang di kalangan masyarakat Tionghwa gengsinya tinggi, walaupun sepulang dari kamp tahanan Jepang diangkat menjadi penasihat Van Mook. Sebelum diinternir dia menghadapi Jepang dengan gagah, dan sebagai penasihat Van Mook dia pun bukan penjilat. Ia membela kepentingan orang Tionghwa, namun tetap tanpa memusuhi Republik Indonesia. Siauw Giok Tjhan, yang hakikatnya memimpin kongres, berkata al.: "Kita menentang diskriminasi ras. Itu baik. Tapi apa sebabnya diskriminasi bisa terjadi? Bagaimana bisa warganegara yang satu mendiskriminasi warganegara yang lain? Itu terjadi karena pemimpin pemimpin kita dan pemimpin partai politik tidak atau kurang menyadari, bahwa "warganegara keturunan" itu bagian dari nasion. Kita menentang diskriminasi terhadap warganegara keturunan Tionghwa, sambil mengingatkan semua pemimpin politik dari semua partai, agar tidak hanya rebutan kursi di parlemen untuk bisa mengantongi lisensi impor dsb. Kita yang sekarang merdeka dan berdaulat harus membangun bangsa. Kita tidak boleh melupakan nation building. Kita yang hari ini berkumpul di sini harus juga ikut membangun nasion Indonesia, bersama sama dengan warganegara Indonesia keturunan Jawa, Sunda, Minang, dsb. "Kalau kita sekarang menyadari, bahwa diskriminasi sesama warganegara disebabkan faham warganegara Indonesia, anggota nation state Indonesia, tidak atau kurang dimengerti, maka marilah kita mendirikan Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia. Bukan badan khusus untuk keturunan Tionghwa, bukan Baperwatt, melainkan Baperki - Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia." Maka pada waktu kita memperkenalkan diri pada Presiden Sukarno, saya tidak lupa sambutan Bung Karno di istana. Dia bilang: "Terimakasih! Kalian ingat kembali perlunya nation building. Sudah lupa memang!" Lantas dia bilang lagi, itu khas Bung Karno: "Memang. Di dalam negara kita tidak boleh adanya mayorokrasi, tapi tidak boleh juga minorokrasi ..." Itu memang yang dikehendaki "Baperki". "Baperki" didirikan 13 Maret '54. Sayangnya yang mendirikan memang semuanya warga negara keturunan Tionghwa. Sehingga tidak ada pribumi yang menyaksikan perdebatan kongres yang mengubah nama "Baperwat" menjadi "Baperki", yang segera perlu harus dibuktikan. Tapi baru bisa dibuktikan pada hari berikutnya, yaitu ketika "Baperki" cabang Jakarta didirikan, dengan mengangkat sebagai ketua Sudaryo Cokrosisworo. Tapi sudah terlambat. Sudah terlanjur mendapat cap "Tionghwa". Kemudian memang tidak semua cabang mempunyai wakil "asli". Di Solo ada, Projohartono; Tanjungkarang, dokter Darwis (Murba); Minahasa, dokter Richter, orang Indo. Tapi memang susah kalau sudah mendapat stigma perkumpulan orang Tionghwa. Apalagi waktu jaman Bung Karno bersahabat dengan RRT, Baperki dicap Komunis juga. Padahal Baperki hanya loyal menjalankan politik resmi Nasakom. Susunan pengurus cabang tidak bisa disahkan, kalau tidak menunjukkan adanya tiga unsur: nas-a- kom. Itu sebabnya dalam pengurus pusat bukan saja anggota Partindo Oei Tjoe Tat, tapi juga Nyak Diwan dari Perti. HS.: Apa yang pertama-tama diperjuangkan "Baperki"? Perjuangan politik atau apa? Go: Perjuangan politik. Sebab warganegara yang baik harus sadar politik, kalau mau ikut membangun negeri dan memberantas rasisme. Sejak tahun 60-an, dengan menghebat nya Manipol Usdek diskriminasi ras dalam peraturan peraturan dan penghidupan sosial banyak berkurang. Sehingga pekerjaan politik berkurang juga, dan tenaga dapat dicurahkan pada pembangunan sekolah, dari tingkat SD sampai universitas. Tahun 1965 Universitas Baperki "Ureka" menjadui universitas swasta terbesar di Indonesia. Tapi Baperki bukan parpol. Kepada para anggota kami beri kebebasan memilih dan memasuki parpol yang cocok dengan diri masing masing. Boleh PSI, PNI, atau parpol apa saja lainnya. Tapi yang sering terjadi sebaliknya. PNI atau parpol parpol itu yang tidak membolehkan orang mereka menjadi anggota Baperki. Yang populer adalah parpol parpol yang mendukung cita cita Baperki, yaitu partai partai kiri Partindo dan PKI. Karena itu Baperki dicap kiri dan merah oleh parpol parpol yang tidak atau kurang setuju dengan Manipol Usdek dan Nasakom nya Bung Karno, terutama PSI, partai Katolik dan ABRI. HS.: Kenapa tidak menempuh organisasi politik? HS.: Sejak lahirnya cap kiri itu didapat? Go: Tidak. Tapi sejak Bung Karno memanipolkan dan menasakomkan masyarakat, dan dalam politik luar negeri diperjuangkan nya poros Jakarta-Hanoi-Pnom Penh-Beijing-Pyongyang. Dampak perang dingin terhadap penghidupan sosial merupakan faktor yang sa- ngat penting. HS.: Yap Thiam Hien kan tidak merah? Dan cukup tokoh. Juga Oei Tjoe Tat? Kenapa tidak ditonjolkan? Go: Tentu kita tonjolkan. Malahan nama Thio Thiam Tjong, Wakil Ketua Baperki, yang tadi sudah saya sebut, lebih penting dari Oei Tjoe Tat atau Yap Thiam Hien. Ia sesepuh Baperki, sebelum perang tokoh top elite di Semarang, anggota Chung Hua Hui yang bermusuhan dengan Partai Tionghwa Indonesia. Dia orang yang konservatif, tapi demokrat sejati, pernah menjadi penasihat Van Mook. Tentu saja dia bukan "orang merah". Toh sebagai akibat peristiwa G30S dia harus meringkuk di tahanan beberapa waktu. Oei Tjoe Tat tokoh Pesindo. Yap Thiam Hien ini soal tersendiri. Pada suatu saat demokrat prinsipiil ini sulit menerima Demokrasi Terpimpin Bung Karno. Apalagi waktu Baperki menyetujui SOB untuk seluruh Indonesia. Dia lalu non-aktif, tapi tetap anggota Baperki. Waktu tahun 65/66 tokoh tokoh Baperki, Siauw Giok Tjhan, Thio Thiam Tjong dan saya ditahan, dia datang ke Kodam dan bertanya: "Saya anggota Baperki. Mengapa saya tidak ditahan?" HS.: Waktu pemilihan umum "Baperki" ikut mencalonkan? Go: Tentu. Kita kan ormas yang berpolitik. Maju dengan tanda gambar sendiri. Bunga teratai. HS.: Di jaman Sukarno bukan parpol boleh ikut dalam pemilihan umum? Go: Ya. malahan perorangan pun bisa. Misalnya nyonya dokter medikus, doktorandus ekonomi, hoofdakte guru pendidikan, bernama Thung Sin Nio ikut mencalonkan dengan tanda gambar sendiri. Undang-undang pemilihan umum waktu itu mempunyai ketentuan, bahwa golongan minoritas harus diwakili. Ini warisan jaman Volksraad. Minoritas terbesar ialah keturunan Tionghwa. Mereka dijamin mendapat 9 kursi, Arab 6, Indo kalau tidak salah 3 atau sebaliknya, saya lupa. Jaminan perwakilan minoritas memang dimaksudkan untuk minoritas. Tidak untuk mewakili aliran ideologi ini itu. Tapi justru karena itu lah maka lalu menjadi rebutan parpol-parpol untuk bisa mengisinya. Misalnya partai A, sudah punya calon dari keturunan Tionghwa dan sudah gol. Sekarang melihat ada kemungkinan, kalau yang 9 itu tidak terisi dalam pemilihan. Memang tidak terisi. Maka oleh Baperki dapat diisi liwat "penunjukan Pemerintah". Sebab pemilu waktu itu memang hebat. Kies quoti=EBnt begitu besar, sehingga untuk parlemen hanya ada satu: Siauw Giok Tjhan. Maka jadi rebutan. Sisa 8 mesti diangkat oleh pemerintah. Dalam sidang kabinet, parpol ini itu masing-masing mengusulkan calon- calon nya. Saya jijik melihat perebutan itu. Misalnya di Bandung, ada seorang peranakan tionghwa Beragama Kristen, anggota Baperki. Karena tidak dicalonkan, maka dia membeli partai Islam NU sekedar untuk bisa dicalonkan. HS.: Pemilihan umum itu juga motivasi bagi didirikannya "Baperki"? Go: Tidak. Motivasinya ada banyak. Satu perlu saya sebut. Waktu Baperki mau didirikan, dikeluarkan RUU Kewarganegaraan Indonesia. RUU ini penting. Setelah perjuangan politik Baperki yang sengit, RUU disahkan menjadi UU. Sedikit berhasil. Yaitu yang kemudian menelurkan Perjanjian Zhou En-lai dan Sunaryo. Bertahun- tahun baru bisa disahkan. Sebab sesudah itu pun Baperki masih harus berjuang lagi. Ini berkisar pada sistem, aturan mana yang dianut. Apakah secara aktif atau pasif. Baperki menghendaki pasif. Ini sesuai dengan UU Kewarganegaraan Indonesia yang pertama, 10 April '46. Lahir di Indonesia ya, warga negara Indonesia. Seperti di Perancis juga begitu. Tapi ada faktor lain lagi yang menyebabkan perjanjian di atas menjadi UU, setelah perdebatan bertahun tahun. Sentimen anti-Tionghwa kuat sekali. Tidak mudah bagi peranakan Tionghwa untuk menjadi warganegara RI. Bahkan juga bagi mereka yang sudah menjadi anggota parlemen, atau pemain bulu tangkis yang dengan gemilang mewakili Indonesia di gelanggang internasional. HS.: Jadi yang dikehendaki Baperki asas "ius soli", bukan "ius sanguinis"? Go: Ya. Ius Soli. HS.: Apa tentang adanya UU itu tidak relevan sekarang diangkat kembali? Dalam situasi kemelut sekarang di Indonesia? Go: UU itu sudah ada. Tapi orang seperti tidak mengerti memang. Ini menunjukkan bahwa usaha nation building tidak ada. Dilupakan atau sudah sama sekali tidak digubris. Orang asing, tidak becus berbahasa Indonesia, dan tidak memenuhi syarat lima tahun berturut turut berdiam di Indonesia, asal membayar sekian banyak ... jadi lah dia warga negara Indonesia dan cukong pula! HS.: Kalau boleh saya simpulkan, jadi untuk mengatasi kemelut masalah ras di Indonesia sekarang, perlu membangkitkan kembali masalah urgensinya pembangunan bangsa? Go: Juist! Itu sebabnya saya girang. Saya membaca berita NU mau mendirikan parpol yang namanya bagus: Partai Kebangkitan Bangsa, yang juga terbuka bagi yang bukan muslim. Saya ini tetap, kalau orang Jawa bilang, "ndh=E8r=E8k Bung Karno". Tidak bisa tidak saya setia pada cita-citanya. Permulaan '66, ketika saya masih meringkuk di Kilidikus (Kompi Penyelidik Khusus) Lapangan Banteng. Saya mendengar pidato Bung Kartno begitu bagus, katanya: "Bangsa kita sekarang merosot kembali 50 tahun!" Itu artinya kan kira-kira jaman Budi Utomo. Saya renungkan kembali kata-kata itu setelah di sini: benar apa yang dikatakan Bung Karno itu. Pecah sama sekali sudah. Apa lagi sekarang! Dengan munculnya gejala-gejala separatisme macam-macam. Kalau Timor Timur itu lain soal. Maka itu betul. Bangkit kembali sekarang. Ayo nation building! Tapi ternyata yang bersangkutan, yaitu warga negara keturunan Tionghwa, setelah mengalami peristiwa pahit bulan Mei yang baru lalu, justru kurang sadar sendiri. Hs.: Maksudnya? Go: Orang sudah tahu, bahwa ada anti-sinisisme sama seperti anti- Semitisme yang begitu, malah mendirikan parpol yang berdasarkan keturunan, dengan menamakannya Partai Tionghwa! Sesudah pogrom anti-Tionghwa Mei 1963 Bung Karno memperingatkan: Awas rasialisme (anti-Tionghwa) tetap bahaya laten. Katakanlah sekarang ada kemajuan tidak menggunakan istilah "cina", yang dengan sengaja dianjurkan oleh Orba untuk menghina. Tapi kan harus disadari masalah nation building ini. Tapi kalau ada perasaan "anti-cina", itu memang benar. Baru saja terjadi malapetaka bulan Mei di Jakarta, Medan, Solo, dan tempat tempat lain. Pada waktu tahun '65 yang dikejar terutama anggota Baperki, walaupun hakikatnya yang bukan anggota Baperki juga ikut terkena, asal bermata sipit. Taksiran pengarang Amerika, Shaplen, kira kira sepuluh ribu mata sipit mati menjadi kurban. Tapi yang terjadi tahun ini, ada beda sedikit. Betul-betul ras! Nah sudah tahu begitu kok: "Ini gua, Partai Tionghwa. Mau apa lu!?" Orang Jawa bilang itu "njarag" namanya. Provokasi! HS.: Menurut Pak Go itu tidak bijaksana? Go: Bukan saja tidak bijaksana. Itu provokasi! Tidak tahu provokasi terhadap siapa itu. Ditambah tidak ada sedikit pun assessment, menilai atau menafsirkan, kejadian Mei ini apa. Pertama, kan mesti dinyatakan dulu, terbukti politik Orba mengenai masalah minoritas Tionghwa gagal sama sekali. Buktinya ya ini. Kedua, apa rumusan kebijaksanaan Orba mengenai masalah minoritas. Yaitu yang dinamakan "politik asimilasi". Bahwa sudah sejak pagi sekali, kira-kira tahun '80 di Solo, dan tempat tempat lain di Jawa, peristiwa pogrom terbesar sejak Orba, sebagai buntut perkelahian antara pemuda peranakan yang sudah berasimilasi, Kicak Maryono, dengan pemuda "pri". Peristiwa itu membuktikan, bahwa politik asimilasi itu gagal. Sekarang yang terjadi sudah keterlaluan. Akuilah sekarang itu salah. Jadi perbaiki lah! Selalu digembar- gemborkan "ganti nama" sudah beres. Itu lah asimilasi. Malah ada yang bilang, murtad, ganti agama. Jadilah Islam. Tinggal kan Konghucu, tinggal kan Katolik, tinggal kan Kristen. HS.: Itu kan bukan maksudnya dengan Bineka Tunggal Ika? Go: Itulah. Kalau mereka tahu, bahwa lambang negara RI itu bagus, seharusnya mereka juga menyadari bahwa isi lambang itu berarti: semua suku atau suku bangsa adalah warganegara Republik Indonesia. Hasilnya apa ganti nama segala macam itu? Terus menerus ada letusan rasialisme. Itu sudah menunjukkan gagal dan salah. Teori pembauran, dengan segala macam ganti nama dll itu salah. Yang lebih penting lagi, ini kan melanggar hak- hak asasi manusia. Apa orang Batak tidak boleh lagi menyanyikan lagu-lagunya yang bagus? Apa semuanya mesti jadi mayoritas "gending Jowo"? Kenapa salah jadi orang "keturunan"? Kenapa saya tidak boleh sembahyang meja pada orang tua saya? Pernahkah ada sengketa antara "asli" dan "tidak asli", "pri" dan "nonpri", karena yang "nonpri" makan babi dan bakmi? Kan tidak ada dalam sejarah. Perbedaan kebudayaan? Yang ada yaitu banyak macam takhayul, kawin campuran dsb, abu muda (yi. "pri") dan abu tua (yi. Tionghwa) tidak boleh, dsb. Tapi itu tidak menyebabkan sengketa. Sebenarnya kejadian tahun '80 yang lalu sudah cukup untuk menyimpulkan, teori asimilasi itu gagal. Tapi sudah terjadi begini, sekarang masih tidak mau mengakui. Masih tetap pembauran digembar-gemborkan. Partai Pembauran. Menyedihkan! Lagi pula saya ingat tahun '63. Resolusi Konperensi Pleno Dewan Daerah "Baperki" di Semarang. Saya beri contoh di sana: Edith Stein. Perempuan Yahudi yang sudah menanggalkan keyahudiannya, toh dibakar di kamar gas. Sudah menjadi non. Tapi karena diketahui dia Yahudi, tetap saja dibakar. Itulah rasisme. Sebab dasar negaranya, Nazi, itu rasis. Orde Baru itu pun memang sudah dasarnya rasis. Bukan jaman Sukarno. Jaman Sukarno tidak ada. Bung Karno faham tentang ajaran Empu Tantular "bhineka tunggal ika", "tat twan asi" (itulah engkau) inti ajaran Upanishad. Tapi pernah kah para jutawan asimilasionis mendalami ajaran ajaran itu? Saya khawatir, kesibukan mereka menimbun kekayaan tidak memberi waktu untuk merenungi falsafah lambang RI. Cukup KKN! Yahoo! Groups Links Berita dan Tulisan yang disiarkan HKSIS-Group, sekadar untuk diketahui dan sebagai bahan pertimbangan kawan-kawan, tidak berarti pasti mewakili pendapat dan pendirian HKSIS. -------------------------------------------------------------------------------- Yahoo! Groups Links a.. To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/HKSIS/ b.. To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

