Hidayatullah.com, Sabtu, 26 Pebruari 2005

            "Frans Magnis Menolak Pluralisme Agama"


            Tokoh Katolik Indonesia yang banyak dikenal, Prof. Dr. Frans
Magnis Suseno menolak "Pluralisme Agama". Jika Katolik saja menolak
Pluralisme Agama, apalagi Islam!. Baca CAP, Adian Husaini ke-91

            Pada tanggal 2 Februari 2005 lalu saya ke Jakarta dan menemui
Prof. Dr. Frans Magnis Suseno, seorang tokoh Katolik terkenal di Indonesia
dan Direktur Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Cukup lama
kami berdiskusi tentang berbagai hal seputar masalah agama dan khususnya
masalah Gereja Katolik dan Konsili Vatikan II. Di akhir pertemuan, Frans
Magnis memberi saya sebuah hadiah berupa buku karyanya yang berjudul
"Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk�.

            Di antara yang menarik untuk kita bahas pada catatan kali ini
adalah pembahasan Frans Magnis Suseno tentang pluralisme agama. Secara
tegas, dalam bukunya, Frans Magnis menolak paham tersebut. Bagi saya,
pendapat Frans Magnis itu menarik, sebab selama ini saya menyangka, dia
seorang pendukung pluralisme agama, mengingat ada sejumlah muridnya dari
kalangan orang Muslim yang pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat
Driyarkara dan kini rajin menyebarkan paham tersebut.

            Berikut ini kita kutipkan pendapat Frans Magnis tentang
pluralisme agama. Pluralisme agama, kata Magnis, sebagaimana diperjuangkan
di kalangan Kristen oleh teolog-teolog seperti John Hick, Paul F. Knitter
(Protestan) dan Raimundo Panikkar (Katolik), adalah paham yang menolak
eksklusivisme kebenaran. Bagi mereka, anggapan bahwa hanya agamanya sendiri
yang benar merupakan kesombongan. Agama-agama hendaknya pertama-pertama
memperlihatkan kerendahan hati, tidak menganggap lebih benar daripada yang
lain-lain.

            Teologi yang mendasari anggapan itu adalah, kurang lebih, dan
dengan rincian berbeda, anggapan bahwa agama-agama merupakan ekspresi
religiositas umat manusia. Para pendiri agama, seperti Buddha, Yesus, dan
Muhammad merupakan genius-genius religius, mereka menghayati dimensi
religius secara mendalam. Mereka, mirip dengan orang yang bisa menemukan air
di tanah, berakar dalam sungai keilahian mendalam yang mengalir di bawah
permukaan dan dari padanya segala ungkapan religiositas manusia hidup.
Posisi ini bisa sekaligus berarti melepaskan adanya Allah personal. Jadi,
yang sebenarnya diakui adalah dimensi transenden dan metafisik alam semesta
manusia. Namun, bisa juga dengan mempertahankan paham Allah personal.

            Masih menurut penjelasan Frans Magnis Suseno, pluralisme agama
itu sesuai dengan "semangat zaman�. Ia merupakan warisan filsafat Pencerahan
300 tahun lalu dan pada hakikatnya kembali ke pandangan Kant tentang agama
sebagai lembaga moral, hanya dalam bahasa diperkaya oleh aliran-aliran New
Age yang, berlainan dengan Pencerahan, sangat terbuka terhadap segala macam
dimensi "metafisik�, "kosmis�, "holistik�, "mistik�, dsb. Pluralisme sangat
sesuai dengan anggapan yang sudah sangat meluas dalam masyarakat sekuler
bahwa agama adalah masalah selera, yang termasuk "budaya hati� individual,
mirip misalnya, dengan dimensi estetik. Dan bukan masalah kebenaran.
Mengkliam kebenaran hanya bagi diri sendiri dianggap tidak toleran. Kata
"dogma� menjadi kata negatif. Masih berpegang pada dogma-dogma dianggap
ketinggalan zaman.

            Paham 'Pluralisme Agama', menurut Frans Magnis, jelas-jelas
ditolak oleh Gereja Katolik. Pada tahun 2001, Vatikan menerbitkan penjelasan
"Dominus Jesus." Penjelasan ini, selain menolak paham 'Pluralisme Agama',
juga menegaskan kembali bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantaran
keselamatan Ilahi dan tidak ada orang yang bisa ke Bapa selain melalui
Yesus. Di kalangan Katolik sendiri, "Dominus Jesus" menimbulkan reaksi
keras. Frans Magnis sendiri mendukung "Dominus Jesus" itu, dan menyatakan,
bahwa "Dominus Jesus" itu sudah perlu dan tepat waktu.

            Menurutnya pula, 'Pluralisme Agama' hanya di permukaan saja
kelihatan lebih rendah hati dan toleran dari pada sikap inklusif yang tetap
meyakini imannya. Bukan namanya toleransi apabila untuk mau saling menerima
dituntut agar masing-masing melepaskan apa yang mereka yakini. Ambil saja
sebagai contoh Islam dan kristianitas. Pluralisme mengusulkan agar
masing-masing saling menerima karena masing-masing tidak lebih dari ungkapan
religiositas manusia, dan kalau begitu, tentu saja mengklaim kepenuhan
kebenaran tidak masuk akal. Namun yang nyata-nyata dituntut kaum pluralis
adalah agar Islam melepaskan klaimnya bahwa Allah dalam al-Qur'an memberi
petunjuk definitif, akhir dan benar tentang bagaimana manusia harus hidup
agar ia selamat, dengan sekaligus membatalkan petunjuk-petunjuk sebelumnya.

            Dari kaum Kristiani, kaum pluralis menuntut untuk
mengesampingkan bahwa Yesus itu "Sang Jalan", "Sang Kehidupan" dan "Sang
Kebenaran", menjadi salah satu jalan, salah satu sumber kehidupan dan salah
satu kebenaran, jadi melepaskan keyakinan lama yang mengatakan bahwa hanya
melalui Putera manusia bisa sampai ke Bapa.

            Terhadap paham semacam itu, Frans Magnis menegaskan: "Menurut
saya ini tidak lucu dan tidak serius. Ini sikap menghina kalau pun bermaksud
baik. Toleransi tidak menuntut agar kita semua menjadi sama, bari kita
bersedia saling menerima. Toleransi yang sebenarnya berarti menerima orang
lain, kelompok lain, keberadaan agama lain, dengan baik, mengakui dan
menghormati keberadaan mereka dalam keberlainan mereka! Toleransi justru
bukan asimilasi, melainkan hormat penuh identitas masing-masing yang tidak
sama.�

            Itulah sikap dan pandangan seorang tokoh Katolik terhadap paham
Pluralisme Agama. Jelas, bahwa Vatikan sendiri menolak paham tersebut.
Karena itu, kadang-kadang kita heran, bahwa diantara kaum Muslim sendiri ada
yang membuat kesan seolah-olah Vatikan V melalui Konsili Vatikan II , V
sudah mengubah menjadi pluralis. Padahal tidaklah demikian, sebagaimana
ditegaskan oleh Frans Magnis Suseno.

            Tentulah kaum Muslim yang meyakini kebenaran aqidahnya juga
sangat menolak paham semacam ini. Bagi seorang Muslim, tentu hanya Islam,
sebagai satu-satunya institusi agama yang benar. Artinya, jika orang mau
selamat di dunia dan akhirat, Islam-lah jalannya. Bukan yang lain. Ini tidak
berarti setiap orang yang mengaku atau disebut Muslim pasti selamat, sebab
itu sangat tergantung kepada pribadinya. Bisa jadi, dia murtad atau
membatalkan imannya sendiri. Yang lucu, tentu adalah manusia-manusia yang
tetap mengaku sebagai Muslim tetapi pada saat yang sama juga rajin
menyebarkan paham 'Pluralisme Agama'. Tambah lucunya lagi, orang-orang itu
juga menjadi pengurus organisasi Islam.

            Paham 'pluralisme Agama' atau teologi pluralis itu sebenarnya
adalah paham untuk menghilangkan sifat ekslusif ummat Islam. Artinya dengan
paham ini ummat Islam diharapkan tidak lagi bersikap fanatik, merasa benar
sendiri dan menganggap agama lain salah. Menurut John Hick, tokoh pluralisme
agama, diantara prinsip pluralisme agama menyatakan bahwa agama lain adalah
sama-sama jalan yang benar menuju kebenaran yang sama (Other religions are
equally valid ways to the same Truth).

            Di kalangan Kristen juga muncul keganjilan. Penyebaran paham ini
diantaranya juga dilakukan kalangan gereja melalui sekolah-sekolah teologi
Kristen dan Universitas Kristen. Bahkan ada kelompok-kelompok misionaris
Kristen yang juga rajin menyebarkan paham ini, disamping paham sekularisme.

            Fenomena semacam itu bisa dilihat sebagai salah satu bentuk
perang pemikiran terhadap kaum Muslim, sebab mereka sadar, 'Pluralisme
Agama' memang paham yang membunuh dasar-dasar agama itu sendiri. Karena itu,
sebagai seorang rohaniwan Katolik, wajar jika Frans Magnis Suseno menolak
keras-keras paham tersebut. Jika Katolik saja menolak paham tersebut, maka
adalah aneh dan ajaib jika ada sebagian di kalangan kaum Muslim yang
ikut-ikutan menyebarkan paham ini.

            Sekarang, banyak organisasi Islam yang terjebak atau menjebakkan
diri turut menyebarkan paham ini. Apalagi, ada LSM Asing yang rajin
membiayai program-program penyebaran 'Pluralisme Agama', seperti The The
Asia Foundation (TAF).

            Dalam websitenya, TAF menyebutkan, bahwa karena menyadari akan
pentingnya nilai-nilai inklusif dan pluralis dalam masyarakat Muslim
Indonesia yang mayoritas, maka TAF telah memberikan bantuan kepada berbagai
ormas Islam sejak tahun 1970-an. Dalam konteks masyarakat Islam Indonesia
yang semakin beragam, TAF kini membantu lebih dari 30 kelompok LSM dalam
upaya mereka mempromosikan konsep bahwa nilai-nilai Islam itu dapat menjadi
asas bagi sistim politik demokratis, anti-kekerasan dan toleransi beragama.
Dalam kaitannya dengan pendidikan sipil, HAM, penyatuan antar komunitas,
persamaan gender, dialog antar agama, T AF bekerjasama dengan LSM-LSM yang
ormas-ormas dalam usaha mereka menjadikan Islam sebagai media untuk
demokratisasi di Indonesia.

            Program-programnya termasuk training tokoh-tokoh agama, kajian
tentang isu gender dan hak asasi manusia dalam Islam, pelajaran tentang
pendidikan sipil pada lembaga-lembaga pendidikan Islam, pusat pembelaan
terhadap wanita Muslim dan memperkuat media Islam yang pluralis dan toleran.
(http://www.asiafoundation.org/Locations/indonesia.html)

            Jadi, dengan berselubung pada isu demokrasi, toleransi, dan
sebagainya, paham 'Pluralisme Agama' ini terus disebarkan di kalangan
Muslim. Karena Muslim ada mayoritas di Indonesia, maka dampak besar dari
penyebaran paham ini akan menimpa kaum Muslim. Karena itu, kita sungguh
sedih dan prihatin terhadap orang-orang dari kalangan Muslim yang rajin
menyebarkan paham ini. Apa pun motifnya. Paham 'Pluralisme Agama' inilah
yang dijadikan sebagai salah satu dasar pembuatan Counter Legal Draft
Kompilasi Hukum Islam, yang salah satu isinya adalah membolehkan wanita
Muslimah menikah dengan laki-laki non-Muslim. Tentu saja, mereka berpikir,
bahwa agama apa saja adalah sama dan satu agama tidak boleh mengklaim
sebagai yang "benar sendiri�. Paham ini juga berdampak pada munculnya
pendapat bahwa tidak boleh kaum Muslim mengklaim hanya al-Quran saja
satu-satunya 'Kitab Suci' saat ini. Seorang tokoh penyebar paham ini pernah
menulis di media massa, bahwa "all scriptures are miracles�(Semua Kitab
agama-agama adalah mukjizat).

            Sebagai Muslim kita memiliki keyakinan yang berbeda dengan Frans
Magnis Suseno. Kita bisa menunjukkan banyak ayat al-Quran yang memberikan
kritik keras terhadap keyakinan kaum Kristen terhadap Yesus. Sejak awal
mula, Rasulullah saw sudah menunjukkan sikap kritis semacam itu. Namun, pada
saat yang sama, Islam juga mengakui eksistensi kaum Kristen, dan tidak
diperbolehkan menganiaya mereka karena perbedaan agama. Mereka, bahkan
disebut kafir 'Ahlul Kitab', dan begitu banyak ajaran Islam yang berkaitan
dengan mereka.

            Disamping perbedaan yang mendasar, tentu ada beberapa persamaan
sikap antara Muslim dengan Katolik, seperti dalam hal 'Pluralisme Agama',
sikap terhadap homoseksual, dan sebagainya. Namun, adanya berbagai persamaan
antar agama-agama, tidak perlu menjadikan semua agama itu menjadi satu atau
membuat agama baru yang bernama 'Pluralisme Agama�. Dan sebagai Muslim yang
meyakini kebenaran eksklusif aqidah Islam, kita bisa menjadikan pendapat
Frans Magnis tentang 'Pluralisme Agama' ini sebagai hikmah: "Jika Katolik
saja menolak Pluralisme Agama, apalagi Islam." Wallahu a'lam. (KL, 24
Februari 2005).








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke