----- Original Message ----- From: ANDREAS MIHARDJA To: [email protected]
Untuk mereka yg mungkin lupa: Tradisi paskah - telur dan kelinci paskah - ini asalnya dari agama orang2 Europa utara dari suku German yg percaya "berhala" Nama Easter atao Ostern asal dari nama Dewi musim semi dan symbol dia adalah kelinci yg baru bangun dari tidur musim dingin. Dan telur adalah tanda bahwa semi juga sudah datang. Ttradisi Natal - ini pun asal dari suku utara ini dan kan anehnya natal jatuh pada hari dimana malam adalah yg terpanjang.[scandinavia 24jam gelap] Ini juga asal dari mereka dimana pada waktu itu mereka takut bahwa matahari tidak mau kembali. Pohon natal juga symbol dari mereka dimana kalau udara terang bintang2 dapt dilihat meskipun siang dan matahari tidak ada. Untung tradisi midsummer tidak dibawa - dimana pada hari dimana matahari tidak turun anak2 muda terutama gadis2 bikin api besar dan naked berdansa dikeliling api dan meluncati api sebagai tanda masih perawan. Kalau musim rontok diEuropa dan America masih dirayakan sebagai hari panen. Silahkan berpikir Andreas Julie Lau <[EMAIL PROTECTED]> wrote: kalau persembahan domba dikaitkan sama paskah sih asli yahudian, yang terkait sama berhalaan itu lambang paskah yang si telur telur itu. Eh tau nggak, ulangtahunan sama kue pasang lilinan juga sambungan dari berhala berhalaan lhoh. Kalau beneran mau dibuangin semua- sepi donk kaga ada perayaan. ----- Original Message ----- From: Danardono HADINOTO To: [email protected] Betul,pak. saya ada sahabat Tionghoa Indonesia di Austria sini, yang bukan main Kristennya, lebih Yahudi dari orang Yahudi (yang Jawa juga banyak macam begini). Ajaran leluhur semua salah dan sesat, memuja berhala. Tidak tahunya, juga tradisi2 Kristiani, seperti Natal, adalah sambungan dari pemujaan berhala, yakni budaya Romawi yang memuja dewa terang. Juga persembahan domba yang dikaitkan dengan pesta Paskah. Shalom RM Danardono HADINOTO ----- Original Message ----- From: "bibolaginkgo" <[EMAIL PROTECTED]> Masalahnya adalah kurangnya pengertian, dan mencampuradukkan simbol dengan essensi. Dalam agama kristen, jelas disebutkan harus menghormati orangtua, bahkan menjadi salah satu dari Sepuluh Perintah Tuhan, dan merupakan perintah pertama hubungan sosial antar manusia. (Ada 3 perintah yang tentang hubungan dengan Tuhan, dan 7 perintah hubungan antar sesama manusia). Jadi Hormati Orangtua adalah perintah pertama dalam soal hubungan antar-manusia. Jadi, essensinya, menghormati orang tua, itu tidak ada masalah, itu sama antara agamanya yang dulu dan sekarang. Sekarang cuma masalah simbol, bagaimana hal itu dipertunjukkan. Untuk orangtua yang sudah meninggal, ada yang menunjukkan dengan memasang hio, ada yang memasang bunga. Ada juga yang lebih mementingkan kenangan, sehingga menulis buku tentang orangtuanya, etc. Kembali, sebenarnya essensi paling dalam adalah dalam hati, bagaimanakah hubungan anak-orangtua mereka? Kalau memang hubungannya rusak atau tidak mesra, semua simbol untuk menunjukkan pada dunia hanyalah kepura2an. Kalau yang dalam hati memang sudah bagus, apapun simbol yang dipertunjukkan kepada dunia luar, itu bukan masalah penting. Sebenarnya tidak perlu terjadi clash cuman soal simbol semacam itu. Kalau sang anak mengerti bahwa pasang hio dan tunduk kepala itu cuman simbol dari apa yang ada dihati, ya dia bisa lakukan tanpa perlu konflik dengan apapun kepercayaannya. Kalau ibunya ngerti bahwa semua itu hanya simbol, harusnya dia bilang ke anaknya, lakukan apapun yang dia suka sesuai dengan apa yang dia percayai. Itu kalau memang hubungan anak-orangtua memang bagus. Kalau memang hubungannya rusak, apapun yang dilakukannya sebenarnya kan cuman kehampaan belaka. Bahwa mereka bisa clash, itu cuman tanda tidak ada saling pengertian antar mereka. Saya rasa dialog antar mereka juga sukar terjadi. Kalo soal anak yang berdoa untuk pengampunan ibunya yang masih memegang adat leluhur. Menurut saya sih, essensinya sudah bagus. Pertama, berarti dia serius dalam imannya (saya bandingkan dengan anak muda yang gampang ngaco, ngeganja, etc, kan mendingan yang serius berdoa). Kedua, dia sayang pada orangtuanya sehingga mau2nya berdoa tiap malam untuk orang tuanya. Mana ada orang yang mau berdoa terus kalau tidak sayang? Kekurangannya adalah soal pengertian. Kalau dia bisa menerima bahwa ibunya malah lebih berbahagia dengan tradisinya, ya seharusnya dia bikin ibunya berbahagia. Kalau dia bisa mencapai pengertian lebih baik tentang soal2 hidup, mungkin dia tidak perlu sampai begitu fanatik. Jadi itu adalah masalah pengertian, niatnya sih baik. Chris === ----- Original Message ----- From: "Hengki Suryadi (DAR)" <[EMAIL PROTECTED]> Saya lihat kelihatannya bukan kebiasaan Barat yang membuat Umat K melupakan leluhur mereka sendiri, tapi Pengkotbah yang notabene adalah orang Tionghoa yang berlebihan sehingga menganggap bahwa sembahyang pada leluhur itu adalah berhala dan dosa. Padahal orang Barat mungkin tidak seekstrem itu. Jadi lebih Barat daripada orang Barat atau lebih Yahudi dari orang Yahudi. BIasa lah pengekor biasanya lebih dari yang diikutinya. :o)) Peace, Hengki > From: Lim[SMTP:[EMAIL PROTECTED] Terkadang kita lupa asal penyebaran agama spt agama Kristen berasal dari Yahudi menuju dunia barat. Spt yg kita ketahui dunia barat mengajarkan anak di atas 21 th terlepas dari orang tua. Tanpa sadar kebiasaan hidup dunia barat mempengaruhi agama. Demikian pula agama Buddha yg berasal dari India menuju dunia Timur. Spt yg kita ketahui dunia Timur amat menekankan bakti seorang anak dari lahir hingga meninggal. Sehingga kebiasaan tsb mempengaruhi agama Buddha. Di sini kita perlu memisahkan antara kebiasaan hidup suatu negara dgn agama yg kita anut. Alangkah sempit pandangan orang mencampur adukkan antara kebiasaan hidup dgn agama yg kita anut. Coba kita bayangkan kalau kita jadi orang tua susah payah membesarkan anak lalu anak dgn ekstrim melupakan orang tua lantaran menganut suatu agama, apa kita tdk sakit hati membesarkan anak? Saya pribadi berasal dari keluarga agama Buddha. Saat saya kecil, saya selalu bertanya manfaat pasang hio di klenteng, sembahyang bagi orang yg meninggal dll Lalu saya sekolah Kristen yg mengatakan semua itu adalah Berhala. Tidak hanya itu saya pernah bermimpi didatangi oleh seorang yg memakai jubah putih spt foto Tuhan Yesus. Dalam mimpi tsb, Ia minta saya mengikutiNya tetapi saya hanya tersenyum dan saya terbangun. Dua tahun yg lalu saya pernah mengalami suatu perasaan spt merasakan bagaimana perasaan Tuhan Yesus saat berdoa di Getsemani, minum air cuka hingga meninggal di atas kayu salib. Saya bisa merasakan sakitNya & penderitaanNya. Apa saya terima begitu saja???? Tidak!! Saya cari tahu dgn mengikuti kebaktian di Vihara waktu saya SMA. Selain itu saya ikuti kebaktian Kristen yg diadakan di sekolah saya. Dari sana saya mengetahui bahwa kebiasaan suatu negara mempengaruhi agama. Sayangnya org yang menyebarkan suatu agama ke suatu negara membawa serta kebiasaan hidup mereka sehingga timbul kesalahpahaman hingga detik ini. Cobalah kalian renungkan. Agama apapun itu sifatnya baik ttp kita harus memilah antara kebiasaan hidup dgn agama yg kita anut. Janganlah karena agama, kita saling serang agama yg lain mencoba mengatakan agama yg kita anut adalah yg paling benar. Lebih2 kita sampai melukai perasaan orang tua kita. Tidak ada salahnya bukan kalau kita diminta orang tua kita menyembahyangi orang yg meninggal, kita cukup berdiri di depan foto orang yg meninggal itu berkata dalam hati tanpa pasang hio : "Semoga Tuhan Yesus mengampuni dosa2 yang telah diperbuat oleh ......" or kita bisa berkata "Semoga para arwah yg telah meninggal dapat bertumimbar lahir ke alam yg lebih berbahagia"Lalu kita membungkukkan kepala satu kali. SELESAI, tidak sulit bukan? Ingat! Agama apapun, kita harus sadar kita hidup dalam dunia ini ibarat roda berputar. Apa yg kita perbuat hari ini pada org lain, suatu hari kita terima atas imbalan yg pernah kita perbuat. kadang dari anak kita sendiri or org terdekat kita. Maka dari itu kita selalu berdoa di pagi hari & malam hari. Tdk harus agama kristen yg berdoa ttp agama lain juga perlu berdoa. Dgn demikian hati kecil kita selalu mengingatkan kita atas perbuatan kita. -Lim Wiss- -----Original Message----- From: Rinto Jiang [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, August 04, 2004 3:37 PM To: Milis Budaya Tionghoa Subject: [budaya_tionghua] Menjadi anak berbakti : Dilema sebuah tradisi versus doktrin agama? Lili menulis : Jadi ingat pada salah satu teman saya waktu kuliah dulu, dia pernah cerita bahwa setiap hari dia selalu berdoa untuk pengampunan dosa ibunya. Menurutnya, ibunya masih sesat dan menyembah berhala hanya gara2 melihat ibunya masih memegang teguh tradisi menghormati altar leluhur. Ada juga salah satu teman ibu saya yang sempat curhat pada saya bahwa pada malam tahun baru Imlek, putranya tidak sudi menancapkan hio/ dupa ke hadapan foto almarhum ayahnya seperti kebiasaan tahun2 sebelumnya, dengan alasan tidak diperbolehkan agama yang dia anut sekarang. Akhirnya sang ibu mengalah dan memohon putranya agar menghormati foto almarhum ayahnya cukup dengan membungkukkan badan saja, ternyata hal ini juga juga ditolak mentah2 oleh sang anak. Btw, si ibu ini bercerita kepada saya sambil berurai air mata, cukup memprihatinkan bukan ... ? Lili Julie Lau menulis : Iya lah yang jadi ibunya pasti sakit hati. Sudah capek capek dibesarkan kok menghormati saja tidak mau, pasti mikirnya begitu. Saya sampai sekarang masih mengalami dilemma yang sama dengan si anak, terutama kalau menjelang Imlek, dan masih belum menemukan jalan yang paling bijaksana itu yang gimana ya. Andreas M. menulis : Ini hanya utk membantu berpikir: Suatu bangsa yg tidak menghormati keturunan adalah suatu bangsa yg akan sesat. Kenapa sebab bangsa itu tidak dapat belajar dari pengalaman sejarah dan tidak melihat cara2nya untuk memeperbaiki masa depan mereka. Ini pemandangan bukan dari orang keturunan asia tetapi juga dari semua bangsa2 didunia lain tanpa melihat agama, kebudayaan atau keturunan. Didalam keadaan yg sulit seperti waktu jaman orba jaman pelarangan kebudayaan keturunan banyak profet2 palsu dipingir jalan mencoba memetik buah2 yg dalam keadaan tanpa perhatian. Kita sekarang juga masih lihat keadaan ini dgn sangat jelas di China [dgn falunkung/kristen etc] atau dinegara yg fanatiek anti agamaatau kebudayaan setempat. Banyak anak2 muda jaman remaja pikirannya belum mateng mudah sekali dikuasai oleh profet2 sesat dan malah mereka menjadi lebih sesat dari ajaran yg mereka baru terima. Inilah sifat manusia - Jaman remaja adalah jaman kelemahan sebab masih belum cukup pengetahuan utk analisa keadaan. Kenapa lebih sesat dari pelajaran yg mereka baru terima - karena mereka melamun harus lebih baik dan honest dari keadaan sebelumnya. Kalau anak remaja ini inteletual educationnya tidak cukup atau tidak dapat berkembang, mereka akan hidup didalam dunia lamunan mereka dan makin lama makin fanatiek. Kalau intelectual level mereka bisa tetap berkembang keadaan sudah stabiel dan kita tidak perlu menghawatirkan lagi. Keadaan ini kita lihat diChina waktu red guard dan diAfghanistan dgn AlQuaida. Kalau anak selalu sembayang utk orang tuanya agar jangan sesat - ini apa boleh buat adalah ajaran dari beberapa agama kristen yg konservative dan kita juga tidak dapat kasih komentar selama anak itu tidak merusak keadaan dgn tindakan2 yg tidak normal terhadap orang tua mereka. Memang banyak agama kristen oleh karena kepercayaan mereka bertindak ingin "membantu" agar semua dapat diselamatkan dan saya tidak melihat kesulitan dgn ini. DiUSA ada agama mormon yg malah lebih jauh tindakan2 mereka yaitu mereka mencoba permandikan leluhur mereke sajauh mungkin meskipun mereka sudah meninggal. Selama mereka peacefull dan goalnya baik kita tidak perlu gugat kepercayaan mereka. Sekarang kalau kembali kekeadaan kebudayaan keturunan china - Kalau tradisi masih kuat dan pendidikan masih teratur menurut kebudayaan - kita tidak perlu pusing2. Kalau anak ini intelectnya cukup nanti mereka akan bertanya mereka asal dari mana dan akan mencoba menggali keadaan yg sudah mereka coba untuk dilupakan atau yg mereka diharuskan melupakan. Orang2 kristen diTaiwan meskipun sangat sujut selalu memelihara kebudayaan mereka dimanapun mereka berada dan lebih tolerant terhadap tradisi dari yg diIndonesia. Memang kalau kebudayaan waktu jaman orba dilarang anak2 remaja kehilangan filosofi penghidupan dan dgn adanya agama yg asal dari luar china yg ingin memetik mereka - mudah sekali mereka dipengaruhi. Sekian dan terima kasih ------ Andreas Rinto Jiang : Iseng2 tracing posting2 yang lalu, ketemu topik ini yang banyak menjadi permasalahan dan benturan antara agama dan tradisi budaya. Tanpa bermaksud ofensif dan mengajak debat iman, kita bahas dari kacamata budaya saja. Dan ingat, ini pandangan pribadi saya. Setuju tidak setuju terpulang ke pribadi masing2 pula. Menghormati leluhur sebagai salah satu bentuk bakti anak kepada generasi yang lebih tua adalah salah satu akar dari kebudayaan Tionghoa selama ribuan tahun, ini sebenarnya bukan hanya monopoli orang Tionghoa, namun adalah sebuah nilai universal yang harus ada dan menjadi kewajiban seorang anak terhadap orang tuanya. Bila tak ada leluhur dan jasa2 mereka, mana ada kita yang bisa bertemu dan berdiskusi di sini? Untuk itu, mengenang jasa2 leluhur adalah salah satu bentuk bakti (xiao) yang sangat penting dalam kebudayaan Tionghoa. Namun, praktek2 ini kemudian di"haram"kan oleh agama tertentu dengan alasan tertentu pula dengan menyamakannya sebagai "penyembahan kepada orang mati" atau "penyembahan berhala". Pelarangan ini otomatis langsung membunuh nilai2 budaya ini dan sekaligus meniadakan esensi dan latar belakang positif darinya. Pegang hio saja tidak mau karena disimbolkan kepada yang tidak-tidak, padahal apa bedanya tradisi hio sebagai alat penghormatan dengan tradisi bunga sebagai alat penghormatan di Barat? Saya juga punya seorang teman yang membuang barang keramik berukiran naga setelah diberitahu naga dilambangkan sebagai setan dan segala yang buruk. Alasan2 untuk membuang semua segi budaya itu mungkin sangat sederhana dan bahkan tidak berdasar, saya pernah menanyakan mengapa ada larangan seperti itu kepada beberapa teman saya yang telah memeluk agama tertentu, jawabannya khas dan konsisten, karena dilarang pemuka agama. Di sini kelihatan umat beragama yang tidak menggunakan rasionalitas dalam memandang permasalahan umumnya cuma bertindak sesuai doktrin dari pemuka agama, bisa disetir2 pemuka agama yang notabene bukan agama maupun ajarannya itu sendiri. Padahal para pemuka agama tersebut juga menafsirkan kitab suci dengan pandangan masing2, yang dibuktikan dengan adanya kebijakan yang berbeda dari dulu sampai sekarang. 32 tahun zaman Orba, jangan harap pernak-pernik dan unsur2 budaya Tionghoa dapat berjalan bersama dan menjadi bagian dari ritual agama tertentu, eh, sampai zaman reformasi setelah adanya euforia kebangkitan kebudayaan Tionghoa di Indonesia pihak pemuka agama tersebut nampaknya takut kehilangan "pasaran" yang telah ada kemudian mau tak mau harus menumpang euforia kebangkitan kebudayaan Tionghoa tadi. Sebagai akibatnya, larangan2 tadi dilonggarkan, imlek kembali dirayakan bahkan di tempat ibadah. Melihat barongsai adalah diperbolehkan selama tidak ikut menari barongsai. Teori dan berbagai spekulasi tentang hubungan Tionghoa dan bangsa pilihan Tuhan dimunculkan untuk menjaring dan mengukuhkan iman yang telah ada karena identitas ke-Tionghoa-an pada umat Tionghoa yang makin menguat. Ironis memang. Jangan tanya saya beragama apa, mari lepaskan kacamata agama kita sekalian untuk melihat ini murni dari konteks budaya dan identitas. Bila ditanya saya harus bagaimana menyikapi larangan pegang hio atau membungkuk menghormati leluhur saya, maka saya akan melaksanakannya demi membahagiakan orang tua saya karena saya tidak ingin mereka meninggalkan kita dalam kekecewaannya . Umur manusia tidaklah lama, berbaktilah selagi kita masih dapat melakukannya dan saya rela berdosa bila saya harus berdosa untuk itu. Karena berbakti kepada orang tua adalah sebuah nilai universal yang harus ada apapun agama kita. Rinto Jiang ----- Original Message ----- From: "silva-s" <[EMAIL PROTECTED]> Dear Yulie Lau, Memang menjadi dilema kalau kita tidak memahami makna keduanya dengaan sebenar-benarnya. Kedua-duanya merupakan ajaran. Ajaran yang saling berhubungan. Keduanya mengajarkan kebaik2 kan dan mencegah perbuatan buruk. Yang satu berdasarkan satu kitab yang disebut kitab suci yang diturunkan melalui para Rasul dan yang satunya lagi berdasarkan tradisi turun temurun yang juga berdasarkan ajaran dan pengalaman. Ada yang tertulis dan ada yang tidak tergantung dari mana dia berasal (daerah) Untuk tidak mengacaukannya ada baiknya kita tinjau dengan memakai tatacara orang Minangkabau (Sumatra Barat) yaitu "Adat bersendikan Sara', Sara' bersendikan Kitabullah". Disini jelas sekali bedanya antara Agama dan Budaya (Adat istiadat) dimana agama adalah hubungan vertical antara manusia dengan Tuhannya dan hubungan horisontal antara manusia dengan sesama manusia. (Dalam Islam disebut Hablumminallah dan Hablumminnas). Karena orang Minang mayoritas beragama Islam, tegas sekali batasan beragama, dan dalam Islam yang dibilang musyrik itu adalah menduakan Tuhan, dilarang menyembah selain Allah. Tatacara ibadah untuk ini jelas sudah ada ajarannya, memang memerlukan guru/pembimbing tapi tidak lah cukup satu, perlu mencari banyak guru karena ajarannya yang luas tidak hanya menyangkut ibadah tapi juga tata cara kehidupan dan seluruh kegiatan dari bangun tidur sampai tidur lagi, inilah yang berhubungan dengan kebudayaan hanya tata caranya yang ber beda sesuai tradisi masing2. Kita harus saling menghormati dan saling menyayangi, tapi hormat kepada orang tua dan mendo'akan orang tua dari masih hidup sampai sudah meninggal adalah kewajiban bagi setiap anak. Karena hanya do'a anak yang shaleh lah yang akan sampai kepada orangtuanya. Masalah orang tuanya berbeda iman dengan anak itu adalah masalah yang di atas. Menyenangkan hati orang lain apa lagi hati orang tua sendiri juga kewajiban. Apalagi surga di telapak kaki Ibu (merupakan simbul betapa seorang anak harus menghormati, menyayangi, berbakti dan tidak boleh menyakiti hati seorng ibu yang telah mengandung, melahirkan dengan penuh perjuangan antara hidup dan mati, menyusuinya, merawat dalam suka dan duka, jadi sampai seorang anak menyinggung /menyakiti apalagi menghancurkan perasaan seorang ibu), karena ibu dengan doanya yang akan membawa kehidupan anak2 kearah yang baik. Di Indonesia perayaan Imlek memang tidak dirayakan secara resmi tapi bagi yang merayakan boleh pulang setengah hari atau boleh libur. Sayangnya yang tidak merayakan meskipun orang tionghoa juga ikut pulang atau libur. Tapi umumnya mereka sudah punya jadwal kapan kumpul keluarga, dan bilangnya sih sembahyangan. Jadi saya ingatin mereka ber doa atau sembahyang ? Dalam Islam beda lo. Kalau sembahyang berarti ini agama bukan tradisi. kalau tradisi boleh diiringi do'a, do'a kan boleh dengan bahasa sendiri, dan bunyi do'anya juga bisa beda2, bisa juga sama karena ada yang pimpin. Sedangkan membakar hio merupakan sebuah simbul dari suatu tradisi yang biasanya mempunyai makna tertentu, ini tentu bisa dipelajari apa maksud dan tujuannya bukan sebagai sesembahan, bisa juga karena harus memfokuskan diri bukan menyembahnya dan bukan menyembah orang yang sudah meninggal tapi melihat kefotonya untuk mendo'akan orang yang ada difoto. Tentu saja memintanya kepada yang di atas (Tuhan) mana mungkin kepada yang sudah mati. Kita juga boleh berdo'a dengan cara yang diajarkan agama kita tanpa menyakiti hati orang tua kita dan jelaskan mengapa saya tidak mengikuti tradisi yang ini atau yang itu, sedangkan yang ini saya bisa ikuti. Maka akan ada kesepahaman meskipun dalam hati kecil si ibu tetap merasa sedih, tapi tidak sesedih kalau ditolak tanpa penjelasan. Dan apakah ini sifat anak yang shaleh ? Padahal kita sudah merasa shaleh dalam agama kita. Kenyataannya kita tidak membuat senang orang tua kita kan ?? Jadi menurut saya lebih baik dipelajari budaya2 tersebut agar kita tidak main tolak2 saja tanpa tahu makna yang sebenarnya. Agar bisa menentukan pilihan mana yang boleh dan mana yang tidak sesuai dengan ajaran agama yang kita anut. Salam Silva ------------ Rinto Jiang wrote: > Lili menulis : > > Jadi ingat pada salah satu teman saya waktu kuliah dulu, dia pernah > cerita bahwa setiap hari dia selalu berdoa untuk pengampunan dosa > ibunya. Menurutnya, ibunya masih sesat dan menyembah berhala hanya gara2 > melihat ibunya masih memegang teguh tradisi menghormati altar leluhur. > > Ada juga salah satu teman ibu saya yang sempat curhat pada saya bahwa > pada malam tahun baru Imlek, putranya tidak sudi menancapkan hio/ dupa > ke hadapan foto almarhum ayahnya seperti kebiasaan tahun2 sebelumnya, > dengan alasan tidak diperbolehkan agama yang dia anut sekarang. Akhirnya > sang ibu mengalah dan memohon putranya agar menghormati foto almarhum > ayahnya cukup dengan membungkukkan badan saja, ternyata hal ini juga > juga ditolak mentah2 oleh sang anak. Btw, si ibu ini bercerita kepada > saya sambil berurai air mata, cukup memprihatinkan bukan ... ? > > Lili > > > Julie Lau menulis : > > Iya lah yang jadi ibunya pasti sakit hati. Sudah capek capek dibesarkan > kok menghormati saja tidak mau, pasti mikirnya begitu. > > Saya sampai sekarang masih mengalami dilemma yang sama dengan si anak, > terutama kalau menjelang Imlek, dan masih belum menemukan jalan yang > paling bijaksana itu yang gimana ya. > > > Andreas M. menulis : > > Ini hanya utk membantu berpikir: > > Suatu bangsa yg tidak menghormati keturunan adalah suatu bangsa yg akan > sesat. Kenapa sebab bangsa itu tidak dapat belajar dari pengalaman > sejarah dan tidak melihat cara2nya untuk memeperbaiki masa depan mereka. > Ini pemandangan bukan dari orang keturunan asia tetapi juga dari semua > bangsa2 didunia lain tanpa melihat agama, kebudayaan atau keturunan. > > Didalam keadaan yg sulit seperti waktu jaman orba jaman pelarangan > kebudayaan keturunan banyak profet2 palsu dipingir jalan mencoba memetik > buah2 yg dalam keadaan tanpa perhatian. Kita sekarang juga masih lihat > keadaan ini dgn sangat jelas di China [dgn falunkung/kristen etc] atau > dinegara yg fanatiek anti agamaatau kebudayaan setempat. > > Banyak anak2 muda jaman remaja pikirannya belum mateng mudah sekali > dikuasai oleh profet2 sesat dan malah mereka menjadi lebih sesat dari > ajaran yg mereka baru terima. > Inilah sifat manusia - Jaman remaja adalah jaman kelemahan sebab masih > belum cukup pengetahuan utk analisa keadaan. Kenapa lebih sesat dari > pelajaran yg mereka baru terima - karena mereka melamun harus lebih baik > dan honest dari keadaan sebelumnya. > Kalau anak remaja ini inteletual educationnya tidak cukup atau tidak > dapat berkembang, mereka akan hidup didalam dunia lamunan mereka dan > makin lama makin fanatiek. Kalau intelectual level mereka bisa tetap > berkembang keadaan sudah stabiel dan kita tidak perlu menghawatirkan > lagi. Keadaan ini kita lihat diChina waktu red guard dan diAfghanistan > dgn AlQuaida. > > Kalau anak selalu sembayang utk orang tuanya agar jangan sesat - ini apa > boleh buat adalah ajaran dari beberapa agama kristen yg konservative dan > kita juga tidak dapat kasih komentar selama anak itu tidak merusak > keadaan dgn tindakan2 yg tidak normal terhadap orang tua mereka. Memang > banyak agama kristen oleh karena kepercayaan mereka bertindak ingin > "membantu" agar semua dapat diselamatkan dan saya tidak melihat > kesulitan dgn ini. DiUSA ada agama mormon yg malah lebih jauh tindakan2 > mereka yaitu mereka mencoba permandikan leluhur mereke sajauh mungkin > meskipun mereka sudah meninggal. Selama mereka peacefull dan goalnya > baik kita tidak perlu gugat kepercayaan mereka. > > Sekarang kalau kembali kekeadaan kebudayaan keturunan china - Kalau > tradisi masih kuat dan pendidikan masih teratur menurut kebudayaan - > kita tidak perlu pusing2. Kalau anak ini intelectnya cukup nanti mereka > akan bertanya mereka asal dari mana dan akan mencoba menggali keadaan yg > sudah mereka coba untuk dilupakan atau yg mereka diharuskan melupakan. > Orang2 kristen diTaiwan meskipun sangat sujut selalu memelihara > kebudayaan mereka dimanapun mereka berada dan lebih tolerant terhadap > tradisi dari yg diIndonesia. Memang kalau kebudayaan waktu jaman orba > dilarang anak2 remaja kehilangan filosofi penghidupan dan dgn adanya > agama yg asal dari luar china yg ingin memetik mereka - mudah sekali > mereka dipengaruhi. > > Sekian dan terima kasih ------ Andreas > > > Rinto Jiang : > > Iseng2 tracing posting2 yang lalu, ketemu topik ini yang banyak menjadi > permasalahan dan benturan antara agama dan tradisi budaya. Tanpa > bermaksud ofensif dan mengajak debat iman, kita bahas dari kacamata > budaya saja. Dan ingat, ini pandangan pribadi saya. Setuju tidak setuju > terpulang ke pribadi masing2 pula. > > Menghormati leluhur sebagai salah satu bentuk bakti anak kepada generasi > yang lebih tua adalah salah satu akar dari kebudayaan Tionghoa selama > ribuan tahun, ini sebenarnya bukan hanya monopoli orang Tionghoa, namun > adalah sebuah nilai universal yang harus ada dan menjadi kewajiban > seorang anak terhadap orang tuanya. Bila tak ada leluhur dan jasa2 > mereka, mana ada kita yang bisa bertemu dan berdiskusi di sini? Untuk > itu, mengenang jasa2 leluhur adalah salah satu bentuk bakti (xiao) yang > sangat penting dalam kebudayaan Tionghoa. > > Namun, praktek2 ini kemudian di"haram"kan oleh agama tertentu dengan > alasan tertentu pula dengan menyamakannya sebagai "penyembahan kepada > orang mati" atau "penyembahan berhala". Pelarangan ini otomatis langsung > membunuh nilai2 budaya ini dan sekaligus meniadakan esensi dan latar > belakang positif darinya. Pegang hio saja tidak mau karena disimbolkan > kepada yang tidak-tidak, padahal apa bedanya tradisi hio sebagai alat > penghormatan dengan tradisi bunga sebagai alat penghormatan di Barat? > Saya juga punya seorang teman yang membuang barang keramik berukiran > naga setelah diberitahu naga dilambangkan sebagai setan dan segala yang > buruk. > > Alasan2 untuk membuang semua segi budaya itu mungkin sangat sederhana > dan bahkan tidak berdasar, saya pernah menanyakan mengapa ada larangan > seperti itu kepada beberapa teman saya yang telah memeluk agama > tertentu, jawabannya khas dan konsisten, karena dilarang pemuka agama. > Di sini kelihatan umat beragama yang tidak menggunakan rasionalitas > dalam memandang permasalahan umumnya cuma bertindak sesuai doktrin dari > pemuka agama, bisa disetir2 pemuka agama yang notabene bukan agama > maupun ajarannya itu sendiri. Padahal para pemuka agama tersebut juga > menafsirkan kitab suci dengan pandangan masing2, yang dibuktikan dengan > adanya kebijakan yang berbeda dari dulu sampai sekarang. > > 32 tahun zaman Orba, jangan harap pernak-pernik dan unsur2 budaya > Tionghoa dapat berjalan bersama dan menjadi bagian dari ritual agama > tertentu, eh, sampai zaman reformasi setelah adanya euforia kebangkitan > kebudayaan Tionghoa di Indonesia pihak pemuka agama tersebut nampaknya > takut kehilangan "pasaran" yang telah ada kemudian mau tak mau harus > menumpang euforia kebangkitan kebudayaan Tionghoa tadi. Sebagai > akibatnya, larangan2 tadi dilonggarkan, imlek kembali dirayakan bahkan > di tempat ibadah. Melihat barongsai adalah diperbolehkan selama tidak > ikut menari barongsai. Teori dan berbagai spekulasi tentang hubungan > Tionghoa dan bangsa pilihan Tuhan dimunculkan untuk menjaring dan > mengukuhkan iman yang telah ada karena identitas ke-Tionghoa-an pada > umat Tionghoa yang makin menguat. > > Ironis memang. Jangan tanya saya beragama apa, mari lepaskan kacamata > agama kita sekalian untuk melihat ini murni dari konteks budaya dan > identitas. Bila ditanya saya harus bagaimana menyikapi larangan pegang > hio atau membungkuk menghormati leluhur saya, maka saya akan > melaksanakannya demi membahagiakan orang tua saya karena saya tidak > ingin mereka meninggalkan kita dalam kekecewaannya . Umur manusia > tidaklah lama, berbaktilah selagi kita masih dapat melakukannya dan saya > rela berdosa bila saya harus berdosa untuk itu. Karena berbakti kepada > orang tua adalah sebuah nilai universal yang harus ada apapun agama kita. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Dying to be thin? Anorexia. Narrated by Julianne Moore . http://us.click.yahoo.com/FLQ_sC/gsnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

