--- In [email protected], Agung Sarono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


> Wah Mas Danarto ini malah mbingungi...
> Masak Jendral Sudirman meninggal saat perang? Nggak
> salah tuh? Yang meninggal di tahun 1948 itu jendral
> Urip Sumoharjo, kalau Sudirman sesudah penyerahan
> Jogja kepada republik....

----------------
DH:  Memang pak Dirman wafat pada tangal 29 Januari 1950, Panglima 
Besar ini meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam 
Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Jenazah beliau diarak ke makam pahlawan 
melewati rumah kami, yang terletak di jalan Pakualaman, sebelah pura 
Pakualam. Saya berdiri menonton dihalaman muzka rumah kami.

Beliau meninggal setelah penyerahan kedaulatan dari mahkota Belanda 
kepada RI, dimana bung Karno menjadi presiden RIS (kami lalu pindah 
bersama pemerintah ke Jakarta, ayah saya menjadi mentri perekonomian).

Tetapi, di-bulan bulan terakhir pertempuran yang sengit sengitnya, 
beliau sudah tak dapat memimpin pasukan, karena paru parunya sudah 
rusak.

----------------------------------

> Mengapa Belanda tidak menyerah, it's only about time!
> Anda tahu khan berapa lama perang di Vietnam? Si
> Meneer lebih pinter dari para Monsieur itu! Ia tahu
> kalau memang tak mungkin mengalahkan pejoeang kita,
> makanya dia ngglembuki politisi yang memang lemah
> mentah bin syahwat itu... SUpaya nggak hilang muka,
> anda lihat dalam konsep perang gerilya; prinsipnya
> adalah menguras tenaga musuh hingga suatu titik dimana
> musuh kehabisan daya dan akhirnya suatu pukulan
> mematikan akan dilakukan untuk menyelesaikannya...


DH: Masa itu memang dunia, telah masak untuk proses de-kolonisasi, 
dimana satu persatu negara bebas dari penjajahan. Namun, seperti 
dikatakan, yang benar benar merebut kekuasaan dimedan yuddha, adalah 
Vietnam dibawah Ho Chi Minh, dan Aljazair. Negara negara lain, 
mendapatkan kemerdekaan secara damai. Misalnya India tahun 1947 dan 
Pakistan.Mesir.

Perang gerilya kita belum apa apa dibandingkan dengan gerakan 
Vietcong dibawah jendral Vo Nguyen Giap yang dahsyat itu. dalam 
pertempuran di Dienbienphu, empat jendral Perancis tertangkap dalam 
yuddha.

Tanpa mengurangi jasa pahlawan pahlawan kita (yang banyak sekali 
saudara saudara ortu), kita belum pernah berhasil menggelar 
pertempuran yang mematikan. Pertempuran besar adalah di Surabaya. 
namun korban diantara pemuda adalah besar sekali. Diakhiri dengan 

Ada buku pak Nas yang interessant yakni "Laporan dari Banaran".
-----------------------------------------


> Saya pun yakin bahwa andai saja politisi kita menolak
> kesepakatan Roem Royen misalnya, maka belanda juga
> akan lempar handuk sebagaimana perancis... Cuma karena
> itu, politisi itu kebanyakan mikir, jadi mikirnya, ya
> udah terima dulu ini, habis belanda angkat kaki, baru
> atur lagi...

DH: Mas, kesepakatan kala itu dicapai oleh semua partai besar yang 
demokratis. PNI, Masyumi, PSI, dll. Berbeda dengan Vietnam, kala itu 
hanya ada SATU politicall will yakni dari partai komunis Vietnam 
dibawah Ho Chi Minh, kita benar benar gebuk2an antar kita. Tak ada 
kesepakatan nasional. Pemimpin politik kita juga bunga rampai, dari 
orang orang soska (sosialis kanan) macam Sutan Syahrir, sampai yang 
paling kiri, seperti Tan Malakka.

--------------------------------------------------

> Itu Bung Danarto, cuma, orang walondo tidak lihat ini,
> t'rus mereka main tulis bahwa diplomasi ini yang
> menghasilkan kedaulatan....

DH: Mas, mereka boleh tulis apapun, namun sejarah kita memang 
demikian. Tak ada perjanjian perdamaian yang menyudahi sebuah 
pertempuran, dimana lawan menyerah secara militer.

-------------------------
> Saya ingat kalimat dari seorang jendral dari eropa;
> "Suatu perdamaian adalah masalah yang terlalu penting
> untuk diserahkan kepada para politisi saja!"
> artinya "Jangan pernah memberikan ijin kepada politisi
> kekuasaan penuh dalam perundingan, khususnya saat
> perang!"
> AS

DH: mas, ada seri peperangan besar yang awalnya sangat penuh gloria, 
namun ujung ujungnya menyedihkan, dibawah seorang tokoh militer 
1000%: Perang Napoleon.

Sebaliknya, perang terbesar dalam sejarah modern, Perang Dunia II, 
dikemudikan oleh politisi politisi. Presiden Roosevelt dari USA.

Lawan lawan mereka, yang ter-mehek mehek ujungnya, dikomandoi oleh 
100% militer: Jepang oleh Yamamoto, dan Jerman oleh para jendralnya, 
antara lain Herman G�ring, Erwin Rommel, Guderian.

Yang menggelar perang dalam situsi konflik, selalu milteris dari 
sayap keras. Ini terjadi pada PD I dan II.

Jangan lupa, setelah perang usai, dimana semua hancur berantakan, 
pembangunan tak mungkin dipimpin militer. Jadi, lagi lagi politisi 
yang harus menentukan.

Salam

danardono 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke