Memang ada yang lagi mabok ?
Mabuk kepayang yah ?
Mabuk pengen disayang..............
Samudjo 3:-)

----- Original Message -----
From: "Ida Z.A" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, May 10, 2005 2:27 PM
Subject: [ppiindia] Re: Perempuan "Waitress" Cafe (Pro Mba Listy)


> Mba cantik kirimin humornya lagi dong...kepala panassssss banget
> ngikutin debatan soal salat bhs indon itu...sambung menyambung tapi
> gak nyatu nyatu....
>
> Mas Samudjo: thanks yah soal tamparannya itu...panas pipiku..
>
>
> --- In [email protected], "Samudjo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Meminum, menjual, dan membuat minuman yang memabukan adalah termasuk
> > pekerjaan yang dilarang oleh agama Islam.
> > Seharusnya kalau tidak mau dianggap bispak, bekerjalah di cafe yang
> hanya
> > menyediakan kopi saja, maksimum bajigur
> > Kalo sampai berani kurang ajar pura-pura mabuk, tampar aja.
> > Salam,
> > Samudjo
> > ----- Original Message -----
> > From: "ratna hidayati" <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <[EMAIL PROTECTED]>; "perempuan"
> > <[EMAIL PROTECTED]>; "teman vincent"
> <[EMAIL PROTECTED]>;
> > "teman jurnalis" <[EMAIL PROTECTED]>;
> > <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
> > <[email protected]>
> > Sent: Tuesday, May 10, 2005 1:39 PM
> > Subject: [ppiindia] Perempuan "Waitress" Cafe
> >
> >
> > Koran Mingguan Tokoh
> > Denpasar, Bali
> > ===============
> >
> > Perempuan "Waitress" Cafe:Malam Berpeluh tanpa Keluh
> >
> > Malam itu di sebuah rumah minum (cafe) yang dibangun di antara
> persawahan
> > Desa Sangket, Buleleng, tepat di sisi barat jalan utama Singaraja-
> Denpasar,
> > musik berdetak keras. Lagu-lagu mengalun sumbang dari penyanyi-
> penyanyi
> > amatiran dengan iringan CD musik minus one (karaoke). Reni -paling
> tidak,
> > itulah nama yang disebut ketika berkenalan dengan Tokoh- salah
> seorang
> > waitress (panggilan untuk perempuan muda yang mendampingi tamu di
> cafe),
> > tertawa terbahak-bahak mendengarkan tamunya yang telah mabuk
> bernyanyi
> > dengan nada aneh dan syair yang dipelintir kalang-kabut. Tak lama
> kemudian,
> > Reni menjerit. Rupanya, si tamu mabuk itu merogoh paksa bagian
> paling
> > terlarang dari tubuh Reni. Perempuan muda asal Malang itu pun
> tergopoh-gopoh
> > pergi.
> >
> > "Kalau sekadar pegang-pegang tangan sih gak apa-apa," kata Reni
> ketika Tokoh
> > menghampirinya di bagian belakang cafe. "Untung dia mabuk. Kalau
> nggak, saya
> > tampar dia," lanjut Reni.Cerita "pegang-pegang organ terlarang"
> seperti
> > dialami Reni adalah cerita jamak bagi sebagian besar perempuan yang
> bekerja
> > sebagai waitress cafe. Bagaimana tidak, saban malam mereka harus
> berhadapan
> > dengan lelaki yang sengaja datang untuk menenggak minuman keras.
> Saat mabuk,
> > siapa yang bisa menjamin seseorang tidak berlaku tidak senonoh
> kepada
> > perempuan yang sengaja menemaninya? Malam-malam, lagi. "Saya rasa,
> setiap
> > orang mengalami gangguan keseimbangan saat malam mulai larut dan
> alkohol
> > memasuki perut," komentar Kadek Partha, seorang lelaki gempal yang
> ditemui
> > Tokoh di sebuah cafe di bilangan Renon, Denpasar. Sambil mengisap
> > dalam-dalam rokok kretek, lelaki yang mengaku bekerja sebagai debt
> collector
> > pada sebuah perusahaan pembiayaan itu tak merasa "berdosa" meraba-
> raba
> > "bagian penting" waitress yang
> >  mendampinginya minum. "Mereka tahu risiko itu. Lagian mereka juga
> sudah
> > menyediakan diri untuk itu," komentar Partha. "Jangan-jangan kalau
> dibiarin
> > aja malah kita dikira melecehkannya, mengacuhkannya," sambung
> Partha sambil
> > ketawa.
> >
> > Tapi tangis Putu Darmi bisa membantah anggapan Partha. Perempuan
> berusia 26
> > tahun kelahiran Karangasem yang -ketika ditemui Tokoh- baru bekerja
> 5 hari
> > di sebuah cafe di kawasan Denpasar Barat, sesenggukan di pojok cafe
> seusai
> > meladeni dua tamu. "Saya nggak bisa. Nggak bisa," katanya menahan
> tangis.
> > Sambil memperlihatkan kancing blusnya yang rompal di bagian
> dada. "Mereka
> > memaksa pegang-pegang dada saya. Ketika saya tolak, mereka marah
> dan ngatain
> > saya muna (munafik, pura-pura, red.)," ujar Darmi.
> >
> > Ketut Santi (sekali lagi, itulah nama yang disebutkan ketika
> berkenalan),
> > perempuan berumur 23 tahun asal Seririt, Buleleng, dengan tegas
> menolak
> > anggapan dirinya "menyediakan diri" untuk menjadi objek rabaan dan
> > gerayangan tangan lelaki. "Siapa sih yang mau diperlakukan begitu?
> Saya
> > bekerja untuk mencari uang. Hanya ini pekerjaan yang bisa saya
> lakukan untuk
> > mendapatkan uang cukup untuk membantu keluarga di Buleleng," ungkap
> > perempuan muda yang bekerja di sebuah cafe di Denpasar Barat.
> Menurut Santi,
> > ia bekerja melayani tamu, mengambilkan minum, menuangkan bir, dan
> menemani
> > mereka ngobrol. Untuk itu ia merasa berhak atas gaji, bonus, dan
> tip.
> > "Jangan terlalu menganggap rendah," tambah Santi dalam Bahasa Bali
> berdialek
> > khas Buleleng.
> >
> > Tapi beginilah selalu adat lelaki: menganggap setiap perempuan yang
> bekerja
> > di tengah keremangan seperti cafe adalah perempuan bispak (bisa
> dipakai).
> > "Kalau saya mau menjual diri seperti itu, buat apa saya capek-capek
> begadang
> > setiap malam berhadapan dengan tingkah tamu yang sering aneh-aneh
> hanya
> > untuk mendapatkan uang ratusan ribu rupiah sebulan?" ungkap Ratih,
> gadis
> > cantik asal Jember yang ditemui Tokoh di rumah kosnya di bilangan
> Jalan Imam
> > Bonjol Denpasar. "Saya nggak sombong, kalau mau saya bisa dapatkan
> uang
> > sejuta rupiah untuk kencan semalam," tambah Ratih (baca juga "Kami
> bukan
> > Pelacur").
> >
> > "Mereka manusia, hanya saja nasib melemparkan mereka ke dunia yang
> tidak
> > terlalu kita sukai. Tapi hanya itulah yang bisa mereka lakukan,"
> ujar
> > Titien, SH, perempuan pengacara yang sering ketiban perkara yang
> menyangkut
> > nasib perempuan. "Mereka bekerja. Sebetulnya mereka berhak atas
> perlindungan
> > hukum. Tapi karena sebagian besar mereka bekerja tanpa ikatan
> kontrak yang
> > jelas, lebih-lebih kalau bekerja pada cafe yang tidak memiliki izin
> resmi,
> > maka agak sulit memperjuangkan hak-hak mereka," tambah Titien.
> >
> > "Terus terang, saya respek karena mereka tidak cengeng. Mereka
> berjuang
> > berpeluh-peluh saban malam, mencari nafkah di jalan yang sangat
> tidak aman,
> > tetapi mereka jarang mengeluh," ujar Titien.
> >
> > Sebaliknya, mereka sering dikeluhkan, Ibu! -swa
> >
> >
> >
> >
> >
> > Kami bukan Pelacur
> >
> > Bertubuh langsing, kulit kuning langsat, Ratih (25) hanya kalah
> dalam
> > kepemilikan ijazah. Otak nya pun lumayan encer. "Kalau bekerja di
> perusahaan
> > biasa, paling-paling saya hanya digaji 300 ribu sebulan. Buat bayar
> kos,
> > habis. Lalu, saya makan apa? Apa yang bisa saya kirim ke rumah?"
> ujar Ratih
> > di rumah kosnya di Jalan Imam Bonjol, Denpasar. "Paling-paling,
> untuk
> > menutupi biaya hidup, saya harus bersedia menjadi simpanan lelaki
> tua,"
> > lanjut janda beranak satu yang kini berpacaran dengan seorang
> pemuda tampan
> > berusia dua tahun lebih tua darinya.
> >
> > Di cafe tempatnya bekerja kini, rata-rata Ratih mengantungi uang
> antara 1
> > sampai 1,3 juta rupiah sebulan, termasuk tip dari tamu yang
> dikumpulkannya
> > dengan tekun. Tak terbilang, sebetulnya, Ratih mendapat kesempatan
> untuk
> > menikmati hidup yang lebih bergelimang uang. "Paling tidak, sudah
> tiga
> > lelaki yang melamar saya jadi simpanannya. Tapi saya menolak, sebab
> saya
> > memang tidak mau hidup dengan cara begitu," tandas Ratih.
> >
> > Pengakuan seperti Ratih juga diungkapkan beberapa waitress cafe
> yang sempat
> > dihubungi Tokoh. "Ada, memang, waitress yang bisa dibayar untuk
> kencan
> > sesaat. Tapi tidak semua. Jangan pukul rata," kata Putu Darmi yang
> mengaku
> > pernah bekerja pada sebuah toko bangunan dengan gaji Rp 250 ribu
> plus makan
> > dan pemondokan sederhana. Perempuan bertubuh sintal itu kini
> berpacaran
> > dengan lelaki beristri dengan dua anak. Untuk urusan ini, Putu
> Darmi menolak
> > keras kalau dianggap "sengaja" merebut istri orang. "Saya tidak
> pernah
> > merayu dia. Dia yang datang setiap hari dan merayu saya. Lama-lama
> saya
> > luluh juga," kilah Darmi sambil bercerita bahwa lelaki itu telah
> > mengincarnya semasa ia masih bekerja pada toko bangunan. "Enam
> bulan setelah
> > perkenalan, baru kami jadian," tutur Darmi.
> >
> > Agak sulit, memang, mencerna cara hidup mereka. Tapi sangatlah tidak
> > bijaksana kalau lantas saja mereka dipasangi bandrol "rusak" hanya
> karena
> > bekerja menemani orang bermabuk-mabukan hingga larut malam. Di
> beberapa
> > cafe, mereka diawasi dengan ketat. "Bahkan untuk berangkat dan
> pulang pun
> > kami punya orang khusus yang mengantar-jemput mereka. Kami melarang
> para
> > waitress dijemput orang lain," ungkap Wayan Santika (bukan nama
> > sesungguhnya), pemilik sebuah cafe di kawasan Denpasar Barat.
> Menurut Wayan,
> > ia tidak mau mendapat nama buruk karena dicap punya usaha pelacuran
> > terselubung. "Kami juga berbanjar di sini. Warga banjar tidak akan
> tutup
> > mata terhadap apa yang kami lakukan," kilah Wayan.
> >
> > Namun, kita tentu tidak bisa menutup mata, banyak juga waitress yang
> > menjadikan cafe sebagai lahan pencari lelaki hidung belang. "Tak
> banyak.
> > Saya yakin tak banyak. Modal untuk mendirikan cafe cukup besar.
> Saya yakin
> > tidak banyak orang yang mau mempertaruhkan modalnya itu dengan
> membiarkan
> > tempatnya dijadikan tempat transaksi. Risikonya terlalu besar. Bisa
> ditutup
> > aparat. Bisa juga digrebek warga banjar," sanggah Wayan.
> >
> > Mungkin Ratih benar ketika berkata, "Kami bukan pelacur." Tapi,
> mungkin juga
> > tidak terlalu salah bila sebagian masyarakat terlanjur "curiga" pada
> > mereka. -swa
> >
> >
> >
> >
> >
> > Adakah Perlindungan Hukum bagi Cewek Cafe?
> >
> > Lepas dari soal apakah para waitress cafe berperan ganda atau
> tidak, "Mereka
> > juga manusia yang memiliki hak-hak asasi seperti orang lain.
> > Kepentingan-kepentingan mereka juga perlu mendapat perlindungan
> hukum," ujar
> > Titien, SH, pengacara yang banyak menangani kasus-kasus yang
> berkaitan
> > dengan persoalan perempuan. Mestinya, kata Titien, mereka bisa
> melaporkan
> > perlakuan-perlakuan buruk yang mereka terima. "Mereka 'kan bekerja
> > berdasarkan kontrak," sambung Titien. Kontrak itu tidak mesti dalam
> bentuk
> > tertulis. "Kontrak lisan seperti penetapan tugas bisa dijadikan
> dasar,"
> > katanya.
> >
> > Menurut Titien, para waitress bertugas melayani tamu seperti
> layaknya
> > waitress pada restoran biasa, lalu menemani mereka ngobrol. "Kalau
> mendapat
> > perlakuan lebih dari itu, mestinya mereka bisa menuntut," ujar
> Titien.
> > Masalahnya, sebagian besar waitress itu tidak tahu hak-hak mereka,
> tidak
> > tahu batas-batas perlakuan tamu yang dianggap melecehkan dan
> tidak. "Yang
> > paling penting adalah bagaimana memberi pemahaman kepada mereka,"
> lanjutnya.
> >
> > Bagi tokoh Aliansi Perempuan Buleleng (APB), Luh Kertianing, pada
> dasarnya
> > perempuan pekerja cafe juga bekerja untuk menghidupi
> keluarganya. "Kalau
> > mereka menerima penganiayaan, APB siap membantu mereka dan
> memberikan
> > perlindungan yang pantas buat mereka," ungkap anggota DPRD Buleleng
> itu.
> >
> > Belakangan ini, Buleleng banyak diributkan oleh berbagai kasus yang
> bermula
> > dari cafe. Selama tiga bulan terakhir saja, ada 10 kasus yang
> mencuat.
> > Terakhir, seorang waitress belasan tahun dianiaya seorang perempuan
> yang
> > mendapati suaminya sedang bermesraan dengan sang waitress. Kejadian-
> kejadian
> > seperti inilah yang membuat masyarakat cenderung menganggap semua
> waitress
> > cafe adalah penjaja seks dan perayu lelaki beristri. "Yang penting
> bagi kami
> > sekarang adalah menghapus pikiran pada lelaki, 'Mereka menjual, kami
> > membeli. Kenapa Anda keberatan?' seperti banyak dicibirkan orang
> ketika APB
> > membela mereka," ungkap Kertianing kepada Tokoh Jumat (6/5) lalu.
> >
> > Kertianing mengakui, bukanlah pekerjaan mudah untuk mengurangi dan
> mengubah
> > citra cewek cafe sebagai pekerja seks. "Secara pelan-pelan, pihak
> cafe juga
> > harus mengubah citranya sendiri dan lebih mendisiplinkan
> karyawannya,
> > sehingga kasus yang selama ini menimpa cewek cafe dapat ditekan
> seminimal
> > mungkin," jelas Kertianing. -put, swa
> >
> > DISCLAIMER: The information contained in this communication is
> intended solely for the use of the individual or entity to whom it is
> addressed and others authorized to receive it. It may contain
> confidential, legally privileged information or otherwise protected
> by law from disclosure and is intended solely for the use of the
> addressee. If you are not the intended recipient you are hereby
> notified that any disclosure, copying, distribution or taking any
> action in reliance on the contents of this information is strictly
> prohibited and may be unlawful. Unless otherwise specifically stated
> by the sender, any documents or views presented are solely those of
> the sender and do not constitute official documents or views of  PT
> Apexindo Pratama Duta Tbk. If you received this email in error,
> please immediately notify the sender or our email administrator at
> [EMAIL PROTECTED] and delete it from your system. Thank you.
>
>
>
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>

DISCLAIMER: The information contained in this communication is intended solely 
for the use of the individual or entity to whom it is addressed and others 
authorized to receive it. It may contain confidential, legally privileged 
information or otherwise protected by law from disclosure and is intended 
solely for the use of the addressee. If you are not the intended recipient you 
are hereby notified that any disclosure, copying, distribution or taking any 
action in reliance on the contents of this information is strictly prohibited 
and may be unlawful. Unless otherwise specifically stated by the sender, any 
documents or views presented are solely those of the sender and do not 
constitute official documents or views of  PT Apexindo Pratama Duta Tbk. If you 
received this email in error, please immediately notify the sender or our email 
administrator at [EMAIL PROTECTED] and delete it from your system. Thank you.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Does he tell you he loves you when he's hitting you?
Abuse. Narrated by Halle Berry.
http://us.click.yahoo.com/aFQ_rC/isnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke