> Adian Husaini
> Kandidat Doktor di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur
>
>
>
>
> Habemus papam!(Kita punya Paus). Begitu kata penganut Katolik Roma,
menyusul terpilihnya Joseph Ratzinger sebagai paus baru menggantikan Paus
Yohannes Paulus II, Selasa (19/4). Ratzinger yang memilih gelarnya Paus
Benedictus XVI dikenal sebagai teolog konservatif, sehingga meruntuhkan
harapan banyak kaum liberal dalam Katolik. Paus yang oleh kaum Katolik
dijuluki sebagai Bapa Suci atau Wakil Kristus, memegang peran sentral dalam
agama Katolik.
>
> Begitu sentralnya peran paus sebagai Wakil Kristus di bumi, maka sampai
abad ke-17, masih ada kepercayaan bahwa bumi adalah pusat tata surya dan
seluruh alam semesta bergerak mengelilingi mahkota paus. Konsili Vatikan I
(1869-1870) mengajarkan bahwa paus tidak dapat sesat kalau sebagai gembala
seluruh orang Kristiani dan pengganti Petrus.
>
> Namun, sepanjang sejarahnya, doktrin tentang sentralitas dan infalibilitas
Paus mendapat tantangan besar. Bayangan-bayangan sejarah konflik dan
perpecahan terus mewarnai pemeluk Kristen, sehingga tidak mampu lagi
mempertahankan sifat Gereja yang ''satu, kudus, katolik, dan apostolik'',
sebagaimana diputuskan dalam Konsili Konstantinopel tahun 381.
>
> Dari sekitar 1,8 miliar orang Kristiani di seluruh dunia kini, pemeluk
Katolik berjumlah sekitar 1,1 miliar, Ortodoks 173 juta, Protestan 382 juta,
dan Anglikan 75 juta. Perpecahan bahkan konflik-konflik berdarah antara
Katolik dan Protestan telah memunculkan pertanyaan mendasar tentang
kebenaran dan keselamatan internal Kristiani. Gereja mana yang benar? Tokoh
Protestan Martin Luther menyebut paus sebagai sosok anti-Kristus yang dalam
berbagai karikatur ketika itu digambarkan sebagai monster jahat. Balasan
Katolik terhadap Protestan juga tidak tanggung-tanggung. Sejarah mencatat,
pada 1527, misalnya, terjadi THE I Massacre Day Bartholomews St, yaitu
pembantaian sekitar 10.000 kaum Protestan di Paris termasuk wanita dan
anak-anak oleh kaum Katolik.
>
> Beban sejarah yang kelam dari Gereja Katolik semacam itu tidak mudah
dilupakan, dan berpengaruh besar dalam pengambilan kebijakan di masa
kemudian. Kekejaman insitusi Gereja yang bernama Inquisisi sangat terkenal.
Karen Armstrong mencatat, bahwa ''Sebagian besar kita tentunya setuju bahwa
salah satu dari institusi Kristen yang paling jahat adalah Inquisisi, yang
merupakan instrumen teror dalam Gereja Katolik sampai dengan akhir abad
ke-17. Metode ini juga digunakan oleh Gereja Protestan untuk melakukan
persekusi dan kontrol terhadap kaum Katolik di negara-negara mereka.''
>
> Dalam sejarah, banyak paus yang dikenal sangat anti-Yahudi. Pada tanggal
17 Juli 1555, hanya dua bulan setelah pengangkatannya, Paus Paulus IV,
mengeluarkan dokumen (Papal Bull) yang dikenal dengan nama Cum nimis
absurdum. Di sini paus menekankan, bahwa para pembunuh Kristus, yaitu kaum
Yahudi, pada hakekatnya adalah budak dan seharusnya diperlakukan sebagai
budak. Terhadap kaum Muslim, Paus Urbanus II juga memiliki catatan hitam,
ketika menggelorakan Perang Salib, pada 1095. Kata Paus, bangsa Turki
(Muslim) adalah bangsa terkutuk dan jauh dari Tuhan. Maka, dia menyerukan,
''Membunuh monster tak bertuhan seperti itu adalah suatu tindakan suci;
adalah suatu kewajiban Kristiani untuk memusnahkan bangsa jahat itu dari
wilayah kita.''
>
> Dampak seruan itu memang luar biasa pada sikap dan tindakan pasukan Salib
di Jerusalem dan berbagai wilayah lain. Di Jerusalem, hampir semua
penduduknya dibantai. Laki-laki, wanita, anak-anak, tanpa pandang bulu
dibantai di jalan-jalan, lorong-lorong, rumah-rumah, dan di mana saja mereka
ditemui.
>
> Perubahan
> Perubahan sikap yang besar ditunjukkan Gereja Katolik saat Konsili Vatikan
II, 1962-1965. Kaum Yahudi tidak lagi diburu. Literatur-literatur
anti-Yahudi disisihkan dari perpustakaan Vatikan. Terhadap kaum Muslim,
Gereja Katolik juga secara formal mengubah pendekatan. Dialog-dialog
antaragama digalakkan. Eksklusivisme Gereja Katolik melunak, dan secara
verbal meninggalkan jargon extra ecclesiam nulla salus (di luar Gereja tidak
ada keselamatan). Konsili memang tetap menekankan kewajiban menjalankan misi
Kristen kepada seluruh bangsa (ad gentes). Tapi, hal itu dilakukan dengan
cara-cara yang jauh lebih halus dibandingkan pada masa lalu. Tidak lagi
menggunakan cara-cara pembaptisan paksa.
>
> Meskipun Konsili Vatikan II sudah banyak mencoba berkompromi dengan
modernitas, namun masalah dalam Gereja Katolik bukan berarti selesai.
Paus-paus setelah Konsili Vatikan II terus dihadapkan pada masalah-masalah
pelik, khususnya ketika harus berhadapan dengan nilai-nilai sekularisme dan
liberalisme Barat. Sebagai salah satu aktor penting dalam politik
internasional, paus tentu saja harus terlibat dalam berbagai problema
politik yang didominasi nilai-nilai sekular-pragmatis.
>
> Pada saat yang sama, Gereja Katolik juga nyaris tak henti dirundung
masalah internal Kristen sendiri. Sebelum meninggalnya Paus Yohannes Paulus
II, Gereja Katolik dan kaum Kristen pada umumnya digoncang oleh sebuah novel
The Da Vinci Code karya Dan Brown. Ini memang hanya sebuah novel, sebuah
cerita berlatarbelakang cerita fiksi. Namun karena isinya dinilai berpotensi
besar menggoncang iman Kristiani maka novel ini mendapat tanggapan serius
dari puluhan teolog Kristen.
>
> Novel ini begitu menyengat para teolog Kristen, karena isinya membongkar
dasar-dasar teologi Kristen tentang Yesus. The Da Vinci Code adalah sebuah
novel yang memporak-porandakan sebuah susunan gambar yang bernama Kristen
itu. Betapa tidak, dalam novel ini, misalnya digambarkan bahwa sebelum
disalib, Jesus sebenarnya sempat mengawini Mary Magdalena dan mewariskan
Gerejanya kepada Magdalena, bukan kepada Santo Petrus (Paus Pertama).
Bahkan, bukan hanya kawin, Jesus pun punya keturunan dari Mary Magdalena.
>
> Bukan itu saja. Melalui The Da Vici Code, Brown juga berhasil membangun
citra buruk Vatican dengan nyaris sempurna. Bagaimana, misalnya, paus
mendukung aktivitas Opus Dei, sebuah kelompok Katolik yang tidak segan-segan
melakukan pembunuhan dengan kejam dalam menjalankan misinya. Opus Dei
baru-baru ini membangun markasnya di New York. Melalui Opus Dei inilah
Gereja Katolik berusaha merebut bukti-bukti sejarah tentang Gereja Mary
Magdalena.
>
> Sebelumnya, citra Gereja Katolik juga sempat dihajar isu skandal seks
sejumlah tokohnya di AS. Prof Hans Kung, teolog Katolik terkenal asal
Jerman, misalnya, menutup bukunya The Catholic Church: A Short History (New
York: Modern Library, 2003), dengan sebuah epilog: Can The Catholic Church
Save Itself? (Mampukah Gereja Katolik Menyelamatkan Dirinya Sendiri?).
>
> Pesimisme Hans Kung didasari banyaknya laporan tentang skandal seks para
pemuka Gereja Katolik, sehingga ia mengusulkan agar Vatikan mencabut doktrin
celibacy (larangan menikah bagi pastor). Menurut Hans Kung, doktrin itu
bertentangan dengan Bible (Matius, 19:12, 1 Timotius, 3:2). Doktrin ini,
katanya, juga menjadi salah satu sumber penyelewengan seksual di kalangan
pastor. Karena itu Hans Kung menyerukan, Celibacy sukarela, Yes! Celibacy
paksaan, No! Dunia Katolik sangat terpukul ketika media massa membongkar
ribuan kasus pedophilia (pelecehan seksual terhadap anak-anak) yang
dilakukan oleh para tokoh Gereja. Pada 27 Februari 2004, The Associated
Press menyiarkan satu tulisan berjudul Two Studies Cite Child Sex Abuse by 4
Percent of Priests, oleh Laurie Goodstein, yang menyebutkan, bahwa pelecehan
seksual terhadap anak-anak dilakukan oleh 4 persen pastur Gereja Katolik.
Setelah tahun 1970, 1 dari 10 pastur akhirnya tertuduh melakukan pelecehan
seksual itu. Dari tahun 1950 sampai
> 2002, sebanyak 10.667 anak-anak dilaporkan menjadi korban pelecehan
seksual oleh 4392 pastur. Studi ini dilakukan oleh The American Catholic
Bishops tahun 2002 sebagai respons terhadap tuduhan adanya penyembunyian
kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan para tokoh Gereja.
>
> AW Richard Sipe, seorang pendeta Katolik Roma, menulis buku berjudul Sex,
Priests, and Power: Anatomy of A Crisis (1995). Buku ini menceritakan
perilaku seksual di kalangan para pendeta dan pastor. Sebagai gambaran, pada
17 November 1992, TV Belanda menayangkan program 17 menit tentang pelecehan
seksual oleh pemuka agama Kristen di AS. Esoknya, hanya dalam satu hari, 300
orang menelepon stasiun TV, dan menyatakan, bahwa mereka juga mengalami
pelecehan seksual oleh para pendeta di Belanda.
>
> Tahun 2002, The Boston Globe, juga menerbitkan sebuah buku berjudul
Betrayal: The Crisis in the Catholic Church, yang membongkar habis-habisan
pengkhianatan dan skandal seks para pemuka agama Katolik. Pembongkaran
skandal-skandal seks ini telah memunculkan krisis paling serius dalam Gereja
Katolik. Pelecehan seks khususnya terhadap anak-anak memang sangat serius.
Sebagai contoh, tahun 1992, di Tenggara Massacusetts, ditemukan seorang
pastor bernama James R Porter melakukan pelecehan seksual terhadap lebih
dari 100 anak-anak (pedophilia).
>
> Kini tugas berat berada di pundak Paus Benediktus XVI. Sebagai teolog
konservatif yang menolak berbagai paham liberalisme, Ratzinger harus
berhadapan dengan realita, bahwa mayoritas masyarakat Kristen sendiri sudah
menjadi sekular dan liberal. Di tengah arus globalisasi dan liberalisasi
yang mengarah pada terbentuknya satu teologi global, ia harus mempertahankan
dekrit Dominus Jesus yang menolak paham pluralisme agama, dan menegaskan,
bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah melalui Jesus Kristus.
>
> Paus juga masih harus berhadapan dengan derasnya tuntutan agar wanita
diberi peran yang lebih besar dalam Gereja. Hingga kini, wanita menjadi
warga ''kelas dua'' dalam Gereja Katolik. Gereja tidak mengizinkan wanita
ditahbiskan menjadi pelayan Gereja. Menyusul perdebatan sengit masalah ini,
tahun 1994, Paus Yohannes Paulus II mengeluarkan deklarasi Ordinatio
Sacerdotalis yang menegaskan bahwa gereja tidak mempunyai otoritas untuk
memberi tahbisan imam kepada wanita dan bahwa keputusan ini harus ditaati
oleh semua umat beriman. Maka, dunia kini sedang menunggu corak dan
kebijakan Paus Benediktus XVI dalam merespons berbagai masalah dan tantangan
yang melingkupi Gereja Katolik saat ini. Akankah ia bertahan dengan gaya
panzernya menolak liberalisme, atau akan berkompromi dengan liberalisme?
>







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke