Sampuraseun,

{
Saya lebih cenderung menggunakan istilah
"keadilan" dan bukannya "demokrasi". Karena
saat ini, apalagi semenjak era George Bush, istilah
"demokrasi" sudah semakin menjadi istilah "pasaran"
yang bisa digunakan untuk memberi label berbagai hal ...,
semakin menjadi relatif maknanya, ...
}

Sementara istilah * keadilan * masih menyimpan
makna nilai yang 'luhur' yang 'absolut', at least,
could be traced up 'trancendently' to the 'devine
inspired' values.

Salah satu thesis terpenting dari Amartya Sen
(Pemenang hadiah Nobel bidang Ekonomi kelahiran India),
adalah bahwa perlunya kita membedakan keadilan
dalam dua bidang :

=> keadilan bidang politik = yang mana orang saat
ini memandang the * Thomas Jefferson's Democracy *
sebagai sistem yang paling 'menjanjikan' keadilan
bidang politik ini.

=> keadilan bidang sosial-ekonomi:

Gagasan Amartya Sen di atas a.l. karena dia tersentuh
oleh terjadinya bencana kelaparan yang pernah terjadi
di negar seperti India, meskipun bangsa ini sejak
berdiri sudah menganut asas demokrasi, sehingga disebut
sebagai 'the biggest democracy' in the world.

Sebaliknya - ini komentar saya sendiri -, ada contoh
konkrit beberapa negara yang sistem politiknya sangat
otoriter, tetapi mampu melindungi kebutuhan pokok
bagi rakyatnya - bahkan pada beberapa kasus di negara
Arab petrodolar, paling tidak hingga tahun 1980 an
pemerintahnya yang tergolong otoriter sanggup memberikan
jaminan kesejahteraan lebih (misalnya, beaya pendidikan
gratis dsb. ) bagi rakyatnya.

Di dalam rumusan konstitusi RI (Bagian Pembukaan UUD-1945
Alinea ke-4), Soal keadilan politik dan keadilan sosial
memang di pisahkan. Keadilan Politik itu Sila ke IV,
Keadilan Sosial itu Sila ke - V. Juga di dalam 'batang
tubuh' UUD-1945, mereka di jabarkan di pasal-pasal
yang terpisah.

Intinya: kita jangan karena terlalu sibuk memperjuangkan
'keadilan politik' lalu melupakan soal 'keadilan sosial'.

{
Mungkin sebaagian dari anda akan mentertawakan saya,
yang pada jaman pasca-Soeharto masih sok bicara
soal 'Pancasila' ala penatar P-4 :) < saya dulu
sama sekali tidak tertarik dengan diskusi soal
Pancasila - soalnya isinya terasa indoktrinasi - tetapi
saat ini, di era kebebasan berpendapat ini, rasanya
lain: rumusan Pancasila yang digagas the Founding Fathers
= although it is man-made, and it might not be perfect =,
was not a 'bad product' either).
}

= ihm =


==============================================
Demokrasi (Tidak) Bisa Memberantas Kemiskinan
==============================================

Penulis : Amartya Sen
Cetakan : I, September 2000
Jumlah Halaman : 100
Penerbit : Mizan Pustaka
Harga : Rp 13.400
ISBN : 979-433-258-5


"Ketidakadilan merupakan ciri penting dalam terjadinya kelaparan
dan krisis hebat lainnya. Tentu saja, ketiadaan demokrasi dengan
sendirinya merupakan ketidakadilan--dalam hal ini ketidakadilan
dalam soal hak dan kekuatan politik. Akan tetapi, kita harus
melihat secara khusus hubungan antara

(1) ketidakadilan politik dalam bentuk pemerintahan
non-demokratik, dan

(2) kelaparan dan pemiskinan timpang lainnya yang terjadi
akibat ketidakadilan ekonomi yang parah dan terkadang
meningkat dengan tiba-tiba.

Inilah sebuah buku yang berbicara tentang nasib kaum papa. Buku
yang didasarkan pada rangkaian kuliah seorang pemikir ekonomi
terkemuka yang disampaikan di Bank Dunia pada November 1996 ini--
persis sebelum krisis ekonomi Asia meledak--merupakan karya yang
memotret wajah krisis Asia dengan cara yang lain, dengan ulasan
yang jernih, bahasa yang provokatif, dan dengan sentuhan yang lebih
humanistik. Dengan keterlibatan mendalam terhadap berbagai wajah
kemiskinan di Asia, Sen memandang bahwa pembangunan hendaknya
dipandang sebagai proses peningkatan kebebasan manusia.

Sebagai pemikiran reflektif yang menawarkan cakrawala baru dalam
ilmu ekonomi, karya ini memberikan kembali harapan cerah bagi masa
depan pembangunan dan memungkinkan didengarnya kembali suara kaum
papa (voice of the poor) yang telah sekian lama didiamkan di balik
praktik pembangunan yang tidak adil.

***

"Karya Sen di bidang ekonomi merupakan 'suara hati ilmu ekonomi'
(the conscience of economics)."

--Robert M. Solow Ekonom Amerika, Peraih Nobel Ekonomi 1997

Prof. Amartya Kumar Sen adalah peraih Hadiah Nobel 1998 dalam
Ilmu Ekonomi dan Rektor di sebuah lembaga bergengsi, Trinity
College. Dia merupakan warga India keenam yang meraih anugerah
bergengsi ini. Filosof-ekonom kelahiran Santiniketan--sebuah kota
kecil dekat Kalkutta, India--ini adalah Profesor Emeritus di
Universitas Harvard. Karya Sen yang lain, On Ethics and Ecnomics
dengan Pengantar Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo, S.E. juga akan
diterbitkan Penerbit Mizan.

Dilengkapi tulisan Amartya Sen,
"Akankah Ada Harapan bagi Kaum Papa?"
dalam Time edisi 22 Mei 2000, hh. 58-59.






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/OCfFmA/UOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke