--- In [email protected], Eko Bambang Subiyantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mbak Lina, > Masalah keselamatan bayi bukan tidak penting. Bagi saya itu juga > penting. Namun bagaimana jika sebenarnya perempuan itu tidak > menghendaki kehamilannya? Apakah masalah ini kita abaikan? Apakah manusiawi > juga membiarkan kehamilan yang tidak dikehendaki. AKu pikir ini bukan > soal ego perempuan untuk menyelamatkan diri sendiri daripada > keselamatan seseorang. Bagimana dengan sikap masyarakat ketika ada > seorang perempuan hamil, punya anak, tanpa suami dan sebagainya yang > selalu mencibir?
Mas Eko yang budiman, Jelas wanita seperti ini sedang ketakutan. Ini memang harus kita tolong. Tapi bukan dengan mengaborsi. Kalau buat saya, jelas ini hal ego perempuan. Ego perempuan yang sedang kena masalah. Aborsi mungkin jalan tercepat namun belum tentu terbaik. Tugas kita (?) juga untuk mengubah sikap masyarakat yang suka mencibir seseorang yang sedang bermasalah. Kalau saja wanita itu dengan tegar dan menerima nasibnya untuk harus mengurus anak yang tanpa bapak, aku rasa...sikap masyarakat akan bisa berbalik hormat. Berarti dengan demikian wanita itu telah mengajarkan hal baik lainnya kepada masyarakat dan (smoga) bisa merubah sikap masyarakat. Sebetulnya hubungan aborsi dengan ego perempuan itu kan aborsi dipakai sebagai alat yang bisa menyembunyikan rasa malu dari cemoohan masyarakat, tapi tidak mengajarkan ego perempuan bagaimana seharusnya? Namun tentunya, wanita yang bermasalah ini tidak akan setegar itu, tugas kita lah membantu agar dia bisa tegar dan mengalahkan egonya. > > Bagi saya, kehamilan adalah kenyataan yang tidak bisa > dihindari oleh sebagian besar perempuan. Masalah kehamilan ini > sendiri juga masih terus menjadi perdebatan. Bagi saya, Perempuan bisa hamil itu > kodrat tetapi bukan berarti perempuan mempunyai keharusan untuk hamil. > Hamil atau tidak hamil adalah hak perempuan. Hal ini juga penting > dipahami, karena kalau perempuan mempunyai keharusan untuk hamil, > akan menjadi masalah kalo ada perempuan yang pada akhirnya tidak bisa > hamil karena berbgai masalah. Perempuan yang tidak hamil pada > akhirnya dianggap perempuan tidak > normal, dan sebaginya. Dalam konteks seperti itu, maka masalah > kehamilan menurut saya adalah masalah hak juga. Jika perempuan pada > akhirnya memilih tidak hamil, itu hak dia, bukan berarti dia > menyalahi kodrat atau tidak menjadi perempuan yang sempurna. > > Saya pernah melihat cerita seorang perempuan kepala > rumah tangga, yang diorganisir oleh PEKKA (Perempuan Kepala > Keluarga). Perempuan ini ditinggal laki-laki setelah kedapatan hamil. > Ia tidak melakukan aborsi atas kehamilannya. Anak itupun lahir dan > kini besar. Tapi bagaimana dengan masyarakat yang melihat ibu ini? > cemooh, anggapan perempuan murahan dan sebagainya terus menjadi > tekanan dalam hidupnya. Belum lagi ia harus menghidupi anaknya > sendiri. Kondisi-kondisi inilah yang menurut saya perlu kita pertimbangkan pula. > Mungkin ini tidak akan terjadi pada laki-laki ya. Jadi masalah aborsi > ini bukan masalah sekedar membunuh atau tidak. Mengapa ya hanya menghindari cemooh masyarakat, lalu harus membunuh jabang bayi? Apa gak ada cara lain? Semisal, kita suport dia utk melahirkan anak yang tak berbapak lalu pindah saja keluar keluar dari masyarakat yang suka mencemooh? > > Begitu pula degan aborsi. Titik tekan saya sebenarnya pada masalah > kehamilan itu, apakah itu dikehendaki atau tidak. Aborsi menurut saya > adalah dampak dari tindakan yang tidak dikehendaki tersebut. Memahami> sebab kenapa harus aborsi inilah yang ingin saya tekankan. > > Sementara itu fakta lain yang ada saat ini banyak sekali tindakan aborsi> dilakukan dengan cara tidak aman. Terbesar adalah mereka yang sudah> menikah. Ini fakta, meskipun banyak pihak > sudah menginggatkan. Apakah fakta ini terus saja kita membiarkan > mereka melakukan aborsi secara tidak aman. Akan berapa banyak > perempuan yang akan meninggal atau mengalami kerusakan alat > reproduksinya? Betul. Aborsi harus dilakukan oleh dokter yang berpengalaman. Ini perlu ditekankan bagi ibu-ibu yang nekat mau aborsi. Ini tugas dokter. Pertanyaan saya adalah, apakah dengan melegalkan aborsi lalu kemudian aborsi akan menjadi aman? Saya rasa tidak kok ya? Tetap saja orang yang merasa bersalah akan pusing mau kemana dia aborsinya meski sudah dilegalkan, karena egonya itu. > > Untuk Pak Nizami, saya tidak mengatakan bahwa pemikiran saya maju > atau tidak. Ini masalah fakta yang masih banyak terjadi. Pemerkosaan,> incest,dan sejumlah tragedi lain yang menimpa perempuan masih banyak> terjadi. Apakah lagi-lagi perempuan harus menerima beban? Saya masih> teringat kasus Diana dari Malang beberapa tahun yang lalu. Diana> menjadi korban, atas penguguran kehamilan yang tidak diinginkan. Ia> hamil setelah melakukan hubungan dengan pacarnya. Selanjutnya pacarnya> tidak bertanggungjawab. Diana menggugurkan kandungan, dan membuang > janin, sampai akhirnya ia ketahuan masyarakat dan diajukan ke polisi> dan pengadilan. Diana divonis hukuman 3 tahun (kalau ngak salah--).> karena melakukan pembunuhan. Bagi saya ini tidak adil. Kehamilan itu> terjadi atas kemauan bersama, tetapi kenapa diana yang harus dihukum?> sementara laki-lakinya tidak. Kematian bayi seharusnya juga menjadi> beban laki-laki. Kenapa laki-laki itu tidak disinggung sama sekali?> bahkan lolos? apakah kita harus menyalahkan diana karena tindakannya> berhubungan dengan laki-laki? kenapa kita tidak melihat laki-laki ini yang harus bertanggungjawab. Ini masalah hukum. Diana bersalah karena dianggap membunuh karena terbukti kesalahan Diana disitu. Namanya hukum kan harus ada bukti toh, mas ?. Tidak bisa bicara "menurut saya" dan menurut moral. Tapi menurut bukti. Secara moral, tentu laki-laki itu juga bersalah. > Keadilan seperti inilah yang saya maksud. Apa salah pada akhirnya > perempuan juga mempunyai hak untuk menolak kehamilan, seperti juga > laki-laki? Tentu berat bagi perempuan, karena ia mempunyai alat > reproduksi untuk hamil sementara laki-laki tidak. Kalau soal hak perempuan untuk hamil ato enggak, saya setuju. Tapi tidak bisa dijadikan alasan membolehkan aborsi. Kalo gak mau hamil, ya cegahlah sekuat tenaga. wassalam, ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

