Republika Rabu, 11 Mei 2005
Mengembangkan Industri Militer Oleh : Muhadjir Effendy Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Marsekal Chappy Hakim, tatkala masih menjabat Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), di depan DPR, 6 Pebruari 2005, menyampaikan keluhan betapa minimnya alat utama pertahanan udara TNI AU. Beberapa kolom wilayah udara Indonesia pengaturannya di bawah kontrol negara tetangga, yaitu Singapura. Dari 200 pesawat tempur, 30-40 persen saja yang bisa mengudara. Untuk melakukan penjagaan udara (air surveillance) yang luasnya melebihi daratan Eropa ini TNI AU hanya punya 16 radar. Sebelas yang berfungsi, itupun hanya bisa operasi 12 jam per hari. Sehingga kurang mungkin melakukan antisipasi terhadap pesawat asing yang menyusup. Pelanggaran udara banyak terjadi tetapi tidak terdeteksi. Seandainya terdeteksi pun tidak mungkin mengejar apalagi melakukan dogfight (duel udara). Biangnya apalagi kalau bukan karena minimnya anggaran dan embargo persenjataan, terutama oleh Amerika Serikat. Asal tahu saja, Condoleezza Rice berusaha mencairkan kembali bantuan pendidikan dan latihan bagi para perwira TNI lewat program International Military Education and Training (IMET) yang sejak 1999 dibekukan. Namun soal embargo senjata masih akan jalan terus. Nasib serupa juga dialami baik oleh TNI AD maupun TNI AL. Untuk TNI AD kendaraan tempur seperti tank tempur ringan (light batle tank/LBT) ataupun kendaraan angkut personil (armoured personnel carrier/APC), banyak yang buatan tahun enam puluhan. Memang ada LBT yang relatif baru, yaitu Scorpion tapi bersama pesawat tempur Hawk penggunaannya dibatasi, nyaris hanya boleh untuk berdefile saja. Meriam gunung buatan tahun 1955 masih digunakan oleh satuan elite di jajaran TNI AD, padahal negara yang membuatnya saja sudah bubar yaitu Yugoslavia. Pentingnya riset dan pengembangan Kalau kita cermati, disamping keterbatasan anggaran, masalah yang lebih mendasar adalah rapuhnya fundamental sistem persenjataan TNI. Indonesia belum sungguh-sungguh membangun tradisi Alutsista yang memiliki akar yang kuat dan mandiri. Akibatnya, sistem persenjataanya menjadi sangat supervisial dan dependen. Memang sekali-sekali tampak perkasa, tapi menjadi rapuh begitu terkena embargo. Dalam konteks sistem persenjataan itu TNI lebih berposisi sebagai konsumen, dan secara teknologis sebagai pemakai bukan adopter. Apa yang terjadi saat ini bukan pertama kalinya. Pada akhir lima puluhan hingga awal enam puluhan angkatan bersenjata kita pernah perkasa dengan pinjaman persenjataan dari Uni Soviet dan negara Blok Timur yang lain. Tapi langsung runtuh seiring dengan renggangnya hubungan Indonesia dengan negara-negara blok Timur akibat peristiwa G-30S/PKI. Peralihan rezim pemerintahan yang baru berpaling ke blok Barat tidak merubah posisi Indonesia sebagai konsumen dan peminjam tekonologi persenjataan. Namun agaknya kita belum mau belajar dari pengalaman, hingga kejadian serupa terulang pada akhir tahun tujuh puluhan dan berlarut hingga sekarang ini. Kini saatnya belajar sungguh-sungguh dari pengalaman pahit itu. Perlu ada upaya-upaya kreatif untuk meletakkan dasar-dasar pembangunan sistem persenjataan, terutama mengubah dari tergantung menjadi lebih mandiri. Harus disadari, begitu suatu negara menjadi pemakai senjata produksi suatu negara lain, itu sama dengan ia telah menyerahkan separuh nasib kepada negara pembuat senjata itu. Persoalan ini menjadi sangat mendesak. Apalagi tampaknya masalah persenjataan belum akan menjadi fokus perhatian. Menteri Pertahanan, Yuwono Sudarsono, mengatakan bahwa dalam lima tahun ke depan, pemerintah Indonesia belum menfokuskan diri pada masalah Alutsista, melainkan pada upaya lebih meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme prajurit berpangkat rendah. Doktrin pertahanan mengalami perubahan yang dinamis, cepat dari waktu ke waktu. Perubahan itu tidak perlu menunggu lama-lama. Faktor ubahan yang paling diterminan adalah terpaan teknologi yang datang dari berbagai penjuru merasuk kedalam seni teater perang. Tapi kalau ditelusuri lebih jauh, bukan teknologi itu sendiri sebetulnya yang paling diterminan melainkan kegiatan riset dan pengembangan yang membuahkan teknologi itu. Jadi negara mana pun yang ingin membangun kekuatan militernya harus memulainya dari membangun tradisi riset dan pengembangan ilmu pengatahuan dan teknologi kemiliteran. Karena menyadari betapa pentingnya kegiatan ini, pemerintah Russia menyisihkan 33 persen anggaran pertahanannya justru untuk riset dan pengembangan. Pada tahun anggaran 2005 ini jumlahnya mencapai 187 miliar rubbel atau 6,7 miliar dolar AS. Di atas penghasilan ekspor senjata Rusia tahun 2004 yang mencapai 5,6-5,7 miliar dolar AS. (Jane's Defence Weekly, 12 Januari 2005) Untuk membangun tradisi riset dan pengembangan tersebut diperlukan keterlibatan perguruan tinggi. Ini merupakan bagian dari tri dharma perguruan tinggi. Kebijakan seperti itulah yang ditempuh oleh negara-negara yang memiliki tradisi industri persenjataannya sudah berkembang dengan baik, baik itu negara besar seperti Amerika Serikat, maupun negara kecil seperti Israel. Saling ketergantungan Dengan berakhirnya era perang dingin pada akhir tahun 1970-an, pola konflik dunia berubah dari bipolar menjadi multipolar. Hal ini telah juga menghilangkan dualisme sistem dan standar persenjataan internasional. Kerja sama antarnegara dalam penggunaan persenjataan semakin terbuka dan saling tergantung. Begitu juga pasar persenjataan. Dalam merespons perubahan itu ada tiga fenomena dalam masalah persenjataan pertama terjadi aliansi global yang dilakukan oleh perusahaan besar senjata, transfer teknologi oleh negara industri senjata maju kepada negara industri senjata pemula, dan melakukan swastanisasi industri senjata dalam negeri. Fenomena ini misalnya dilakukan oleh Lockeed Martin, Amerika Serikat, yang membangun aliansi dengan beberapa perusahaan di negara lain, antara lain Belanda, Turki, Italia, dan Australia, untuk memproduksi dan menggunakan pesawat tempur hasil produksinya, Join Strike Fighter (JSF). Kabarnya, tahun 2005-2010, Australia akan memperoleh pesawat generasi terakhir F-35 Stealth Fighter dari program JSF ini. Sementara itu empat negara Eropa (Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol) membentuk aliansi dalam Eurofighter yang hasil produksinya kini berupa pesawat tempur Typhoon. Kedua, program kombinasi antara merger antarperusahaan senjata domestik dan swastanisasi, untuk meningkatkan efisiensi dan memperkuat daya saing. Israel misalnya, perusahaan Elbit Systems, Tadiran Communications (TadCom) dan Elistra Electronics Industries melakukan merger. Elbits adalah industri militer swasta terbesar di Israel yang mengungguli perusahaan milik pemerintah Israel Aircraft Industries (IAI). Elbit bersama IAI kini sedang berancang-ancang untuk meningkatkan ekspansi di pasar global. Sementara itu pemerintah Israel akan segera menswastakan dua industri militernya yaitu di samping IAI juga Israel Military Industries (IMI). Ketiga, program transfer dan tukar teknologi, yang dimaksudkan untuk melindungi pasar dan mempererat adanya saling ketergantungan antara negara produsen dengan para pelanggan tradisionalnya. Hal ini dilakukan oleh Rusia terhadap Cina dan India dalam memproduksi pesawat tempur Sukhoi, yang di Indonesia pernah jadi biang keributan antara DPR dengan pemerintahan Megawati. Melalui Hindustan Aeronautics Limited (HAL), India sejak Desember tahun lalu sudah mulai memproduksi Su-30MKLs. Direncanakan selama 14 tahun akan terproduksi 140 pesawat jenis multirole fighters ini. Tahap pertama, 26 buah akan sepenuhnya menggunakan bahan dan teknologi Rusia, selanjutnya untuk yang 114 buah, tahap demi tahap kandungan domestiknya terus ditingkatkan (JDW, 8 Desember 2004). Agak mengenaskan memang, ketika India sibuk siap-siap memproduksi Sukhoi, Indonesia ribut gara-gara membeli Sukhoi. Ya, apa boleh buat. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Ever feel sad or cry for no reason at all? Depression. Narrated by Kate Hudson. http://us.click.yahoo.com/LLQ_sC/esnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

