----- Original Message ----- 
From: HKSIS 
To: HKSIS-Group ; [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Sunday, April 03, 2005 12:37 AM
Subject: [HKSIS] Fw: [tioin59] Re: Siauw Tiong Djin - BAPERKI



----- Original Message ----- 
From: jonathangoeij 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Sunday, April 03, 2005 5:44 AM
Subject: [tioin59] Re: [HKSIS] Siauw Tiong Djin - BAPERKI




> --- In [EMAIL PROTECTED], Hutagalung Bambang 
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> 
> Sebaiknya, soal ini langsung diceritakan oleh bapak Go Gien Tjwan 
> misalnya,jangan bapak Tiong Jin yang tampil menceritakan.
> 

Dibawah adalah cuplikan wawancara Hesri Setiawan dengan Go Gien 
Tjwan tentang Baperki.

JG

--
HS.:  Kembali  tentang  "Baperki". Bagaimana  sikap  "Baperki" dulu? 

Go:  Situasinya dulu itu begini. Di Jakarta ada  PDTI,  Partai 
Demokrat  Tionghwa  Indonesia. Di Banjarmasin,  Padang,  Ujung 
Pandang,  Semarang (cabang PDTI), dan mungkin di  tempat  lain lagi 
ada juga organisasi serupa, yang eksklusif didirikan oleh dan  
untuk  peranakan  Tionghwa  yang  warganegara  Indonesia. 
Tujuannya   pendek:   untuk  membela   kepentingan   peranakan 
Tionghwa,  minoritas  yang  merasa  -  dan  memang   benar   - 
didiskriminasi oleh pemerintah dan masyarakat.  Dalam  praktik ini 
berarti menentang diskriminasi ras. Pada tanggal 12 dan 13 Maret  
1954  mereka  berkumpul di Jakarta, dan  sepakat  untuk membentuk  
satu  badan  politik  yang  menentang  diskriminasi berdasarkan 
keturunan seseorang. 

HS.: Kalau begitu satu partai politik? 

Go:   Bukan.  Justru bukan. Sebab pemrakarsa,  terutama  unsur PDTI  
sadar, bahwa tidak mungkin ada satu partai politik, yang 
ideologinya  "membela kepentingan golongan etnis Tionghwa"  di 
dalam  alam Indonesia Merdeka yang berlambang Bhineka  Tunggal Ika.  
Yang mungkin ialah mendirikan ormas yang tidak mempunyai ideologi  
tertentu, sebab anggota anggotanya ada yang Kristen, Katolik,  
penganut  Sam Kau Hwee Tridarma, Islam,  dan  bahkan mereka yang 
sudah berpartai politik. 

HS.:  Baiklah.  Jadi  badan,  bukan  partai.  Bagaimana  latar 
belakang nama "Baperki" itu sendiri? 

Go:   Jawaban saya panjang. Tapi riwayatnya begini. Di  antara 
pengunjung  kongres tanggal 12-13 Maret 54 itu ada  dua  orang yang  
tidak  mewakili  organisasi apa pun,  yaitu  Siauw  Giok Tjhan  dan 
saya Go Gien Tjwan. Sejak mula kami berdua  dikenal republiken.  
Tahun  1946 kami berdua, dan  beberapa  peranakan Tionghwa lain, 
adalah anggota Partai Sosialis Syahrir  -  Amir Syarifuddin. Siauw 
diangkat anggota KNIP terus menerus, sampai RIS  berdiri,  dan 
otomatis dia pun menjadi anggota  parlemen. Dalam  kabinet Amir, 
semasa revolusi bersenjata, Siauw menjadi menteri  dengan  tugas  
mengerahkan  funds  and  forces  orang Tionghwa  di dalam wilayah 
RI, demi suksesnya revolusi.  Saya, setelah  giat  di  dalam  
Angkatan Muda  Tionghwa  di  malang, bersama berbagai macam 
organisasi pemuda seperti Pesindo, BPRI (Bung  Tomo)  dll.,  pada  
tahun 47 ditugasi  Partai  Sosialis bekerja di Kementerian Luar 
Negeri, yang ketika itu  di  bawah Sutan  Syahrir.  Sesudah  Agresi  
Militer  I  oleh  Kemlu  dan Kementerian  Pemuda (Supeno, Moh. Said) 
saya diberi  tugas  ke Negeri  Belanda.  Bersama Sunito, Dubes RI 
di  Belanda  dengan mandat Presiden Sukarno, saya di persona non 
grata dari negeri itu.    Kembali  ke  Kongres  tanggal 12-13  
Maret  1954.  Ketua Kongres Sdr. Thio Thiam Tjong, yaitu ketua PDTI 
saat itu, yang di  kalangan  masyarakat Tionghwa gengsinya  tinggi,  
walaupun sepulang  dari kamp tahanan Jepang diangkat menjadi  
penasihat Van  Mook.  Sebelum  diinternir dia menghadapi  Jepang  
dengan gagah,  dan sebagai penasihat Van Mook dia pun bukan 
penjilat. Ia  membela  kepentingan  orang Tionghwa,  namun  tetap  
tanpa memusuhi Republik Indonesia. Siauw  Giok  Tjhan,  yang 
hakikatnya  memimpin  kongres, berkata al.: "Kita menentang 
diskriminasi ras. Itu baik.  Tapi apa   sebabnya  diskriminasi  
bisa  terjadi?  Bagaimana   bisa warganegara yang satu 
mendiskriminasi warganegara  yang  lain? Itu  terjadi karena 
pemimpin pemimpin kita dan pemimpin partai politik   tidak  atau  
kurang  menyadari,  bahwa  "warganegara keturunan" itu bagian dari 
nasion. Kita menentang diskriminasi terhadap  warganegara keturunan 
Tionghwa, sambil  mengingatkan semua  pemimpin  politik dari semua 
partai, agar  tidak  hanya rebutan kursi di parlemen untuk bisa 
mengantongi lisensi impor dsb.  Kita yang sekarang merdeka dan 
berdaulat harus membangun bangsa. Kita tidak boleh melupakan nation 
building. Kita  yang hari  ini  berkumpul di sini harus juga ikut 
membangun  nasion Indonesia, bersama sama dengan warganegara 
Indonesia keturunan Jawa, Sunda, Minang, dsb.     "Kalau kita 
sekarang menyadari, bahwa diskriminasi sesama warganegara  
disebabkan faham warganegara  Indonesia,  anggota nation  state  
Indonesia, tidak atau kurang  dimengerti,  maka marilah  kita 
mendirikan Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia. Bukan 
badan khusus untuk keturunan Tionghwa,  bukan Baperwatt,   
melainkan   Baperki   -   Badan   Permusyawaratan Kewarganegaraan 
Indonesia."      Maka  pada waktu kita memperkenalkan diri pada  
Presiden Sukarno,  saya tidak lupa sambutan Bung Karno di  istana.  
Dia bilang:  "Terimakasih!  Kalian ingat kembali  perlunya  nation 
building. Sudah lupa memang!" Lantas dia bilang lagi, itu khas Bung  
Karno: "Memang. Di dalam negara kita tidak boleh  adanya 
mayorokrasi, tapi tidak boleh juga minorokrasi ..." Itu memang yang 
dikehendaki "Baperki".       "Baperki"  didirikan  13  Maret  '54.  
Sayangnya   yang mendirikan  memang  semuanya warga negara 
keturunan  Tionghwa. Sehingga tidak ada pribumi yang menyaksikan 
perdebatan kongres yang  mengubah nama  "Baperwat" 
menjadi "Baperki", yang segera perlu  harus dibuktikan. Tapi baru 
bisa dibuktikan  pada  hari berikutnya,  yaitu ketika "Baperki" 
cabang Jakarta  didirikan, dengan  mengangkat  sebagai ketua 
Sudaryo  Cokrosisworo.  Tapi sudah   terlambat.  Sudah terlanjur 
mendapat  cap  "Tionghwa". Kemudian memang tidak semua cabang 
mempunyai wakil "asli".  Di Solo  ada, Projohartono; Tanjungkarang, 
dokter Darwis (Murba); Minahasa, dokter Richter, orang Indo.  Tapi 
memang susah kalau sudah  mendapat  stigma  perkumpulan orang  
Tionghwa.  Apalagi waktu  jaman  Bung Karno bersahabat dengan RRT, 
Baperki  dicap Komunis  juga. Padahal Baperki hanya loyal 
menjalankan politik resmi  Nasakom.  Susunan pengurus cabang tidak 
bisa  disahkan, kalau  tidak  menunjukkan adanya tiga  unsur:  nas-a-
kom.  Itu sebabnya dalam pengurus pusat bukan saja anggota Partindo  
Oei Tjoe Tat, tapi juga Nyak Diwan dari Perti. 

HS.:    Apa   yang   pertama-tama   diperjuangkan   "Baperki"? 
Perjuangan politik atau apa? 

Go:   Perjuangan  politik. Sebab warganegara yang  baik  harus sadar 
politik, kalau mau ikut membangun negeri dan memberantas rasisme. 
Sejak tahun 60-an, dengan menghebat nya Manipol Usdek diskriminasi  
ras  dalam peraturan peraturan  dan  penghidupan sosial  banyak 
berkurang. Sehingga pekerjaan politik berkurang juga,  dan  tenaga 
dapat dicurahkan pada pembangunan  sekolah, dari  tingkat  SD  
sampai universitas. Tahun 1965  Universitas Baperki  "Ureka"  
menjadui  universitas  swasta  terbesar   di Indonesia.      Tapi 
Baperki bukan parpol. Kepada para anggota kami beri kebebasan  
memilih dan memasuki parpol yang cocok dengan  diri masing  masing. 
Boleh PSI, PNI, atau parpol apa saja  lainnya. Tapi  yang  sering 
terjadi sebaliknya. PNI atau parpol  parpol itu  yang  tidak  
membolehkan  orang  mereka  menjadi  anggota Baperki. Yang populer 
adalah parpol parpol yang mendukung cita cita  Baperki,  yaitu  
partai partai kiri  Partindo  dan  PKI. Karena  itu  Baperki dicap 
kiri dan merah oleh  parpol  parpol yang tidak atau kurang setuju 
dengan Manipol Usdek dan Nasakom nya Bung Karno, terutama PSI, 
partai Katolik dan ABRI. 

HS.: Kenapa tidak menempuh organisasi politik? HS.: Sejak lahirnya 
cap kiri itu didapat? 

Go: Tidak. Tapi sejak Bung Karno memanipolkan dan menasakomkan 
masyarakat,  dan  dalam politik luar negeri diperjuangkan  nya poros 
Jakarta-Hanoi-Pnom Penh-Beijing-Pyongyang. Dampak perang dingin 
terhadap penghidupan sosial  merupakan  faktor yang sa- ngat 
penting. 

HS.: Yap Thiam Hien kan tidak merah? Dan cukup tokoh. Juga Oei Tjoe 
Tat? Kenapa tidak ditonjolkan? 

Go:   Tentu  kita  tonjolkan. Malahan nama Thio  Thiam  Tjong, Wakil 
Ketua Baperki, yang tadi sudah saya sebut, lebih penting dari  Oei  
Tjoe  Tat atau Yap Thiam Hien. Ia sesepuh  Baperki, sebelum perang 
tokoh top elite di Semarang, anggota Chung  Hua Hui  yang  
bermusuhan  dengan Partai Tionghwa  Indonesia.  Dia orang  yang 
konservatif, tapi demokrat sejati, pernah  menjadi penasihat  Van 
Mook. Tentu saja dia bukan "orang  merah".  Toh sebagai  akibat 
peristiwa G30S dia harus meringkuk di  tahanan beberapa waktu.      
Oei  Tjoe  Tat  tokoh Pesindo. Yap Thiam Hien  ini  soal 
tersendiri.  Pada  suatu saat demokrat  prinsipiil  ini  sulit 
menerima Demokrasi Terpimpin Bung Karno. Apalagi waktu Baperki 
menyetujui  SOB  untuk seluruh Indonesia. Dia lalu  non-aktif, tapi  
tetap  anggota Baperki. Waktu tahun  65/66  tokoh  tokoh Baperki,  
Siauw Giok Tjhan, Thio Thiam Tjong dan saya ditahan, dia  datang  
ke  Kodam  dan bertanya: "Saya  anggota  Baperki. Mengapa saya tidak 
ditahan?" 

HS.:  Waktu pemilihan umum "Baperki" ikut mencalonkan? 

Go:  Tentu. Kita kan ormas yang berpolitik. Maju dengan  tanda 
gambar sendiri. Bunga teratai. 

HS.:  Di jaman Sukarno bukan parpol boleh ikut dalam pemilihan umum? 

Go:   Ya. malahan perorangan pun bisa. Misalnya nyonya  dokter 
medikus,   doktorandus  ekonomi,  hoofdakte  guru  pendidikan, 
bernama  Thung  Sin Nio ikut mencalonkan dengan  tanda  gambar 
sendiri.       Undang-undang  pemilihan  umum  waktu  itu  mempunyai 
ketentuan,  bahwa  golongan  minoritas  harus  diwakili.   Ini 
warisan  jaman  Volksraad. Minoritas terbesar ialah  keturunan 
Tionghwa.  Mereka dijamin mendapat 9 kursi, Arab 6, Indo kalau 
tidak  salah 3 atau sebaliknya, saya lupa. Jaminan  perwakilan 
minoritas  memang  dimaksudkan untuk  minoritas.  Tidak  untuk 
mewakili aliran ideologi ini itu. Tapi justru karena  itu  lah maka 
lalu menjadi rebutan parpol-parpol untuk bisa mengisinya. Misalnya  
partai A, sudah punya calon dari keturunan  Tionghwa dan sudah gol. 
Sekarang melihat ada kemungkinan,  kalau yang 9 itu  tidak  terisi 
dalam pemilihan. Memang tidak terisi.  Maka oleh  Baperki dapat 
diisi liwat "penunjukan Pemerintah". Sebab pemilu  waktu  itu memang 
hebat. Kies quoti=EBnt  begitu  besar, sehingga untuk parlemen hanya 
ada satu: Siauw Giok Tjhan. Maka jadi  rebutan.  Sisa 8 mesti 
diangkat oleh  pemerintah.  Dalam sidang kabinet, parpol ini itu 
masing-masing mengusulkan calon- calon  nya.  Saya  jijik melihat 
perebutan  itu.  Misalnya  di Bandung,  ada  seorang  peranakan 
tionghwa  Beragama  Kristen, anggota  Baperki.  Karena tidak 
dicalonkan, maka  dia  membeli partai Islam NU sekedar untuk bisa 
dicalonkan. 

HS.:  Pemilihan  umum  itu  juga  motivasi  bagi  
didirikannya "Baperki"? 

Go:   Tidak.  Motivasinya ada banyak. Satu perlu  saya  sebut. 
Waktu  Baperki  mau didirikan, dikeluarkan RUU Kewarganegaraan 
Indonesia. RUU ini penting. Setelah perjuangan politik Baperki yang  
sengit, RUU disahkan menjadi UU. Sedikit berhasil. Yaitu yang  
kemudian menelurkan Perjanjian Zhou En-lai dan  Sunaryo. Bertahun-
tahun  baru  bisa disahkan.  Sebab  sesudah  itu  pun Baperki  masih 
harus berjuang lagi. Ini berkisar pada  sistem, aturan  mana  yang  
dianut. Apakah secara  aktif  atau  pasif. Baperki    menghendaki   
pasif.   Ini   sesuai    dengan    UU Kewarganegaraan Indonesia yang 
pertama, 10 April '46. Lahir di Indonesia ya, warga negara 
Indonesia. Seperti di Perancis juga begitu.  Tapi ada faktor lain 
lagi yang menyebabkan perjanjian di   atas  menjadi  UU,  setelah  
perdebatan  bertahun  tahun. Sentimen anti-Tionghwa kuat sekali. 
Tidak mudah bagi peranakan Tionghwa untuk menjadi warganegara RI. 
Bahkan juga bagi mereka yang  sudah menjadi anggota parlemen, atau 
pemain bulu tangkis yang   dengan   gemilang  mewakili  Indonesia  
di   gelanggang internasional. 

HS.: Jadi yang dikehendaki Baperki asas "ius soli", bukan "ius 
sanguinis"? 

Go: Ya. Ius Soli. 

HS.: Apa tentang adanya UU itu tidak relevan sekarang diangkat 
kembali? Dalam situasi kemelut sekarang di Indonesia? 

Go:  UU  itu  sudah  ada.  Tapi orang seperti  tidak  mengerti 
memang. Ini menunjukkan bahwa usaha nation building tidak ada. 
Dilupakan atau sudah sama sekali tidak digubris. Orang  asing, 
tidak  becus  berbahasa Indonesia, dan tidak  memenuhi  syarat lima  
tahun berturut turut berdiam di Indonesia, asal membayar sekian  
banyak  ...  jadi lah dia warga negara  Indonesia  dan cukong pula! 

HS.:  Kalau boleh saya simpulkan, jadi untuk mengatasi kemelut 
masalah ras di Indonesia sekarang, perlu membangkitkan kembali 
masalah urgensinya  pembangunan bangsa? 

Go:  Juist! Itu sebabnya saya girang. Saya membaca  berita  NU mau  
mendirikan parpol yang namanya bagus: Partai  Kebangkitan Bangsa,  
yang  juga terbuka bagi yang bukan muslim.  Saya  ini tetap,  kalau  
orang Jawa bilang, "ndh=E8r=E8k Bung Karno".  Tidak bisa  tidak  
saya  setia  pada cita-citanya.   Permulaan  '66, ketika  saya  
masih  meringkuk di Kilidikus (Kompi  Penyelidik Khusus)  Lapangan 
Banteng. Saya mendengar pidato  Bung  Kartno begitu  bagus, 
katanya: "Bangsa kita sekarang merosot  kembali 50  tahun!"  Itu 
artinya kan kira-kira jaman Budi Utomo.  Saya renungkan  kembali 
kata-kata itu setelah di  sini:  benar  apa yang  dikatakan Bung 
Karno itu. Pecah sama sekali  sudah.  Apa lagi  sekarang!  Dengan  
munculnya  gejala-gejala  separatisme macam-macam. Kalau Timor Timur 
itu lain soal. Maka itu  betul. Bangkit  kembali sekarang.  Ayo 
nation building! Tapi ternyata yang  bersangkutan,  yaitu  warga 
negara  keturunan  Tionghwa, setelah  mengalami peristiwa pahit 
bulan Mei yang  baru  lalu, justru kurang sadar sendiri. 

Hs.: Maksudnya? 

Go:  Orang  sudah tahu, bahwa ada anti-sinisisme sama  seperti anti-
Semitisme  yang  begitu,  malah  mendirikan  parpol  yang 
berdasarkan  keturunan, dengan menamakannya  Partai  Tionghwa! 
Sesudah    pogrom   anti-Tionghwa   Mei   1963   Bung    Karno 
memperingatkan: Awas rasialisme (anti-Tionghwa)  tetap  bahaya 
laten.  Katakanlah  sekarang  ada kemajuan  tidak  menggunakan 
istilah "cina", yang dengan sengaja dianjurkan oleh Orba untuk 
menghina. Tapi kan harus disadari masalah nation building ini. Tapi  
kalau  ada perasaan "anti-cina", itu memang benar.  Baru saja 
terjadi malapetaka bulan Mei di Jakarta, Medan, Solo, dan tempat 
tempat lain. Pada waktu tahun '65 yang dikejar terutama anggota   
Baperki,  walaupun  hakikatnya  yang  bukan  anggota Baperki  juga  
ikut  terkena,  asal  bermata  sipit.  Taksiran pengarang Amerika, 
Shaplen, kira kira sepuluh ribu mata  sipit mati  menjadi  kurban. 
Tapi yang terjadi tahun ini,  ada  beda sedikit. Betul-betul ras! 
Nah sudah tahu begitu kok: "Ini gua, Partai  Tionghwa. Mau apa lu!?" 
Orang Jawa bilang itu "njarag" namanya. Provokasi! 

HS.: Menurut Pak Go itu tidak bijaksana? 

Go:  Bukan  saja  tidak bijaksana. Itu provokasi!  Tidak  tahu 
provokasi  terhadap siapa itu. Ditambah tidak ada sedikit  pun 
assessment,  menilai atau menafsirkan, kejadian Mei  ini  apa. 
Pertama,  kan  mesti  dinyatakan dulu, terbukti  politik  Orba 
mengenai   masalah  minoritas  Tionghwa  gagal  sama   sekali. 
Buktinya  ya  ini.  Kedua,  apa  rumusan  kebijaksanaan   Orba 
mengenai  masalah  minoritas. Yaitu  yang  dinamakan  "politik 
asimilasi".   Bahwa sudah sejak pagi  sekali, kira-kira  tahun '80  
di Solo, dan tempat tempat lain di Jawa, peristiwa pogrom terbesar 
sejak Orba, sebagai buntut perkelahian antara  pemuda peranakan  
yang  sudah  berasimilasi,  Kicak  Maryono,  dengan pemuda   "pri".  
Peristiwa  itu  membuktikan,  bahwa   politik asimilasi itu gagal.  
Sekarang yang terjadi sudah keterlaluan. Akuilah sekarang itu salah. 
Jadi perbaiki lah! Selalu digembar- gemborkan  "ganti nama" sudah 
beres. Itu lah asimilasi.  Malah ada  yang bilang, murtad, ganti 
agama. Jadilah Islam.  Tinggal kan Konghucu, tinggal kan Katolik, 
tinggal kan Kristen. 

HS.: Itu kan bukan maksudnya dengan Bineka Tunggal Ika? 

Go:  Itulah.  Kalau mereka tahu, bahwa lambang negara  RI  itu 
bagus, seharusnya mereka juga menyadari bahwa isi lambang  itu 
berarti:  semua  suku  atau  suku  bangsa  adalah  warganegara 
Republik Indonesia.      Hasilnya apa ganti nama segala macam itu? 
Terus  menerus ada letusan rasialisme. Itu sudah menunjukkan gagal 
dan salah. Teori  pembauran,  dengan segala macam  ganti  nama  
dll   itu salah.  Yang  lebih  penting lagi, ini kan  melanggar  hak-
hak asasi  manusia.  Apa orang Batak tidak boleh lagi  menyanyikan 
lagu-lagunya  yang  bagus? Apa semuanya mesti  jadi  
mayoritas "gending  Jowo"?  Kenapa salah jadi orang "keturunan"?  
Kenapa saya   tidak  boleh  sembahyang  meja  pada  orang  tua  
saya? Pernahkah  ada sengketa antara "asli" dan "tidak asli",  "pri" 
dan  "nonpri", karena yang "nonpri" makan babi dan bakmi?  Kan 
tidak  ada dalam sejarah. Perbedaan kebudayaan? Yang ada yaitu 
banyak  macam  takhayul, kawin campuran  dsb,  abu  muda  
(yi. "pri")  dan abu tua (yi. Tionghwa) tidak boleh, dsb. Tapi  itu 
tidak  menyebabkan  sengketa.  Sebenarnya kejadian  tahun  '80 yang 
lalu sudah cukup untuk menyimpulkan, teori asimilasi  itu gagal.  
Tapi  sudah terjadi begini, sekarang masih  tidak  mau mengakui.  
Masih  tetap  pembauran digembar-gemborkan.  Partai Pembauran. 
Menyedihkan!     Lagi pula saya ingat tahun '63. Resolusi Konperensi 
Pleno Dewan  Daerah "Baperki" di Semarang. Saya beri contoh di sana: 
Edith   Stein.   Perempuan  Yahudi  yang  sudah   menanggalkan 
keyahudiannya,  toh dibakar di kamar gas. Sudah  menjadi  non. Tapi  
karena diketahui dia Yahudi, tetap saja dibakar.  Itulah rasisme. 
Sebab dasar negaranya, Nazi, itu rasis. Orde Baru itu pun  memang  
sudah dasarnya rasis. Bukan jaman Sukarno.  Jaman Sukarno  tidak  
ada.  Bung  Karno faham  tentang  ajaran  Empu Tantular "bhineka 
tunggal ika", "tat twan asi" (itulah engkau) inti   ajaran   
Upanishad.  Tapi  pernah  kah   para   jutawan asimilasionis  
mendalami  ajaran ajaran  itu?  Saya  khawatir, kesibukan  mereka 
menimbun kekayaan tidak memberi waktu  untuk merenungi falsafah 
lambang RI. Cukup KKN!






 
Yahoo! Groups Links



 




Berita dan Tulisan yang disiarkan HKSIS-Group, sekadar untuk diketahui dan 
sebagai bahan pertimbangan kawan-kawan, tidak berarti pasti mewakili pendapat 
dan pendirian HKSIS. 



--------------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links

  a.. To visit your group on the web, go to:
  http://groups.yahoo.com/group/HKSIS/
    
  b.. To unsubscribe from this group, send an email to:
  [EMAIL PROTECTED]
    
  c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke