http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=168465

Rabu, 27 Apr 2005,


Cacat Lembaga Demokrasi Sipil


Kasus penangkapan anggota KPU Mulyana W. Kusuma oleh Komisi Pemberantasan 
Korupsi (KPK) karena diduga menyuap petugas auditor Badan Pemeriksa Keuangan 
(BPK) mengejutkan setiap orang yang mengenal sosok Mulyana W. Kusuma. 

Mulyana selama ini dikenal sebagai aktivis yang gigih berjuang di bawah bendera 
kebebasan, HAM, dan demokrasi. Orang yang mengenalnya tentu tak percaya, figur 
sekaliber Mulyana yang paham luar dalam rimba-belantara hukum di Indonesia 
melakukan suap untuk menutupi kasus yang diduga korupsi di KPU.

Tulisan ini tetap berpijak pada asas praduga tak bersalah selama proses hukum 
belum menghasilkan keputusan final. Sebaliknya, tulisan ini berupaya memaparkan 
dampak peristiwa tersebut terhadap kinerja dan citra institusi demokrasi sipil 
yang diwakili oleh KPU.

Puncak Keberhasilan

Posisi KPU sebagai representasi lembaga demokrasi sipil di Indonesia dapat 
dikatakan merupakan puncak keberhasilan sipil dalam mendesakkan agenda 
reformasi birokrasi penyelenggaraan pemilu di Indonesia yang selama puluhan 
tahun didominasi dan dihegemoni aparat birokrasi Orba, mulai tingkat pusat 
sampai daerah.

Demokrasi dan hegemoni politik Orba begitu kuat sehingga tidak ada satu pun 
kekuatan partai politik dan kelompok kepentingan media yang mampu menembus 
birokrasi KPU Orba yang bertugas mengolah perolehan suara selama pemilu-pemilu 
Orba.

Ketika itu, masyarakat dan partai politik hanya bisa menerima bentuk jadi 
angka-angka hasil pemilu yang diolah secara oligarki dan tertutup oleh rezim 
Orba. 

Artinya, tidak ada oposisi atau institusi pengontrol hasil-hasil pemilu yang 
mampu mengkritisi sekaligus menampilkan angka-angka pembanding karena sistem 
informasi pemilu diciptakan sedemikian rupa agar tidak muncul kontrol dari 
masyarakat.

Kini setelah proses transformasi kekuasaan berubah menjadi makin terbuka, 
pluralis, dan menuju demokratis, penyelenggaraan pemilu dilakukan oleh KPU/KPUD 
yang berisi figur-figur sipil, yaitu akademisi, tokoh LSM, tokoh media, bahkan 
tokoh agama.

Keberadaan KPU yang sipil jelas merupakan 
counter hegemony terhadap KPU model Orba yang sarat dengan kekakuan, tidak 
transparan, dan kedap kontrol publik. Dengan KPU baru hasil reformasi, maka 
semangat untuk menghasilkan kualitas pemilu yang demokratis makin tinggi.

Terbukti, pemilu pertama era reformasi 1999 dan pemilu legislatif serta pemilu 
presiden dan wakil presiden 2004 suskes. Dua pemilu itu diikuti beragam partai 
politik plus beragam spektrum ideologi politik serta menghasilkan wakil-wakil 
rakyat yang kebanyakan berasal dari kalangan sipil. Bahkan, di parlemen pun 
tidak ada lagi wakil dari Polri/TNI.

Parlemen dari tingkat pusat dan daerah diisi figur-figur sipil yang berlatar 
belakang aktivis HAM dan demokrasi, jajaran politisi partai, pengusaha, tokoh 
agama, mantan elite sipil, maupun mantan elite militer Orba yang berganti baju 
menjadi sipil.

Kelompok elite sipil yang kini menguasai parlemen, partai, dan organisasi yang 
melambangkan hadirnya supremasi sipil itulah yang kemudian menjadi kekuatan 
politik baru dalam masyarkat kita.

Dari Militer ke Sipil

Dengan demikian, selama enam tahun sejak reformasi bergulir, lambang supremasi 
politik bergeser dari dominasi militer yang memiliki sumber kekuasan politik 
berupa akumulasi senjata ke supremasi sipil yang representasi politiknya berupa 
institusi-institusi demokrasi sipil seperti partai politik, parlemen, media 
yang relatif bebas dan independen, kelompok penekan dan kepentingan, serta 
kepala daerah yang berasal dari figur sipil. 

Masyarakat pun percaya, institusi-institusi sipil tersebut akan menjadi motor 
pembaruan kehidupan politik dan penegakan hukum di Indonesia. Masyarkat pun 
berharap kekuatan sipil itu akan konsisten membumikan idealisme politik mereka 
ke tingkat yang konkret dengan mendukung gerakan antikorupsi yang selama ini 
carut-marut.

Bahwa masalah korupsi sudah sedemikian senapas dengan budaya, diperkuat dengan 
hasil kajian T
ransparency International bahwa dua pusat pemerintahan, yaitu Jakarta dan 
Surabaya, merupakan kota terkorup pertama dan kedua di Indonesia. Reaksi pun 
muncul dari birokrat yang tidak terima bahwa kotanya masuk terkorup. 

Resistensi politik yang muncul menunjukkan bahwa para elite tidak peka dengan 
kebobrokan sistem yang ada di lingkungan kekuasaannya. Alih-alih 
memberantasnya, sebaliknya malah mengancam akan menuntut secara hukum 
pihak-pihak yang membeberkan korupsi di institusinya.

Segala harapan dan kepercayaan publik pun pupus manakala dijumpai banyak 
anggota dewan, KPUD, dan kepala daerah di Indonesia yang menjadi tersangka 
korupsi. Anggota dewan dari Sumbar, Kaltim, Sidoarjo, Malang, Majene Sulsel, 
Kupang NTT, Solo, sampai jajaran birokrasi dan kepala daerah Blitar, 
Banyuwangi, Bengkulu, hingga kasus gubernur nonaktif NAD pun tersangkut dugaan 
korupsi. 

Modus operandi kasus korupsi yang dilakukan elite politik tersebut bervariasi, 
mulai penggelapan dana proyek, penyelewengan dana APBD, mark up pembelian 
barang, sampai penggelapan dan penipuan terhadap pihak lain.

Terjadinya korupsi di jantung institusi demokrasi itu semakin memperkuat asumsi 
bahwa reformasi politik hanya menghasilkan perubahan struktur, namun tidak 
diikuti dengan reformasi budaya, perilaku, dan mentalitas di kalangan elite 
politik.
" Kris Nugroho, dosen FISIP Unair




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke