http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=165022
Selasa, 05 Apr 2005, Nusantara Menangis Kembali Oleh Hilmiyatil Alifah * Bencana selalu mengiringi sejarah kehidupan manusia di muka bumi ini. Kecelakaan, perang, kebakaran hutan, banjir, tsunami, dan gempa bumi adalah bentuk bencana bagi manusia. Bencana memiliki dua bentuk. Pertama, bencana yang berbentuk human error. Manusia yang melakukan kesalahan pada sebuah proses akan serta-merta mengakibatkan bencana yang dialami dirinya sendiri maupun orang lain. Kesalahan manusia yang mengakibatkan bencana itu bisa dimaklumi karena manusia sering terjebak pada sebuah kata, alpa. Bentuk kedua bencana adalah given by the God. Bencana bisa datang sebagai pemberian Tuhan pada manusia agar merenungi perbuatan yang telah dilakukan di muka bumi ini. Bencana pada bentuk kedua ini tidak bisa ditolak kedatangannya. Contoh konkrit bencana sebagai given by the God adalah gempa bumi tektonik dan gelombang badai tsunami yang menimpa Aceh pada 26 Desember 2004. Dalam waktu kurang dari setengah tahun, negara kita mengalami bencana beruntun dalam bentuk given by the God. Sesudah Aceh dan Sumatera Utara pada akhir Desember tahun lalu mengalami tsunami dan gempa bumi, kali ini Pulau Nias kembali diguncang gempa bumi berkekuatan 8,7 skala richter. Negara kita diguncang bencana alam lagi, Nusantara menangis lagi. Bencana yang disebabkan keinginan Tuhan memang tidak bisa ditolak manusia. Tetapi, manusia dengan akal pikirnya mampu mendeteksi bencana alam yang akan terjadi. Seiring kemajuan teknologi yang luar biasa cepat, manusia bisa menemukan alat yang bisa mendeteksi datangnya gempa bumi, yaitu seismograf dan alat canggih lain. Mengamati fenomena alam memang sebuah keharusan bagi manusia. Pengembangan teknologi pascabencana alam adalah kewajiban negara. Hal tersebut berkenaan dengan kewajiban negara untuk menjamin keselamatan rakyatnya. Maka, negara yang rawan terjadi bencana alam seharusnya memiliki bujet khusus untuk mengembangkan teknologi pascabencana. Negara kita adalah negara yang sangat rawan bagi terjadinya bencana alam. Hal tersebut bisa kita lihat pada segi geografis dan pengalaman yang sudah ada. Berdasar pengalaman, bencana alam dalam bentuk gempa bumi tiap tahun melanda berbagai daerah di negara kita. Sudahkah pemerintah mengembangkan teknologi pascabencana? Ketika terjadi bencana tsunami di Aceh dan Sumut, tersiar kabar bahwa bencana tersebut sudah diprediksi berbagai negara yang telah mengembangkan teknologi pascagempa, misalnya Jepang. Pemerintah kita bahkan tidak melakukan prediksi atas bencana tersebut. Hal yang sama terjadi pada gempa bumi di Nias kali ini. Pemerintah tidak memberikan disaster warning pada masyarakat Nias. Hal itu terjadi karena bujet yang dikeluarkan pemerintah masih belum besar bagi pengembangan teknologi pascabencana. Pada titik itulah, human error berlaku. Perhatian pemerintah masih kurang bagi persiapan terjadinya bencana gempa bumi di negara kita. Gempa bumi yang tejadi di Nias juga membuat kita tahu bahwa pemerataan pembangunan belum terjadi di negara kita. Bantuan yang datang untuk korban gempa bumi di Nias masih belum merata. Hal tersebut disebabkan, kondisi infrastruktur yang ada di daerah itu sangat minim. Pemerintah seharusnya berkewajiban memberi porsi pembangunan yang lebih pada daerah rawan bencana. Hal tersebut juga terjadi di Aceh. Nias dan gempa buminya adalah hal yang merobek jaring-jaring identitas kita. Bencana alam datang dengan tidak memandang identitas seseorang; suku, agama, daerah, dan ras. Karena itu, sudah sepatutnya bantuan kepada korban gempa bumi di Nias mengalir layaknya bantuan untuk Aceh. Tetapi, kesalahan penyaluran bantuan pada korban bencana di Aceh jangan sampai terjadi di Nias. Pemerintah telah gagal meminimalkan kerugian gempa bumi di Nias karena tidak memberi disaster warning pada rakyat Nias. Sudah sepantasnya pemerintah mengawasi penyaluran bantuan untuk korban gempa bumi di Nias secara ketat. Jika hal itu dilakukan pemerintah, tangis Nusantara tidak begitu lirih terdengar seperti saat ini. * Hilmiyatil Alifah, mahasiswi Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor dan anggota Islamic Social Economic Development (ISED) IPB [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who cares about public education! http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

