Source :
http://www.mifta.org/new/index.php?menu=home&topik=opini&id=00010

Masalah Pusar

oleh: Fatma Ariana

Menjadi pengguna angkot di kota besar bukanlah sesuatu yang mudah, terutama 
bila anda laki-laki. Kenapa? Jawabnya mudah. Ambillah contoh di Bandung, di 
sini dapat dengan mudah kita temui gadis-gadis cantik berpakaian ketat dan 
mini. Kaus ketat dan celana � ala Jennifer Lopez yang berpinggang rendah seakan 
menjadi "seragam." Ketika gadis-gadis itu membungkuk untuk turun dari angkot, 
tampaklah pemandangan yang buat saya "mengerikan" itu. Punggung yang terbuka. 
Sebagian mereka ada yang merasa risih, kebingungan menarik- narik kausnya 
bagian belakang. Sebagian yang lain, cuek dan ikhlas saja membiarkan punggung 
yang terbuka itu menjadi tontonan orang-orang se-angkot. Astaghfirullah....saya 
jadi bisa merasakan betapa beratnya menjadi laki-laki di jaman sekarang.

Suatu hari, saya berencana pergi ke suatu tempat. Karena angkot yang saya 
tumpangi masih kosong, saya harus sedikit bersabar menunggu angkot itu ngetem 
sampai penumpangnya penuh. Saya pilih duduk di bangku bagian belakang. Di 
depan, dekat sopir, duduk 2 orang gadis. Gadis yang duduk di tengah rupanya 
memakai kaus yang "kekecilan" dan celana dengan gaya "lower is better" yang 
benar-benar "lower." Tak perlu membungkuk, cukup dalam posisi duduk biasa, 
gadis itu sudah memamerkan hampir 1/3 punggung dan sebagian panggulnya. Tak 
usahlah dibayangkan. Tak lama, datang temannya, seorang pria. Mereka lantas 
mengobrol bertiga. Saking semangatnya, gadis yang duduk di tengah sesekali 
mencondong- condongkan badannya.

Seorang pria lain, calo angkot, tiba-tiba datang, mengajak bicara sopir yang 
sibuk memanggil-manggil penumpang. Perhatian sang calo segera tersita oleh 
punggung sang gadis yang terbuka. Segera saja ia menyikut sang sopir. Kepalanya 
bergerak-gerak ke arah samping seolah-olah hendak mengatakan : "Tuh...liat 
tuh.." Pak sopir cuma menoleh sebentar lantas cuek. Sementara sang calo terus 
menatap dengan pandangan yang aahh.....mengingatkan saya pada lagu Nicky Astria 
"Mata Lelaki" yang terkenal itu.

Sang gadis yang menjadi pusat perhatian tampaknya sama sekali tak sadar apa 
yang telah terjadi. Sementara saya tak bisa berbuat apa-apa. Satu per satu 
penumpang naik. Angkot mulai penuh. Punggung bawah gadis itu masih "menganga," 
mengisi ruang kosong antara kursi sopir dengan kursi penumpang di depan. Mas 
penumpang di depan saya mencuri-curi pandang ke arah "point of view" itu. Saya 
semakin bingung harus berbuat apa.

Hari lain, masih di angkot juga, 2 orang gadis duduk di depan saya. Tentu saja, 
dengan pakaian "seragam" yang sama. Kaos ketat dan celana J.Lo. Sambil melihat 
pemandangan di luar angkot, telinga saya pasang baik- baik untuk mendengarkan 
obrolan mereka. Sebagai penulis, pengamatan saya harus menyeluruh, bukan? 
Mula-mula cerita berkisar tentang teman-teman mereka, lantas tiba-tiba mereka 
mendiskusikan bagaimana cara keluar dari angkot tanpa memperlihatkan punggung 
mereka. Salah satunya mengaku menyesal karena tidak membawa jaket. "Habis nggak 
nyangka sih kalo pulangnya bakalan naik angkot" kata temannya. Ketika turun, 
mereka seperti orang kebingungan, berdesak-desakan antar mereka berdua saja. 
Yang di belakang sibuk menutupi punggung temannya sekaligus menutupi 
punggungnya sendiri. Pemandangan yang menggelikan sekaligus memprihatinkan.

Masalah punggung, panggul, pusar, atau bagian tubuh perempuan yang lain yang 
erat kaitannya dengan baju mini, ketat, dan seksi ternyata bukan hanya monopoli 
penumpang angkot. Karena perempuan dengan baju-baju seperti itu ternyata dapat 
ditemui di mana saja. Termasuk di tempat-tempat yang (katanya) mengagungkan 
intelektualitas dan (seharusnya) dihormati seperti kampus. Sayang, di kampus 
tak ada larangan mengenakan baju-baju seperti itu. Kalau pun ada, gaungnya tak 
segencar larangan mengenakan sandal jepit di kelas. Baju-baju seragam sekolah 
anak SMP dan SMU di kota-kota besar pun semakin lama semakin jauh dari aturan 
yang sebenarnya. Roknya semakin pendek, bajunya semakin kecil dan ketat. Cocok 
untuk dikiaskan dengan peribahasa "Ke atas tampak lutut, ke bawah tampak pusar."

Soal pamer aurat ini bahkan sudah menjadi masalah nasional, saudara- saudara! 
Seorang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun sampai merasa perlu mengimbau 
untuk menertibkan persoalan ini : " Saya meminta secara khusus agar gadis-gadis 
kita yang cantik-cantik, kaum perempuan dan wanita Indonesia yang berbudi 
luhur, dibebaskan dari mempertontonkan perut atau pusar yang dianggap 
biasa-biasa saja," kata Presiden ketika memperingati Hari Ibu, 22 Desember 2004 
lalu di Istana Negara.

Sebenarnya aneh rasanya jika negara demokrasi dengan banyak persoalan seperti 
Indonesia kita ini sampai harus turun tangan mengurusi soal pusar perempuan. 
Jika presiden sampai harus angkat bicara, artinya masalah ini memang sudah 
dianggap serius. Sebagai perempuan, kita seharusnya malu karena masalah pusar, 
punggung, atau bagian mana pun dari tubuh kita mestinya dan harus menjadi 
urusan kita sendiri. Tak perlu menunggu sampai Presiden -yang seorang 
laki-laki-sampai mengeluarkan pernyataan untuk "menertibkannya."

Imbauan Presiden ini tentu bertujuan untuk melindungi kita - perempuan-dari 
tindak kekerasan terutama perkosaan. Negara wajib melindungi perempuan, tapi 
tentu saja semua itu menuntut peran aktif kaum perempuan itu sendiri. Tapi, 
entah berapa banyak perempuan yang sadar bahwa eksistensi dirinya sebenarnya 
tak bisa diraih dengan baju-baju seperti itu, melainkan dengan otak, hati , 
moral, dan ketakwaan. Bahwa perempuan bisa dihormati, dihargai, dan dianggap 
setara dengan laki-laki hanya jika ia bisa menghormati dan menghargai dirinya 
sendiri. Seberapa besar penghormatan dan penghargaan kita terhadap diri 
sendiri, salah satunya bisa dilihat dari cara kita berpakaian.

Tidak salah berusaha tampil cantik, tapi mau tampil cantik yang bagaimana, 
semua itu terserah kepada kita. Tubuh kita seharusnya milik kita, dan karena 
itu milik kita, bukan pada tempatnya jika kita mempertontonkannya di muka umum. 
Sudahlah, mari kita biarkan Presiden kita mengurus masalah- masalah lain yang 
jauh lebih berat dan penting di negeri kita ini. Sementara soal pusar, 
punggung, dan lain-lain itu marilah kita sendiri yang menertibkannya. 
Percayalah, penghargaan sebenarnya dan setulusnya dari orang lain tak pernah 
ada jika penilaian mereka pada kita cuma berdasarkan kecantikan, gaya, atau 
cara berpakaian kita. Tak percaya? Pakai jilbab dan rasakan bedanya!!

 
[2005-05-02 11:51:56] dikirim : Seger Hasani


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke