----- Forwarded by Carla Annamarie/PRUIDN/IDN/Prudential on 04/27/2005
08:23 AM -----
"Julia
Suryakusuma" To: "PEREMPUAN" <[EMAIL
PROTECTED]>
<[EMAIL PROTECTED] cc: <[EMAIL PROTECTED]>
t.id> Subject: [perempuan] Suara
Perempuan sebagai Saksi Zaman
Sent by:
[EMAIL PROTECTED]
oups.com
04/26/2005 11:11
PM
Please respond to
perempuan
Kompas 23 April 2005
Mengenang Kartini, Membaca Julia
Suara Perempuan sebagai Saksi Zaman
Judul buku: Sex, Power, and Nation: An Anthology of Writings, 1979 - 2003
Penulis: Julia Suryakusuma
Penerbit: Metafor Publishing
Tebal: xxxvii + 453 halaman
Salah satu aspek diri Kartini yang kurang dimunculkan dalam peringatan
setiap tanggal 21 April adalah sosoknya sebagai seorang pemikir kritis yang
terjebak oleh zamannya. Sejak berusia belasan tahun, gadis bangsawan Jawa
itu mengamati segala sesuatu di sekitarnya, dan yang terjadi pada dirinya
dengan sorotan yang jernih dan tajam.
Surat-surat yang ditulisnya dalam bahasa Belanda untuk sobat-sobat
kolonialnya merupakan saksi zaman dari suara seorang perempuan intelektual
yang terpingit dan terbungkam oleh kebudayaannya sendiri yang tak mungkin
memahami dan menerima gagasan emansipatorisnya. Membaca hidup Kartini
adalah menyaksikan bagaimana kekuasaan-yang oleh feminis masa kini disebut
"patriarki"-beroperasi melalui tradisi budaya lokal untuk mengatur tubuh
dan seksualitas perempuan, dan bagaimana negara kolonial yang telah
memberikan pencerahan pikiran melalui bahasa dan sastra, menutup telinga
terhadap jeritannya.
Bagaimanakah para perempuan pemikir yang lahir sesudah Kartini menyikapi
zamannya masing-masing? Karya mereka tersebar, dari esai-esai jurnalistik
Rohana Koedoes sampai Maria Hartiningsih, esai kebatinan SK Trimurti sampai
esai filosofis Karlina Leksono, puisi Nursjamsu sampai ledakan karya sastra
perempuan akhir-akhir ini. Masih perlu waktu untuk menelusuri sejarah
pemikiran feminis di Indonesia. Jangankan menyambung mata rantai dari satu
tokoh ke tokoh lainnya, mengumpulkan tulisan masing-masing tokoh yang
umumnya masih berserakan, merupakan suatu tantangan.
Seratus tahun setelah meninggalnya Kartini, Indonesia dihadiahi sebuah buku
kumpulan 20 tulisan Julia Suryakusuma dalam bahasa Inggris berjudul Sex,
Power and Nation. Membaca esai-esai Julia Suryakusuma menjelang Hari
Kartini di tahun 2005, mengingatkan kita tentang, di satu sisi, bagaimana
sosok perempuan dikonstruksikan dari zaman ke zaman, dan sisi lain,
bagaimana perempuan menyuarakan pendapatnya melalui tulisan dan menjadi
pelaku perubahan. Kartini diabadikan sebagai putri Indonesia dalam lagu WR
Supratman di tahun 1930-an, menjadi pahlawan nasional di tahun 1964, dan
menjadi ikon wanita dalam perspektif pembangunan di zaman Orde Baru. Dalam
hidupnya yang singkat, Kartini sendiri tidak berpeluang untuk membuat
banyak pembaruan, tetapi surat-suratnya yang penuh pergulatan jiwa dan
pikiran menjadi inspirasi untuk gerakan emansipasi.
Generasi Julia Suryakusuma mempunyai kesempatan lebih besar untuk bergerak
di ruang publik. Julia adalah pendiri Yayasan Almanak Politik Indonesia
(API) dan termasuk salah satu aktivis yang turun ke jalan dalam aksi Suara
Ibu Peduli, demonstrasi pertama dalam rangkaian gerakan massa yang
menggerakkan reformasi. Tetapi, dalam wawancaranya di The Jakarta Post pada
tahun 1999, Julia menandaskan bahwa aktivisme yang sebenarnya terletak pada
tulisan-tulisannya yang menggugat berbagai konstruksi mapan yang ada.
Sorotan pertama Julia dalam buku ini adalah "negara dan bangsa". Melalui
sembilan esai, yang dipublikasikan di berbagai media massa dan jurnal
mancanegara, Julia muncul bukan sebagai seorang komentator politik "dari
dalam" yang memberikan pembaruan kepada dunia tentang perubahan sosial
politik yang terjadi di Indonesia, sambil meletakkan konteksnya dalam
perspektif sejarah. Esai-esai tentang persoalan kepemimpinan, kebebasan
pers, partai politik, kekerasan negara sampai sikap mental bangsa Indonesia
ini ditulis pada titik-titik kritis paruh dekade akhir Orde Baru sampai era
Reformasi. Tak mengherankan jika bagian yang diberi judul Building a New
Nation ini dibuka dengan esai yang menghadirkan kembali detik-detik
menegangkan sepuluh hari menjelang berhentinya Soeharto.
Dari bagian pertama ini tampil sosok Julia, sebagai komentator politik
independen yang fasih bicara untuk komunitas global, suatu profesi yang
jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari di Indonesia, bisa disebut di
sini, antara lain, Arief Budiman, Ariel Heryanto, dan Goenawan Muhamad.
Dalam hal ini Julia menunjukkan bahwa berbeda dengan stereotip yang ada,
intelektual perempuan tidak hanya berurusan dengan persoalan perempuan,
tetapi membawa perspektif perempuan untuk mengkritik persoalan bangsa dan
negara. Ulasan kritisnya tentang perspektif partai terhadap partisipasi
publik perempuan merupakan contoh visi semacam ini. Pada saat yang sama,
observasi yang lebih umum tentang masa depan partai politik di Indonesia
tak kurang relevan sampai sekarang. Menurut Julia "masa depan partai dan
demokrasi di Indonesia akan tetap bergejolak sampai masyarakat dapat diajak
untuk menolak rayuan primordialisme dan komunalisme para elite politik, dan
berani mendesak pertanggungjawaban mereka atas kebijakan publik".
Jika di bagian pertama, perspektif feminis Julia mewarnai esai-esai
politiknya, bagian kedua yang berjudul Sex and Power merupakan inti
pemikiran feminis Julia yang menunjukkan keterkaitan antara permasalahan
perempuan dengan persoalan politik dan negara. Bab ini dibuka dengan salah
satu karya terpentingnya, yakni State Ibuism, yang merupakan ringkasan
tesis MA di Insitute of Social Studies, The Hague tahun 1988. Tesis Julia
tentang ibuisme negara ini dibongkarnya dari ideologi Orde Baru, seperti
terlihat pada Dharma Wanita, PKK, dan berbagai kebijakan tentang perempuan
pada masa itu. Dilengkapi dengan esai kedua dengan topik yang sama tentang
negara dan seksualitas dalam budaya birokrasi pegawai negeri, kedua tulisan
Julia telah menjadi acuan "wajib" bagi para pakar Indonesia maupun
mancanegara yang mempelajari masalah perempuan di Indonesia. Dalam bagian
ini Julia membahas persoalan perempuan dari berbagai aspeknya, dari masalah
mode sampai bentuk-bentuk formal aktivisme perempuan; dari persoalan
perempuan sebagai buruh dan pekerja migran sampai korban kekerasan dan
militerisme.
Julia mengakui bahwa kecenderungan negara memakai konstruksi-konstruksi
gender untuk berbagai kepentingan bukan hal yang baru. Sumbangan pentingnya
di sini adalah menunjukkan bagaimana hal tersebut terlihat dalam
perwujudannya yang spesifik dalam berbagai konteks di Indonesia dalam era
pembangunanisme Orde Baru, dalam konflik dan militerisme, serta kapitalisme
global-lokal.
Tulisan-tulisan Julia mendobrak anggapan bahwa feminisme adalah perang
melawan laki-laki. Walaupun tidak menjadi fokus perhatiannya, Julia
menunjukkan bagaimana laki-laki (pegawai negeri, buruh perkebunan,
misalnya) juga mengalami penindasan. Tidak terjebak dalam dikotomi
penguasa-korban, Julia mengilustrasikan-dalam catatan etnografis yang rinci
di perkebunan karet Citandoh-berbagai strategi perempuan dan laki-laki
untuk bertahan dalam berbagai kungkungan ekonomi dan sosial.
Dibandingkan dengan bagian sebelumnya, sebagian besar bagian ini merupakan
hasil penelitian akademis yang didukung oleh survei, statistik, dan catatan
etnografis. Penelitian ini diolah sedemikian rupa menjadi esai-esai yang
enak dibaca. Bagian yang sangat penting bagi mahasiswa dan peneliti kajian
perempuan di Indonesia ini, di sisi lain menunjukkan betapa banyak amunisi
ilmiah perlu dikerahkan untuk menggoyahkan aksioma "di Indonesia tidak ada
masalah dengan perempuan". Melalui esai-esainya yang menyentuh permasalahan
yang traumatik bagi perempuan Indonesia, yakni pemerkosaan massal di bulan
Mei 1998 dan kekerasan militeristis di daerah-daerah konflik inilah, Julia
menjadi juru bicara yang penting bagi korban dan aktivis kemanusiaan.
Bahkan sampai sekarang pun masih banyak pihak yang menolak mengakui bahwa
kekerasan semacam ini pernah terjadi.
Jika bagian pertama buku ini berkaitan dengan profesi Julia sebagai pendiri
API dan sebagai komentator politik, dan bagian kedua berkaitan dengan
landasan ideologi feminis dan akademisnya, maka bagian ketiga-yang paling
tipis-merupakan penyaluran hobi Julia di bidang sastra. Sebetulnya nama
Julia muncul pertama kali di media massa di awal tahun 1970-an sebagai
pemenang sayembara menulis tentang buku melalui ulasannya tentang karya
Iwan Simatupang. Esai terakhir dalam buku ini adalah ringkasan dari tesis
BA Honoursnya di City University, London, pada tahun 1979, yakni tentang
kaitan sastra dan politik dalam karya sastrawan Lekra. Julia melihat
kontradiksi, baik dalam gerakan Manikebu maupun PKI. Kelompok Manikebu
dilihatnya sama siapnya untuk "memakai sastra sebagai alat perjuangan
ideologi". Sedangkan strategi aliansi damai PKI dalam politik berkontras
dengan garis revolusionernya yang keras di bidang sastra dan
budaya-kekeliruan yang menjerumuskan sastra pada "dogmatisme, simplifikasi,
romantisme perjuangan, propaganda dan konfrontasi tanpa basis teoretis yang
memadai". Dari sastra perjalanan karier Julia bergerak ke feminisme dan
politik (perjalanan yang secara kronologis disusun terbalik dalam bukunya).
Meskipun demikian, ulasan Julia tentang pengarang Indonesia mutakhir di
bagian ketiga, seperti Rieke Diah Pitaloka dan Djenar Maesa Ayu,
menunjukkan bahwa ia masih tertarik mengikuti perkembangan sastra.
Surat-surat Kartini dikumpulkan oleh Nyonya Abendanon, sahabatnya,
diterbitkan dalam bahasa Belanda di tahun 1911, dalam bahasa Indonesia di
tahun 1938 dan dalam bahasa Inggris di tahun 1920, dan edisi khusus dengan
pengantar Eleanore Roosevelt di tahun 1964. Tulisan Julia (tujuh makalah
ilmiah, satu catatan etnografis, tujuh esai, dua tesis dan tiga kolom) yang
tersebar di berbagai jurnal dan koran mancanegara ini dikumpulkannya
sendiri sebagai hadiah untuk memperingati ulang tahunnya yang ke-50. Dalam
sebuah kolom di majalah wanita baru-baru ini, Julia menjelaskan motivasi di
balik "hadiah untuk diri sendiri": "Mungkin hadiah yang paling 'tinggi'
adalah kepuasan yang kita dapat dengan memberi dari diri kita-ilmu, waktu,
energi, perasaan, kasih sayang-bagi orang lain, yang membuat kita merasa
berguna. Semua hal ini membutuhkan pengorbanan, disiplin, dan dedikasi.
Tapi apakah artinya hidup tanpa semua itu? Masing-masing dari diri kitalah
yang bisa menentukan, apakah hadiah yang paling berharga yang ingin kita
berikan kepada diri kita. Masalahnya, bersediakah kita membayar harganya?"
Hadiah Julia adalah kehadiran kuat pribadinya dalam tulisan-tulisannya.
Dengan penuturan yang mengalir, Julia berbicara lugas dan spontan.
Bandingkan dengan gaya menulis ilmiah yang umum di Indonesia-yang cenderung
meniadakan diri dalam kalimat-kalimat pasif. Suara Julia datang dari
perpaduan yang kompleks: Julia yang sekuler dan rasional, dan yang
spiritual-reflektif, Julia yang percaya diri dan yang peka, yang suka
berdandan dan yang turun ke jalan, yang sensual dan yang radikal, yang
skeptis dan yang romantis, yang berpusat pada diri sendiri dan yang
mengamati orang lain. Tidak semua orang setuju dengan gagasan-gagasannya,
dan suka pada gaya dan sosoknya, seorang "anarkis" (sebutannya sendiri)
yang sewaktu-waktu siap menjadi liar dan mengusik. "Just write however the
spirit moves you," katanya.
Strategi ini membawa konsekuensi terhadap konsistensi ulasan. Dalam
membahas karya sastra, misalnya, Julia bisa berpanjang lebar membicarakan
pengarang kesukaannya, dan meyentuh secara permukaan pengarang yang tidak
terlalu memancing perhatiannya. Esai-esai sosial politiknya di beberapa
bagian diwarnai oleh bingkai ilmiah dengan kategori dan klasifikasi; dan di
bagian-bagian lain oleh opini-opini yang dilemparkannya dengan ringan
tentang tokoh dan peristiwa yang diamati.
Tak enggan berspekulasi, Julia membuat esai-esainya menggoda dan mengusik.
Bacalah teorinya tentang lima sikap mental Manusia Indonesia (tidak matang,
penuh ketakutan, tak berdaya, irasional, dan sulit menata diri) yang
mengingatkan kita kepada Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis. Manusia
Indonesia, menurut Julia, belum mencapai modernitas tetapi telah
meninggalkan tradisi. Terperangkap dalam konflik kepentingan global dan
internal, Manusia Indonesia menumbuhkan mentalitas jalan pintas yang
cenderung mereduksi permasalahan menjadi generalisasi sempit.
Celetukan-celetukannya terkadang berseberangan dengan opini yang populer
pada masanya. Sosok Wiranto di mata Julia menimbulkan tanda tanya: seorang
populis yang secara terbuka mendukung reformasi, tapi kemudian berbalik
arah, "apakah karena kesetiaan pada mantan atasan dan kroni, atau karena
niat untuk menjaga stabilitas demi bangsa dan Negara?". Sebaliknya, Gus
Dur, yang kelebihannya sebagai pluralis diakui oleh Julia, dikecamnya
dengan keras karena telah merendahkan diri untuk menjatuhkan Megawati
berdasarkan orientasi keperempuanannya.
Di sisi lain, keberadaan Julia di berbagai persilangan, termasuk
persilangan bidang minat, disiplin ilmiah (antropologi, sosiologi, politik)
memperkaya dimensi tulisan-tulisannya. Kerumitan yang dialaminya karena
berada di dunia perbatasan ("Barat-Timur, intelektual-aktivis, pemimpi yang
idealis/realis, pemberontak-tradisionalis dan . feminis-'femme fatale')
dimanfaatkannya untuk menjadi sumber kreativitas dan sarana untuk menjadi
"mediator budaya". Satu abad yang lalu, seperti Julia, Kartini juga
dibesarkan di perbatasan dua dunia dan dua bahasa, tetapi posisi ini
membawa konsekuensi yang sangat berbeda. Penguasaan bahasa dan budaya yang
menjadi kunci lompatan bagi generasi Julia untuk memperoleh akses dan
kebebasan gerak, dalam konteks Kartini menjadi pembuka kesadaran akan
kungkungan yang tak mungkin dilampaui.
Kartini dan Julia, dua perempuan yang haus ilmu ini jelas dibesarkan dalam
kondisi yang bertolak belakang. Bandingkan potret Julia di buku itu yang
bergaya bak foto model dengan potret Kartini yang nyaris tanpa ekspresi
dalam konvensi fotografi zaman kolonial yang serius dan muram. Jika Kartini
bermimpi untuk bersekolah di negeri Belanda, Julia Suryakusuma mendapatkan
gelar MA dari sebuah institut ilmu sosial di negeri Belanda. Kartini lahir
dalam keluarga bangsawan Jawa yang hanya mengirim anak laki-laki ke luar
negeri, sedangkan Julia lahir di New Delhi, India, dan dibesarkan di Eropa,
sebagai anak diplomat Indonesia yang terbiasa melanglangbuana. Jika Kartini
remaja melahap literatur dunia dalam Bahasa Belanda diam-diam dalam
pingitan di kamarnya, Julia membaca filsafat dunia dalam bahasa Inggris,
Perancis dan Jerman, di usia belasan tahun di sebuah sekolah internasional
Amerika di Roma.
Tidak banyak pemikir perempuan menikmati kemewahan seorang Julia dengan
aksesnya yang global. Tapi kita tidak boleh lupa, berapa harga yang harus
dibayar untuk melahirkan tulisan-tulisan seperti ini. Surat-surat Kartini
lahir dari penderitaan, dan bahkan Julia harus membayar aktivitas dan
karyanya bukan saja dengan keringat, waktu dan uang. Aktif menulis di zaman
Orde Baru, Julia menulis baris demi baris tulisannya dengan ancaman
ditangkap bahkan beberapa kali diinterogasi. Posisinya sebagai intelektual
dengan pendidikan akademis dibayarnya dengan meninggalkan anak selama tiga
tahun, sebuah ongkos yang penuh pergulatan emosi dalam diri maupun
keluarga. Dalam kaitan itu, bagian yang paling menyentuh dalam buku ini,
dan merupakan dokumen yang bernilai adalah esai biografis (pengantar)
tentang pergulatannya sebagai seorang intelektual dan seorang perempuan,
istri, ibu dan anak dalam gejolak perubahan zaman.
Tidak seperti kiprah politik atau bisnis, sumbangan pemikiran penting bagi
dunia tapi tak secara langsung kasat mata. Surat-surat Kartini tak pelak
lagi menjadi inspirasi bagi para pemikir perempuan di Indonesia dan
kekayaan bagi kesusastraan dunia. Dalam untaian rantai selanjutnya,
tulisan-tulisan Julia membukakan wawasan bagi pemikir perempuan lainnya.
Myra Diarsi, aktivis perempuan di Komnas Perempuan mengakui bahwa kesadaran
feminisnya mulai mendapatkan ruang setelah membaca artikel Julia dalam
Jurnal Prisma di tahun 1980-an. Kumpulan tulisan Julia merupakan salah satu
dokumen penting untuk perkembangan feminime di Indonesia dan sumbangan bagi
pemikiran kritis tentang bangsa dan negara.
Berbeda dengan dua perempuan yang datang dari kelas menengah atas ini,
Indonesia masih dipenuhi oleh buruh-buruh kecil tanpa pendidikan yang
menulis di remang-remang lampu teplok di pemukiman kumuh. Di sanalah
tersisa pergulatan Kartini- Kartini abad ke-21 di era yang masih terpingit
di tengah hiruk-pikuk persilangan global-lokal. Sebagian dari mereka punya
kesempatan mengaktualisasikan diri melalui komunitas buruh atau komunitas
sastra, sebagian besar tak punya akses untuk membuat suaranya terdengar.
Bagaimana mereka menyikapi proses-proses peluasan atau penyempitan ruang
gerak dalam otonomi daerah, dalam tatanan ekonomi global, dalam kekerasan
berbasis budaya maupun ideologi? Siapa akan mendengar mereka?
Di tempat-tempat lain, perempuan-perempuan korban kekerasan mengunci
suaranya, dan kita pun melupakannya. Suatu hari, tiba-tiba, seorang
perempuan korban kekerasan mengirim surat elektronik kepada saya: "Jangan
buka identitas saya, jangan sebut alamat saya, tapi bacalah cerita hidup
saya." Ketakutan membayangi nadanya. Saya berjanji suatu waktu meneruskan
ceritanya. Masih banyak Kartini-Kartini yang bahkan belum bisa menemukan
suara mereka. Berapa harga yang harus mereka bayar untuk bersuara dan siapa
yang akan menanggungnya?
Melani Budianta Pengajar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia
[Non-text portions of this message have been removed]
_________________________
Subscribe>>[EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe>>[EMAIL PROTECTED]
Arsip>>http://groups.yahoo.com/group/perempuan
_________________________
PILIH PENERIMAAN E-MAIL:
1>satu-satu
2>rangkuman harian
3>akses di http://groups.yahoo.com/group/perempuan
_________________________
MAAF, MILIS INI TIDAK MENERIMA ATTACHMENT
<Mohon masukkan semua pesan di badan e-mail>
_________________________
Yahoo! Groups Links
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give the gift of life to a sick child.
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/