Salam, Rani... Rani..., koq kuliah kamu berantakan sih? Mulai besok, aku tak ingin lagi mendengar kuliah kamu berantakan, hahaha ... (Apa hubungannya ya?)
Btw, dibawah ini, saya comot juga sebuat kisah ttg "RABINDRANATH TAGORE, Si Lembut Hati dan Massa" yang bersumber dari: Obituari, www.gatra.com Nomor 15/IV, 28 Februari 1998. ==== RABINDRANATH TAGORE, Si Lembut Hati dan Massa Pujangga India itu tak setuju pada kekerasan. Karyanya relevan dengan krisis moneter yang kini melanda kita. RABINDRANATH Tagore (1861-1941) bukan seorang demonstran. Ia cuma si penyendiri, dengan puisi-puisi yang mengagungkan kemanusiaan. Jika si lembut hati itu hidup sekarang, di sini, ia akan memprotes amuk massa di wilayah Cirebon, Jawa Barat, lantaran membubungnya harga-harga bahan pokok. Ia tak akan setuju pada bentrokan massa yang berdarah, hatta demi keadilan, reformasi politik dan ekonomi, juga demi etnik, ras, atau agama. Lelaki kelahiran Calcutta, India, yang wafat 57 tahun silam itulah yang dibicarakan dalam sebuah seminar di Denpasar, Senin hingga Selasa pekan lalu. Meskipun penyair Sapardi Djoko Damono dalam makalahnya menganggap bahwa Tagore telah menjadi masa lampau yang jauh di negerinya, itu hanya menimpa prosa liris dan puisi-puisi yang menggemakan semangat India purba, penuh romantisme dan mistisisme, bukan pada visi ketimurannya. Memang, Sutan Takdir Alisjahbana, dalam polemik kebudayaan pada 1930- an, berseru bahwa jika kita berorientasi kepada Tagore, Indonesia tidak akan mampu membuat pesawat terbang. Kala itu, jejak Tagore memang terasa pada karya Sanusi Pane, Amir Hamzah, dan Muhammad Yamin, yang tak setuju dengan Takdir. Tak mengherankan jika Jiwa Atmaja, dosen di Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Denpasar, melihat pikiran Tagore masih relevan. Ia berpendapat, pada masa krisis sekarang semangat mencintai manusia dan tanah air yang dibisikkan pujangga India itu tak kalah penting dibandingkan dengan pesawat terbang -dan karya teknologi lainnya. Sesungguhnya, Tagore tak hanya mengumandangan kesatuan India, melainkan juga manusia. Indonesia mestinya bisa berbicara hal serupa, setidaknya karena punya Sumpah Pemuda 1928, meskipun dihuni beragam suku dan agama, bahkan ada juga ras pribumi dan nonpribumi. Tapi kenapa amuk massa di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat sejak Ramadhan lalu hingga sekarang terjadi juga? Seorang tokoh utama novel Tagore bernama Gora terasa menyindir- nyindir. Meskipun Gora yang tadinya "ultranasionalis" mengetahui bahwa ia bukanlah seorang pribumi asli, akhirnya ia menyadari bahwa dirinya seorang India. Asal-usul ras, etnik, dan agama yang berbeda tak lagi diagungkannya dengan fanatisme sempit. Bukankah lantaran itu India dan Pakistan terbelah, setelah ditebus dengan sejarah kerusuhan, kekerasan, api berkobar, dan darah manusia berceceran? Walau tak sedahsyat di India, tragedi sejenis juga pernah meletus di Pontianak dan Timor Timur. Di Banjarmasin, pada pemilihan umum lalu, yang berakhir dengan penyerbuan toko swalayan. Juga di Tasikmalaya dan Rengasdengklok, Jawa Barat, serta Situbondo, Jawa Timur. Lebih awal lagi, juga demo buruh di Medan yang masif dan dinodai dengan keributan rasial pada April 1994. Dan banyak lagi. Puisi berjudul Gitanyali (Nyanyian Persembahan), yang mengantarkan Tagore meraih Hadiah Nobel pertama untuk pengarang Asia pada 1913, agaknya mewujudkan sikap yang arif dalam memaknai kerukunan beragama, dan juga bagi kita: hubungan antaretnik dan antarras. Bacalah bait- bait Gitanyali ini: Dengan ujung terentang sayap nyanyiku, kusentuh tapak kaki-Mu, yang tak pernah kuharap terjangkau oleh tanganku. Betapa Tuhan yang Akbar tak bisa disombongkan siapa pun dengan sikap paling berhak memiliki. Ketika krisis moneter melahirkan pengangguran di sekeliling kita, cerita pendek (cerpen) Tagore, Cabuliwallah -tentang seseorang yang menghemat biaya pernikahannya karena berderma kepada seorang bekas tahanan- bagus untuk dibaca. Tagore, melalui tokoh pedagang jalanan, berkata: "Aku tidak bisa memperoleh lampu-lampu listrik yang kurencanakan, begitu pula pasukan musik tentara. Namun bagiku pesta perkawinan itu justru semakin gemerlap karena pikiran bahwa di sebuah negeri yang jauh, seorang ayah yang sudah lama hilang, bertemu kembali dengan anaknya yang semata wayang." Kisah semacam itu, yang menggambarkan 100 tahun sastra modern India, bertaburan dalam antologi 12 cerpen India yang disunting Prof. A.S. Balakrishnan dalam edisi Indonesia dan terbit di sini pada 1991. Uniknya, Tagore tak hanya humanis dalam puisi dan novel. Melainkan juga dalam realitas hidupnya. Pada 1919, ia mengembalikan gelar bangsawan "Sir" kepada Kerajaan Inggris sebagai protes terhadap kekejaman imperial Inggris dalam memadamkan pemberontakan di Amritsar, India. Kita ingat pula, Ki Hadjar Dewantara membangun Taman Siswa karena terpengaruh oleh perguruan Santi Niketan yang didirikan Tagore pada 1901, yang berkembang menjadi Universitas Visva-Bharati pada 1922. Universitas itu menganut pandangan bahwa reformasi sosial harus didahulukan ketimbang reformasi politik. Juga mengutamakan pembangunan pedesaan dengan menghidupkan kebudayaan dan pertukangan kerajinan India. Seminar itu juga mengungkap bahwa Tagore adalah seorang pelukis. Bahkan, 26 dari 3.000 lukisannya pernah dipamerkan di Museum Pusat Jakarta pada 1985. Seperti puisinya, lukisan Tagore juga menyejukkan hati. Ia melukis seekor kijang di antara belukar dan pohonan berhutan gelap. Atau topeng yang muram beku, tapi bibir, mata, hidung, dan matanya bercahaya. Tagore seolah berkata, perbedaan itu indah. Bukan permusuhan yang saling mematikan. [Bersihar Lubis dan I Made Suarjana] Wassalam, IzaM - --- In [email protected], "Ida Z.A" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dik...salamnya dah diterima...tapi kata Rani kamu kejauhan...kalo > deket aku bisa minta tolong kamu tuk ngajari dia tuh...kuliahnya > berantakan.. > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today! http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

