Eksekusi di Warung Kopi
Reporter: Yassir M - Aceh Utara, 2005-04-04 11:57:12




�Itu masih tampak bekas bakaran pada sisa ceceran darah,� ujar seorang warga 
sambil menunjuk pada badan jalan di depan sebuah warung kopi. Terlihat di atas 
aspal, setengah meter di depan warung kopi itu, debu hitam bekas sesuatu yang 
dibakar. 


 

Di situ, empat hari sebelumnya, Rabu, 30 Maret 2005, seorang warga Desa Matang 
Jeulikat, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, tewas terkapar setelah 
diberondong 13 peluru dalam jarak dekat dengan senjata api laras panjang.

 

Menjadi kebiasaan masyarakat Aceh, setiap ada genangan darah, maka di lokasi 
itu harus dibakar. Maksudnya untuk menghindari timbulnya aroma anyir atau busuk 
bila dibiarkan begitu saja. Kemungkinan lain, untuk menghindari timbulnya 
trauma, misalnya bagi kalangan perempuan, atau keluarga korban bila melihat 
darah kerabatnya.

 

Apalagi korban adalah warga desa mereka, yang bernama M Isa bin Rasyid, 37 
tahun, yang sehari-hari dikenal akrab dengan orang sekampung. Isa dihabisi pada 
Rabu (30/3) malam sekira pukul 22.30 WIB, saat sedang santai bersama sejumlah 
warga lainnya di warung kopi itu.

 

Desa Matang Jeulikat terletak 3 kilometer arah pesisir ibukota Kecamatan 
Seunuddon, atau sekitar 65 kilometer sebelah timur Kota Lhokseumawe. Jarak yang 
terakhir ini yang ditemput acehkita. Di antara 33 desa di kecamatan tersebut, 
Desa Matang Jeulikat termasuk desa yang berpenduduk terbanyak, mencapai 1.200 
jiwa. Tidak seperti desa-desa di sekitarnya, di desa ini terdapat sebuah masjid 
serta kedai-kedai berupa rumah toko (ruko) sederhana beratap seng berdinding 
papan, persis di persimpangan jalan di pusat desa.

 

Setelah tsunami, menurut seorang warga, Abdurrahman (43), denyut kehidupan 
ekonomi masyarakat di sana mulai terasa. Terlebih setelah dilakukan relokasi 
pengungsi asal Kecamatan Seunuddon ke barak Hunian Sementara di Desa Cot 
Patisah.  

 

�Kalau dari ibukota kecamatan menuju ke Cot Patisah, ya lewat jalan ini, 
sehingga sejak dua pekan lalu lintasan ini selalu ramai,� ujarnya kepada 
acehkita yang menelusuri kasus penembakan itu, Minggu (3/4).

 

Akibatnya, suasana di desa itu saat ini ramai. Tak jarang warung-warung kopi 
buka sampai tengah malam karena banyak warga dan sebagian pengungsi Hunian 
Sementara ikut nongkrong di sana. �Karenanya kami sama sekali tak mengira 
dengan insiden malam itu, yang membuat warga di sini menjadi trauma dan takut,� 
ujarnya.

 

Seorang warga lainnya yang minta namanya tidak ditulis, mengungkapkan, 
peristiwa penembakan itu masih menyisakan cemas dalam dirinya. Malam itu, 
katanya, ia berada di salah satu ruko di seberang warung kopi. Sekira pukul 
22.30 WIB, tiba-tiba muncul sekitar enam orang tak dikenal, berpakaian loreng 
dan menyandang senjata api. 

 

�Kami mengira orang TNI, maka kami diam-diam saja. Tapi tidak ada warga yang 
menyapa mereka, mereka juga tak menyapa kami,� ungkap warga itu.

 

Namun ia mengaku, ada juga terbersit sedikit kecurigaan dengan penampilan 
kelompok tersebut. Pasalnya, keenam lelaki bersenjata itu mengenakan shebo 
(topeng) penutup wajah dan kain merah pengikat kepala, tidak seperti kebanyakan 
tentara yang ia lihat di jalan-jalan. Apalagi, setelah empat di antara mereka 
menyebar ke sudut-sudut kedai, sedang dua temannya menuju ke warung kopi yang 
terletak di tengah deretan ruko sebelah kanan jalan.

 

Terdengar bentakan berbahasa Indonesia dari sana, �Bajingan kau!�  

 

Salah seorang berseragam loreng terlihat menggapit krah baju seorang warga yang 
duduk di meja bagian teras warung. Dari ruko di seberang jalan, terlihat warga 
yang dibentak itu adalah M Isa. Sejuruh kemudian, saksi mata itu pun melihat si 
loreng mengacung-ngacungkan ujung senjatanya kepada M Isa.

 

�Mana HP kau?� terdengar lagi bentakan. 

 

Kini si loreng meminta Isa menyerahkan handphone milikinya. Tak terdengar 
kalimat bantahan, saat Isa langsung merogoh kantongnya mengambil HP dan 
diserahkan kepada orang tersebut.

 

Setelah menerima HP, si loreng menyambung hardikannya, �Kemari dulu kau!�  

 

Tapi, tanpa menunggu Isa bangun dari kursi, si loreng langsung menyeret lelaki 
itu dari warung. Sekira 5 meter dari teras warung kopi, persis di tepi badan 
jalan aspal, terdengar beberapa bentakan lagi seraya moncong senjata mengarah 
tepat pada Isa. 

 

Susana semakin menegang. Orang di sekitar warung tak ada yang berani berkutik, 
mencegah apalagi beranjak. Seorang teman si loreng yang berdiri tidak jauh dari 
warung memberi aba-aba pamungkas. 

 

�Matikan saja bajingan itu!�

 

Lantas terdengar berondongan tembakan dari senjata laras panjang si loreng. Tak 
terlihat lagi bagaimana posisi Isa saat itu, karena semua warga yang ada di 
lokasi kedai diperintahkan tiarap. Tak ayal, semua warga menyungkur rapat 
dengan tanah. Bahkan sejumlah warga yang kena jadwal jaga malam di pos ronda 
yang terletak bersisian dengan deretan ruko, saat itu ada yang menyelusup ke 
parit dan got karena takut.

 

Menurut warga setempat, setelah semua warga tiarap, masih terdengar sekali lagi 
berondongan tembakan. Kemudian kelompok berbaju loreng itu menghilang ke arah 
barat, ke lorong-lorong pemukiman penduduk.

 

Lebih sepuluh menit kemudian, belum ada warga yang berani mendekati lokasi 
penembakan. Malah mereka ramai-ramai berkumpul di rumah Kepala Desa Matang 
Jeulikat yang terletak sekira 30 meter dari pusat kedai di depan pos ronda. 
Sementara di depan warung kopi, seonggok tubuh tergeletak di atas jalan, tanpa 
ada yang berani menyentuhnya.

 

Seluruh warga yang ada di rumah Kepala Desa Hafifuddin saat itu sangat cemas 
dan bingung harus melakukan apa. Sebab, biasanya, peristiwa penembakan akan 
menimbulkan efek buruk bagi warga sekitar lokasi TKP (tempat kejadian perkara). 
Tak peduli siapapun pelakunya. 

 

Akhirnya diambil kesepakatan, peristiwa itu harus dilaporkan kepada aparat 
keamanan yang ada di pusat kecamatan. Salah seorang warga kemudian diutus 
menuju ke Markas Koramil Seuneuddon. Sekira pukul 23.30 WIB, pasukan pemerintah 
dari kesatuan Satgas Muara Batalyon 7 Marinir dibantu anggota Koramil 
Seunuddon, serta anggota Satuan Gabungan Intelijen (SGI) yang berposko di 
Seunuddon tiba di TKP.

 

Tak banyak yang mereka dapat, kecuali jenazah Isa yang belum tersentuh. Setelah 
dilakukan olah TKP oleh pasukan pemerintah, warga masyarakat mengetahui M Isa 
tewas dengan 13 lubang tertembus peluru. Pinggang dan tangan ayah lima anak itu 
patah. Disebut-sebut, selonsong peluru yang tercecer adalah muntahan dari 
senjata api jenis AK-47.

 

Sampai saat itu belum ada warga yang tahu kenapa M Isa, yang sehari-hari 
dikenal sebagai agen benur (bibit udang) itu, mesti dihabisi dengan demikian 
sadis. 

 

�Dia akrab dengan semua warga di sini, kami tak tahu dia bersalah apa dan 
dengan siapa?� ujar seorang warga, seraya menambahkan sebelum menekuni agen 
benur sejak empat bulan lalu, M Isa dikenal sebagai petani tambak.            

 

Ketika acehkita menanyakan apakah Bahasa Indonesia yang digunakan oleh pelaku 
terdengar fasih atau medok Aceh, sejumlah warga mengaku tidak bisa membedakan 
logat suara mereka. 

 

�Kamoe deungo sang Bahasa Indonesia awak nyan lagak-lagak, hana meulogat Aceh 
(kami dengar sepertinya Bahasa Indonesia mereka bagus-bagus, tidak berlogat 
Aceh),� ungkap warga tersebut, yang mengaku jelas mendengar beberapa bentakan 
kepada korban dari ruko lain di seberang warung kopi. [dan]


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke