Banyak sudah tulisan yang muncul di media tentang
Kampung Laut, terutama tentang kerusakan alamnya. 
Tentang segara anakan yang makin menyusut luasnya
karena sedimentasi dari daratan di atasnya.  Tapi tak
banyak yang melihat perjuangan dari orang-orang yang
numpang hidup di atas tanah-tanah timbul di tepian
nusa kambangan.  

Salah satu yang saya sempat kenal adalah ibu Tukijah. 
Dia salah satu orang yang ikut membuka hutan dan
bercocok tanam di tepian nusa kambangan pada periode
awal penghunian kawasan itu oleh orang-orang dari luar
kawasan penjara.  Pada awal tahun 1980-an, bersama
suaminya dia pergi dari kampung asalnya di perbatasan
jawa barat/jateng dan membuka ladang di tepi nusa
kambangan.  Baginya itu hanyalah upaya untuk bertahan
hidup.  "Nunut urip", katanya.  Suaminya meninggal
saat terjadi wabah malaria di kawasan Lempong Pucung
dan sekitarnya. Dia masih tinggal disana dan berjuang
membendung air asin yang masuk ke perwasahannya agar
tetap bisa bertanam sebab dari hasil bertanam itulah
dia mengandalkan sumber makanannya.  

Perempuan lain yang berjuang hidup disana adalah Bu
Tatik, seorang perempuan lulusan SLTA yang diboyong
suaminya ke kampung laut setelah menikah karena disana
ada harapan untuk bisa memiliki tanah garapan.  Tapi
suaminya lantas pergi berlayar dan dia mengisi
hari-harinya dengan mengajar anak-anak kampung di
rumahnya, sambil mengasuh anaknya sendiri.  Semula
gereja katholik cilacap membantu membangun rumahnya
agar bisa digunakan untuk kegiatan belajar dan misa. 
tapi setelah berjalan setahun, rumahnya tak muat lagi
untuk menampung anak-anak yang ingin belajar.  Lantas
diapun berjuang agar Dinas Pendidikan Kab. Cilacap
membangun sekolah di kampungnya.

Baru pada akhir tahun 2002- setelah 2 tahun berusaha-
sekolah dibangun di kampung itu,  hanya 2 ruangan dan
tanpa guru pada awalnya.  Jadi bu Tatik harus mengajar
sendirian, sampai pada akhir 2003 ada guru bantu yang
ditempatkan di sekolah itu.  Saya dan beberapa kawan
lain yang waktu itu sempat berkenalan dengan bu Tatik,
secara bergantian seminggu sekali datang untuk
membantu mengajar.  Tapi yang paling menyedihkan
adalah soal gaji bu Tatik.  Untuk jerih payahnya
mengajar dan mengurus sekolah itu bu Tatik hanya
digaji Rp. 200.000,- sebulan dan diterimakan per 3
bulan sekali.

namun demikian kedua perempuan yang saya ceritakan di
atas tidak mengeluh sedikitpun.  Mereka tetap berjuang
untuk kemajuan warga kampungnya.  Salah satu yang
mereka lakukan adalah membangun perpustakaan untuk
warga kampung mereka yang ditempatkan di rumah bu
Tatik yang memang sudah biasa menjadi tempat pertemuan
warga.
Bagi siapapun yang membaca berita ini dan berminat
membantu upaya mereka bisa mengirimkan buku-buku dan
rak/lemari buku untuk 
Perpustakan Balai Perempuan Kampung Laut
d/a Ibu Tatik Wardiati
Kampung Laut, Klaces
Cilacap 

Atau dapat juga menghubungi kami
Aliansi Perempuan Untuk Keterwakilan Politik
Kompleks DPR RI Kalibata Blok A-5/86
Jakarta Selatan
70902446
dengan 
Mulyandari 08159768560
atau 
Fikri 08156873299

 

--- Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>  Media Indonesia
> Selasa, 12 April 2005
> 
> Jangan Harap Bisa Temukan Ikan, Udang, Kepiting Lagi
> 
> 
> BUKAN lautan hanya kolam susu, air dan jala cukup
> menghidupimu.... Udang dan ikan menghampirimu....
> Lagu terkenal dari kelompok Koes Plus tersebut
> sempat dirasakan warga Kampung Laut, Cilacap, Jawa
> Tengah (Jateng), beberapa dekade silam. Saat itu
> mereka boleh dibilang berhasil menjadi nelayan.
> Berbagai macam tangkapan mulai dari udang, ikan, dan
> kepiting begitu gampang diperoleh dari hamparan
> hutan mangrove yang ada di kawasan setempat.
> Tetapi kini, biota laut yang biasanya menghidupi
> warga setempat berangsur-angsur 'menghilang' seiring
> dengan berubahnya lingkungan Segara Anakan. Hutan
> mangrove sebagai tempat pemijahan ikan, udang, dan
> kepiting menjadi langka akibat sedimentasi dan
> pembalakan liar. Kini yang dominan terlihat di
> Segara Anakan bukan lagi pohon dengan akar masuk ke
> bawah air, melainkan tumbuhan biasa yang hidup di
> atas gundukan-gundukan tanah timbul.
> 
> Dengan kenyataan itu, kini warga Kampung Laut yang
> tersebar di empat desa, mulai Ujung Alang, Panikel,
> Klaces, hingga Ujung Gagak tidak lagi menggantungkan
> hidupnya dengan mencari biota laut di Segara Anakan.
> Sebagian besar dari sekitar 14.500 jiwa penduduknya
> sekarang lebih banyak menggarap tanah-tanah timbul
> yang tidak seberapa luas untuk ditanami berbagai
> tanaman, seperti buah-buahan dan padi.
> 
> "Bagaimana mungkin tahan menjadi nelayan, kalau
> mencari ikan begitu sulit. Lihat saja banyak nelayan
> yang sudah mencoba untuk cari ikan dengan menjala
> atau menebar jaring apong, tetapi hasilnya tidak
> seberapa. Perahu saya akhirnya saya gunakan untuk
> alat angkut penumpang," tutur Marjo, 48, warga Desa
> Klaces, Kecamatan Kampung Laut, kepada Media, Selasa
> (5/4), di Klaces.
> 
> Menurut Marjo, kecenderungan beralih profesi dari
> nelayan menjadi petani mulai dilakukan warga Kampung
> Laut. ''Yang jelas tidak mungkin lagi mengandalkan
> pekerjaan nelayan. Apalagi Segara Anakan memaksa
> demikian, sebab ikan, kepiting, atau udang semakin
> lama kian sedikit. Itu terjadi sejak hutan bakau
> rusak digantikan dengan tanah-tanah timbul di
> sekitar kawasan ini. Ditambah lagi penebangan liar
> yang menambah rusaknya hutan bakau. Saya sendiri
> tidak tahu orang mana yang menebang dan luasnya
> berapa,'' tutur Marjo.
> 
> Rusaknya ekosistem mangrove disebabkan lumpur dan
> sampah dari sejumlah sungai yang bermuara di Segara
> Anakan, terutama Sungai Citanduy. Pendangkalan itu
> kemudian membentuk tanah-tanah timbul. Pemantauan
> Media mulai dari Desa Ujung Alang, Klaces, Ujung
> Gagak, hingga Dermaga Majingklak Desa Pamotan,
> Kecamatan Kalipucang, Ciamis, Jawa Barat (Jabar),
> cukup menggambarkan kondisi itu.
> 
> Hutan mangrove yang biasanya menjadi kekhasan daerah
> payau, saat ini telah berubah menjadi daratan.
> Kalaupun masih ada tanaman bakau, tanamannya tidak
> lagi tinggi-tinggi. Sebagian besar hanya satu meter
> dari permukaan pantai. Terlihat juga bekas tanaman
> mati serta batang yang habis dipotong.
> 
> Sampah dan lumpur
> Hilangnya hutan mangrove secara alami telah
> digantikan tanaman lain di tanah-tanah timbul.
> Sedangkan di pinggiran tanah-tanah timbul, berbagai
> macam sampah semakin banyak, apalagi mendekati muara
> Sungai Citanduy yang dekat dengan ujung paling barat
> Pulau Nusakambangan.
> 
> Sampah-sampah dan lumpur dari Sungai Citanduy
> membuat daratan semakin menyempitkan kawasan Segara
> Anakan. Banyaknya sampah dan pendangkalan juga
> membuat alur pelayaran terganggu.
> 
> Bahkan, saat Media menumpang perahu kayu kecil
> (compreng) dengan kapasitas muat hanya sekitar
> delapan orang, berkali-kali harus berhenti di tengah
> kawasan Segara Anakan. "Kita harus berhenti dulu,
> Mas. Soalnya mesin perahu menyangkut sampah," kata
> Subeja, 44, warga Klaces yang mengantarkan Media
> berkeliling menggunakan perahu {compreng.]
> 
> Menurut Subeja, antara Klaces hingga Majingklak
> harus berhati-hati saat mengemudikan perahu. Sebab,
> sampah-sampah banyak berserakan dan sangat
> mengganggu mesin. Bahkan, tidak jarang perahu-perahu
> harus berhenti di tengah-tengah Segara Anakan karena
> harus menyingkirkan sampah-sampah dahulu.
> 
> Di tempat itu, pertemuan air Samudra Indonesia dan
> Sungai Citanduy memperlihatkan warna sangat kontras.
> Jika dari Plawangan (bagian utara Samudra Indonesia)
> warnanya kebiruan, tetapi dari Sungai Citanduy
> kecokelatan dan terlihat sampah berserakan. "Kami
> sendiri tidak tahu bagaimana kondisi Segara Anakan
> di masa mendatang. Sepertinya tinggal menghitung
> tahun saja untuk membuatnya menjadi daratan," ujar
> Subeja.
> Berdasarkan data Badan Pelaksana Konservasi Segara
> Anakan (BPKSA) Cilacap, luas Segara Anakan memang
> semakin sempit. Laguna Segara Anakan mengalami
> pendangkalan akibat Sungai Citanduy dan sejumlah
> sungai lainnya membawa lumpur rata-rata 5 juta
> m3/tahun dan yang masuk ke laguna Segara Anakan 1
> juta m3/tahun.
> 
> Akibat tingginya sedimentasi di perairan itu, luas
> Segara Anakan dari tahun ke tahun semakin sempit dan
> tertutup lumpur sedimentasi. Pada 1903, luas Segara
> Anakan tercatat 6.450 hektare (ha). Pada 1984
> tinggal 2.906 ha, dan luasnya menjadi 1.200 ha pada
> 2000. Melalui pencitraan satelit 2003, luas Segara
> Anakan menyusut lagi menjadi 400 ha.
> 
> Akibat perusakan lingkungan di wilayah itu, kini
> warga Kampung Laut harus menelan pil pahit. Mereka
> tidak mungkin lagi menggantungkan hidupnya dari
> ikan, kepiting, dan udang. Mereka terpaksa beralih
> profesi, meski kerusakan itu bukanlah akibat
> perbuatan mereka. (Liliek Dharmawan/H-1)
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 



                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!
http://smallbusiness.yahoo.com/resources/


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke