--- In [email protected], "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > hello mbah, mumpung ada waktu neh. Ngobrol lagi ah. LD: Secara falsafah, bukannya malah mudah dicerna? karena falsafah itu engga perlu pembuktian empiris?
DH: Lho terbalik mBak. Falsafah selalu meminta pembuktian, kalau tidak empiris yang deduktif. Misalnya: kalau Tuhan itu menciptakan kita, maka kita tak menciptakanNya. Kalau Dia yang menentukan indra kita, maka indra kita takkam mampu menangkapNya. Matahari menyinari hingga kita dapat melihat, namun sulit bagi kita untuk menatap matahari yang menerangi kita. LD: Kita tak bicara soal indra. Tapi soal akal/nalar. Indra jangkauannya sangat terbatas, tapi tidak dengan akal. Indra memang tak akan mampu menangkapNya, tapi nalar akan mampu. Apalagi hanya soal konsep. ----------------------- LD: Madonna, Penelope Cruz atau Jeniffer Lopez juga termasuk image Tuhan bukan ? Jadi mereka memang ingin dikenal. Apa mbah tidak ingin dikenal? DH: Betul. Seorang makhluk memang mungkin ingin dikenal sesama makhluk. Tetapi sang Pencipta tak perlu dikenal siapa siapa. Matahari itu tak perlu berkata "aku matahari", begfiti matahari muncul, kita tahu inilah matahari. Sang pencipta dikenal karena Dia adalah sang Ada. LD: tak ingin=tak perlu? Bagaimuna mungkin manusia langsung tahu tanpa proses belajar? Begitu matahari muncul, kita tahu inilah matahari???? "Sang pencipta dikenal karena Dia adalah Sang Ada" adalah kalimat yang benar tapi tidak menjawab pertanyaan untuk apa Dia mencipta?? -------------------------- LD: Bukankah dalam literatur kristen dikenal "manusia adalah image Tuhan" (kalau gak salah ada di Mazmur ya mbah bhw manusia itu diciptakan Tuhan hampir sama seperti Tuhan?). Saya pikir ini sesuai dengan literatur Islam yang mengatakan "manusia adalah khalifatullah di muka bumi". Tuhan telah 'meminjamkan' sifat2Nya kepada manusia agar manusia bisa mengenalNya. Bagaimana kita bisa mengerti Tuhan itu Maha Pengasih/Melihat/Mengetahui/Mendengar kalau kita gak tau bagaimana mengasihi/melihat/mengetahui/mendengar? DH: ini semua adalah kata kata manusia, untuik saling mencerahkan. Secara logis, sang pencipta tak perlu meminjamkan apa apa kepada siapa siapa. Ini adalah konsekwensi dari kemahakuasaanNya. Kata kata " pengasih", "mendengar", "mengetahui" adalah kata kerja manusiawi. Kata kata ini tak dapat diproyeksikan pada sang Pencipta. Untuk mendengar, manusia membutuhkan indra pendengar, kuping dkk, sang pencipta tak perlu mendengar, karena tak ada yang terjadi diluar jangkauanNya. "Tahu" dan "tak tahu" adalah buah indra manusia. LD: Jadi, menurut mbah Mazmur itu perkataan manusia? Saya memberi tanda kutip pada kata meminjam, jadi bisa berarti "mentransfer", "mengajarkan". Konsekwensi dari KemahakuasaanNya, Dia menjadi sewenang-wenang? Saya kira saya tidak mempermasalahkan soal kata2 kerja tsb, tentu saja itu kata kerja manusiawi bukan kata2 hewani, malaikati, atau ilahi (krn kita adalah manusia). Tapi makna dari arti kata-kata tersebut yang berarti kata sifat. Mengapa tidak dapat diproyeksikan pada sang Pencipta? Tentu saja "Tahu" adalah buah indra manusia? Tapi Tuhanpun Maha Mengetahui. Manusia ada yang pengasih namun tak ada Yang Maha Pengasih. Manusia bisa mendengar tapi tak bisa Maha Mendengar� Kalau manusia membutuhkan sarana untuk mendengar, melihat, mengetahui..karena manusia adalah mahluk. Disinilah batas yang jelas antara mahluk dan Sang Khalik. Sedang dalam konsep ketuhanan Yesus, tak ada batas yang jelas, Yesus sebagai mahluk atau sebagai Sang Khalik? ------------------------ LD: Dunia memang diciptakan jauh sebelum manusia diciptakan, apakah dengan alasan tsb lalu manusia tidak bisa/boleh memahami mengapa Tuhan menciptakan dunia dan isinya? DH: Bukan tak boleh, tak bisa, namun ini diluar kemungkinan jangkauan indra manusia. jangankan jauh jauh, dapatrkah anda membayangkan, memahami struktur tatasurya, dan alam antar tatasurya, dengan jarak antara satu obyek kelain obyek jutaan tahun cahaya? Mungkinkah seekor kutu menebak, bagaimana bentuk sang gajah? Lalat saja tak mungkin menangkap bentuk kita secara keseluruhan... LD: He..he..diluar kemungkinan kan sama saja tidak mungkin/tidak bisa, mbah. Mengapa tidak bisa kalau sekedar membayangkan? Tentu saja saya sering membayangkan dan berusaha memahami tata surya. Tentunya bayangan dan pemahaman saya akan berebeda dengan ahli-ahli tata surya itu sendiri. Kalau soal kutu dan lalat, ini diluar konteks karena kita tak pernah menjadi kutu dan lalat atau kutu dan lalat tidak lah dianugerahi akal/nalar. > > ------------------------------------------------------- LD: apakah beda kehendak & keinginan (hendak=ingin-mau)? KehendakNya tidaklah sewenang-wenang or semena-mena, tentu mengikuti sunatullah dan takdirullah yang telah Dia gariskan di dunia ini. DH: Nona, yang Mencipta tak mengikuti apa apa. yang diciptakan mengikuti hukum yang menciptakan. kata sunatullah itupun buah pikiran manusia. Hasil dari sebuah bahasa manusia. Kata "se-wenang-wenang" adalah khas istilah manusiawi. Yang se- wenang- wenang, bagi anda, mungkin sekali wajar bagi yang lain. Istilah ini tidak exist bagi yang menciptakan alam ini. Mengapa? karena kemahakuasaanNya, apapun mungkin dia lakukan, juga yang kita anggap se-wenang wenang. LD: Mbah, kita ini manusia, jadi memang harus pake bahasa & istilah manusiawi. Buat kita adalah jelas tidak mungkin Allah itu sewenang- wenang, namun memaknai KemahakuasaanNya, KehendakNya inilah yang berbeda. Kalau dalam Islam ada istilah untuk ini semua "Asmaul Husna", Nama2/Sifat2Nya yang indah. Jelas ada disebut apa-apa Sifat Allah itu. Yang saya tak tahu bagaimana teologi trinitas (Bapa, Anak, Roh Kudus) ini menganalogikan Sifat2 Allah itu sendiri, atau mereka tidak berhubungan sama sekali? ---------------------------------------- LD: Apa yang menyebabkan nalar seseorang bisa memahami kehendakNya dan ada nalar yang tidak bisa? Tentunya kesucian akal dan hatilah, kuncinya. DH: Tak mungkin nalar dapat menembus alam bathin. Jangankan sedemikian jauh, banyak sekali analisa mathematica, yang anda tak dapat tembus dengan nalar secara mudah.. dapatkah anda tembus dengan imaginasi anda, ruang dengan 100 dimensi? LD: Mengapa tak mungkin? Ada orang yang bisa menembus alam bathin (para sufi). Kalau analisa matematika tak bisa saya tembus karena saya tidak mengkosnentrasikan diri kepada matematika. Secara mudah or secara susah..itu menunjukkan bahwa nalar akan mencapainya kalau kita mau berusaha kan? Mengenai ruang dengan 100 dimensi, karena saya tak paham apa itu ruang 100 dimensi tentu saja sulit untuk menggunakan akal/nalar/imajinasi saya dong. Tapi bagi para ahli yang telah mengungkapkan ide ruang 100 dimensi ini, tentu mereka dapat mengimajinasikannya karena terbukti mereka telah mengungkapkannya menjadi suatu ide. ------------------------------------------------------- LD: Ada manusia yang mengambil kesimpulan tidak berdasarkan pemikiran. Bila nalarnya tak mampu memahami suatu konsep, maka disimpulkannya akal lah yang berbatas. Seolah belajar agama itu tak perlu akal? Kalau belajar agama tak perlu akal, maka memang akan ada kesimpulan "semua agama benar" atau "semua agama tidak benar". Kalau begini orang menyembah patung, kuburan, batu, dllpun harus dibenarkan karena agama tidak menggunakan akal. DH: Sebagian dari ajaran agama dapat dicernakan dengan akal. Tetapi misalnya muzizat muzizat atau cerita cerita ghaib, bagaimana anda akan tembus dengan akal? Bahwa Yesus adalah Allah, dapatkah anda tembus dengan akal? Dapatkah anda hitung secara mathematica route dan kecepatan serta tekanan udara ketika nabi Muhammad ber-mikraj? Kalau agama dapat ditembus akal, maka takkan ada perselisihan diantara manusia. Tak ada satu bangsapun sejak ribuan tahun berselisih mengenai hukum mathematica. Dua tiga penyelidik mathematica ynag berkerja ditempat terpisdah, diwaktu terpisah akan TIBA pada kesimpulan yang exactly sama. Inilah ilmiah. Inilah akal. mMnyembah patung dll, adalah ritual yang ada pada kebudayaan nenek moyang kita. Agama adalah kumpulan peraturan yang dipercaya datang dari Tuhan (yang memeluknya percaya, yang memeluk agama lain tak percaya). ------------------------------ LD: Soal Ghaib/Mukjizat, akan dibahas terpisah. Akal saya bisa menerima hal yang ghaib dan mukjizat. Bahwa Yesus adalah Allah bukanlah mukjizat dan bukan hal Ghaib, meski Allah adalah Ghaib�tapi manusia Yesus adalah fana. Allah telah memberi mukjizat kepada nabi2 pilihannya (tapi bukan utk menjadi Tuhan). Kalau manusia sekarang belum dapat menghitung secara matematis route dan kecepatan serta tekanan udara tsb, itu adalah keterbatasan alat dan ilmu pengetahuan. Tapi ide tersebut dapat diterima oleh akal. Kalau kini orang masih harus menggunakan tabung gas utk ke-langit, akan ada usaha nanti manusia ke langit tanpa perlu tabung gas. Ide ini sama gilannya kalau ada orang mengatakan bisa pergi dari Arab ke Roma dalam satu hari dengan pesawat di jaman nabi-nabi dulu kan? --------------------------------------- LD: Apakah ini karena pengaruh sekularisasi thdp keyakinan dan akal pada abad 17 di barat? Sehingga kita takut menggunakan akal untuk memahami keyakinan kita? Saya tidak berharap sekularisasi macam ini telah mempengaruhi umat Islam. Bagaimana mungkin kita yakin tanpa faham? Akal adalah sarana untuk yakin. DH: Sekularisasi hanya memisahkan antara aturan hidup se-hari hari yang profan dan tatakehidupan yang sakral. Juga warga negara negara sekular, seperti Uni Eropa, menghhayati agama seperti ribuan tahun yang lalu. Tak ada yang takut menggunakan akal, tetapi, akal itu hanya terbatas dapat dipakai. Bagaimana anda mau menggunakan akal, untuk memahami kehadiran Adam dan Hawa, yang pukk, tiba tiba ada? Tanpa tahun tahun berapa, hidup dimana, dan apa yang dialaminya selama hidup (selain ketika makan buah terlarang, yang tak ada yang tahu apa itu?). LD: Menurut saya sih bukan akalnya yang terbatas, tapi karena umur manusia yang terbatas dan kemauan manusia utk memaksimalkan akal yang terbatas. Akal sebagai eneri otak itu sangat besar energinya. Kehadiran Adam dan Hawa yang tiba-tiba saja adalah mudah dipahami dengan memahami KehendakNya dan KuasaNya, tapi sekali lagi Dia tidak akan pernah menjadikan diriNya sebagai objek karena Dia Maha Suci. Sedang tahun berapa, hidup dimana, itu pun bisa dibayangkan dan dipahami dimana para ahli geologist sedang/telah menelaahnya. DH:Bagaimana anda menentukan taman firdaus dimana Adam tiba tiba muncul? Di Kashmir? di Mesopotamia? di lembah bengawan Solo? LD: Inipun bukan suatu hal yang mustahil dibayangkan kan? Buktinya mbah bisa bertanya? DH: Anda tak perlu takut menggunakan akal, pakailah, syukur syukur kalau anda dapat memahaminya 100% dengan akal, maka saya akan banyak bertanya. Juga teman teman di milis ini. LD; Mbah, tak akan ada yang 100% di dunia ini. Tapi kita wajib mengoptimalkan akal dalam mencapai keyakinan. Jangan menyalahkan akal, bila kita tak memahami sesuatu. Sebaiknya, nasihat ini untuk mbah sendiri dalam mengimani konsep Trinitas tsb. DH: Tidakkah anda yakin tanpa paham? Bagaimana dengan binatang bouraq? bagaimana anda akan menerangkannya? Berikanlah data data biologis. Atau malaikat Jibrail. Anda faham? tetapi anda imani kan? Secara historis tak ada data data mengenai nabi Ibrahim (padahal mengenai para Firaun ada data data yang sangat detail, juga raja raja dinasti Shailendra di Nusantara). LD: Saya yakin akan perjalanan Rasulullah SAW ke langit setelah saya memahami bahwa Rasulullah SAW mengendarai sesuatu. Karena pemahaman Saya adalah menuju ke suatu tempat itu harus pakai alat transportasi. Kalau data-data biologis tentang alat transportasi tsb belum didapat kini, itu karena belum ditemukannya data2 tsb, bukan akal yang tak dapat memahaminya. Saya memahami ini adalah KehendakNya (menjalankan Muhammad SAW di malam hari), tapi bukan dengan cara yang sewenang-wenang: sim salabim langsung ke langit! Bukan tak mungkin bagi Allah kalau Dia mau langsung sim sala bim, tapi ada yang ingin Dia ajarkan kepada manusia tentang perjalanan tsb. Kalau saya hidup di jaman Rasulullah SAW (yang masih gaptek), mungkin saya akan termasuk orang yang jahiliyah juga dan tak akan percaya bahwa manusia bisa ke langit hanya dalam jangkauan satu malam. Tapi gini hari, setelah ada pesawat, apolo, UFO, dan entah apa lagi yg bisa diciptakan manusia di masa yang akan datang�, hal ini menjadi sangat mungkin. Akal kita bisa berfikir kearah situ kan mesti kita belum tau kayak apa nantinya ya? Manusia saja bisa menciptakan alat seperti itu, apalagi Sang Khalik? Saya paham dan menjadi yakin karenanya. Percaya deh mbah, saya meyakini sesuatu itu setelah saya paham. Kalo gak, saya gak mau menjadikannya suatu keyakinan dulu. wassalam, Lina ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

