Sekarang bung Nizami mulai jadi tukang ramal ya :)

Hormatilah pilihan orang, nggak perlu dipolitisir dan dikhawatirkan atau
diagamasirkan.......
Silahkan anda yang mau nikah muda, nikah tua, yang mau poligami, yang pilih
poliandri bahkan yang pilih ndak menikah juga tidak apa-apa, seperti kata
ayu utami diradio 68H "Setiap orang bebas memilih pilihannya masing-masing"

regards,

Oman

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Behalf Of A Nizami
Sent: Wednesday, April 27, 2005 2:31 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [ppiindia] 10 + 1 Alasan untuk Tidak Kawin by Ayu Utami



Nanti 30 tahun lagi ketika Ayu melihat kakek nenek
bertemu dgn anak2 dan cucu mereka, dia akan menulis:

KENAPA SAYA DULU TIDAK KAWIN....???

--- Carla Annamarie <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

>
>
>       10 + 1 Alasan untuk Tidak Kawin
>        by Ayu Utami
>
>        Inilah sebelas alasan kenapa tidak menikah
> adalah sikap politik
> saya,
>  dan karenanya saya tidak layak diundang oleh Jeremy
> Thomas sebagai tamunya
>  dalam Love & Life
>
>        1      Memangnya harus menikah?
>
>        2      Tidak merasa perlu
>
>        3      Tidak peduli
>
>        4      Amat peduli. Jika di satu sisi saya
> mudah dianggap tidak
>  peduli pada nilai yang dipercaya ibu saya, di sisi
> lain saya sesungguhnya
>  amat peduli.Awalnya sederhana saja. Sejak kecil
> saya melihat masyarakat
>  mengagungkan pernikahan. Ironisnya, dongeng
> Cinderella, Putri Salju, Putri
> Tidur,
>  Pretty Woman tamat pada upacara, tukar cincin,
> dentang lonceng, atau
>  ciuman di balkon. Artinya, tidak ada dongeng
> tentang perkawinan itu
> sendiri.
>
>  Sesungguhnya pada titik dongeng berhenti, seorang
> enak diperkenalkan pada
>  yang realistis. Yang tidak diceritakan itu. Yaitu,
> bahwa pernikahan tidak
>  ideal. Selain kasih sayang, juga ada kebosanan,
> penyelewengan, pemukulan.
>  Tetapi itu tabu dibicarakan. Sebaliknya, masyarakat
> mereproduksi terus
>  nilai yang mengagungkan pernikahan. Mereka
> menempatkan jodoh sebagai titik
>
>  nadir sejajar dengan kelahiran dan kematian. Suatu
> proses yang wajib
>  dilalui manusia. Seolah-olah alamiah, bahkan
> kodrati. Barangkali
>  percintaan memang amat romantis sehingga orang,
> misalnya saya dan pacar
>  saya kalau lagi jatuh cinta, suka berkhayal bahwa
> kami dipersatukan oleh
>  malaikat (tentu khayalan ini berakhir bersama
> selesainya hubungan).
>  Perasaan melambung itu mungkin yang membuat kita
> ogah mengakui bahwa kita
>  lahir dan mati adalah proses biologis, sementara
> menikah adalah konstruksi
>
>  sosial belaka.< /P
>
>  Persoalannya, selalu ada yang tidak beres dengan
> konstruksi sosial. Pada
>  umumnya pernikahan masih melanggengkan dominasi
> pria atas wanita. Kecuali
>  di beberapa negara liberal Eropa, hukum tidak
> terlalu berpihak pada istri.
>
>  Di Indonesia ini terlihat pada setidaknya
> undang-undang perkawinan,
>  perburuhan, maupun imigrasi. Di masyarakat, begitu
> banyak pengaduan kasus
>  kekerasan domestik terhadap perempuan. Kita dengar
> dari media massa
>  tentang pemukulan atas pembantu rumah tangganya
> Imaniar hingga atas Ayu
>  Azhari oleh suaminya sendiri. Ketimpangan jender
> harus diakui.
>
>  Tapi puncak pengesahan supremasi pria atas wanita
> adalah dalam poligami.
>  Tema yang hampir-hampir tak pernah dikembangkan,
> bahkan dalam dongeng 1001
>
>  malam. (Menurut saya topik ini digarap dengan amat
> muram dan mencekam
>  dalam Raise the Red Lentern oleh Zhang Yi Mou).
> Bahwa seorang lelaki boleh
>
>  memiliki banyak bini, tapi seorang istri tidak
> diperkenankan memiliki
>  banyak laki. Padahal, secara biologis perempuanlah
> yang bisa betul-betul
>  yakin bahwa anak yang dikandungnya adalah anaknya
> sendiri. Waktu remaja
>  tentu saja saya merasa tidak nyaman membaca berita
> bahwa Rhoma Irama kawin
>
>  lagi dengan Rika Rachim, yang lebih muda dan segar
> daripada Veronica,
>  istri pertamanya yang kemudian minta cerai karean
> tidak mau dimadu. (Saya
>  menyetujui perselingkuhan, sebab perselingkuhan
> istri maupun suami
>  sama-sama tidak disahkan hukum).
>
>  Saya anti-poligami. Tapi bukannya tidak bisa
> melihat rasionalisasi di
>  balik kawin ganda ini. Poligami adalah masuk akal
> di dalam masyarakat yang
>
>  amat patriarkal, yang berasumsi bahwa pria
> superior, bahwa pria menyantuni
>
>  perempuan dan tak mungkin sebaliknya, sehingga
> tanpa lelaki seorang
>  perempuan tak memiliki pelindung. Para pendukung
> poligami umumnya gagal
>  untuk mengakui bahwa poligami hanya adil untuk
> sementara, yaitu dalam
>  konteks masyarakat patriarkal. Dan bahwa kita punya
> pekerjaan besar untuk
>  mengubah sistem yang cenderung berpihak pada pria
> itu. Makanya, saya
>  kecewa ketika dalam periode Gus Dur, Menteri
> Pemberdayaan Perempuan tidak
>  menentang pencabutan PP 10 yang melarang pegawai
> negeri beristri banyak.
>  (Dalam hal ini saya lebih suka Soeharto daripada
> Hamzah Haz.)
>
>  Lantas, apa hubungan semua perkara besar itu dengan
> saya? Hubungannya
>  adalah bahwa saya peduli, yaitu jengkel dengan
> idealisasi tadi. Barangkali
>
>  saya ingin mengatakan bahwa ada persoalan di balik
> pengagungan atas
>  pernikahan. Pernikahan tidak dengan sendirinya
> membuat hidup Anda sempurna
>
>  atau bahagia. Saya ingin mengingatkan, ada jalan
> alternatif. Perempuan tak
>
>  perlu menjadi istri kesekian atau kawin dengan
> lelaki bertelapak tangan
>  ringan hanya demi jadi Nyonya Fulan.
>
>  Catatan: Jika perkawinan ibarat pasar, orang-orang
> yang memutuskan tidak
>  menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri
> seperti OPEC mengatur suplai
>
>  minyak. Juga memperingatkan para suami bahwa istri
> bisa tak bergantung
>  pada dia. Dengan demikian, mestinya harga istri
> menjadi lebih mahal
>  sehingga harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya.
> (Nah, saya peduli dan
>  berniat baik, kan?)
>
>  5      Trauma. Saya punya trauma. Bukan pada
> lelaki, sebagaimana
>  diperkirakan banyak orang, misalnya seorang ibu
> pendakwah di televisi.
>  Melainkan pada sesama perempuan yang tidak sadar
> bahwa mereka tunduk dan
>  melanggengkan nilai-nilai patriarki.
>
>  Saya punya dua bibi pemuja perkawinan. Salah
> satunya begitu mengagungkan
>  persuntingan sehingga jika saya menikah, ia takkan
> menyapa saya dalam
>  suratnya sebagai Ayu, melainkan sebagai Nyonya Anu.
> Tapi mereka sendiri
>  tidak menikah. Bukan tak mau, melainkan karena tak
> dapat suami. Mereka
>  juga pencemburu pada perempuan lain yang bukan
> sedarah dalam keluarga
>  kami. Mereka cenderung menganggap anak laki-laki
> lebih berharga ketimbang
>  anak perempuan. Syukurlah bahwa ayah-ibu saya
> memperlakukan sama
>  puta-putrinya, sehingga saya tidak punya dendam,
> sembari tetap melihat
>  ketidakadilan.
>
>  Saya juga punya guru-guru di SD dan SMP yang
> memenuhi segala stereotipe
>  tentang perawan tua, perempuan "tidak laku" yang
> dengki. Mereka
>  mengidealkan perkawinan. Mereka tidak mendapat
> suami. Mereka adalah
>  guru-guru paling killer di sekolah. Mereka
> menghukum dengan berlebihan.
>  Mereka membenci murid-murid yang cantik, setidaknya
> begitu mudah berang
>  pada wajah ayu. Syukurlah, saya tidak ayu dan
> cenderung tomboy sehingga
>  mereka baik pada saya. Dengan demikian, saya punya
> simpati baik pada si
>
=== message truncated ===


Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.nizami.org

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links









------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke