Suara Karya

            Paradigma Budaya Pendidikan
            @ Refleksi Hardiknas 2005
            Oleh Ahmad Muchlish Amrin 


            Senin, 2 Mei 2005
            Beberapa waktu lalu, Sri Sultan Hamengku Buwono X pernah 
menyabdakan bahwa ekspos para juara Lomba Fisika Nasional, isunya telah 
dikalahkan oleh Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Indonesian Idol di RCTI. 
Gejala itu sebuah pertanda bahwa greget masyarakat kita untuk mutualisme 
pendidikan dan profesionalisme pengetahuan sangat minim. Kepentingan pendidikan 
telah dikalahkan oleh kepentingan pasar dan entertainment. Bahkan pendidikan di 
Indonesia saat ini akan dijadikan sebagai budaya pendidikan bermediasi hiburan. 

            Akibatnya, dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara (anggota 
ASEAN), mutu pendidikan Indonesia masih tergolong rendah. Dari laporan Human 
Development Index (HDI) tahun 2003, Indonesia menempati urutan 112 (0,682) dari 
175 negara. Posisi ini jauh di bawah Singapura yang ada di posisi ke-28 
(0,888), Brunai Darussalam ke-31 (0,872), Malaysia ke-58 (0,790), dan Thailand 
ke-74. 

            Meski ukuran HDI bukan hanya mengukur status pendidikan (tetapi 
juga ekonomi dan kesehatan), namun ia merupakan dokumen rujukan yang valid 
untuk melihat kemajuan pembangunan pendidikan di suatu negara. Munculnya isu 
pendidikan berkelanjutan menekankan pada keselarasan hubungan antarsesama 
manusia dan hubungan antarmanusia dengan lingkungan sebagai suatu kunci 
keberhasilannya. Hubungan sesama manusia tidak jarang didasarkan pada 
kepentingan (interest) pribadi, menciptakan distribusi kesejahteraan yang tidak 
adil, menciptakan konflik atas terbatasnya sumber daya alam (scarcity of 
natural resources) dan terbatasnya sumber daya manusia yang ada (scarcity of 
human resources). 

            Di lain pihak, hubungan sesama yang berkeadilan, damai, dan 
berdasarkan pada kepentingan bersama menuntut adanya tata nilai kesamaan 
(equality), menghargai (respect) dan pemahaman (understanding). 

            Pendidikan pada dasarnya mengajarkan beberapa tata nilai. Pertama, 
penghargaan terhadap hak manusia dan komitmen atas keadilan sosial dan ekonomi. 
Kedua, penghargaan atas hak generasi mendatang dan komitmen atas tanggung jawab 
antargenerasi. Ketiga, penghargaan dan kepedulian atas kehidupan komunitas 
dengan segala keragamannya, termasuk pula pada perlindungan ekosistem serta 
komitmen untuk menciptakan budaya (culture), toleransi dan non-kekerasan. 

            Proyeksi ini merupakan kepedulian global yang ditujukan kepada 
negara berkembang dan negara maju. Namun setiap negara harus mendefinisikan 
sendiri prioritas, sasaran dan program aksi pembangunan berkelanjutan yang 
disesuaikan dengan kondisi lingkungan, sosial dan ekonomi lokal. Lebih jauh 
penyelesaian isu membutuhkan kerja sama internasional untuk perubahan iklim dan 
keanekaragaman hayati dan kebudayaan. 

            Visi baru pendidikan banyak menekankan adanya pendekatan holistik 
dan interdisipliner yang bersifat values-driven, multi-metode, partisipatif dan 
mendorong insan untuk berpikir kritis dan berusaha menyelesaikan masalah. Hal 
ini menuntut institusi pendidikan mereorientasi sistem, kebijakan dan praktik 
pendidikan yang dapat mendorong manusia untuk bertindak dan mengambil keputusan 
secara tepat sesuai dengan kondisi lokal, dalam segala persoalan yang mengancam 
masa depannya. 

            Reorientasi pendidikan dari pendidikan dasar hingga 
universitas-universitas memfokuskan secara jelas pengembangan pengetahuan, 
keterampilan, perspektif, dan tata nilai, terkait dengan generasi kini dan 
mendatang. Hal itu kemudian memberikan implikasi objektif - populis bagi 
perkembangan budaya pendidikan kita ke depan. Bahwa pendidikan menjadi 
inspirasi tumbuhnya keyakinan. Setiap insan mempunyai kemampuan dan tanggung 
jawab untuk melakukan perubahan yang positif. Pendidikan adalah faktor utama 
dalam transformasi, meningkatkan kemampuan setiap insan untuk mentranformasikan 
visinya menjadi realitas. Pendidikan dapat menumbuh-kembangkan tata nilai, 
perilaku dan pola hidup untuk masa depan yang berkelanjutan. Pendidikan 
merupakan suatu proses pembelajaran bagaimana mengambil keputusan yang 
mempertimbangkan faktor keadilan, ekonomi dan ekologi komunitas untuk jangka 
panjang. 

            Misi Paedagogis


            Dari realitas di atas, pendidikan dapat mencetak sebuah kepribadian 
sosial dengan segala konsekuensi masivitasnya, serta bukan semata mengajarkan 
sebuah pengetahuan yang berkaitan dengan lingkungan, tetapi mendidik 
(paedagogic) agar mempunyai tanggung jawab, baik secara institusional ataupun 
moral. Namun fenomena yang terjadi saat ini di dunia pendidikan adalah The 
Survival of The Fittes, bahwa hanya yang terkuat dapat hidup terus. Ini seiring 
isu kapitalisme pendidikan semakin berakar dalam kepala masyarakat kita bahwa 
dengan serta-merta pendidikan telah menjadi konsumsi masyarakat bermodal. 

            Jika hal ini terus menerus terjadi maka niat awal bahwa pendidikan 
sebagai mediasi komprehensif membangun masa depan loyalitas generasi akan 
gagal. Bagaimanapun generasi kita bukan hanya berangkat dari fenomena 
masyarakat yang berduit. Tetapi yang harus diingat, seiring dengan kondisi 
krisis yang belum juga mereda, masih banyak saudara kita yang hidup di garis 
bawah akar rumput (grass root). 

            Pemerataan pendidikan merupakan isu kritis karena berkenaan dengan 
keadilan untuk memperoleh pendidikan yang layak sebagai warga bangsa, seperti 
tercantum dalam UUD 1945 pasal 27. Maka, pemerintah wajib memberikan pelayanan 
pendidikan yang baik kepada seluruh masyarakat tanpa mendikotomikan antara 
orang yang kaya dan yang miskin. 

            Oleh karena itu, yang penting diperhatikan dan diprioritaskan 
adalah pemerataan pendidikan terutama bagi masyarakat miskin yang berjumlah 
sekitar 38,4 juta atau 17,6% dari total penduduk. Kemiskinan menjadi hambatan 
pertama dalam mendapatkan akses pendidikan. Dalam konteks ini affirative action 
amat relevan diterapkan untuk mengatasi kesenjangan partisipasi pendidikan 
antardaerah dan antarkelompok masyarakat. 

            Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) merupakan momentum paling 
tepat untuk membangun kesadaran ini, serta kesadaran pentingnya pendidikan. 
Karena, suatu bangsa tanpa basis pendidikan yang kuat, sulit akan mengalami 
kemajuan klimaks. Ini mengingat pendidikan menjadi landasan utama metamorfosa 
dialektis manusia dalam berhubungan dengan segala elemen kehidupan. Wallahu 
Alam. *** 

            (Penulis, staf direksi Lembaga Kajian Kutub
            Yogyakarta - LKKY).  
     
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/HO7EnA/3MnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke