Opini   
 
 
 
Kompas Selasa, 05 April 2005  
 
 
 

Paus di Mata Seorang Muslim 


Oleh Fachrizal Halim

MENINGGALNYA Paus Yohanes Paulus II telah membangkitkan kesedihan 
yang mendalam bukan saja bagi umat Katolik sedunia, tetapi juga umat 
beragama lain, baik Protestan, Yahudi, maupun Islam. Kepergian Paus 
adalah kehilangan akan sosok Bapa yang mengayomi, seseorang yang 
memberikan harapan saat logika manusia yang sering kali tidak mampu 
menjawab masalah ketidakadilan politik, kekerasan, dan berbagai 
macam nestapa dunia lainnya.

Sebagai seorang Muslim yang mencurahkan tenaga dan pikiran untuk 
mengkaji sejarah agama dan hubungan antariman, saya memiliki catatan 
khusus tentang Paus Yohanes Paulus II, terutama mengenai jasa-jasa 
beliau dalam membangun dialog antara umat Islam dan umat Kristiani 
lebih kurang 25 tahun terakhir. Peran dan tindakan Paus sebagai 
pemuka agama yang karismatis ternyata mampu menerjemahkan pemikiran 
tentang dialog agama sebagai sebuah kesadaran massal, sesuatu yang 
sering kali tidak mampu dibumikan oleh para pemuka atau sarjana-
sarjana agama lain.

Sebagai seorang pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus bukan saja 
seorang teologiwan, tetapi juga seorang aktivis yang turun langsung 
ke arena kehidupan, di mana pemikiran teologi mendapatkan 
realitasnya. Di samping itu, Paus adalah seseorang yang memiliki 
sensitivitas terhadap penderitaan umat manusia, tanpa memerhatikan 
kelas, ras, bahkan agama. Usaha Paus merekonsiliasi sejarah panjang 
konflik dan kesalahpahaman antara umat Katolik, Protestan, dan 
Ortodoks, sebagaimana juga kesalahpahaman antara umat Katolik dan 
umat Yahudi dan Islam adalah salah satu peninggalan paling berharga 
bagi seluruh umat beragama di awal abad kedua puluh satu ini.

Dengan meninggalnya Paus, bukan saja kita kehilangan seorang 
pemimpin agama, tetapi juga kehilangan seorang panutan, seorang yang 
hingga akhir hayatnya telah secara ikhlas terus berusaha membawa 
pesan perdamaian bagi umat manusia.

CATATAN pertama yang masih segar dalam ingatan saya adalah kunjungan 
Paus ke Yogyakarta pada tahun 1989. Sebagai seorang siswa kelas I 
madrasah tsanawiyah (setingkat sekolah lanjutan pertama), akal dan 
semesta berpikir saya waktu itu tidak mampu memahami kenapa Paus 
datang ke Indonesia, sebuah negara yang mayoritas penduduknya 
beragama Islam. Tradisi dan lingkungan yang membentuk pikiran masa 
kanak- kanak saya tidak menyediakan ruang yang cukup akan adanya 
kesadaran pluralitas agama sehingga perbedaan sering kali terbayang 
sebagai ancaman ketimbang sebagai sebuah kesempatan untuk 
menyaksikan rahmat Tuhan yang tidak pernah membedakan kasih sayang-
Nya terhadap seluruh umat manusia.

Paus yang saat itu datang membawa misi perdamaian tidak sepenuhnya 
saya pahami untuk menjalin hubungan yang baik dengan umat Islam di 
Indonesia, akibat kekurangpahaman saya dalam melihat umat beragama 
lain.

Baru dua belas tahun kemudian, ketika kesadaran tentang nilai 
inklusif Islam telah membawa saya untuk lebih memahami umat beragama 
lain, saya melihat bahwa apa yang telah dilakukan Paus merupakan 
usaha mulia yang perlu mendapat respons yang sama dari umat Islam 
maupun Yahudi. Catatan sejarah menunjukkan bahwa sejak permulaan 
abad Masehi hingga pertengahan abad kedua puluh lalu, konflik ketiga 
agama keturunan Ibrahim ini telah melukai hubungan harmonis umat 
manusia sehingga menyisakan kebencian dan rasa curiga yang 
berkepanjangan.

Gereja Katolik Roma, meskipun bukan pihak pertama yang menyerukan 
inisiatif dialog agama, telah memberikan peran yang sangat penting 
dalam usaha rekonsiliasi umat Islam, Kristen, dan Yahudi. Sejak 
Konsili Vatikan II 1963-1965, doktrin lama tentang kebenaran 
eksklusif Katolik telah diperbarui dan menganggap umat Yahudi dan 
Islam sebagai "saudara" dari tradisi keimanan Tuhan yang sama. Karol 
Wojtyla, yang dinobatkan sebagai Paus sejak tahun 1978, memiliki 
peran penting dalam menjalankan misi konsili tersebut hingga hari-
hari terakhir saat kesehatan beliau tidak memungkinkan lagi untuk 
itu.

Dalam usaha membangun hubungan dengan umat Islam, Paus tidak pernah 
lelah mengunjungi umat Islam di seluruh belahan dunia, di Timur 
Tengah, negara- negara Afrika, maupun negara Asia, seperti 
Indonesia. Saat mengunjungi umat Islam, Paus memberi perhatian dan 
simpati yang sama, sebagaimana beliau berikan kepada umat Katolik. 
Bahkan boleh dibilang, mengingat tingginya kekerasan dan derita yang 
dialami umat Islam, Paus memberi perhatian yang lebih kepada umat 
Islam.

Tanpa mengindahkan kontroversi tentang dirinya, Paus dengan tegas 
menyatakan keberatannya terhadap Perang Teluk, perang Bosnia, perang 
Afghanistan, hingga perang Amerika dengan Irak sejak dua tahun lalu. 
Paus beberapa kali mengirim utusan kepada Presiden Bush dan Kofi 
Annan agar menunda serangan AS ke Irak, mengingat derita 
berkepanjangan yang telah dialami rakyat Irak sejak embargo ekonomi 
AS. Dengan risiko menguatnya tuduhan anti-Semit, Paus bahkan juga 
tidak segan mengingatkan Pemerintah Israel untuk menghargai hak-hak 
bangsa Palestina atas tanah kelahirannya.

Hampir setiap tahun menjelang bulan Ramadhan, Paus tidak pernah lupa 
menyempatkan diri mengucapkan selamat berpuasa kepada umat Islam di 
seluruh dunia. Ketika Hari Raya Idul Fitri tiba, ucapan selamat yang 
sama juga secara tulus keluar dari pemimpin yang berasal dari 
Krakow, Polandia, ini. Demikian halnya saat perayaan agama umat 
Kristiani, seperti Natal dan Paskah, termasuk setiap perayaan Tahun 
Baru Masehi, Paus bahkan juga menyampaikan doa bagi umat Islam dan 
bahkan bagi seluruh umat manusia. Sebagai Muslim, sering kali saya 
merasa terharu melihat ketulusan tersebut.

Paus, selain aktif mengundang pemimpin-pemimpin Muslim ke Vatikan, 
juga aktif memenuhi undangan para pemimpin-pemimpin Muslim, di 
samping pertemuan dengan pemimpin umat beragama lain. Paus tidak 
pernah segan mengunjungi masjid dan mengucapkan "Assalaamu 'alaikum" 
saat membuka dialog dengan umat Islam. Di luar pertemuan dengan 
pemuka-pemuka Muslim, Paus juga membangun komunikasi yang baik 
dengan institusi-institusi pendidikan Islam, seperti Universitas Al 
Azhar di Mesir.

Dalam menyampaikan pesan- pesan perdamaian terhadap umat beragama, 
saya melihat bahwa kata "maaf" adalah topik utama yang tidak pernah 
luput dari pembicaraan atau pidato Paus. Kenangan sejarah kita yang 
tidak selamanya berisi tentang catatan yang indah dihiasi dengan 
konflik yang menyisakan dendam berkepanjangan. Paus sangat sadar 
dengan keadaan ini dan meskipun beliau sering kali ditentang oleh 
pihak yang menyimpan dendam terhadap Gereja Katolik, beliau tidak 
pernah berhenti menyampaikan imbauan maaf dan saling memaafkan. 
Demikianlah yang terjadi saat beberapa kali beliau mencoba 
mengunjungi umat Katolik Ortodoks di Yunani maupun Rusia.

Namun, pengalaman untuk memaafkan yang terberat justru ditunjukkan 
oleh beliau sendiri saat beliau pernah ditembak ketika pawai di alun-
alun St Peter di tahun 1981, namun kemudian memaafkan dan 
mengunjungi si penembak di penjara. Pesan Yesus untuk memaafkan 
sesama dipahami sangat mendalam oleh Paus. Alkitab sendiri telah 
secara jelas menunjukkan bahwa memaafkan orang lain adalah salah 
satu sarana untuk mendapatkan pengampunan dari Tuhan (lihat Mat 
6:14).

KONSISTENSI Paus dalam membangun hubungan antariman dan cerminan 
pribadi beliau yang melampaui batas kotak-kotak ideologi dan agama 
merupakan faktor penting yang mampu membumikan pemikiran dialog 
agama, yang oleh para aktivis dan sarjana sering kali dipahami 
sebagai ide-ide utopia dari buku, daripada sebagai kenyataan. Paus 
dalam hal memahami dialog agama atau menghormati umat beragama lain 
bukan sebagai eksperimen intelektual atau karier oportunis seorang 
pemuka agama. Paus memahami dialog agama sebagai cermin dari 
panggilan iman dan membentangkan panggilan tersebut di arena 
kehidupan ini.

Agama dengan keyakinan yang kuat atas keberpihakan kepada umat 
manusia dengan sendirinya menjadi nilai pembebas dari tradisi yang 
membelenggu, baik itu ideologi politik, nasionalisme, atau sentimen 
ekonomi. Paus dalam hal ini telah menunjukkan bagaimana memaknai 
arti kebebasan itu tanpa harus mereduksi agama menjadi ideologi 
tertentu.

Kini Bapa dan Guru ini telah tiada. Dunia kehidupan umat beragama 
yang masih belum bebas dari prasangka negatif, rasa dendam sejarah, 
dan kotak-kotak ideologi masih membutuhkan pandangan dan teladan 
pemimpin agama seperti Paus. Namun, Tuhan jualah yang sebaik-baiknya 
mengatur segala rencana. Biarkan doa dan simpati umat beragama 
sedunia menghiasi perjalananmu, Bapa, sebagaimana engkau telah 
menghiasi wajah dunia yang penuh kebencian ini dengan doa tulus 
ikhlasmu.


Fachrizal Hali Aktivis Dialog Antariman
 
 
 







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources 
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke