http://www.eramuslim.com/br/dn/54/18425,1,v.html
Ratu Denmark: Tidak Ada Toleransi dengan Islam Publikasi: 18/04/2005 14:26 WIB eramuslim - Ratu Margrethe II dari Denmark menuding Islam sebagai ancaman bagi dunia global dan mendesak pemerintahnya untuk tidak bersikap toleran terhadap kelompok minoritas Islam di negara Eropa bagian utara itu. Dalam pernyataannya Ratu Margrethe menyatakan, "Kita harus menunjukkan bahwa kita menentang keberadaan Islam dan kita harus, setiap saat, harus menghadapi resiko sebutan yang tidak mengenakkan atas apa yang kita lakukan karena kita menunjukkan ketidaktoleransian kita," ujar sang Ratu. Pada penulis buku biographinya Annelise Bistrup, Ratu Denmark itu mengatakan bahwa Islam merupakan tantangan terbesar bagi seluruh dunia dan membutuhkan tindakan yang serius untuk menghadapinya. "Kita ditantang oleh Islam dalam beberapa tahun ini, baik secara global maupun lokal. Islam merupakan tantangan yang harus kita hadapi dengan serius. Kita sudah membiarkan isu ini mengemuka sejak sekian lama karena kita bersikap toleran dan malas," paparnya. Ratu yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-65 itu mengatakan, Denmark seharusnya mampu menghadapi tantangan itu jika mereka sadar apa yang sedang dihadapinya. Ia menyatakan sangat takut dengan apa yang disebutnya sebagai Muslim 'ekstrimis', orang-orang Islam yang mengabdikan diri mereka untuk agama. "Ada sesuatu yang menakutkan soal totalitas sebagai bagian dari Islam," kata Ratu. Untuk itu, pemerintah kerajaan Denmark akan menerapkan rencana yang sudah dibuat sejak setahun lalu untuk membatasi aktifitas para pemuka Islam yang dianggap 'radikal'. Kebijakan ini tentu saja ditujukan pada para imam atau para da'i. Pemerintah mewajibkan para pemuka agama Islam untuk memiliki standar hidup yang berkecukupan, mampu berbahasa Denmark dan menghormati nilai-nilai yang berlaku di masyarakat barat. Jika para pemuka agama Islam tidak bisa memenuhi persyaratan itu, maka mereka akan dikatagorikan sebagai 'orang yang tidak disukai' atau persona non grata. Kerajaan Denmark juga mewajibkan para imigran untuk mempelajari bahasa Denmark dengan alasan agar mudah membaur dengan masyarakat setempat. Menurut Ratu Margrethe, peraturan yang diterapkan negaranya tentang kewajiban mempelajari bahasa Denmark itu cukup bijaksana. "Kita tidak akan puas hanya hidup berdampingan satu dengan yang lain. Kita seharusnya bisa hidup bersama," katanya. Jumlah imigran di Denmark, mencapai 8 persen dari 5,4 juta total populasi negara itu. Para imigran tersebut kebanyakan berasal dari negara-negara Uni Eropa lainnya atau Amerika Utara. Mereka jarang yang mampu berbahasa Denmark, akibatnya jumlah pengangguran di kalangan imigran cukup tinggi demikian pula dengan angka kriminalitas kebanyakan pelakunya adalah warga pendatang. Dalam 3 tahun belakangan ini, pemerintah kerajaan Denmark membatasi jumlah imigran. Sebuah partai di Denmark yang anti imigran mengajukan usulan agar dibuat undang-undang memperketat masuknya warga negara asing, termasuk mereka yang meminta suaka. Pernyataan dan kebijakan Ratu dari negara yang perannya kurang menonjol di Eropa ini, menimbulkan kekhawatiran warga minm di sana. Di Denmarka ada sekitar 170 ribu warga Muslim. Mereka khawatir pemerintah kerajaan Denmark akan memberlakukan peraturan yang lebih ketat lagi di masa datang, meskipun agama Islam di Denmark menjadi agama kedua terbesar setelah agama Kristen Protestan Lutheran.(ln/iol) ---------- http://www.eramuslim.com/br/dn/54/18414,1,v.html Diduga Isu Penyanderaan dan Pengungsian Besar-Besaran Syiah untuk Sudutkan Sunni Publikasi: 18/04/2005 11:20 WIB eramuslim - Sejak Jum'at (15/4), sejumlah media massa Barat ramai-ramai memberitakan desas-desus gelombang pengungsian Syiah Irak dari kota Al-Madain, selatan Baghdad, menyusul isu penyanderaan sekelompok bersenjata terhadap beberapa pengikut Syiah serta ancaman pembunuhan jika Syiah tak meninggalkan kota. Sementara ulama Sunni menilai situasi itu tak lain merupakan upaya baru untuk memperuncing dan membidik Sunni di Irak. Pimpinan Al-Qaidah di Irak Abu Mushab Az-Zarqawi balik menuduh bahwa pihak berwenang Irak dan AS bertanggung jawab atas berbagai isu penyanderaan itu. menurut Az-Zarqawi, yang akan menjadi korban dalam isu ini adalah Sunni, bukan Syiah. Seperti diketahui, harian The New York Times mengatakan, tiga batalyon milter Irak telah mengepung Al-Madain menyusul isu-isu yang tersiar di sejumlah media massa. Tapi setelah militer Irak masuk ke dalam kota ternyata isu-isu itu tak benar, pasalnya kota Al-Madain kondisinya tenang dan orang-orang sibuk dengan pekerjaannya seperti biasa. Alhasil militer Irak menampik pemberitaan tak benar itu dan menyebutnya sebagai hal yang bermotif politik. Sebelumnya pada malam Jum'at lalu sejumlah pejabat di Departemen Dalam Negeri Irak mengatakan bahwa elemen-elemen kepolisian Al-Madain meyebutkan penyekapan yang dilakukan sebuah kelompok Sunni terhadap 3 pengikut Syiah dan mengancam akan membunuh mereka jika Syiah tak segera meninggalkan kota. Malah pada Sabtu (16/4), televisi pemerintah Irak melaporkan penyanderaan 150 orang Syiah. Tak lama setelah itu berbagai media massa Barat rama-ramai memberitakan isu itu, yaitu pengungsian besar-besaran warga Syiah dari Al-Madain. Pada Ahad (17/4) pagi, Menteri Keamanan Nasional Qasim Daud meminta pendapat parlemen Irak terkait langkah-langkah yang dibuat untuk pengepungan kota dan mengendalikan situasi di sana. Sejumlah pejabat Syiah sendiri saling mengeluarkan tuduhan terkait siapakah yang bertanggung jawab atas kota Al-Madain tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu kebenaran isu itu. Akhirnya Kolonel di militer Irak Mula Abud menegaskan, tak terjadi penyanderaan apapun dan cerita itu terlalu dibesar-besarkan demi kepentingan politik. Hal senada juga diungkapkan Daud. Ia menampik berita penyenderaan itu dan mengatakan bahwa militer bersama Irak-AS telah menyerang tiga lokasi yang dipergunakan kelompok bersenjata tanpa sedikit pun menemukan bekas penyanderaan itu. Sementara Sekjen Partai Islam Irak Thariq Al-Hasyimi, seperti dikutip Aljazeera, menegaskan, krisis itu dibesar-besarkan meski di sana terdapat ketegangan. Al-Hasyimi mengkhawatirkan terulangnya apa yang telah terjadi di Fallujah dan minta warga di sana agar tak menghambat militer Irak untuk meyakinkan mereka ada atau tidaknya sandera itu.(lys/im/aljazr) ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today! http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

