apa tiap wanita yg anti poligami harus merasakan dulu dipoligami? ya 
nda tokh...emangnya kayak nyobain bir...kalo skrg banyak penolakan 
trhdp praktek poligami berarti poligami itu gak menunjukkan hal 
positif, nda sukses. mungkin yg masuk kategori sukses saat ini cuma 1 
org itupun masih "tanda tanya" . 

mbahas plgm gak ada titik temu...wanita maunya gini dan lelaki maunya 
gitu...nda ada habisnya. jadi...tanyakan pada rumput yg bergoyang 
du..du..du...


--- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote:
> 
> fenomenanya adalah orang-orang yang anti poligami ternyata belum
> pernah mengalami dipoligami, sehingga imajinasi mereka menjadi liar
> membayangkan hal-hal yang tidak dialami oleh orang yang sudah ber-
> poligami  ....   kalo zaman kartini  sebenarnya yang ingin di 
dobrak adalah
> adat ..  di mana seorang seperti kartini yang mempunyai otak yang 
cerdas
> terkunkung dalam istana, sehingga ide-idenya sebagai wanita yang 
jenius
> tidak pernah di dengar  ..   memang suatu tradisi itu berisi 
sesuatu yang
> sakral   sehingga pernah katanya terjadinya kebakaran di istala
> mangkunegaran
> solo (kalo tdk salah) diakibatkan kesakralan itu, merombak  sesuatu
> barang yang berbahaya yang dapat menimbulkan kebakaran   ...
> 
> padahal zaman dulu menjadi seorang garwo dalam menjadi dambaan
> setiap wanita    ...  karena untuk mencari kehormatan ?...  dan 
mereka
> sangat bangga akan status tersebut  ?....  kalo zaman sekarang 
mungkin
> menjadi wanita simpanan seorang bos terkenal lebih diimpikian
> oleh wanita dibanding dengan di kawini secara formal  ..???
> tapi memang kelihatan seorang yang mempunyai simpanan
> akan lebih bijaksana bagaimana caranya menutupi sifat
> play boy tersebut  .....
> 
> pertanyaannya adalah siapakah yang lebih gentle dan diterima
> oleh masyarakat antara seorang yang berani berpoligami secara
> formal dibandingkan dengan play boy yang banyak simpenan  ?
> 
> salam,
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=808
> 
> Refleksi Hari Kartini
> Meneguhkan Kembali Gerakan Anti-Poligami
> Oleh Faizah SA
> 25/04/2005
> Momentum Hari Kartini sudah sepantasnya dijadikan media refleksi 
untuk
> merenungkan kembali kesahihan poligami yang tersembul dalam UU RI 
Nomor 1
> Tahun 1974 tentang Perkawinan. Di situ diterangkan kebolehan 
poligami
> selama mengantongi ijin istri sebelumnya. Keterangan itu malah 
dikuatkan UU
> RI No. 7/1989 pasal 49 yang menugasi Pengadilan Agama untuk 
menangani
> poligami.
> 
> 21 April 2005, seabad lebih wafatnya RA Kartini. Namun, prosesi 
tahunan
> -apa yang lazim ditahbiskan sebagai Hari Kartini- yang seremonial, 
tanpa
> substansi, justru potensial mereduksi sosok dan ide-ide Kartini. 
Kartini
> dikenal dan disajikan sebagai tokoh teladan bukan dari dirinya 
sendiri,
> melainkan dari pandangan orang lain mengenai dirinya. Tak heran, 
jika
> mitologisasi atas Kartini justru mengurangi kebesaran Kartini itu 
sendiri
> serta menempatkannya dalam dunia dewa-dewa. Semakin kurang 
pengetahuan
> seseorang tentangnya, makin kuat mitologisasi terhadap Kartini. 
Gambaran
> orang tentangnya dengan sendirinya lantas menjadi palsu, karena 
kebenaran
> tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu mitos. Padahal Kartini
> sebenarnya jauh lebih agung daripada total jendral mitos-mitos 
tentangnya."
> (Pramoedya Ananta Toer dalam pengantar Panggil Aku Kartini Saja, 
1997).
> Untuk itu, diperlukan napak tilas Kartini sebagai sosok perempuan 
yang
> terbelenggu tradisi pada jamannya. Ketika itu, Kartini hidup di 
jaman yang
> sama sekali tidak menghargai eksistensi kaum perempuan. Betapa 
tidak,
> Kartini disunting Bupati Rembang, RTAA Djojohadiningrat, sebagai 
garwa
> padmi setelah tiga istri Bupati itu. Ini artinya praktik poligami 
telah
> tumbuh subur pada masa itu. Di manapun sangat sedikit perempuan yang
> merelakan dirinya dimadu oleh laki-laki. Kebanyakan mereka menolak 
jika
> laki-laki menjadikan dirinya bukan sebagai istri yang pertama, atau 
juga
> tidak menginginkan laki-laki (suaminya) menyunting perempuan lain 
setelah
> dirinya. Kartinipun sesungguhnya demikian. Hanya saja Kartini tak 
memiliki
> cukup kekuatan untuk melakukan perlawanan mendobrak tradisi yang 
melecehkan
> kaum perempuan itu. Bahkan Kartini sendiri dengan sangat terpaksa 
harus
> memperpanjang matarantai tradisi itu dengan disunting RTAA 
Djojohadiningrat
> sebagai istri keempat.
> 
> Dus, Kartini seperti mendaur ulang elegi kehidupan dua perempuan 
yang
> sangat dicintainya di mana sangat menderita karena memperebutkan 
cinta dan
> kasih sayang dari seorang laki-laki. Kedua perempuan itu adalah 
Ngasirah,
> ibunya sendiri, dan RA Sosroningrat, garwa padmi ayahnya yang 
dinikahi
> setelah ibunya sekaligus sebagai pengasuhnya. Bayang-bayang 
kehidupan dua
> perempuan itulah yang memayungi mahligai rumah tangganya. Kepedihan,
> kegundahan dan pergolakan batin yang dahsyat tergambar dalam surat-
surat
> Kartini kepada Ny. Abendanon menjelang pesta perkawinan 
dilangsungkan. 19
> Oktober 1903 ia menulis, "Pakaian pesta bertopeng saya sudah jadi. 
Roekmini
> menyebutnya kain kafan saya...." 22 Oktober 1903, ia menulis 
lagi, "Ada
> luka yang tidak pernah sembuh, ada air mata yang tidak pernah 
kering...." 3
> November 1903 ia lebih eksplisit: "... Hari depan itu tidak pernah 
saya
> harapkan...."
> 
> Namun, kematian menjemput Kartini lebih awal, tidak sampai setahun 
usia
> perkawinannya. Bulan ke sepuluh, empat hari setelah melahirkan 
putranya, RM
> Soesalit, Kartini membuka gerbang pembebasan dirinya.
> 
> 
> ***
> 
> BELENGGU tradisi poligami yang melilit Kartini sejatinya masih 
banyak
> dialami kaum perempuan masa kini. Harus diakui, poligami telah 
menjadi
> bagian gaya hidup laki-laki, dan karenanya di lingkungan tertentu 
praktik
> ini telah membudaya. Faktanya poligami telah ada sejak zaman dulu 
dan terus
> terpelihara hingga kini dengan berbagai pembenaran dan legitimasi 
kultural,
> sosial, ekonomi, dan agama. Jauh sebelum Islam datang, praktik 
poligami
> memang telah ada, bahkan jumlah istri bisa membengkak hingga 
belasan.
> 
> Saat Islam datang turun aturan yang membatasi maksimal empat orang 
saja,
> dengan syarat ketat yang bagi sejumlah pemikir muslim tidak mungkin 
bisa
> terpenuhi oleh seorang laki-laki. Asas keadilan tentu bukan sekadar
> keadilan kuantitatif semacam pemberian materi atau waktu gilir 
antar-istri,
> tapi mencakup keadilan kualitatif (kasih sayang yang merupakan 
fondasi dan
> filosofi utama kehidupan rumah tangga). Itulah mengapa di ujung 
ayat yang
> sering dijadikan dasar bagi kebolehan (mubahah) praktik poligami 
Tuhan
> mewanti-wanti, "Dan apabila kamu takut tidak bisa berbuat adil, maka
> nikahilah seorang saja" [QS. 4:3]. Itu berarti ideal moral yang 
dicanangkan
> al-Quran adalah praktik monogami.
> 
> Alasan dibolehkannya poligami di masa awal generasi Islam, seperti 
yang
> diungkap Muhammad Abduh (1849-1905), karena saat itu jumlah laki-
laki lebih
> sedikit dibandingkan perempuan akibat banyak yang mati di medan
> pertempuran. Dengan dalih melindungi dan mengayomi, laki-laki 
dibolehkan
> menikahi perempuan lebih dari satu. Juga dengan begitu penyebaran 
Islam
> semakin cepat dengan terus menambah jumlah pemeluknya. Sebab 
perempuan yang
> dinikahi diharapkan masuk Islam beserta keluarganya. Selain itu, 
dengan
> poligami kemungkinan pecahnya konflik antar-suku dapat dicegah. 
Saat ini,
> keadaan sudah jelas banyak berubah. Poligami, lanjut Abduh, justru
> melahirkan banyak persoalan yang mengancam keutuhan bangunan 
mahligai rumah
> tangga. Sering timbul percekcokan. Belum lagi efek domino bagi 
perkembangan
> psikologi anak yang lahir dari pernikahan poligami. Sering mereka 
merasa
> kurang diperhatikan, haus kasih sayang dan, celakanya, secara tidak
> langsung dididik dalam suasana yang kedap perselisihan dan 
percekcokan
> tersebut. Karena itulah Abduh jelas-jelas melarang praktik poligami
> mengingat syarat adil yang diminta teks tidak mungkin bisa dipenuhi.
> (Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar IV, tt. h. 347-350).
> 
> Tradisi poligami, seperti yang dipahami dalam teks itu, tidak lebih
> pantulan realitas sosial yang mengemuka saat itu. Faktanya ialah 
perempuan
> kala itu dalam kondisi terpinggirkan. Dalam hal poligami, Alquran 
merekam
> praktik itu sebab ia adalah realitas sosial masyarakat saat itu. Tak
> terlalu salah jika Thaha Husein (1889-1950) dalam Fi Syi'r al-
Jahili (tt.
> h. 25-33), dengan berani mengambil hipotesa bahwa Alquran pada 
dasarnya
> adalah cermin budaya masyarakat Arab Jahiliyah (pra-Islam). Karena 
itu,
> seruan poligami dalam teks itu harus dipandang sebagai sebuah 
proses yang
> belum final dan masih terbuka bagi "pembacaan lain" sesuai dengan 
konteks
> sosial kontemporer. Jika hipotesa Husein dikembangkan, akan dijumpai
> pemahaman bahwa Alquran sesungguhnya adalah respon terhadap berbagai
> persoalan umat kala itu. Sebagai respon, tentu saja Alquran 
menyesuaikan
> dengan keadaan setempat yang saat itu dipenuhi dominasi budaya 
patriarkhi.
> 
> Momentum Hari Kartini sudah sepantasnya dijadikan media refleksi 
untuk
> merenungkan kembali kesahihan poligami yang tersembul dalam UU RI 
Nomor 1
> Tahun 1974 tentang Perkawinan. Di situ diterangkan kebolehan 
poligami
> selama mengantongi ijin istri sebelumnya. Keterangan itu malah 
dikuatkan UU
> RI No. 7/1989 pasal 49 yang menugasi Pengadilan Agama untuk 
menangani
> poligami. Pemerintah seharusnya memikirkan nasib kaum perempuan yang
> hak-hak kebebasan dasarnya terancam oleh tradisi poligami. Sebab 
sampai
> saat ini masalah poligami seolah-olah tidak ditangani serius dan 
tenggelam
> dalam gelombang besar masalah yang silih berganti menerpa bangsa 
ini.
> Asumsi melindungi dan mengayomi sebagai pijakan fungsi sosial 
poligami
> sudah sepantasnya dikaji ulang sekaligus dialihkan pada hal-hal 
lain yang
> kebutuhannya lebih mendesak.
> 
> Dengan kata lain, UU anti-poligami mendesak untuk segera 
direalisasikan
> demi melindungi kaum perempuan dari golongan tertentu yang ingin 
mereguk
> keuntungan dengan memelintir seruan teks untuk kepentingan poligami.
> Keberanian pemerintah Turki di bawah kepemimpinan Musthafa Kemal 
Ataturk
> mensahkan UU yang melarang poligami di tahun 1926 perlu dijadikan 
teladan.
> Juga pemerintah Tunisia di bawah presiden Bourguiba pada tahun 1956 
yang
> melakukan hal serupa layak ditiru. Dan di sisi lain, mandat 
perjuangan
> emansipasi dan pemberdayaan perempuan yang menjadi cita-cita agung 
Kartini,
> dengan demikian, akan menemukan titik terang. Dan beginilah 
sesungguhnya
> salah satu aspek substansial untuk menghormati kebesaran Kartini, 
bukan
> dengan retorika semata. []
> 
> Faizah SA, staf pengajar di Ponpes Krapyak, aktif sebagai peneliti 
Lembaga
> Studi dan Pengembangan Santri dan Masyarakat (LeSPiM) Yogyakarta
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------
~-->
> In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
> At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
> http://us.click.yahoo.com/HO7EnA/3MnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
> --------------------------------------------------------------------
~->
> 
> 
**********************************************************************
*****
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju 
Indonesia yg
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
> 
**********************************************************************
*****
> 
______________________________________________________________________
____
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg 
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ______________________________________________________________
> 
> Disclaimer :
> - This email and any file transmitted with it are confidential and
> are intended solely for the use of the individual or entity whom
> they are addressed, if you are not the original recipient, please
> delete it from your system.
> - Any views or opinions expressed in this email are those of the
> author only.
> ______________________________________________________________





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke