28.04.2005 Jamur dan transplantasi organ tubuh (Jamur bukan hanya enak dimakan namun juga banyak yang berkhasiat medis) Manusia hidup dalam habitat yang penuh persaingan maupun simbiosis, baik dengan makhluk hidup berderajat tinggi lainnya, maupun dengan makhluk hidup sederhana. Berbagai jenis jamur misalnya, diketahui memiliki khasiat medis yang menguntungkan manusia.
Jamur, sejak berabad-abad dikenal memiliki fungsi beragam. Dewasa ini, dikenal lebih dari 100 ribu jenis jamur, dari yang bisa dimakan dan berharga mahal, yang menimbulkan penyakit, yang memiliki racun mematikan sampai yang berfungsi menguraikan sisa organisme lain. Sejak 30 tahun lalu, para pakar kedokteran juga berhasil menemukan sejenis jamur, yang membantu mereka dalam pencangkokan organ tubuh. Seperti diketahui, tubuh manusia memiliki mekanisme untuk menyerang benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Organ baru yang dicangkokan dikenali tubuh tergolong benda asing, yang logikanya harus dimusnahkan. Sistem kekebalan tubuh dengan cepat menyerang organ cangkokan. Dalam dunia kedokteran, mekanisme ini disebut reaksi penolakan. Untuk mengurangi reaksi penolakan, para dokter biasanya memberikan obat yang menekan aktivitas sistem kekebalan tubuh. Tentu saja terdapat dampak negatif yang menyertainya, sebab dengan obat penekan sistem kekebalan, tubuh yang masih lemah akibat operasi, seolah-olah dipasrahkan begitu saja kepada bibit penyakit. Dilema sistem imunitas Para dokter ahli bedah, memang menghadapi pilihan sulit. Jika mekanisme pertahanan tubuh dibiarkan aktif, akan terjadi reaksi penolakan yang dapat berakibat kematian. Namun jika sistem kekebalan ditekan, berbagai bibit penyakit akan menyerang. Sejak 30 tahun lalu, sejenis jamur yang berasal dari Norwegia yang digunakan menekan kekebalan tubuh, sehingga mengurangi reaksi penolakan terhadap organ cangkokan. Unsur aktif dari jamur yang mampu menekan aktivitas sistem kekebalan tubuh itu, diberi nama dagang Ciclosporin. Harus diakui, penemuan Ciclosporin merupakan revolusi dalam kedokteran cangkok organ tubuh. Tanpa penemuan Ciclosporin, mungkin keberhasilan cangkok organ tidak setinggi sekarang. Memang ketika kedokteran cangkok organ tubuh mulai berkembang di tahun 60-an, sudah digunakan berbagai obat sintetis untuk menekan reaksi penolakan. Yang umum digunakan misalnya Azathioprin, yang memiliki dampak sampingan menekan produksi sum-sum tulang belakang dan peracunan hati. Sering juga dipakai Corticosteroid, yang memiliki dampak sampingan amat kompleks, diantaranya keruhnya lensa mata atau katarak, kerapuhan tulang dan kematian jaringan otot. Ciclosporin juga memiliki dampak negatif, namun lebih mudah diawasi oleh para dokter. Karenanya, dalam dua dekade terakhir ini, Ciclosporin merupakan komponen obat yang paling penting dalam cangkok organ tubuh. Agar pasien cangkok organ tubuh tidak diserang bibit penyakit, para dokter biasanya memberikan obat antibiotika secara terarah. Namun, seperti diakui oleh Prof. Dr.Jan Schmidt kepala bagian cangkok ginjal dan pankreas di pusat cangkok organ tubuh di rumah sakit Heidelberg, antara 20 sampai 30 persen pasiennya pada tahun pertama setelah operasi, tetap saja terkena infeksi bahkan sebagian infeksi berat. Dalam kasus infeksi berat, tidak jarang terjadi kematian. Artinya, harus dicari komponen atau unsur aktiv baru, untuk menekan sistem kekebalan tubuh. Ciclosporin memang masih ampuh. Namun, jumlah pasien cangkok organ tubuh, dari tahun ke tahun terus meningkat. Dengan itu, diperlukan obat penekan kekebalan tubuh baru yang jauh lebih aman. Unsur serangga sekaligus tanaman Tahun 90-an lalu, para peneliti dari Universitas Tokyo di Jepang, tertarik pada laporan pengobatan tradisional Cina, yang menggunakan apa yang disebut unsur "serangga di musim dingin-tanaman di musim panas". Sejak ribuan tahun, unsur misterius yang juga disebut cacing yang bukan cacing-tanaman bukan tanaman itu, diyakini manjur sebagai obat awet muda. Ternyata yang disebut unsur serangga di musim dingin-tanaman di musim panas itu, adalah sejenis jamur yang biasanya menyerang sejenis lebah. Di musim dingin, jamur menyerang dari dalam tubuh hingga datangnya musim panas, ketika lebah inangnya mati dan tinggal jamurnya. Jamur bersangkutan, bernama latin Isaria sinclairii dan mengandung unsur aktiv Myriocin. Penelitian para pakar di Tokyo menunjukan, Myriocin memiliki fungsi menekan kekebalan tubuh sepuluh kali lebih kuat dari Ciclosporin. Hanya saja, seperti unsur aktif lainnya, kandungan Myriocin pada jamur tsb sangat kecil dan langka. Dewasa ini, para peneliti sudah berhasil membuat Myriocin secara sintetis, yang untuk sementara diberi nama unsur aktiv FTY-720. Yang juga menarik, Myriocin memiliki mekanisme berbeda dengan Ciclosporin. Sejauh ini diketahui, Ciclosporin menekan sistem kekebalan tubuh, dengan cara mencegah perkembang biakan sel darah putih atau bahkan membunuhnya. Dengan demikian, tubuh pasien penerima organ tubuh, ibaratnya tidak memiliki lagi sistem pertahanan tubuh. Myriocin bekerja dengan cara lain. Unsur aktiv ini tidak mencegah pembiakan atau membunuh sel darah putih, tetapi hanya menyanderanya. Dalam arti, menahan sistem kekebalan tubuh, agar hanya berkumpul di kelenjar getah bening dan tidak menyebar. Akan tetapi sel darah putih tetap bisa berkembang biak dan aktiv. Jadi setiap saat tetap siap menghadapi bibit penyakit. Mekanisme berbeda Pengamatan lebih lanjut oleh tim peneliti Universitas Z�rich dari pemenang hadiah Nobel, Prof. Rolf Zinkernagel menunjukkan, tikus-tikus percobaan yang mendapat Myriocin turun aktivitas pertahanan tubuhnya hingga 80 persen. Namun juga diamati, sedikit sel-sel pertahanan tubuh yang masih tersisa dalam darah tetap aktiv. Dengan begitu, tikus-tikus percobaan, masih tetap memiliki reaksi pertahanan tubuh terhadap berbagai jenis virus. Jadi, unsur aktiv baru Myriocin tidak mematikan sistem kekebalan tubuh, melainkan mengendalikannya. Dalam berbagai percobaan, baik pada tikus, anjing dan monyet yang mendapat cangkok organ tubuh, Myriocin terbukti mencegah reaksi penolakan. Juga percobaan pada beberapa orang yang menjadi relawan, menunjukan keampuhan unsur aktiv Myriocin. Unsur ini dapat diterima tubuh dan tidak beracun, baik pada jaringan tubuh maupun pada organ cangkokan. Jika digabung dengan pemberian Ciclosporin dalam dosis rendah, khasiatnya menjadi lebih kentara. Dr.Schmidt dari Heidelberg Jerman melaporkan pengamatannya, mengenai lebih sedikitnya dampak sampingan Myriocin. Dewasa ini, beberapa industri farmasi terkemuka terus melakukan penelitian, agar unsur aktiv Myriocin dapat dijadikan obat standar. Kita memang tidak mau dicangkok organ tubuh. Tapi jika hal itu tidak mungkin dihindari, tentu saja kita mengharapkan cangkok organ yang aman. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> In low income neighborhoods, 84% do not own computers. At Network for Good, help bridge the Digital Divide! http://us.click.yahoo.com/HO7EnA/3MnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

