Munjur yang punya teman orang atau calon orang penting. Bisa rejeki nomplok 
dengan cepat :-)

----- Original Message ----- 
From: "Listy" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "[ppiindia] (E-mail)" <[email protected]>
Sent: Wednesday, May 11, 2005 6:22 AM
Subject: [ppiindia] :::: Kutitipkan Temanku; Calon Orang Penting di Negeri 
Ini!


>
>
> ----- Original Message ----- 
>
>
>
> Dari  <http://helvytr.multiply.com> http://helvytr.multiply.com
> Sori kalau udah pernah dapet ...
>
> -- 
> Best Regards
>
> KUTITIPKAN TEMANKU; CALON ORANG PENTING DI NEGERI INI!
>
> Rumah mungil yang hanya sepetak itu berada dekat sekali dengan pasar dan 
> kolong jalan tol. Di sekitarnya tampak kekumuhan yang memedihkan mata. 
> Itulah Rumah Cahaya Penjaringan. Tempat ini dirintis oleh teman-teman 
> Bunda di Forum Lingkar Pena dan Fojis. Yang mengurus Om Andi, penulis yang 
> memakai nama pena Biru Laut itu lho. Om Andi dulu tinggal di dekat sini 
> dan mantan preman. Aku terkejut juga. Banyak teman preman Om Andi yang 
> suka rela membantu Rumah Cahaya. Ada Om Rojak, Om Tarjo dan banyak Om 
> lainnya. Mereka hebat!
>
> Aku sampai pagi itu dan terkejut dengan sambutan meriah dari teman-teman 
> kecil di Rumah Cahaya. Usia mereka antara 5-13 tahun. Aku tersenyum dan 
> menyalami mereka. Wah mereka ramah!. Mereka menatapku seolah aku ini 
> artis. Aku jadi tidak enak sekali. Aku mencoba untuk lebih akrab.
>
> Tante Asma dan bunda membuat beberapa acara. Ruangan mungil itu seakan 
> hampir runtuh karena ramainya sorak anak-anak. Apalagi saat mereka bermain 
> tebak-tebakan dan ekspresi untuk mendapatkan banyak hadiah imut yang kami 
> bawa. Nah di tengah keramaian itu tiba-tiba aku melihat sesuatu, tepat di 
> sebelah rumah cahaya.
>
> "Tempat apa itu? Peralatan apa?" tanyaku pada teman di sebelahku.
>
> "Itu tempat perjudian," katanya. "Dan itu alat-alatnya," tambah anak 
> berbaju biru itu lagi. "Anak-anak suka main di situ. Padahal seharusnya 
> itu tak terjadi."
>
> Aku sering mendengar di daerah dekat Rumah Cahaya ada tempat perjudian. 
> Tapi aku tak menyangka kalau tepat di sebelah Rumah Cahaya!
>
> Aku menyalami anak berbaju biru itu dan berkenalan. Namanya Hengki Rifai. 
> Lalu tiba-tiba kami sudah mengobrol seperti teman lama.
>
> "Di sini banyak penduduk yang kesusahan. Yang putus sekolah juga banyak," 
> kata Hengki. "Saya berdoa dan berjuang supaya bisa terus sekolah."
>
> Hengki berumur 12 tahun dan duduk di kelas 6 SD. Aku baru 9 tahun dan baru 
> kelas III SD, tapi asyiknya obrolan kami nyambung.
>
> "Boleh aku ke rumahmu?" tanyaku.
>
> Hengki mengangguk. "Tapi rumahku aneh. Tidak apa?"
>
> "Aku suka rumah aneh," ujarku tersenyum.
>
> Hengki tertawa, matanya yang bulat bersinar.
>
> Kami pun berangkat bersama Om Rojak dan Om Tarjo, preman baik hati 
> pendukung Rumah Cahaya.
>
> Perjalanan ke rumah Hengki melewati lorong-lorong kumuh di bawah kolong 
> tol. Aku  prihatin karena lorong tersebut kotor, gelap dan bau. Anak-anak 
> kecil buang air besar di got kecil yang cetek itu. Rumah-rumah di sana 
> tidak layak huni. Kumuh sekali. Hampir semua rumah tidak beratap. Atapnya 
> langsung jembatan tol itu. Aduh, aku jadi ingin menangis.
>
> Akhirnya aku sampai juga di rumah Hengki.  Aduh rumah Hengki membuatku 
> sedih. Rumah itu kecil, kumuh sekali. Lebih mirip gudang. Di sebelahnya 
> ada kandang-kandang ayam. Tapi kata Hengki tinggal kandangnya, sudah tak 
> ada ayamnya lagi. Aku tidak bisa membayangkan ada orang menempati rumah 
> seperti ini. Ya Allah aku istighfar dan menahan airmataku yang ingin cepat 
> turun.
>
> Ternyata Hengki anak yatim. Yang membuatku ingin menangis lagi, Ibu Hengki 
> sebenarnya masih hidup. Tapi pergi meninggalkannya begitu saja. Hengki 
> hidup bersama kakek dan neneknya. Neneknya punya warung mungil di depan 
> rumah mereka. Hengki sering membantu neneknya berjualan. Aku juga ngobrol 
> dengan nenek Hengki yang ramah. Hatiku tersayat lagi melihat orang setua 
> itu masih harus bekerja.
>
> Aku kagum, meski mereka kesusahan tapi sangat mengutamakan tamu. Aku minum 
> teh botol tapi mereka tak mau dibayar. Terang saja aku memaksa. Aku paksa 
> Hengki sekalian menerima sedikit tabunganku yang kubawa hari itu. Hengki 
> kaget. Dia malu tapi bersyukur. Rupanya dia belum bayar uang sekolah 
> beberapa bulan. Aku juga memberikan buku-buku karyaku pada Hengki. Hengki 
> tertawa. Katanya dia sudah membaca semua puisiku di Rumah Cahaya, tapi 
> belum punya bukunya. Dia berterimakasih sekali. Ah, Hengki. Sebenarnya aku 
> yang berterimakasih padamu. Kamu mengingatkanku lagi akan arti syukur dan 
> peduli pada sesama.
>
> Sayang, aku tak bisa lama mengobrol dengan Hengki. Sebab acara di Rumah 
> Cahaya belum selesai. Aku harus kembali ke sana. Aku menyalami nenek, 
> menyalami dan memeluk Hengki. Aku katakan padanya begini: "Kita terus 
> bersahabat ya! Apapun yang terjadi!"
>
> Hengki mengangguk dan menjabatku erat.
>
> "Kamu tahu Hengki, aku yakin, meski keadaanmu sekarang begini, suatu saat 
> kamu akan jadi orang hebat! Orang penting! Jadi kamu tidak boleh menyerah 
> sekarang!" pesanku padanya.
>
> Hengki tertawa, menampakkan giginya yang putih bersih. Aku senang melihat 
> Hengki yang hitam manis. Dia cerdas dan baik hati. Aku tahu suatu saat, 
> kalau dia tetap berjuang dan dekat dengan Tuhan, dia benar-benar akan 
> menjadi orang penting di negara ini!
>
> "Aku akan datang lagi!" seruku. Aku melambai pada Hengki dan nenek, sambil 
> berusaha menahan haru.
>
> Ditemani Om Rojak, Om Joni, Om Tarjo, preman-preman baik hati itu, aku 
> kembali menuju Rumah Cahaya Penjaringan. Mereka menatapku heran. Aku juga 
> menatap mereka kagum.
>
> Preman pahlawan, aku tahu Allah akan menjaga sahabatku Hengki Rifai. Tapi 
> tolong ya, aku titip juga calon orang penting ini pada kalian!
>
> (Abdurahman Faiz)
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia 
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
> 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Ever feel sad or cry for no reason at all?
Depression. Narrated by Kate Hudson.
http://us.click.yahoo.com/LLQ_sC/esnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke