Mba Lina...,
referred to my previous email..wanita2 korban eksploitasi either they re
willing or they re has been force to do it.., adalah wanita2 yang merupakan
korban dari paradigma/budaya pemikiran pria abt women's body..., many women
with economical back ground sold them out self bcs they know they re still
believe or fooled by this kinda system...
the world's system is men is in the center of universe..or the ruler,
controller, the owner.., women is only substitute being..
they only look to the option that to sell their body is the only way to
stay alive.., but it's very wrong mindset of women..
appropriate or unappropriate is based on circumstances...we should be wise
and smart enough to dress our self..that's i think an obligation...
"Lina Dahlan"
<[EMAIL PROTECTED] To:
[email protected]
.com> cc:
Sent by: Subject: [ppiindia] Re: Suara
Perempuan
[EMAIL PROTECTED]
ups.com
04/19/2005 02:34
PM
Please respond to
ppiindia
Trus gimana mbak kalau wanita-wanita itu merelakan dirinya sendiri
untuk diekspolitasi karena kebutuhan ekonomis or karena emang seneng
dianggap seksi or molek or karena merasa ini free choice dengan
menjadi iklan2 seksi? Apakah appropriate or unappropriate?
Sebaiknya kita bicara sebagai diri seorang wanita yang mempunyai
beban moral dipunggung kita sebagai mahluk pribadi. Maksudnya tak
menyinggung soal melanggar dan tidak melanggar hukum (negara).
Anggap saja hukum (negara) tak ada.
Betul merasa dan menjadi seksi adalah hak wanita (apakah pria punya
hak ini?), lalu apakah kita pakai hak kita seenak-enaknya ? Disitu
ada hak, pasti ada kewajiban. Hak kita menjadi seksi, kewajiban kita
adalah menunjukkan keseksian kita kepada appropriate person...:-))
wassalam,
--- In [email protected], Carla Annamarie
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> actually...wearing sexy and gorgeous outfit is a free choice...but
perhaps
> depends on the time n occasions whether they re appropriate or
> unappropriate for wearing those kinda clothes..., i think if at
clubs, cafe
> or dinner party we saw a women wearing a sexy outfit..it's very
eyecatching
> n breathtaking..for guys especially...:))..
> there's nothing wrong or against the law to wear a sexy outfit..i
think to
> feels sexy or to be sexy is women's rights...and manytimes men
brought up
> this thing as an argument or as an excuse to abuse women..such a
> hipocrite..
>
>
>
>
> "Samsul
Bachri"
> <[EMAIL PROTECTED] To:
<[email protected]>
> d>
cc:
> Sent by: Subject: Re:
[ppiindia] Suara Perempuan
>
[EMAIL PROTECTED]
>
ups.com
>
>
> 04/19/2005
01:25
>
PM
> Please respond
to
>
ppiindia
>
>
>
>
>
>
>
> anehnya lagi.....meski mengaku banyak dieksploitasi dan merasa
dilecehkan
> masih saja banyak wanita yang memperebutkan posisi untuk
dilecehkan. masih
> saja memakai baju yang super ketat nan seksi untuk memperlihatkan
> sensualitasnya yang ujung2nya akan melecehkan dirinya
> sendiri.........paradoks ga sih.........?
>
> ----- Original Message -----
> From: "Eko Bambang Subiyantoro" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>; <[email protected]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Monday, April 18, 2005 10:46 PM
> Subject: [ppiindia] Suara Perempuan
>
>
> >
> > http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=artikel%7C-35%7CX
> > Jumat, 15 April 2005
> > "Suara Perempuan"
> >
> >
> > Oleh Cicilia Maharani
> >
> >
> > Akhir-akhir ini saya merasa dekat sekali dengan suara perempuan.
Begini
> awalnya. Pada suatu pagi saya ingin menabung maka pergilah saya ke
sebuah
> bank swasta. Sampai disana, saya disambut oleh mesin tempat
mengambil nomor
> antrian. Sayapun duduk menunggu antrian dengan tertib sambil
menyibukkan
> diri dengan membaca dan sesekali menonton televisi yang dipampang
di salah
> satu sudut.
> >
> > Saya ?terbangun? ketika ada mesin bersuara perempuan menyebutkan
nomor
> antrian saya, ? Nomor antrian 5, silahkan ke counter 6 .? Sayapun
> melangkahkan kaki menuju counter tersebut dan menyelesaikan urusan.
> >
> > Setelah itu saya pergi ke kantor telepon untuk membayar tagihan
bulanan.
> Sama prosedur antriannya, saya sedang membaca buku ketika saya
kembali
> ?dibangunkan? oleh mesin bersuara perempuan yang membawa kaki saya
ke
> counter yang dimaksud.
> >
> > Setelah bayaran selesai, saya teringat bahwa saya harus menelpon
kakak
> saya, Edo, untuk meminjam camera digital-nya. Saya tekan nomor hp
Edo :
> 08121 134 sekian sekian. Bukan suara kakak laki-laki saya yang
menjawab,
> melainkan suara perempuan lagi, kali ini bernama Veronica. Baru
juga pukul
> 10.00 pagi dan saya sudah disapa ramah oleh suara ?mesin berjenis
kelamin
> perempuan? sebanyak tiga kali.
> >
> > Lalu saya pergi ngantor. Sampai di kantor, saya harus menelpon
banyak
> rekan untuk datang ke acara saya. Sayapun sibuk mencari nomor
telepon
> rekan-rekan saya itu. Pertama-tama saya ingin menelpon kolega yang
bekerja
> di majalah ternama. Begitu tersambung, saya disambut sekali lagi
oleh mesin
> otomatis bersuara perempuan, ?Terima kasih Anda telah menghubungi
majalah
> A,
> untuk bagian redaksi tekan 1, untuk bagian iklan tekan 2, untuk
bagian
> promosi tekan 3, seterusnya dan seterusnya??. Hmmm, ini baru satu
kantor,
> bagaimana dengan kantor-kantor yang lain?. Ada berapa ribu kantor?
Ada
> berapa ?mesin berjenis kelamin perempuan? ? Dan sayapun mencoba
menikmati
> suara-suara perempuan yang terus menerus tak terbendung masuk ke
telinga
> saya.
> >
> > Setelah seharian berkutat dengan telepon dan bekerja di depan
komputer,
> saya ingin bersantai-santai dulu. Saya ingin melarikan diri dari
suara
> perempuan yang sepanjang hari ini memenuhi kepala. Cukup, sampai
disini
> dulu
> kedekatan saya dengan suara perempuan. Refreshing ah. Saya ingin
keluar
> dari
> realitas sebentar dengan menonton film di bioskop.
> >
> > Setelah membeli tiket, saya memilih camikan yang asyik. Pop
corn, coklat
> atau tahu isi ya enaknya? Atau hot dog? Sepertinya lemak gurih
didalamnya
> menggoda sekali, yummy. Saya sedang asyik melahap hot dog ketika
ada suara
> pengumuman, ?Pintu teater satu telah dibuka?. Saya tersedak! Suara
> perempuan
> lagi? Ya ampun?.
> >
> > Ternyata tidak hanya secara fisik perempuan lebih sering hadir
untuk
> urusan depan, alias perkenalan yang perlu bermanis-manis, ?
Selamat datang
> Pak, Bu, bisa saya bantu?, tetapi perempuan juga telah sampai ke
> mesin-mesin
> yang memerlukan suaranya untuk sekedar ramah tamah. Sentuhan
sapaan itu
> seakan-akan dapat lebih menyenangkan hati pendengarnya jika suara
itu
> datang
> dari yang namanya perempuan.
> >
> > Saya tidak akan meneruskan ini menjadi sebuah persoalan seperti
kenapa
> suara perempuan yang dipajang adalah suara yang penuh sapaan,
penuh ramah
> tamah saja, bukan suara yang kita ingin keluarkan karena merasakan
> ketidakadilan. Kenapa yang digaungkan bukan suara perempuan
pingiran yang
> banyak didera kekerasan?
> >
> > Di tengah pertempuran di kepala itu muncul ide saya. Saya
membayangkan
> apa
> yang terjadi bila suara perempuan itu diganti oleh suara laki-
laki? Akan
> tidak ramahkan? Akan larikah orang-orang yang mendengarnya? Akan
tidak
> merdu
> mendayu-dayukah? Apa sih yang membuat perempuan sangat penting
sehingga
> diciptakan mesin berjenis kelamin perempuan?
> >
> > Jawabannya mungkin banyak dan bervariasi, namun ada satu hal
yang pasti,
> yaitu keinginan yang terus menerus untuk ?menjual? perempuan. Di
berbagai
> iklan, perempuan sudah begitu banyak dieksploitasi, di penulisan-
penulisan
> berita, terutama berita kriminal seperti perkosaan, perempuan
ibarat sudah
> jatuh tertimpa tangga pula.
> >
> > Ringkasnya, dalam masyarakat patriarkhis, setiap inci dari tubuh
> perempuan
> merupakan barang komoditi. Begitu pula dengan suara perempuan, ia
menjadi
> komoditas yang sengaja di konstruksi untuk diperdengarkan,
digaungkan,
> setelah sebelumnya dipoles dengan ramah tamah. Identifikasi suara
perempuan
> ini tidak terlepas pula dari konstruksi budaya yang mengidentikan
perempuan
> dengan kelembutan. Dalam konteks ini maka, intelektualitas dan
kemampuan
> perempuan menjadi tidak penting, karena perempuan selalu dinilai
dari
> penampilan fisik. Tapi, itulah masyarakat patriarkhi yang selalu
menjadikan
> tubuh perempuan sebagai obyek eksploitasi.
> >
> >
> > Cicilia Maharani penulis lepas, tinggal Jakarta
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
*********************************************************************
******
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
> >
>
*********************************************************************
******
> >
>
_____________________________________________________________________
_____
> > Mohon Perhatian:
> >
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
> otokritik)
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan
dikomentari.
> > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
>
>
>
>
*********************************************************************
******
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
Indonesia yg
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
>
*********************************************************************
******
>
_____________________________________________________________________
_____
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan
dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/