Kita Memang Beza, Encik
Jakarta, KCM
Hanya ketakutan akan kehilangan sesuatu yang dicintailah yang mampu
membuat manusia maju ke medan perang.
Beberapa bulan terakhir ini hubungan kita dengan Malaysia memang
memanas. Berawal dari kisah sedih para TKI ilegal yang mengalami
penipuan, penyiksaan dan penganiayaan dari para majikan mereka di
negeri tetangga tersebut. Pemerintah Malaysia kemudian memberlakukan
tindakan yang lebih keras untuk menangkap dan memulangkan para TKI
ilegal tersebut.
Memang tindakan tersebut sepenuhnya merupakan hak pemerintah Malaysia.
Pemerintah negeri itu beralasan keberadaan TKI ilegal tersebut
merupakan ancaman terhadap keamanan dalam negeri mereka.
Namun tidak dapat disangkal, pemberitaan mengenai nasib TKI ilegal di
media massa Indonesia menimbulkan antipati terhadap Malaysia.
Bagaimana tindakan tersebut dapat diambil justru pada saat Indonesia
sedang dirundung masalah besar bencana gempa bumi dan tsunami yang
melanda Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara pada 26 Desember lalu.
Hubungan ini menjadi semakin meruncing berkaitan dengan kasus
sengketa perbatasan di perairan Ambalat, laut Sulawesi, di timur Pulau
Kalimatan. Malaysia mengklaim wilayah yang disebut sebagai Blok
Ambalat tersebut sebagai wilayah milik mereka berdasar peta yang
dibuat secara sepihak pada 1979.
Sengketa ini secara sengaja atau tidak sengaja kemudian menimbulkan
gelombang antipati yang lebih besar kepada Malaysia. Idiom-diom lama
seperti "Ganyang Malaysia" dimunculkan lagi menyertai demonstrasi yang
terjadi di Jakarta dan kota-kota lain seperti Makassar.
Secara historis, hubungan Indonrsia dan Malaysia memang diawali dengan
sesuatu yang buruk. Presiden pertama Indonesia, Ahmad Soekarno menolak
pembentukan negera federasi Malaysia pada 1963 dengan alasan ini
merupakan negara boneka bentukan Inggris. Dengan alasan ini pulalah
Soekarno mengobarkan konfrontasi dengan Malaysia dengan medan
pertempuran di semenanjung malaysia dan Kalimantan Utara.
Meski pada 1966 tercapai penghentian konfrontasi, di antara dua bangsa
ini masih saja terdapat perbedaan dalam memandang satu kebenaran.
Keduanya memiliki argumentasi masing-masing menyangkut kebenaran tersebut.
Tahukan Anda, tentang sosok mantan Wapres kita, almarhum Adam Malik
saja, Malaysia memiliki versi berbeda. Adam Malik yang kita kenal
dilahirkan di Pematang Siantar, Sumatera Utara pada 1917, menurut
versi Malaysia dilahirkan di Chemor, Perak, Malaysia.
Ketika kedua bangsa ini makin didekatkan dengan kebijakan 16 Agustus
1972 tentang pembaruan ejaan dan ucapan yang berlaku di Indonesia dan
Malaysia, toh perbedaan tetap mencuat. Malaysia yang berabad dijajah
Inggris masih menggunakan "televisyen" untuk "televisi" atau pun
"universiti" untuk "universitas." Perbadaan lain ada pada "baharu"
untuk "baru" dan "beza" untuk "beda."
Indonesia sekarang memang beza dengan dulu, Encik. Malaysia pun beda
dengan masa lalu yang bisa dilecehkan dengan ungkapan "rumah sakit
korban jantan" untuk menunjukkan "rumah sakit bersalin."
Namun berkaitan dengan suhu yang meningkat di Ambalat, tentu semua
orang tahu, hanya ketakutan kehilangan sesuatu yang dicintailah yang
akan mampu membuat seorang laki-laki maju ke medan perang.
Cobalah tengok epos Mahabharata. Arjuna, tokoh sentral Pandawa Lima
sempat disergap keraguan saat menjelang pecah perang Bharatayudha di
padang Kurusetra. "Duuh Krishna, haruskah saya bertempur dengan Bhisma
dan Drona, semua orang yang saya hormati dan sayangi sejak kecil?"
Atau dorongan apa yang dirasakan Achilles setelah mendengar Hector,
pangeran dari Troya membunuh Patroclus. Dalam cerita aslinya,
Patroclus digambarkan sebagai kekasih Achilles. Sementara dalam film
kolosal, "Troy," Patroclus adalah saudara Achilles. Ini tentunya untuk
melindungi citra macho Brad Pitt, pemeran Achilles.
Kita semua tahu Arjuna kemudian menjadi mesin pembunuh setelah ia
kehilangan putra-putranya, Irawan dan Abimanyu yang gugur di tangan
Kurawa. Achilles pun menantang Hector berperang, membunuhnya dan
menyeret mayatnya sepanjang jalan.
Seperti Arjuna, kita mungkin harus melupakan sedikit kemesraan kita
dengan Malaysia pada masa lalu.
Kapal-kapal perang Indonesia telah berada di blok Ambalat meski
diiringi cemooh dari dalam negeri yang mengatakan kapal-kapal itu
telah tua. Apaboleh buat, namun apa lagi yang bisa kita lakukan? Sivis
pacem parabellum, jika ingin damai bersipalah untuk berperang.
(Tjahjo Sasongko)
[EMAIL PROTECTED]
=================================================================
Kita Memang Beza, Encik (Bagian 2)
Jakarta, KCM
Sarapan Pagi, "Kita Memang Beza, Encik," mendapat banyak tanggapan.
Penanggap Malaysia pasti menentang, namun ternyata banyak penanggap
lokal yang juga menentang.
Penanggap Indonesia yang setuju dengan pesan yang terkandung dalam
tulisan," kita Memang Beza, Encik," jelas banyak. Semuanya menanggapi
dengan emosional, dengan banyak menggunakan slogan yang saya pikir
lebih baik tidak dituliskan di sini.
Saya pilih saja e-mail dari SK, warga Indonesia yang mengirim pesan
dari Angola,
wahai para pemimpin negeri
jangan terkecoh pantun negeri jiran
jika itu yang terjadi
bisa hilang kita punya halaman....
Ha...ha... meski emosi, bapak SK mengingatkan sesuatu dengan cara
humor. Terimakasih Pak, karena sebelumnya saya capek menerima surat
yang lebih bernada emosional.
Surat elektronik dari Malysia kebanyakan bernada heran dan marah
dengan sikap rakyat Indonesia dalam menanggapi kasus Ambalat ini.
Seperti e-mail dari AS, kali ini warga Malaysia,
....
Apakah sejak berpuluh tahun rakyat Indonesia berhijrah untuk mencari
pekerjaan di Malaysia, tidakkah ada manfaatnya kepada mereka dan
keluarga mereka dari segi ekonomi?
Saudara tahu jumlah wang yang disalurkan oleh pekerja Indonesia di
Malaysia setiap bulan untuk keluarga mereka di kampung?
Apakah tidak ada pekerja-pekerja Indonesia di Malaysia baik yang sah
maupun yang tidak yang telah menerima layanan baik dan mesra dari
majikan di Malaysia?
Akhir sekali, kalau betul hubungan Indonesia Malayasia terlalu
meruncing, apakah saudara fikir wajar bagi saya membatalkan rancangan
untuk menjelajah Pulau Jawa dalam beberapa bulan ini.
......
Waduuh Encik atau Datok, tidak perlulah khawatir. Sila encik datang ke
Jawa dan lihat semua orang juga masih sibuk dengan urusan
masing-masing dan tidak ada yang keisengan untuk bertanya, "Encik dari
Malaysia?"
Tetapi ya mungkin kita kedua belah pihak harus mengerti setiap
tindakan akan membekas di hati rakyat masing-masing. Tindakan
Malaysia mengklaim Ambalat jelas melukai perasaan sebagian besar
rakyat Indonesia. Sementara reaksi membakar bendera Malaysia pun
jelas tidak bisa diterima rakyat Malaysia. Seperti yang dikatakan RK,
warga Malaysia.
....
Kelakuan rakyat Indonesia telah membangkitkan rasa tidak senang rakyat
Malaysia. Membakar bendera dan memburuk-burukan PM kami adalah sesuatu
yang sungguh tidak beradab dan amat biadab. Pernahkah saudara
terdengar rakyat Malaysia berdemo, mengepung kedutaan besar Indonesia,
membakar bendera Indonesia, mengutuk Pak Bambang atau membakar poster
Kris Dayanti?
Perkara-perkara seperti itu adalah amat mustahil berlaku di sini.
Orang yang berdemo itu dipandang sebagai orang yang desperate, seolah
tiada lagi jalan lain untuk menyelesaikan masalah. Inilah yang
membuatkan kita berbeza. Dan perbezaan itulah, jika tidak dijaga, yang
bakal merosakkan hubungan kita.
....
Dua surat dari Malaysia ini saya kira cukuplah menjadi cerminan
bagaimana sikap warga Malaysia terhadap kasus Ambalat ini. Namun
tentangan terhadap ramai-ramainya konflik Ambalat ini juga datang dari
warga Indonesia. Seperti surat dari YA,
.....
Apakah perang itu solusi? Bagaimanakah status sebenarnya dari Blok
Ambalat?
Ingat, Malaysia termasuk anggota Five Power Defence Arrangement (FPDA)
di mana anggotanya adalah; Malaysia, Singapura, Inggris, Australia,
dan Selandia Baru.
Secara geografis semua negara itu berada mengelilingi negara
Indonesia. Jika seandainya kita menyerang Malaysia, apa tidak mungkin
ada peluru kendali berhulu nuklir dari Australia juga menyerang kita ?
Sebagai anggota pers yang demokratis, apakah anda sanggup menanggung
akibat perang yang juga anda dengungkan melalui media massa dengan
lingkup nasional ini ?
......
Saya kaget dan langsung menjawab, "Pak, di bagian mana saya
menganjurkan kita untuk berperang?" Saya menegaskan pada bapak YA
bahwa yang saya anjurkan adalah bila kita berkonflik kita harus siap
dengan segala cara. Termasuk perang kata-kata dan diplomasi. Dengan
kesiapan itulah kita tidak akan kehilangan sesuatu seperti Sipadan dan
Ligitan dan kita akan terus berdamai dengan Malaysia.
Namun selain pro kontra dari krdua pihak, saya bersyukur mendapat
surat-surat berisi "pencerahan" dari rekan-rekan yang berada di
rantau. Seperti yang disampaikan K MG H dari Baltimore, AS,
.......
Saat membawa anak sulung saya berobat ke Pulau Penang, Malaysia pada
2002 saya belajar banyak. Pelajaran yang sangat berharga adalah,
hampir di semua sektor dan lini kehidupan, negara kita jauh tertinggal
dari Malaysia.
Saat anak sulung saya didiagnosa oleh dokter di RS. Gleneagles, Pulau
Penang, Malaysia, semua diagnosa dilakukan dengan sangat cermat,
detail dan sangat jelas. Berbeda sekali dengan pengalaman saya dengan
dokter-dokter di Jakarta, sangat tidak memuaskan. Dokter-dokter di
Indonesia terlalu cepat mengeluarkan kesimpulan dari sebuah diagnosa,
dan yang sangat mengenaskan lagi, diagnosanya salah total. Seorang
dokter di RS. Gleneagles, Pulang Penang, Malaysia, mengatakan kepada
saya pada suatu saat, "Dokter-dokter di Indonesia itu perlu belajar 5
atau 6 tahun lagi".
Contoh kedua. Selama menjalani kehidupan di negeri jiran tersebut,
saya sering kali membaca surat kabar lokal. Dan seperti biasa, saya
selalu membaca rubrik iklan. Bahkan saya membaca sampai ke iklan
pembantu rumah tangga dan ternyata, sebagian besar pembantu-pembantu
rumah tangga yang ditawarkan berasal dari negara Indonesia. Saya
berpikir, apakah warga negara Indoensia identik dengan pembantu-pembantu??
Contoh yang ketiga, dalam masa pengobatan itu juga, beberapa kali kami
menggunakan angkutan umum seperti bas kota (di Indonesia, bis kota).
Sangat nyaman. Kenapa nyaman? Karena semua bas kotanya full ac, turun
dari bas di tempat-tempat yang telah ditetapkan, dan naik bas dari
tempat-tempat yang telah ditetapkan pula. Sesama bas tidak saling
kejar, tidak saling berebut penumpang dan supirnya tidak
teriak-teriak. Tidak ada kondektur, karena sebelum kita duduk di dalam
bas, kita mesti memasukkan ongkosnya ke tempat yang telah disediakan
di dekat supir bas. Sangat teratur dan sangat disiplin.
Akumulasi peristiwa-peristiwa ini menjadikan Bangsa Indonesia sangat
diremehkan dan dipandang sebelah mata.
Sekarang, ada kasus baru lagi. Blok Ambalat mulai diperdebatkan antara
Indonesia dan Malaysia. Malaysia sangat "pandai" berupaya memiliki
blok ini. Malaysia sangat memahami kelemahan Indonesia. Mungkin
Pemerintah Malaysia paham betul dengan cerita Musashi, yaitu cerita
sejarah perang Bangsa Jepang yang mengulas tentang upaya untuk mencari
tahu kelemahan lawan dan mencari tahu kekuatan lawan. Apabila hal ini
sudah diketahui, maka 1000 peperangan, 1000 kemenangan. Malaysia sudah
memiliki track record yang bagus untuk kasus sebelumnya, yaitu kasus
Pulau Sipadan-Ligitan. Malaysia sangat pandai dan punya kekuatan dalam
lobi-lobi International. Mereka punya posisi tawar, mereka punya jati
diri dan mereka punya wibawa.
......
Iya lah. Lae kita di Baltimore ini seharusnya membuka wawsan kita
dengan otokritik ini. Sama dengan si Butet di Belanda, IS, yang
memberi pengalamannya di Kuala Lumpur,
......
Juni 2004 lalu saya ada di Kuala Lumpur. Waktu parkir di suatu tempat
datang pria setengah baya menawarkan jam tangan 'bermerk'. Saya
menggeleng, tapi dia memaksa. Saya menggeleng lagi, dia tetap memaksa.
Saya berbasa-basi, "Tidak pak terima kasih, jamnya keren, tapi sedang
tidak ingin belanja."
Sorot matanya tak disangka-sangka makin tajam menjurus marah. Setengah
membentak dia tanya apa itu keren?. Saya bilang bagus. Apa itu bagus,
balasnya lagi? Akhirnya saya bilang nice.
Dia menggumam dengan gaya arogan sambil sekali lagi melotot, "Hmm..
saya bukan orang Indonesia." Setelah itu berlalu tapi tetap sinis.
Dalam hati saya menggerutu, baru dagang gelap saja sombong. Seorang
teman berkewarganegaraan Malaysia yang kebetulan ikut menghibur, "Tak
apalah cik, tak boleh ambil hati. Memang ada pula orang Malaysia
kurang suka dengan orang Indonesia."
.....
Iya memang betul Ta, di KL pasti ada orang yang anti pada orang
Indonesia atau Indon, istilah mereka. Sementara di Jakarta, mungkin
juga ada orang yang tidak suka pada orang Malaysia. Kita hanya
berharap, biarlah kasus Ambalat ini mendewasakan pemerintah kedua
negera dengan melihat kepentingan rakyat masing-masing.
(Tjahjo sasongko)
[EMAIL PROTECTED]
=================================================================
Sumber:
Bagian 1 - http://www.kompas.com/olahraga/news/0503/07/221157.htm
Bagian 2 - http://www.kompas.com/olahraga/news/0503/17/220729.htm
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/MCfFmA/SOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/