Paus di Mata Seorang Muslim > > > http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/05/opini/1661790.htm > Paus di Mata Seorang Muslim > > > Oleh Fachrizal Halim > > MENINGGALNYA Paus Yohanes Paulus II telah membangkitkan kesedihan yang mendalam bukan saja bagi umat Katolik sedunia, tetapi juga umat beragama lain, baik Protestan, Yahudi, maupun Islam. Kepergian Paus adalah kehilangan akan sosok Bapa yang mengayomi, seseorang yang memberikan harapan saat logika manusia yang sering kali tidak mampu menjawab masalah ketidakadilan politik, kekerasan, dan berbagai macam nestapa dunia lainnya. > > Sebagai seorang Muslim yang mencurahkan tenaga dan pikiran untuk mengkaji sejarah agama dan hubungan antariman, saya memiliki catatan khusus tentang Paus Yohanes Paulus II, terutama mengenai jasa-jasa beliau dalam membangun dialog antara umat Islam dan umat Kristiani lebih kurang 25 tahun terakhir. Peran dan tindakan Paus sebagai pemuka agama yang karismatis ternyata mampu menerjemahkan pemikiran tentang dialog agama sebagai sebuah kesadaran massal, sesuatu yang sering kali tidak mampu dibumikan oleh para pemuka atau sarjana-sarjana agama lain. > > Sebagai seorang pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus bukan saja seorang teologiwan, tetapi juga seorang aktivis yang turun langsung ke arena kehidupan, di mana pemikiran teologi mendapatkan realitasnya. Di samping itu, Paus adalah seseorang yang memiliki sensitivitas terhadap penderitaan umat manusia, tanpa memerhatikan kelas, ras, bahkan agama. Usaha Paus merekonsiliasi sejarah panjang konflik dan kesalahpahaman antara umat Katolik, Protestan, dan Ortodoks, sebagaimana juga kesalahpahaman antara umat Katolik dan umat Yahudi dan Islam adalah salah satu peninggalan paling berharga bagi seluruh umat beragama di awal abad kedua puluh satu ini. > > Dengan meninggalnya Paus, bukan saja kita kehilangan seorang pemimpin agama, tetapi juga kehilangan seorang panutan, seorang yang hingga akhir hayatnya telah secara ikhlas terus berusaha membawa pesan perdamaian bagi umat manusia. > > CATATAN pertama yang masih segar dalam ingatan saya adalah kunjungan Paus ke Yogyakarta pada tahun 1989. Sebagai seorang siswa kelas I madrasah tsanawiyah (setingkat sekolah lanjutan pertama), akal dan semesta berpikir saya waktu itu tidak mampu memahami kenapa Paus datang ke Indonesia, sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Tradisi dan lingkungan yang membentuk pikiran masa kanak- kanak saya tidak menyediakan ruang yang cukup akan adanya kesadaran pluralitas agama sehingga perbedaan sering kali terbayang sebagai ancaman ketimbang sebagai sebuah kesempatan untuk menyaksikan rahmat Tuhan yang tidak pernah membedakan kasih sayang-Nya terhadap seluruh umat manusia. > > Paus yang saat itu datang membawa misi perdamaian tidak sepenuhnya saya pahami untuk menjalin hubungan yang baik dengan umat Islam di Indonesia, akibat kekurangpahaman saya dalam melihat umat beragama lain. > > Baru dua belas tahun kemudian, ketika kesadaran tentang nilai inklusif Islam telah membawa saya untuk lebih memahami umat beragama lain, saya melihat bahwa apa yang telah dilakukan Paus merupakan usaha mulia yang perlu mendapat respons yang sama dari umat Islam maupun Yahudi. Catatan sejarah menunjukkan bahwa sejak permulaan abad Masehi hingga pertengahan abad kedua puluh lalu, konflik ketiga agama keturunan Ibrahim ini telah melukai hubungan harmonis umat manusia sehingga menyisakan kebencian dan rasa curiga yang berkepanjangan. > > Gereja Katolik Roma, meskipun bukan pihak pertama yang menyerukan inisiatif dialog agama, telah memberikan peran yang sangat penting dalam usaha rekonsiliasi umat Islam, Kristen, dan Yahudi. Sejak Konsili Vatikan II 1963-1965, doktrin lama tentang kebenaran eksklusif Katolik telah diperbarui dan menganggap umat Yahudi dan Islam sebagai "saudara" dari tradisi keimanan Tuhan yang sama. Karol Wojtyla, yang dinobatkan sebagai Paus sejak tahun 1978, memiliki peran penting dalam menjalankan misi konsili tersebut hingga hari-hari terakhir saat kesehatan beliau tidak memungkinkan lagi untuk itu. > > Dalam usaha membangun hubungan dengan umat Islam, Paus tidak pernah lelah mengunjungi umat Islam di seluruh belahan dunia, di Timur Tengah, negara- negara Afrika, maupun negara Asia, seperti Indonesia. Saat mengunjungi umat Islam, Paus memberi perhatian dan simpati yang sama, sebagaimana beliau berikan kepada umat Katolik. Bahkan boleh dibilang, mengingat tingginya kekerasan dan derita yang dialami umat Islam, Paus memberi perhatian yang lebih kepada umat Islam. > > Tanpa mengindahkan kontroversi tentang dirinya, Paus dengan tegas menyatakan keberatannya terhadap Perang Teluk, perang Bosnia, perang Afghanistan, hingga perang Amerika dengan Irak sejak dua tahun lalu. Paus beberapa kali mengirim utusan kepada Presiden Bush dan Kofi Annan agar menunda serangan AS ke Irak, mengingat derita berkepanjangan yang telah dialami rakyat Irak sejak embargo ekonomi AS. Dengan risiko menguatnya tuduhan anti-Semit, Paus bahkan juga tidak segan mengingatkan Pemerintah Israel untuk menghargai hak-hak bangsa Palestina atas tanah kelahirannya. > > Hampir setiap tahun menjelang bulan Ramadhan, Paus tidak pernah lupa menyempatkan diri mengucapkan selamat berpuasa kepada umat Islam di seluruh dunia. Ketika Hari Raya Idul Fitri tiba, ucapan selamat yang sama juga secara tulus keluar dari pemimpin yang berasal dari Krakow, Polandia, ini. Demikian halnya saat perayaan agama umat Kristiani, seperti Natal dan Paskah, termasuk setiap perayaan Tahun Baru Masehi, Paus bahkan juga menyampaikan doa bagi umat Islam dan bahkan bagi seluruh umat manusia. Sebagai Muslim, sering kali saya merasa terharu melihat ketulusan tersebut. > > Paus, selain aktif mengundang pemimpin-pemimpin Muslim ke Vatikan, juga aktif memenuhi undangan para pemimpin-pemimpin Muslim, di samping pertemuan dengan pemimpin umat beragama lain. Paus tidak pernah segan mengunjungi masjid dan mengucapkan "Assalaamu 'alaikum" saat membuka dialog dengan umat Islam. Di luar pertemuan dengan pemuka-pemuka Muslim, Paus juga membangun komunikasi yang baik dengan institusi-institusi pendidikan Islam, seperti Universitas Al Azhar di Mesir. > > Dalam menyampaikan pesan- pesan perdamaian terhadap umat beragama, saya melihat bahwa kata "maaf" adalah topik utama yang tidak pernah luput dari pembicaraan atau pidato Paus. Kenangan sejarah kita yang tidak selamanya berisi tentang catatan yang indah dihiasi dengan konflik yang menyisakan dendam berkepanjangan. Paus sangat sadar dengan keadaan ini dan meskipun beliau sering kali ditentang oleh pihak yang menyimpan dendam terhadap Gereja Katolik, beliau tidak pernah berhenti menyampaikan imbauan maaf dan saling memaafkan. Demikianlah yang terjadi saat beberapa kali beliau mencoba mengunjungi umat Katolik Ortodoks di Yunani maupun Rusia. > > Namun, pengalaman untuk memaafkan yang terberat justru ditunjukkan oleh beliau sendiri saat beliau pernah ditembak ketika pawai di alun-alun St Peter di tahun 1981, namun kemudian memaafkan dan mengunjungi si penembak di penjara. Pesan Yesus untuk memaafkan sesama dipahami sangat mendalam oleh Paus. Alkitab sendiri telah secara jelas menunjukkan bahwa memaafkan orang lain adalah salah satu sarana untuk mendapatkan pengampunan dari Tuhan (lihat Mat 6:14). > > KONSISTENSI Paus dalam membangun hubungan antariman dan cerminan pribadi beliau yang melampaui batas kotak-kotak ideologi dan agama merupakan faktor penting yang mampu membumikan pemikiran dialog agama, yang oleh para aktivis dan sarjana sering kali dipahami sebagai ide-ide utopia dari buku, daripada sebagai kenyataan. Paus dalam hal memahami dialog agama atau menghormati umat beragama lain bukan sebagai eksperimen intelektual atau karier oportunis seorang pemuka agama. Paus memahami dialog agama sebagai cermin dari panggilan iman dan membentangkan panggilan tersebut di arena kehidupan ini. > > Agama dengan keyakinan yang kuat atas keberpihakan kepada umat manusia dengan sendirinya menjadi nilai pembebas dari tradisi yang membelenggu, baik itu ideologi politik, nasionalisme, atau sentimen ekonomi. Paus dalam hal ini telah menunjukkan bagaimana memaknai arti kebebasan itu tanpa harus mereduksi agama menjadi ideologi tertentu. > > Kini Bapa dan Guru ini telah tiada. Dunia kehidupan umat beragama yang masih belum bebas dari prasangka negatif, rasa dendam sejarah, dan kotak-kotak ideologi masih membutuhkan pandangan dan teladan pemimpin agama seperti Paus. Namun, Tuhan jualah yang sebaik-baiknya mengatur segala rencana. Biarkan doa dan simpati umat beragama sedunia menghiasi perjalananmu, Bapa, sebagaimana engkau telah menghiasi wajah dunia yang penuh kebencian ini dengan doa tulus ikhlasmu. > > > Fachrizal Hali Aktivis Dialog Antariman, Sedang Studi di Hartford, Amerika Serikat ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today! http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

