http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=197090&kat_id=16
Selasa, 10 Mei 2005



Kemiskinan, Globalisasi, dan Demokratisasi Politik 
Oleh : 
Didin S Damanhuri
Pengamat Ekonomi Politik dan Guru Besar Ekonomi IPB


Beberapa waktu yang lalu terjadi debat publik tentang implikasi pencabutan 
subsidi bahan bakar minyak (BBM) terhadap kemiskinan yang diselenggarakan The 
Indonesian Insitute yang menghadapkan dua tanki pemikir: Lembaga Penelitian 
Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI dan Institute for Development Economic & 
Finance (Indef). Mungkin karena keterbatasan waktu bagi penyelenggara maupun 
nara sumber, perdebatannya terlalu terfokus kepada metodologi penghitungan 
dengan sumber data yang sama, yakni dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan kurang 
menyentuh hal-hal yang lebih luas. Berikut ini penulis ingin melanjutkan 
diskusi tersebut yang lebih mempertanyakan masalah-masalah nonteknis yakni 
peranan negara dan implikasi proses demokratisasi politik, serta kompleksitas 
pasca-otonomi daerah (otda).

Peran negara
Setelah masuknya peran Dana Moneter Internasional (IMF) dengan dokumen Letter 
of Intent (LoI) yang kemudian dilanjutkan dengan adanya white paper dengan 
sejumlah program besar untuk mengatasi krisis ekonomi sejak tahun 1998, maka 
ada berbagai perubahan signifikan di tingkat dasar di negeri ini bahkan 
berimplikasi kepada amandemen UUD 45. Antara lain dirumuskan tentang peran 
negara yang lebih ''minimalis'' karena ''ekonomi disusun berdasarkan ekonomi 
pasar yang berkeadilan''.

Memang makna tersebut belum dijabarkan secara terperinci seperti apa nantinya. 
Namun jargon tersebut merupakan bahasa khas kaum neoliberal yang berbasiskan 
teori ekonomi neoklasik dan neoliberal. Karena kata keadilan tersebut biasanya 
diterjemahkan dalam konteks pasar kapitalis, yakni ada semacam mekanisme 
redistribusi pendapatan yang disesuaikan dengan kontribusinya masing-masing 
individu dalam kapasitas sebagai factor produksi. Apakah dia masuk kelas 
pemilik aset produktif (sumber daya finansial, alam, intelektual, dan 
seterusnya) atau sekedar kelas buruh pemilik tenaga fisik semata yang 
powerless. Maka secara struktural makin amat sulitlah kalau tak mau disebut tak 
mungkin, pencapaian sila keadilan social bagi seluruh rakyat secara kongkret 
dan bertahap di masa datang.

Sementara untuk mengatasi kemiskinan dari masyarakat yang tak masuk kelompok 
ekonomi produktif --seperti yang berjalan di Ameriks Serikat-- biasanya lalu 
diserahkan kepada lembaga-lembaga karitatif yang sangat terbatas daya 
jangkaunya, karena negara harus semakin membatasi peran tertentu saja. Ini 
bukan hanya tuntutan mekanisme pasar kapitalis di tingkat nasional saja, tapi 
juga tuntutan pasar kapitalis global yang dalam kenyataanya jauh lebih 
menentukan. Misalnya sekarang Indonesia dan negara berkembang lain sering 
dituduh oleh negara-negara maju mempraktikkan dumping, karena dianggap 
mengerjakan buruh anak-anak. Juga tuntutan ecolabelling bahkan bioterrorism 
untuk produk ekspor. Ujung-ujungnya lebih merupakan siasat proteksi negara maju 
--yang selalu mengkhotbahkan pasar bebas-- terhadap negara berkembang.

Yang lebih spektakuler lagi, dampak pemberlakuan ekonomi pasar kapitalis di 
tingkat nasional dan terutama di tingkat global (dengan kekuatan mahabesar dari 
WTO ditambah IMF dan Bank Dunia) bagi nasib untuk sekitar 99 persen pelaku 
ekonomi di Indonesia yang masuk kategori sektor informal dan UKM, karena peran 
minimalisnya dari negara. Yakni untuk promosi dalam pelbagai manifestasi 
subsidi. Dengan jargon untuk mencapai kemakmuran dunia yang mensyaratkan 
kebebasan lalu lintas barang, jasa dan produk intelektual secara global 
(borderless) maka semua negara di dunia harus melakukan structural adjustment 
yang intinya membatasi peran negara, mengedepankan peran swasta dan menciptakan 
ekonomi pasar kapitalis. Maka peran sektor pertanian dalam arti luas, UKM, dan 
sektor informal yang menginginkan memperbesar skala ekonominya untuk masuk 
kepada dinamika pertumbuhan ekonomi modern apalagi di pasar global menjadi hal 
yang hampir mustahil. 

Dengan begitu, yang terjadi pascakrisis di negeri ini, kemiskinan dan 
pengangguran (terbuka maupun setengah pengangguran) makin massif dan meruyak. 
Lebih jauh, dampak setelah hampir satu dekade peran WTO mengemuka, maka 
terjadilah piramida kurban manusia --meminjam istilah Peter Berger-- di tingkat 
global, yakni mayoritas negara-negara miskin yang tidak manjalankan ekonomi 
pasar kapitalis dan kurang bersahabat secara politik dengan AS, menjadi ''kaum 
proletar'' secara berkelanjutan. Sementara, yang berada di puncak dari piramida 
tersebut adalah negara supermakmur yang memiliki segalanya: kekuatan ekonomi, 
politik, dan militer, yakni AS, kemudian disusul Jepang dan Uni Eropa.

Uraian diatas bukanlah sebuah ungkapan untuk mengkampanyekan antiekonomi pasar 
dan menolak langkah menciptakan daya saing ekonomi dalam kerangka 
interdependensi ekonomi global (bukan istilah golablisasi yang lebih 
mengesankan adanya dominasi bahkan hegemoni). Bagi negeri ini yang mayoritas 
rakyatnya masih hidup di sektor agraris dan ekonomi informal serta proses 
pembelajaran awal demokrasi politik, kiranya harus menyikapi dinamika ekonomi 
dan politik global dewasa ini secara selektif dan cerdas. Antara lain kita 
harus berani me-review pelbagai penetapan tentang peran negara dalam ekonomi 
dalam konteks interdependensi ekonomi dan politik global dewasa ini. Juga 
termasuk keberanian mengkaji ulang white paper IMF, terutama menyusun politik 
subsidi yang relevan. 

Dalam waktu yang sama, pemberatasan KKN, reformasi birokrasi dan penegakan 
hukum serta proses demokratisasi politik, secara serius dan berkelanjutan terus 
dilaksanakan. Dengan belajar terus dari pengalaman termasuk bagaimana 
terjadinya kegagalan negara di masa pemerintahan Orba dan kegagalan swasta 
pasca-Orba, akhirnya kita harus mampu menempatkan format negara yang efektif 
dan civil society yang elegan dalam konteks untuk memecahkan kemiskinan dan 
pengangguran yang besar ke depan.

Proses demokratisasi politik dan otda
Indonesia memang telah ditasbihkan menjadi negara besar ketiga (setelah AS dan 
India) yang berhasil dengan penduduk yang raksasa menjalankan demokratisasi 
politik (pemilu legislatif di pusat dan daerah serta presiden) secara damai dan 
luber pascaotoriritarianisme selama empat dekade. Bahkan dalam bulan Juni tahun 
ini, akan dilakukan pilkada langsung menyusul pemberlakuan otonomi daerah dan 
desentralisasi pemerintahan. Dengan segala kekurangan yang ada, bagaimanapun 
ini prestasi rakyat terbesar yang mampu dipersembahkan ke panggung dunia. Namun 
dengan prestasi spektakuler tersebut harus direnungkan juga kenyataan lain 
untuk masa depan. Bahwa dalam kenyataan, perbandingan pengalaman di dunia, 
tidak setiap sukses demokratisasi politik lantas diikuti oleh sukses 
menciptakan tingkat kesejahteraan ekonomi dan keadilan sosial bagi rakyat 
banyak.

Setidaknya ada empat kategori di dunia dalam hubungan antara demokrasi politik 
dan kesejahteraan ekonomi rakyat. Pertama, bersamaan dengan sukses 
demokratisasi politik juga diikuti oleh tingkat kesejahteraan ekonomi rakyat 
yang signifikan seperti dipertotonkan oleh negara-negara Barat. Meski harus 
diberi catatan bahwa kemakmuran mereka tak lepas dari politik kolonialiame dan 
imperalisme terhadap negara berkembang di masa lalu disamping standar ganda 
yang tak demokratis di tingkat hubungan internasional vis-a-vis Negara 
berkembang sekarang ini. Di luar negara-negara Barat tersebut, juga terdapat 
Jepang, Turki, dan negara-negara industri baru Asia (Korea, Malaysia, dan 
Thailand). 

Kedua, negara-negara yang tak demokratis secara politik namun tingkat 
kesejahteraan ekonomi rakyatnya relatif tinggi dan merata seperti diperlihatkan 
Cina dan Singapura. Ketiga, negara-negara yang tradisi demokrasi politiknya 
maju namun kesejahteraan ekonomi sebagian besar rakyatnya rendah seperti 
dicontohkan India dan Filipina serta banyak negara-negara Amerika Latin. 
Keempat, negara yang demokrasi politik dan kesejahteraan ekonomi rakyatnya 
buruk dan rendah seperti yang terjadi di Pakistan, Bangladesh, dan hampir semua 
negara-negara Afrika.

Di mana tempat Indonesia dalam peta hubungan tersebut akan menempatkan diri? 
Sementara ini kita baru masuk dalam kategori ketiga. Bahkan kalau gejala 
perpecahan internal partai terus menerus tanpa terselesaikan, kemudian konflik 
yang tak terkendali dalam pilkada nanti serta KKN oleh pemerintahan pasca-Orba 
tak terpecahkan, maka yang akan terjadi bukan hanya tingkat kesejahteraan 
ekonomi rakyat --dalam alam globalisasi dengan hegemoni AS-- yang akan semakin 
bertambah buruk. Bahkan demokrasi politikpun akan mengalami kemunduran besar. 
Pemecahan kemiskinan dan pengangguran yang massif dan besar yang dialami dewasa 
ini, akan semakin jauh panggang dari api. 

Selanjutnya dengan budaya patrernalistik yang kita miliki, sebagaimana 
negara-negara Asia lainnya, maka nasib Indonesia akan sangat tergantung kaum 
elitenya untuk memecahkan teka-teki seperti diuraikan di atas. Sementara, 
rakyat sudah membutikan dirinya secara spektakuler berhasil. Baik itu dalam 
proses demokrasi politik seperti diperlihatkan dalam pemilu tahun 2004, maupun 
kemandirian dan ketahanan ekonomi yang dipertontonkan selama krisis ekonomi 
yang telah berlangsung tujuh tahun ini. Mudah-mudahan dapat direnungkan uraian 
dari pembelajaran semua ini. Wallahu 'alam bissawab.




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/MCfFmA/SOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke