Setelah Kenduri Asia-Afrika
Ada yang skepsis, cuek dan kecewa besar
Kolom Aboeprijadi Santoso, 29 April 2005
Habis kenduri, biasanya orang bersyukur. Tapi, tidak demikian setelah
perhelatan akbar 50 tahun Konperensi Asia Afrika yang baru berlalu.
Sejumlah suratkabar dan pengamat malah mempertanyakan prospek ke
depan. Ada yang skepsis, ada yang cuek, dan ada yang kecewa besar,
atas kenduri besar itu.
Nostalgila
Maklum, kenduri akbar itu bersemangat nostalgia semangat Bandung 1955
tanpa mawas diri. Kenduri itu sunyi senyap tentang pembantaian
(Indonesia 1965) dan genosida (Biafra, Kamboja, Timor Timur), karena
semua itu "cuma" dampak Perang Dingin. Dan Perang Dingin adalah
sasaran yang digugat, tapi gagal ditangkal, oleh solidaritas kedua
benua sejak 1955. Dan setelah tigapuluh tahun bebas, April 2005,
Vietnam jadi saksi dan korban dari kegagalan menangkal perang ketika
kedua benua itu sendiri dilanda imperialisme Amerika dan Soviet.
Jadi 'Bandung 1955' memang suatu momentum besar yang tak terulang -
kecuali kalau mau ber-"nostal-gila". Konperensi Asia-Afrika (KAA) dan
semangat Bandung 1955 adalah ungkapan otentik zaman - sebuah platform
ideologis raksasa; sedang KAA-2005 hanya sebuah rekayasa untuk
menanggapi tuntutan masa kini - sebuah platform pragmatisme belaka.
Tahun 1955 adalah kebangkitan bangsa-bangsa terpuruk, sedangkan tahun
2005 adalah upaya kerjasama setelah mereka jadi kediktatoran militer
dan bersekutu dengan imperialis, bahkan pernah jadi penjajah baru.
Menghidupkan masa silam dengan mengimbau semangat Bandung 1955 di
tengah perubahan 2005, adalah setali tiga uang dengan menganut mitos,
sambil bermegalomania.
Asia Afrika 1955 memperjuangkan martabat dan kemerdekaan bangsa-
bangsa terjajah, mengimbau hak-hak dasar manusia, serta menggugat
dunia yang terbelah, yang dipimpin raksasa-raksasa Soekarno, Pandit
Jawaharlal Nehru, Zhou Enlai dan Gamal Abdul Nasser. Kata-kata
kuncinya: perjuangan dan solidaritas menghadapi imperialisme.
Asia Afrika 2005 tak punya raksasa-raksasa. Kata-kata kuncinya:
kemitraan, pembangunan dan Bank Dunia ("agen imperialis"). Maklum,
KAA-2005 adalah gado-gado dari negara negara yang demokratis
(Indonesia, India), semi-otoriter (Singapura, Malaysia) dan
diktatorial (Zimbabwe, Myanmar), yang tak punya musuh bersama; bangsa-
bangsa itu jadi korban dasyhat dari Perang Dingin (Indonesia,
Kamboja, Timor Timur tahun 60an dan 70an).
Selama setengah abad, KAA tidak berperan meruntuhkan Perang Dingin
(Tembok Berlin 1989), tapi masih bergulat dengan kemiskinan dan
penghormatan HAM. Walhasil, yang ber"nostal-gila" sebenarnya tak mau
tahu perubahan semangat zaman itu. Bahkan, sebagian korban Perang
Dingin, klayaban atau pun kesurupan, juga ikut-ikutan tak mengakui
akibat Perang Dingin, yang menimpa mereka sendiri.
Mengingkari metamorfosa dari semangat zaman adalah memilukan.
Pilihan "nostal-gila" ini mengungkap libido, hasrat terpendam, untuk
membekukan zaman justru ketika zaman bergerak dan berubah cepat.
Mitos, artifisialitas dan megalomania, melalui "semangat Bandung
2005", pada dasarnya, adalah a-historis - sebuah fiksi yang hendak
mematok masa lalu untuk masa kini.
Membekukan masa silam
Wacana semacam ini tak berbeda dengan ortodoksi agama yang bertolak
dari momen-momen historik dan menjadikannya patokan-patokan abadi.
Membekukan sejarah dengan merekayasa semangat 1955 di tahun 2000an
adalah dogmatisme. Agama pantas melakukannya, karena agama - agama
mana pun - bertolak dari dogma. Tetapi jika orang - yang kuasa, ingin
ikut kuasa, atau pun klayaban - menalar seperti itu, apa pula potensi
dan konsekuensinya? Jadi, mengapa orang merasa perlu berpesta-ria
untuk membekukan suatu masa silam yang gemilang? Mengapa perlu
mengingkari metamorfosa dalam perjalanan semangat zaman (zeitgeist)?
Tentang ini, para pemikir Eropa, sudah memperingatkan bahayanya. Karl
Marx, sebelum menunjuk pada perubahan sistim kapitalisme dunia, lebih
dulu menggempur Feuerbach, yang bersikukuh pada determinisme ide dan
semangat. Akhirnya, pembekuan semangat zaman dengan mengimbau masa
lampau itu toh berlangsung secara gigantis di Jerman, Rusia dan
Kamboja. Dan, semua itu akhirnya membuahkan Nazisme, Stalinisme dan
Khmer Merah.
Nasionalisme Indonesia seperti dibayangkan oleh Profesor Soepomo
sebagai bentuk "Negara Integratif" yang berpanut pada model keluarga
Jawa, adalah versi Indonesia dari jenis 'nasionalisme kebablasan'
yang serupa, yang ditunggangi Hitler, Stalin dan Pol Pot. Symptom-
symptom negara impian Soepomo itu terwujud melalui kombinasi dari
kejayaan sistim militer dan model Kejawen dari kediktaturan Soeharto.
Tetapi, Soeharto sudah jatuh, imbasnya berkepanjangan. Mengapa perlu
bermitos dan menghidupkan semangat Bandung 1955 yang diproyeksikan ke
tahun 2005. Jadi, mengapa gerangan?
Tak ada yang tak lekang
Ini mengingatkan saya pada New York, April 1999. Dalam sebuah acara
yang digelar Asia Society, sang tamu, Pramoedya Ananta Toer, diminta
menggambarkan satu ciri Orde Baru. Pram menjawab singkat: "Kita tidak
pernah mendengar lagi kata 'nation building'".
Zeitgeist yang mengingkari nation-building itu rupanya membuat kita
suka membekukan sepotong masa silam. Sekali merdeka, semua hal kita
anggap "taken for granted". Lalu, negara kesatuan kita
anggap "alami", bagian dari "nature", bukan proses yang harus
di "nurture" (dirawat). Hasil perjuangan tidak dirawat, tapi
dikeramatkan.
Misalnya, di tengah dampak tsunami, di Aceh terpampang poster
resmi: "Cinta Damai, (Tapi) Lebih Cinta Keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia". Damai itu mewakili nilai-nilai kemanusiaan, tapi
poster itu berpesan: bahkan di daerah yang didera konflik dan musibah
sekali pun, keberadaan negara berada di atas nilai-nilai kemanusiaan.
Wacana seperti ini mengabsahkan segalanya. Apa pun ulah tentara
menjadi sah, jika membela negara kesatuan. Bahkan kaum yang mengaku
progresif, termasuk yang klayaban, pun memuja tentara demi kesatuan
meski pun ulah senapati-senapati dan bala-nya sering keji dan
merendahkan nilai-nilai dan martabat manusia, yang dibela di Bandung
pada 1955.
Walhasil, hasrat untuk membekukan masa lalu dan memproyeksikannya ke
masa kini itu, rupanya, telah menjadi-jadi ketika nation-state
Indonesia terancam. Orang lupa, semangat apa pun tak akan langgeng
ketika dikawal senjata. Dengan menjadikannya keramat, semangat
Bandung 1955 - seperti juga semangat kesatuan bangsa - juga tidak
dengan sendirinya akan pulih.
Akhirnya, memang, tak ada yang tak lekang di tengah metamorfosa zaman.
� Radio Nederland Wereldomroep, all rights reserved
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/