--- In [email protected], andi mario <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Salam,
> terima kasih atas masukan dari rekan2 milis.
> saya memang merasa canggung dalam mengambil sikap, setelah saya 
membaca posting2 terdahulu tentang debat agama.
> saya dibesarkan di lingkungan yang mayoritas muslim.
> kawan2 saya mayoritas muslim. saya berbagi suka dan duka dengan 
mereka. kami semua sangat menghargai satu sama lainnya. 
> bahkan kami saling berbagi "ilmu" tentang keyakinan masing2.
---------------

Mungkin untuk sekedar menambah wawasan ada gunanya membaca sebuah 
tulisan yang saya temukan disebuah milis, yang membahas sikap dan 
perilaku manusia dalam mengagama dan beraghama.

Salam dan selamat membaca.

Danardono


****Ketika kita mengagungkan sesuatu, seperti doktrin agama misalnya, 
mindset/outlook atau sudut-pandang kita menjadi kaku, karena kita 
mengira doktrin itulah yang paling benar. Banyak manusia terkena 
virus ini ^_^ , kita semua pernah dan masih punya virus ini, 
berpikir  aku/ego yang paling benar. Dengan mindset ini kita 
menyalahkan doktrin yang lain.



Selama seseorang masih merasa dirinya, pendapatnya, ajaran agamanya, 
paling benar, dia masih punya berhala di dalam hatinya. Selama 
seseorang punya berhala dalam hatinya, orang itu buta, sehingga untuk 
menyadarkannya, datanglah pen-deritaan, itu bila kata-kata tidak 
menyadar-kannya. Penderitaan itu datang karena hukum menabur dan 
menuai itu, namun karena buta, kita manusia tidak menyadarinya, malah 
menyalahkan orang lain, keadaan, Tuhan dan sebagainya. Oleh karena 
itu penderitaan itu terus terjadi sampai hati kita menjadi lunak, 
tidak lagi menganggap diri kita yang paling benar, dan saat itulah 
terang dapat masuk ke hati, membuka mata kita terhadap keadaan kita. 
Dan ketika kita menyadari ini, kita tidak lagi menyalahkan. Kita 
menyadari kita sendiri lah penyebab derita kita. Dari situ, mulailah 
perjalanan kesadaran kita. Jadi kalau melihatnya seperti ini, maka 
DERITA ADALAH BERKAH.



Kebanyakan kita membangun suatu konsep tentang Tuhan, sang AKU, bahwa 
Tuhan membutuhkan pujian, atau bisa menghukum berat kalau kita 
bersikap seperti anak kecil yang nakal, God who rewards and punishes. 
Kepada konsep itulah kita memuji dan kalau kita kecewa, maka kepada 
konsep itu pulalah kita mencaci. Dan kita menyangka konsep kita 
mengenai Tuhan itu adalah Tuhan. Lantas bagaimana Tuhan yang demikian 
bisa menjawab? Ya, tidak bisa, karena itu hanyalah konsepsi kita 
saja. Realita nya kebanyakan kita sama sekali tidak tahu apa itu 
Tuhan. Adalah lebih baik kita menyadari kita tidak tahu Tuhan itu 
apa, daripada kita menyangka kita sudah paham sekali Tuhan itu apa. 
Hanya yang kosong yang dapat diisi, tetapi yang sudah berisi tak 
dapat diisi lagi. Yang sudah berisi, maksudnya yang sudah kaya akan 
konsep-konsep, sehingga kebenaran yang mungkin kedengaran asing 
baginya tak dapat lagi mengubah pendapatnya atau pendiriannya. 



Mulia dan hina, tinggi dan rendah adalah hasil persepsi manusia. 
Dalam tingkat absolut semuanya sama, semuanya netral, produk dari 
berbagai macam tingkat kesadaran. Persepsi manusia yang membuatnya 
menjadi tidak netral dengan melekatkan suatu nilai kepada objek 
pengamatannya, meninggikan yang satu, merendahkan yang lain. Persepsi 
manusia tergantung tingkat kesadarannya, tingkat keterbukaan matanya. 



Manusia terbiasa mengkotak-kotakkan, menilai suatu keadaan sebagai 
mulia dan keadaan lain sebagai hina, melihat dari kacamata kebenaran 
berdasarkan sudut-pandang pribadi. Sudut pandang pribadi ini dibentuk 
atau dikondisikan oleh warisan genetis, jenis/sifat orang tua, 
didikan sekolah, lingkungan hidup, ajaran agama, dan segala macam 
pengaruh eksternal yang membentuk watak dan cara berpikir seseorang. 
Inilah yang sering disebut pikiran terkondisi (conditioned mind).



Semua orang memiliki pikiran terkondisi seperti ini, hanya sebagian 
kecil orang yang menyadari dan mengendalikannya, kebanyakan manusia 
tidak menyadarinya dan dikendalikan olehnya. Yang tidak menyadarinya 
atau yang sering disebut dalam kitab-kitab suci sebagai orang yang 
TERTIDUR, selalu memandang dunia dari kacamata pikiran terkondisinya 
dan umumnya kaku berpegang pada pendapat atau cara pandangnya itu. 
Cara pandang demikianlah yang menempatkan sesuatu sebagai mulia jika 
sesuatu itu sesuai dengan bingkai kepercayaannya, sementara yang 
tidak sesuai, dianggap hina. Muncul pemujaan diri atau kelompok, 
kelompokku benar kelompokmu salah. Cara berpikir demikian senantiasa 
membutuhkan kontras, artinya membutuhkan sisi berseberangan: gelap - 
terang, mulia - hina, baik - jahat. Dengan menilai suatu keadaan 
sebagai mulia, maka secara otomatis akan muncul keadaan yang dinilai 
hina. Tanpa keadaan yang dianggap hina, keadaan yang diang-gap mulia 
tak punya referensi pengukuran. Demikianlah kontras atau dualisme 
yang mewarnai cara pandang manusia yang pikirannya terkondisi. 
Keadaan hina dan mulia itu pada dasarnya adalah hasil persepsi 
penilaian manusia, dan kita tau bahwa orang yang berbeda punya 
pandangan hina dan mulia yang berbeda pula, tergantung bagaimana 
pikirannya dikondisikan. 



Melihat melalui kacamata benar-salah atau kontras, merupakan cara 
sebagian besar manusia untuk mewujudkan apa yang didambakannya, yaitu 
perasaan mulia, perasaan benar. Ketika sebagian manusia memandang 
dirinya selamat dan meng-anggap orang yang berbeda terhilang/ sesat, 
maka terjadi peninggian dan perendahan. Dengan menempatkan diri para 
posisi selamat, maka seseorang dapat menghibur dirinya bahwa dirinya 
berada pada posisi yang benar, layak atau diberkati Tuhannya. Ini 
semua tak lain tak bukan merupakan permainan atau trik-trik pikiran 
terkondisi manusia yang didorong oleh motif untuk memuaskan 
kebutuhannya akan perasaan suci dan mulia. Kesucian dan kemulian tak 
dapat dicapai dengan permainan ilusi pikiran, karena kesucian dan 
kemuliaan itu adalah semacam state of being, tingkat kesadaran. 



Banyak orang telah memberhalakan ajaran agamanya masing-masing. 
Pemberhalaan terhadap ajaran agama, orang suci, tempat suci, itu yang 
menyebabkan seseorang tersinggung kalau apa yang ditinggikannya 
dipertanyakan atau dikritik. Sebab mereka menyamakan tindakan-
tindakan seperti itu sebagai tindakan yang menghujat Tuhan-nya. 
Padahal patung, kertas (kitab suci), symbol-simbol lain  hanyalah 
konsep bukan Tuhan. 



Perasaan tersinggung adalah ciri-ciri seseorang yang memiliki berhala 
dalam bathinnya. itu menunjukkan kemelekatan (attachment) ego 
terhadap apa yang disanjungnya pada suatu konsep (simbol, kitab dan 
benda/jimat hanyalah pengeja-wantahan dari konsep) yang dianggap 
miliknya, yang dinilai lebih mulia dari hal-hal lain yang dianggapnya 
lebih  rendah. Bagi yang memahaminya atau menyadarinya, ini hanyalah 
semacam keterkondisian pikiran, bagi yang tidak menyadarinya, yang 
tertidur, mereka melihat mimpi-mimpi atau ilusi ini seakan-akan nyata 
dan membelanya mati-matian.




Kalau tidak ada kemelekatan ego, dan kalau seseorang sudah secara 
pasti tau apa yang dipercayainya, maka dia tidak akan tersinggung 
lagi, sebab dia tau orang yang mengkritik atau mencela itu tidak tau 
apa-apa, paling dia hanya sedih melihat ketidak-tahuan orang tersebut.



Agar lebih mudah dipahami, saya akan coba jelaskan lewat tanya jawab 
berikut.



Yaaa... tapi tetap saja simbol melambangkan sesuatu yang diwakili 
simbol tersebut.

Simbol melambangkan sesuatu, itu karena konsensus bersama. Yang 
mengasosiasi-kan simbol dengan wakilnya/substansinya itu siapa? 
Bukankah itu hasil konstruk pikiran? Kalau pikiran dapat meng-
asosiasikan, maka pikiran dapat pula melakukan de-asosiasi. Ini 
permainan pikiran.



Penghinaan terhadap sebuah simbol juga mencerminkan (baca: 
mematerialkan) penghinaan ter-hadap sesuatu yang diwakili oleh simbol 
tersebut. .

Penghinaan terhadap simbol HANYA akan tercermin sebagai penghinaan 
bagi yang orang yang pikirannya kaku meng-asosiasikan simbol dengan 
substansi. Apa yang diinterpretasikan sebagai penghina-an, dapat pula 
diinterpretasikan sebagai kesurupan ^_^ oleh persepsi yang berbeda.



Simbol mewakili substansi, namun BUKAN substansi. Anda hina simbol 
dan anda kencingi, itu TAK BEREFEK pada substansinya, tapi berefek 
pada perasaan manusia yang bego ^_^ yang mengaitkan identitas dirinya 
dengan simbol itu, seakan-akan simbol itu kepanjangan tangan dari 
organ tubuhnya. Simbol dilukai, hatinya pun ikut terluka, karena 
pikirannya yang kaku (terkondisi) sudah menjadikan simbol itu bagian 
dari identitas jiwanya. Ada istilahnya untuk keterkondisian ini, 
namanya kemelekatan. Setiap keme-lekatan adalah penyembahan berhala, 
itu kalau anda dapat pahami. 



Mengapa membenci dikatakan merupakan ciri penyembah berhala, bukankah 
ini memang sesuatu hal yang manusiawi?

Tersinggung, membenci, mendendam, dll itu semua manusiawi... produk 
dari manusia yang masih 'mati'/'tertidur'. Tersinggung itu artinya 
ada kemelekatan pada suatu konsep. Kemelekatan pada suatu konsep 
adalah pengagungan konsep itu. Mengagungkan suatu konsep itu adalah 
penyembahan berhala. 



Apakah mengagungkan konsep pribadi daripada konsep lainnya termasuk 
kategori penyembah berhala?! 

Orang yang tak menyembah berhala itu tak mengagungkan konsep 
pribadinya karena tau konsep pribadinya dinamis, dapat berubah dengan 
bertambahnya hikmat. Mengagungkan konsep membuat manusia sulit 
berubah karena tidak lagi berani mempertanyakan atau mengubah konsep 
tersebut, biasanya karena takut kuwalat, masuk neraka, atau terlalu 
dibutakan oleh rasa bangga. Itulah sebabnya *lk*t*b berkata, jangan 
ada ilah lain dihadapanKu. Cuman kebanyakan dari orang Kr*st*n 
menafsirkan ilah sebagai patung jasmaniah semata. Konsep itulah 
sesungguhnya 'patung' yang kaku bila konsep itu tak boleh 
dipertanyakan lagi. 



Justru karena simbol mewakili substansi, maka penghinaan ter-hadap 
sebuah simbol berdampak pada terlukanya perasaan seseo-rang sebagai 
konsekwensi logis dari terkoyaknya prinsip kebenar-an tertinggi yang 
notabene dijiwai oleh orang tersebut. 

Sekali lagi, simbol BUKAN substansi. Yang mengaitkan simbol dengan 
substansi adalah pikiran manusia. Penghinaan ter-hadap simbol itu dan 
perasaan terluka yang menyertainya adalah masalah pengkondisi-an 
pikiran dimana manusia sudah terdidik/ terbiasakan seperti itu. 
Karena mindset anda sudah terkondisi, anda tak kan memahami bahwa ada 
persepsi lain dalam melihat suatu kejadian yang anda nilai sebagai 
penghinaan. Bila anda bisa melihat dari persepsi lain ini, maka tentu 
anda tak perlu mengalami perasaan terluka. 



Terkoyaknya prinsip kebenaran? Terkoyak dalam mimpimu, hehe. Prinsip 
kebenaran itu TAK DAPAT terkoyak. Kalau memang itu prinsip kebenaran, 
maka itu adalah TEGUH ABADI, terlepas dari apapun yang dilakukan 
manusia terhadapnya. Seseorang menginjak-injak dan merobek Kitabmu. 
Apakah prinsip kebenaran dalam Kitabmu itu terkoyak? Yang terkoyak 
itu kertas. Prinsip kebenaran (substansi) itu tetap berlaku selamanya 
karena prinsip kebenaran BUKAN kertas. Namun karena pikiranmu sudah 
terkondisi menyamakan kertas itu dengan prinsip kebenaran MILIKMU, 
maka ikut pula terkoyak pikiranmu/ emosimu. Prinsip kebenaran itu 
sendiri masih utuh. Tapi perasaan kepemilikanmu terhadap prinsip 
kebenar-an itulah yang terkoyak. 



Jadi ENGKAULAH yang bikin dirimu terkoyak dengan konstruksi/program 
kaku yang tercetak di otakmu. Bila suatu hari Anda sadari bahwa 
dirimu adalah manusia yang PUNYA pilihan bebas, tidak perlu 
ditentukan oleh satu program saja, maka anda bebas memilih emosi apa 
yang mau Anda alami, artinya, anda bisa pilih untuk menolak 
tersinggung dan melihatnya dari persepsi lain, bahwa orang yang 
merobek dan merusak kitab suci atau simbol lainnya lagi kesurupan dan 
bahwa buku Kitab sucimu itu adalah kertas bertinta, BUKAN prinsip 
kebenaran. Kalau anda memilih untuk berpersepsi seperti ini, maka 
anda dapat tertawa, bukan tersinggung.



Inilah program (pengkondisian) yang DISEMBAH (diberhalakan secara 
tidak sadar) oleh mayoritas manusia: 

IF/BILA simbol-simbolku/egoku dihina

THEN/MAKA aku marah, tersinggung bin terluka.



Program seperti itu adalah salah satu penyebab banyaknya orang 
stress, sakit jiwa di zaman ini. Bagi ORANG BEBAS, bukan ORANG 
TERTAWAN oleh "penjara" bikinan sendiri, program alternatifnya banyak 
dan dirinya dapat bebas memilih mau menjalankan program yang mana. 
Contoh salah satu program alternatif yang menyehatkan jiwa: 



IF simbol-simbolku/egoku dihina THEN aku tertawa lucu, karena yang 
menghina mirip kuda lumping kesurupan.



Atau, IF simbol-simbolku/egoku dihina THEN aku memaklumi yang 
menghina melakukan karena keluguannya, ketertidurannya. 



Manusia yang tidak sadar dirinya men-jalankan (diperbudak) suatu 
program secara mekanistis/ robotis (kayak robot), itulah manusia yang 
menyebabkan banyak konflik di muka bumi ini, baik konflik dalam diri 
sendiri, keluarga, sampai peperangan antar negara. 



Reaksi pedih yang timbul, justru BUKAN terjadi karena akibat dari 
pemberhalaan akan simbol, melain-kan TERJADI KARENA terlukanya 
prinsip kebenaran yang dijiwai seseorang akan sesuatu yang diwakili 
oleh simbol tersebut. 

Reaksi pedih yang timbul JUSTRU akibat kemelekatan atau pemberhalaan 
simbol. Sekali lagi, prinsip kebenaran itu tak pernah dapat terluka. 
Yang merasa pedih itu manusianya yang urat emosinya me-lekat pada 
simbolnya. Dan melekat atau tidak-melekat itu adalah soal pilihan. 
Adalah pilihan bebas dari sang manusia untuk melekat pada simbolnya 
atau memilih tidak melekat. Kebebasan sejati adalah melepaskan diri 
dari kemelekatan terhadap simbol. Dengan demikian, terbebas pulalah 
dirinya dari perasaan terluka. Tidak ada seorangpun yang dapat 
menyebabkan dirimu terluka kecuali dirimu sendiri. Dirimu sendirilah 
yang dapat memilih mau tetap terluka atau tidak. 



Mengapa Anda sebut sebagai  suatu kemelekatan? 

Pernah dengar cerita kodok yang dimasukkan ke dalam air yang dipanas-
kan perlahan-lahan? Panasnya air itu tidak dirasakan sebagai suatu 
bahaya karena suhunya dinaikkan secara perlahan-lahan sehingga si 
kodok terbiasa. Kata kuncinya di sini adalah "terbiasa." Demikian 
juga kebanyakan manusia tidak melihat kemelekatan itu sebagai 
kemelekatan karna sudah terbiasa melekat. Nanti kalau sudah puas 
bermimpi dan udah siap bangun baru bisa melihatnya. 



Menurut Anda bahwa seseorang HARUS terluka kalau simbolnya dihina. 
Saya cuman mengemukakan pandangan bahwa seseorang TIDAK PERLU terluka 
kalau simbolnya dihina, dan benefitnya (manfaat-nya) untuk kesehatan 
jiwa cukup besar, kalau dapat mencapai taraf persepsi seperti ini***







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Does he tell you he loves you when he's hitting you?
Abuse. Narrated by Halle Berry.
http://us.click.yahoo.com/aFQ_rC/isnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke