sebenarnya orang yang skeptis, apatis-realistis terhadap pernikahan
sebenarnya adalah orang yang memandang suatu pernikahan sebagai sesuatu
yang realistis, mungkin berada dalam utopia-state..:))..tapi sebenarnya
marriage is the battle of life..to keep and maintain marriage is a lesson
and struggle for life..kebanyakan orang gak bisa menerima realita
itu..ditambah dengan makin menurunya integritas pria dan semakin banyka
wanita menutup diri dari hubungan dengan pria karena takut
terluka...anyway..
pernikahan adalah ibadah.., it's one of the tools to worship
God...kebahagiaan bukan tujuan pernikahan, karena kebahagiaan adalah
keputusan, tapi tujuan pernikahan adalah kemuliaan hati, kemuliaan pikiran,
dan kemuliaan iman.., karena pria dan wanita diciptakan to complete each
other.., not against or worse destroy each other..., like it or
not..menjadi seorang wanita yang sempurna adalah saat wanita complete men's
destiny..., adanya perombakan struktur sosial membuat banyak wanita memilih
untuk tidak menikah..karena pada dasarnya they dont have a guts to do
it...or maybe mereka jadi paranoid utk sesuatu yang mereka belum ngalamin
sendiri.., or maybe they just cowards..
sebenarnya memutuskan untuk menikah adalah sesuatu yang paling berani,
paling berharga, dan paling penting dalam kehidupan seorang wanita..if she
passed the test..she will be rewarded with not only men of her life but
more over she could discover her self..as a human being as as a women...
[EMAIL PROTECTED]
Sent by: To:
[email protected]
[EMAIL PROTECTED] cc:
ups.com Subject: Re: [ppiindia] 10 + 1
Alasan untuk Tidak Kawin by
Ayu Utami
04/27/2005 03:01
PM
Please respond to
ppiindia
terlalu banyak alasan, padahal alasan yang gampang
just tell them that ...... belum ketemu jodoh ... its enough ...
terlalu banyak orang yang harus dipersalahkan ..
bayang kan daftar pesakitan dibawah ini ... :p
* Jeremy Thomas
* Cinderela
* Putri Salju
* Putri Tidur
* Prety Women
* Malaikat
* Negara liberal
* Imaniar
* Ayu Azhari
* Raise the red lentern
* Roma Irama
* Rika Rahim
* Veronika
* Gus Dur
* Hamzah Haz
* bibi,
* Guru
* dan lain-lain
cuma yang sangat berkesan bahwa ayu utami mendukung perselingkuhan
karena ingin bebas dari jeratan hukum .. bebas .. gitu loh ..
dan ternyata masalahnya nggak umum, cuma masalah pribadi
so saya pikir ayu utama ini belum berkonsultasi dengan psichyatirst ...
:)
tapi itulah pilihannya ....
salam
...
Carla Annamarie
<[EMAIL PROTECTED] To:
[email protected]
ial.co.id> cc:
Sent by: Subject: [ppiindia]
10 + 1 Alasan untuk Tidak Kawin by Ayu Utami
[email protected]
27/04/2005 14:01
Please respond to
ppiindia
10 + 1 Alasan untuk Tidak Kawin
by Ayu Utami
Inilah sebelas alasan kenapa tidak menikah adalah sikap politik
saya,
dan karenanya saya tidak layak diundang oleh Jeremy Thomas sebagai tamunya
dalam Love & Life
1 Memangnya harus menikah?
2 Tidak merasa perlu
3 Tidak peduli
4 Amat peduli. Jika di satu sisi saya mudah dianggap tidak
peduli pada nilai yang dipercaya ibu saya, di sisi lain saya sesungguhnya
amat peduli.Awalnya sederhana saja. Sejak kecil saya melihat masyarakat
mengagungkan pernikahan. Ironisnya, dongeng Cinderella, Putri Salju, Putri
Tidur,
Pretty Woman tamat pada upacara, tukar cincin, dentang lonceng, atau
ciuman di balkon. Artinya, tidak ada dongeng tentang perkawinan itu
sendiri.
Sesungguhnya pada titik dongeng berhenti, seorang enak diperkenalkan pada
yang realistis. Yang tidak diceritakan itu. Yaitu, bahwa pernikahan tidak
ideal. Selain kasih sayang, juga ada kebosanan, penyelewengan, pemukulan.
Tetapi itu tabu dibicarakan. Sebaliknya, masyarakat mereproduksi terus
nilai yang mengagungkan pernikahan. Mereka menempatkan jodoh sebagai titik
nadir sejajar dengan kelahiran dan kematian. Suatu proses yang wajib
dilalui manusia. Seolah-olah alamiah, bahkan kodrati. Barangkali
percintaan memang amat romantis sehingga orang, misalnya saya dan pacar
saya kalau lagi jatuh cinta, suka berkhayal bahwa kami dipersatukan oleh
malaikat (tentu khayalan ini berakhir bersama selesainya hubungan).
Perasaan melambung itu mungkin yang membuat kita ogah mengakui bahwa kita
lahir dan mati adalah proses biologis, sementara menikah adalah konstruksi
sosial belaka.< /P
Persoalannya, selalu ada yang tidak beres dengan konstruksi sosial. Pada
umumnya pernikahan masih melanggengkan dominasi pria atas wanita. Kecuali
di beberapa negara liberal Eropa, hukum tidak terlalu berpihak pada istri.
Di Indonesia ini terlihat pada setidaknya undang-undang perkawinan,
perburuhan, maupun imigrasi. Di masyarakat, begitu banyak pengaduan kasus
kekerasan domestik terhadap perempuan. Kita dengar dari media massa
tentang pemukulan atas pembantu rumah tangganya Imaniar hingga atas Ayu
Azhari oleh suaminya sendiri. Ketimpangan jender harus diakui.
Tapi puncak pengesahan supremasi pria atas wanita adalah dalam poligami.
Tema yang hampir-hampir tak pernah dikembangkan, bahkan dalam dongeng 1001
malam. (Menurut saya topik ini digarap dengan amat muram dan mencekam
dalam Raise the Red Lentern oleh Zhang Yi Mou). Bahwa seorang lelaki boleh
memiliki banyak bini, tapi seorang istri tidak diperkenankan memiliki
banyak laki. Padahal, secara biologis perempuanlah yang bisa betul-betul
yakin bahwa anak yang dikandungnya adalah anaknya sendiri. Waktu remaja
tentu saja saya merasa tidak nyaman membaca berita bahwa Rhoma Irama kawin
lagi dengan Rika Rachim, yang lebih muda dan segar daripada Veronica,
istri pertamanya yang kemudian minta cerai karean tidak mau dimadu. (Saya
menyetujui perselingkuhan, sebab perselingkuhan istri maupun suami
sama-sama tidak disahkan hukum).
Saya anti-poligami. Tapi bukannya tidak bisa melihat rasionalisasi di
balik kawin ganda ini. Poligami adalah masuk akal di dalam masyarakat yang
amat patriarkal, yang berasumsi bahwa pria superior, bahwa pria menyantuni
perempuan dan tak mungkin sebaliknya, sehingga tanpa lelaki seorang
perempuan tak memiliki pelindung. Para pendukung poligami umumnya gagal
untuk mengakui bahwa poligami hanya adil untuk sementara, yaitu dalam
konteks masyarakat patriarkal. Dan bahwa kita punya pekerjaan besar untuk
mengubah sistem yang cenderung berpihak pada pria itu. Makanya, saya
kecewa ketika dalam periode Gus Dur, Menteri Pemberdayaan Perempuan tidak
menentang pencabutan PP 10 yang melarang pegawai negeri beristri banyak.
(Dalam hal ini saya lebih suka Soeharto daripada Hamzah Haz.)
Lantas, apa hubungan semua perkara besar itu dengan saya? Hubungannya
adalah bahwa saya peduli, yaitu jengkel dengan idealisasi tadi. Barangkali
saya ingin mengatakan bahwa ada persoalan di balik pengagungan atas
pernikahan. Pernikahan tidak dengan sendirinya membuat hidup Anda sempurna
atau bahagia. Saya ingin mengingatkan, ada jalan alternatif. Perempuan tak
perlu menjadi istri kesekian atau kawin dengan lelaki bertelapak tangan
ringan hanya demi jadi Nyonya Fulan.
Catatan: Jika perkawinan ibarat pasar, orang-orang yang memutuskan tidak
menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri seperti OPEC mengatur suplai
minyak. Juga memperingatkan para suami bahwa istri bisa tak bergantung
pada dia. Dengan demikian, mestinya harga istri menjadi lebih mahal
sehingga harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya. (Nah, saya peduli dan
berniat baik, kan?)
5 Trauma. Saya punya trauma. Bukan pada lelaki, sebagaimana
diperkirakan banyak orang, misalnya seorang ibu pendakwah di televisi.
Melainkan pada sesama perempuan yang tidak sadar bahwa mereka tunduk dan
melanggengkan nilai-nilai patriarki.
Saya punya dua bibi pemuja perkawinan. Salah satunya begitu mengagungkan
persuntingan sehingga jika saya menikah, ia takkan menyapa saya dalam
suratnya sebagai Ayu, melainkan sebagai Nyonya Anu. Tapi mereka sendiri
tidak menikah. Bukan tak mau, melainkan karena tak dapat suami. Mereka
juga pencemburu pada perempuan lain yang bukan sedarah dalam keluarga
kami. Mereka cenderung menganggap anak laki-laki lebih berharga ketimbang
anak perempuan. Syukurlah bahwa ayah-ibu saya memperlakukan sama
puta-putrinya, sehingga saya tidak punya dendam, sembari tetap melihat
ketidakadilan.
Saya juga punya guru-guru di SD dan SMP yang memenuhi segala stereotipe
tentang perawan tua, perempuan "tidak laku" yang dengki. Mereka
mengidealkan perkawinan. Mereka tidak mendapat suami. Mereka adalah
guru-guru paling killer di sekolah. Mereka menghukum dengan berlebihan.
Mereka membenci murid-murid yang cantik, setidaknya begitu mudah berang
pada wajah ayu. Syukurlah, saya tidak ayu dan cenderung tomboy sehingga
mereka baik pada saya. Dengan demikian, saya punya simpati baik pada si
guru maupun pada korbannya, teman saya yang cantik. Sembari tetap
merasakan ketidakadilan.
Pada masa kanak dan remaja, kesejajaran antara "perawan tua" dengan tabiat
pendengki tampak begitu nyata, sehidup kakak tiri Cinderella. Untuk
mengatakan bahwa hal-hal tersebut tidak saling berkaitan adalah naif. Lagi
pula, demikianlah stereotipe yang dilanggengkan masyarakat. Tapi, untuk
mempercayai bahwa perempuan yang tidak kawin niscaya mempunyai problem
psikologis juga terlalu menyederhanakan persoalan.
Inilah trauma saya: bahwa saya melihat sindrom perawan tua. Sejak remaja
saya merasa terganggu olehnya. Bertahun lalu saya menulis dalam diary,
"Barangkali saya tidak akan menikah kelak, tetapi saya tidak akan menjadi
pencemburu." Mungkin inilah jalan yang saya pilih: masuk ke dalam trauma
itu dan membalikkannya. Masuk ke dalam prasangka masyarakat dan
membuktikan kesalahannya.
Bibi saya, guru saya, adalah orang yang terluka. Mereka dilukai oleh
masyarakat yang hanya menganggap sempurna wanita berkeluarga dan
menganggap tak laku perempuan lajang tua. Dan luka itu adalah milih setiap
perempuan.
Saya ingin mengorak luka itu, luka saya juga, dan menunjukkan bahwa ini
hanya konstruksi sosial, sehingga kita tak perlu menjadi sakit karenanya.
Tapi alasan ini kok terlalu heroik ya? Nah alasan berikutnya adalah:
6 Tidak berbakat. Rasanya, saya tidak berbakat untuk segala yang
formal dan institusional. Contohnya, sejak SMP saya tidak pernah menjadi
murid yang baik.
7 Kepadatan penduduk. Saya tidak ingin menambah pertumbuhan penduduk
dengan membelah diri.
8 Seks tidak identik dengan perkawinan. Wah, pertama ini konsekuensi
alasan ke-5 tadi: saya kan harus membuktikan bahwa perawan tua dan tak
menikah tidak berhubungan. Kedua, siapa bilang orang menikah tidak
berhubungan seks dengan bukan pasangannya.
9 Sudah terlanjur asyik melajang.
10 Tidak mudah percaya. Ibu saya selalu mengatakan bahwa menikah
membuat kita tidak kesepian di hari tua. Tapi siapa yang bisa jamin bahwa
pasangan tak akan bosan dan anak tidak akan pergi? Tak ada yang abadi di
dunia ini,
jadi sama saja.
+1 Dan kenapa saya menceritakan semua itu? Sebab selalu ditanya.
Inilah anehnya kesadaran. Ketika kita menjalani hidup, sebetulnya semua
mengalir begitu saja. Tetapi ketika kita ditanya, kita seperti dipaksa
untuk menyadari dan merumuskan. Lantas, sesuatu yang semula terasa wajar
menjelma sikap politik.
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
______________________________________________________________
Disclaimer :
- This email and any file transmitted with it are confidential and
are intended solely for the use of the individual or entity whom
they are addressed, if you are not the original recipient, please
delete it from your system.
- Any views or opinions expressed in this email are those of the
author only.
______________________________________________________________
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/