http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=berita%7C-354%7CX Selasa, 19 April 2005 Kekerasan Terhadap Perempuan dalam Komik Kurang Diperhatikan Jurnalis Kontributor: Latifah Jurnalperempuan.com-Yogyakarta. Meskipun pemerintah kota di Jepang melakukan sensor yang rumit terhadap masalah seksual dalam komik, tetapi tidak melakukan sensor terhadap masalah kekerasan. Padahal, di komik gambar-gambar kekerasan masih sangat banyak dan sangat disukai pembaca. Misal, tokoh perempuan diberi obat lalu diperkosa. Hal ini diungkapkan oleh Sakai Eri, penulis komik Jepang yang pernah terlibat dalam pembuatan komik Tokyo Love Story dan Asunaro Hakusho, dalam workshop �Tubuh Ini Milik Siapa� pada Senin (18/5) di Lembaga Penelitian Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Workshop ini diselenggarakan dalam rangka kunjungan tiga seniman Jepang yang karya-karyanya banyak bersentuhan dengan pengalaman-pengalaman seksual pribadi perempuan. Selain Sakai Eri, hadir pula sebagai pembicara Kitahara Minori, pemilik toko alat-alat seks �Love Piece Club� dan penulis esai, serta Takahasi Fumikho, seniman performance.
Sakai Eri juga mengemukakan, sensor pemerintah kota terutama dilakukan pada komik-komik untuk anak perempuan. �Mungkin bapak-bapak di kantor itu tidak setuju anak perempuan membaca hal-hal seksual,� ujar Sakai Eri. Seperti yang dijelaskan Sakai Eri, di Jepang terdapat pembedaan jenis komik berdasarkan target pembaca: komik untuk anak-anak TK dan SD, untuk anak laki-laki usia SD-SMP, untuk anak perempuan usia SD-SMP, untuk anak laki-laki dewasa usia 30 tahun ke atas, untuk perempuan muda usia 10-20 tahun, untuk perempuan dewasa (untuk ibu rumah tangga/heterokseksual yang ceritanya tentang pernikahan dan masalah-masalah dengan tetangga), serta adult komik (dilarang sebelum usia 18 tahun). Adult komik, yang banyak gambar seksualnya, kebanyakan ceritanya tentang cinta heteroseksual dan homoseksual. Saya konsentrasi menulis dan menggambar manga dengan target pembaca laki-laki,� ujar Sakai Eri. Selain karena pangsa pasarnya lebih luas, sejak kecil Sakai Eri memang lebih suka membaca komik untuk laki-laki karena mengandung beragam cerita selain cerita cinta. Namun, ia merasa tidak sepenuhnya bisa menumpahkan pikirannya dalam menulis komik untuk laki-laki. �Karena pembaca laki-laki keras kepala,� katanya. Akhirnya, ia pun menggambar sesuai keinginan pembaca laki-laki, seperti membuat gambar perempuan cantik lebih besar daripada gambar lain. Namun demikian, sesuai dengan pikirannya, Sakai Eri tetap menyampaikan pesan kepada laki-laki pembaca komiknya. �Karena masyarakat masih patriarki, meski tidak bisa mengeluarkan pikiran 100%, saya masih bisa mengeluarkan pikiran.� Salah satu pesan yang disampaikan dalam ceritanya, yaitu Bloody Orange Girl, sebenarnya banyak perempuan yang sakit hati karena ucapan laki-laki kepadanya, seperti ucapan �perempuan diam saja!� dan �keluar dari ruangan ini!� Selain itu, Sakai Eri juga tidak menggambarkan tokoh-tokoh perempuan dalam komiknya berkarakter lemah, seperti yang umumnya terdapat dalam komik untuk anak perempuan. Biasanya di komik untuk anak perempuan digambarkan pula tokoh perempuan yang kuat dan pintar, tetapi kemudian dia membutuhkan laki-laki yang lebih kuat dan pintar. Sakai Eri menunjukkan salah satu gambar perempuan menangis, �Ekspresi menangis yang berlebihan, sangat keperempuanan, tetapi pembaca laki-laki sangat suka terhadap gambar seperti itu.� Walaupun dalam komik untuk perempuan tokohnya kebanyakan perempuan, ceritanya tetap tentang perepmpaun yang dilindungi laki-laki. �Meski di Sailor Moon perempuan bisa bertanding, tetapi akhirnya tetap menjadi ratu,� ceritanya. Editor komik yang kebanyakan laki-laki juga berperan membentuk stereotip perempuan. �Ada perbedaan yang sangat besar dalam cara laki-laki dan perempuan menggambarkan seksualitas perempuan,� ujar Sakai Eri, �Meski penulisnya perempuan, karena editornya kebanyakan laki-laki, jadi banyak pikiran laki-laki yang masuk.� Oleh karena itu, Sakai Eri pernah mengalami penolakan atas karakter-karakter perempuan dalam komiknya. �Editor mengatakan tokoh perempuan itu harus lebih manja dan lain-lain. Saya mulai merasa aneh kenapa tokoh perempuan saya tidak diterima.� Di samping itu, banyak juga tekanan kepada penulis perempuan untuk mengubah namanya menjadi nama laki-laki, misal penulis Dragon Ball. �Karena editor sendiri tidak mau berpikir perempuan bisa membuat cerita seperti itu,� ujar Sakai Eri. Karena itu, ia pun berharap penulis perepmpuan bisa memakai namanya sendiri dan lebih aktif lagi, �Kalau penulis perepuan lebih aktif, bisa memasukkan pikiran-pikiran dan harapan-harapan perempuan lebih banyak lagi.� * ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

