Mas A. Nizami,

Kalau kata-kata dibawah ini kira-kira artinya apa yak ?

salam,
Ari Condro

> > Dalam konteks Alquran sebagai mitos, saya
> berpendapat bahwa makna
> denotatif Alquran (baca: ayat muamalah) adalah
> bersifat lokal-temporal yang
> cuma diperuntukkan bagi masyarakat di mana Alquran
> turun. Sedang unsur yang
> universal dan relevan untuk semua tempat dan jaman
> ada pada makna
> konotatifnya.


----- Original Message -----
From: "A Nizami" <[EMAIL PROTECTED]>

>
> Kalau Islam Liberal menganggap Qur'an sebagai mitos
> dan cuma berlaku temporer untuk bangsa tertentu,
> berarti itu semakin membuktikan kesesatan Islam
> Liberal.
>
> Bukankah di surat Al Baqarah ayat 2 dijelaskan bahwa
> Al Qur'an itu tidak ada keraguan di dalamnya dan
> merupakan petunjuk bagi orang yang bertakwa? Kalau
> ragu dan tidak percaya, berarti tidak bertakwa.
>
> Jika kelompok Islam Liberal tidak beriman pada adanya
> Al Qur'an dan kebenaran Al Qur'an, jelas berarti sudah
> kafir. Karena beriman pada Al Qur'an adalah salah satu
> pokok dari 6 rukun iman.
>
> --- Samsul Bachri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Saudaraku...
> > Yang penulis hendak sampaikan adalah jika Quran
> > hanya mitos, berarti tidak
> > ada wahyu, jika tidak ada wahyu berati tidak ada
> > Tuhan. Berati juga tidak
> > ada kebenaran, karena kebenaran hanya akan menjadi
> > asumsi manusia semata.
> > Suatu saat, perzinahan tidak akan diharamkan, karena
> > sudah memenuhi kaidah
> > kebenaran menurut manusia kebanyakan. Demikian pula
> > dengan yang lainnya.
> >
> > Hat-hatilah terhadap jebakan yang tidak terlihat.
> > Apa yang menjadi tujuan
> > pendapat tersebut.?Adalah mengajak manusia untuk
> > tidak mempercayai
> > Tuhan.Nauzubillah.
> >
> > Waspadalah-waspadalah.............!
> >
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <Undisclosed-Recipient:;>
> > Sent: Friday, April 15, 2005 12:43 PM
> > Subject: [ppiindia] Alquran Sebagai Mitos
> >
> >
> > >
> > >
> > http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=802
> > >
> > > Alquran Sebagai Mitos
> > > Oleh Rony Subayu
> > > 11/04/2005
> > > Dalam konteks Alquran sebagai mitos, saya
> > berpendapat bahwa makna
> > denotatif Alquran (baca: ayat muamalah) adalah
> > bersifat lokal-temporal yang
> > cuma diperuntukkan bagi masyarakat di mana Alquran
> > turun. Sedang unsur yang
> > universal dan relevan untuk semua tempat dan jaman
> > ada pada makna
> > konotatifnya.
> > >
> > > Ketika Mohammed Arkoun membangun proyek
> > prestisiusnya, "kritik akal
> > Islam", yang terwakili dalam karyanya "Pour de la
> > raison Islamique" (Menuju
> > Kritik Akal Islam), yang dalam edisi Arabnya
> > berjudul "Tarikhiyyat al-Fikr
> > al-Araby al-Islamy," ia mengajukan tiga term yang
> > sangat asing di telinga
> > para sarjana muslim dalam rangka membedah sejarah
> > sistem pemikiran
> > Arab-Islam, yaitu "yang terpikirkan" (le
> > pensable/thinkable), "yang tak
> > terpikirkan" (l`impinse/unthinkable) dan "yang belum
> > terpikirkan"
> > (l`impensable/not yet thought). Apa yang dimaksud
> > dengan "thinkable" adalah
> > hal-hal yang mungkin sudah dipikirkan umat Islam,
> > karena jelas dan boleh
> > dipikirkan. Sedang "unthinkable" adalah hal-hal
> > menyangkut praktik kehidupan
> > yang tidak ada kaitannya dengan ajaran agama. Dan
> > "not yet thought" adalah
> > hal-hal yang belum pernah dipikirkan umat Islam.
> > > Menurut Arkoun, ketika Alquran tampil dalam bentuk
> > oral dan belum terjelma
> > ke dalam sebuah mushaf resmi, segala hal dipandang
> > dan direspon sebagai
> > thinkable. Namun, keadaan berubah drastis manakala
> > Alquran di-vermak menjadi
> > korpus resmi tertutup atau mushaf resmi Usmani di
> > bawah pengawasan Khalifah
> > Usman serta adanya upaya sistematisasi konsep sunah
> > dan pembakuan ushul fiqh
> > oleh Imam Syafi`i kepada standar tertentu. Pada era
> > itu, ranah-ranah yang
> > tadinya thinkable berubah menjadi unthinkable.
> > >
> > > Konsekuensi logis dari "pergeseran" ini ialah
> > terjadinya proses
> > "penjarakan" antara Alquran dengan realitas.
> > Akibatnya, Alquran menjadi
> > macan ompong yang gagap merespon tantangan
> > modernitas dengan pelbagai
> > persoalan yang ditimbulkannya. Alquran hanya diperas
> > dalam tumpukan
> > literatur tafsir yang cuma bisa menjelaskan dunia,
> > tapi tak mampu
> > mengubahnya. Alquran tidak lebih dari "warisan
> > antik" dari abad VII M yang
> > sesekali dikenang, dilombakan, dilantunkan dan
> > diperingati dalam
> > seremoni-seremoni. Alquran sudah beranjak jauh dari
> > tujuannya semula sebagai
> > "kitab pencerahan" (kitab munir). Dan tragisnya
> > -kata Arkoun lagi-, daerah
> > "yang tak terpikirkan" itu terus saja melebar.
> > >
> > > Mushaf Usmani yang menonjolkan bahasa Quraisy dan
> > bercirikan mono-bacaan
> > (Qira`at Hafish an Ashim) pada gilirannya menyimpan
> > cacat tersendiri, yaitu
> > hilangnya kemungkinan menafsir atau membaca Alquran
> > dari pelbagai optik;
> > projek penafsiran Alquran tidak diperkenankan keluar
> > dari koridor mushaf
> > Usmani. Oleh karenanya, kitab-kitab tafsir yang
> > tersebar di dunia Islam
> > secara massif diproduksi dengan merujuk mushaf
> > Usmani sebagai patokan.
> > Situasi ini semakin pelik manakala Syafi`i membuat
> > rumusan sistem hukum
> > Islam kepada Alquran, sunah, ijmak dan qiyas. Untuk
> > menentukan sebuah makna
> > atau hukum dalam Alquran, seseorang harus melewati
> > prosedur ini secara
> > hierarkis. Ketika Alquran tidak memberikan
> > informasi, sunah menjadi rujukan,
> > berikutnya ijmak, qiyas dan seterusnya.
> > >
> > > Bersandar pada mushaf Usmani dan kaidah
> > konvensional yang dibuat Syafi`i
> > dalam kegiatan penafsiran merupakan prosedur
> > legal-konvensional yang secara
> > hampir sepakat diyakini umat Islam. Kemungkinan
> > pendekatan atau mekanisme
> > lain di luar prosedur legal dipandang sebagai bid`ah
> > dan harus ditolak.
> > >
> > > Di sinilah titik kegelisahan Arkoun, dengan
> > konsepnya tentang "yang tak
> > terpikirkan", ia hendak mencairkan kebekuan prosedur
> > legal-konvensional ini.
> > Dengan konsepnya tersebut, Arkoun hendak melegalkan
> > pendekatan lain dalam
> > pembacaan Alquran seperti antropologi, sosiologi,
> > psikologi, hermeneutika,
> > semiotika dan disiplin keilmuan lainnya yang dulu
> > belum pernah ada atau
> > digunakan di era skolastik Islam. Untuk sekedar
> > turut berpartisipasi
> > mempersempit area unthinkable ini, saya mencoba
> > menawarkan sebuah pendekatan
> > baru yang sangat berbau modern, yaitu membaca
> > Alquran sebagai mitos.
> > >
> > > Sebelum Alquran dikenai sebuah pendekatan,
> > menentukan kedudukan Alquran
> > secara ontologis merupakan suatu hal yang sangat
> > perlu. Apa itu Alquran? Ini
> > adalah pertanyaan ontologis yang sempat diajukan
> > oleh Arkoun dan Abu Zayd
> > sebelum melangkah lebih jauh pada penerapan sebuah
> > metodologi pembacaan
> > Alquran baru yang hendak diusungnya. Bagi saya,
> > Alquran adalah mitos. Apa
> > yang saya maksud dengan "mitos" di sini bukanlah
> > cerita tentang kehidupan
> > dewa-dewi yang abstrak, irasional dan penuh hayal,
> > melainkan mitos dalam
> > arti Barthesian, yakni sebuah tipe wacana atau
> > tuturan. Bagi Barthes, Myth
> > is a social usage of language. (Barthes: 1983).
> > Dalam konsepsi Barthesian,
> > wacana (discourse) adalah tipe penggunaan bahasa
> > yang bisa mengambil bentuk
> > lisan (parole) maupun tulisan (langue). Jadi,
> > Alquran dalam bentuknya yang
> > oral maupun tekstual (mushaf) sama-sama merupakan
> > mitos.
> > >
> > > Mitos adalah sebuah wacana khas yang hendak
> > menyampaikan pesan secara tak
> > langsung. Atau dalam bahasa semiotisnya,
> > menyampaikan makna konotatif sebuah
> > tanda melalui unsur denotatifnya. Apa yang diacu
> > atau signifikan dalam mitos
> > adalah segi konotatifnya. Sedang unsur denotatifnya
> > hanyalah tanda perantara
> > sekunder yang berfungsi sebagai jembatan untuk
> > mengantar kepada makna
> > konotatif. Sebagai mitos, literalisme Alquran (baik
> > dalam bentuk parole atau
> > langue) yang biasa dibaca, dilantunkan dan dijadikan
> > dalil oleh umat Islam
> > pada umumnya, tidak lebih merupakan "pembungkus"
> > semata dari pesan Tuhan
> > yang sesungguhnya. Dus, pesan universal Alquran
> > tidaklah terletak pada makna
> > literalnya, tapi makna yang bersemayam di balik yang
> > literal itu.
> > >
> > > Dalam konteks Alquran sebagai mitos, saya
> > berpendapat bahwa makna
> > denotatif Alquran (baca: ayat muamalah) adalah
> > bersifat lokal-temporal yang
> > cuma diperuntukkan bagi masyarakat di mana Alquran
> > turun.
> === message truncated ===
>
>
> Bacalah artikel tentang Islam di:
> http://www.nizami.org
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>
>





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke