Kamis, 12 Mei 2005
Mencermati Blok Cina-India
”Super People” Menantang ”Super
Power”
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0505/12/0801.htm

Oleh STEVANUS SUBAGIJO
DI sisi lain, blok ini juga memberikan alternatif baru
bagi negara-negara berkembang dan dunia ketiga yang
selama ini cuma memiliki dua pilihan menentang atau
mendukung blok AS atau nonblok, kini bisa melirik
kepada diversifikasi lewat blok baru ini. 

Meski blok baru ini belum menunjukkan langkah-langkah
nyatanya, sudah menjadi hal yang wajar bahwa
persekutuan baru antarnegara tidak mungkin dilakukan
tanpa upaya meningkatkan competitive advantage
keduanya. Dan setiap peningkatkan nilai tambah yang
diperoleh dari persekutuan antarnegara, sangat besar
kemungkinannya akan melemahkan nilai tambah negara
lain yang bukan bloknya. Dengan kata lain, apa yang
kurang dari suatu negara, yang selama ini dimanfaatkan
oleh negara lain dan menjadi keuntungan, tiba-tiba
tergantikan dan dirugikan oleh negara sekutu barunya
itu.

Memecah amerikanisasi

Blok baru Cina-India sebagaimana biasanya persekutuan
antarnegara diadakan, akan dimulai dari persekutuan
yang nilai konfliknya tidak terlalu besar seperti
kerja sama sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Barulah ke
depan, jika kerja sama itu berlangsung dengan cocok
dan saling menguntungkan, mulai dijajaki kerja sama
politik dan pertahanan. Buat negeri super power
seperti AS, memang tidak ada pilihan lain selain
mencita-citakan pax-Americana secara global. Mulai
dari keterlibatan AS dalam bantuan bencana alam sampai
penggulingan negara yang dicap teroris seperti Irak.
AS, kini pun getol dengan penyebaran demokrasi ala AS
kepada negara-negara yang tidak demokratis dengan
dalih membela HAM rakyat negara tersebut. 

Pascaperang dingin dan runtuhnya Uni Sovyet, AS jelas
tidak punya persoalan sharing of power yang dulu
diperankan oleh Uni Sovyet. Meski sharing of power
relatif tidak ada, AS tetap menghadapi "sabotase
kekuasaan" seperti dilakukan kelompok teroris anti-AS
dengan pengeboman sasaran-sasaran milik AS.
Bagaimanapun, hal itu memberikan imbangan kekuasaan AS
secara global sehingga tampaknya tidak ada pilihan
lain bagi AS selain mengegolkan cita-cita
pax-Americana. Jika tidak, AS hanya menjadi salah satu
super power dan jika itu terjadi tidak mungkin setiap
keinginan AS bisa terpenuhi karena posisi tawar negara
lain yang juga setara.

Mungkinkah blok baru Cina-India bakal mengarah pada
sharing of power atas AS? Nanti dulu, kita jangan
berpikir terlalu optimis mengingat imbangan untuk
sharing of power yang potensial dimainkan oleh
Cina-India hanya bisa terjadi selama keduanya bisa
memelihara stabilitas nasionalnya. Terlepas apakah
sistem kedua negara itu demokrasi India atau komunisme
Cina, harus bisa menjamin kestabilan pemerintahnya
sehingga pemerintah menjadi kuat dan seluruh potensi
bangsa bisa digerakkan. 

Kekhawatiran AS jelas bukan super power-nya Cina dan
India, meski Cina merupakan kekuatan ekonomi yang
menakjubkan dan bakal menjadi negara maju.
Pemerintahnya pun meski komunis, sangat antikorupsi
(setiap hari menghukum mati 10 koruptor, bandingkan di
negeri ini setiap hari malah "ditemukan" kasus korupsi
baru). Pemerintah Cina sangat sadar bahwa korupsi
adalah satu hal yang paling menggerogoti pemerintah
sekuat apa pun.

Betapa kuatnya pemerintahan Orde Baru waktu itu. Saat
itu, negara mana yang berani dengan Indonesia. AS
segan, Jepang ngiler melihat pasar Indonesia,
Australia terancam "serangan dari utara" dan Malaysia
cukup bermain turisme truly Asia. Namun, berkat
korupsi, Indonesia menjadi lemah. Malaysia pun bahkan
berani mengklaim truly Ambalat, Ambalat yang
sebenar-benarnya sebagai miliknya.

Cina dan India sangat maju di dunia tekstil. Di
samping itu, India kini adalah negeri yang telah
merealisasikan mimpinya sebagai kampiun bisnis
teknologi informasi dan pemasok pekerja IT
internasional. 

Namun, dari Cina-India yang paling potensial sebagai
tumpuan persekutuan keduanya ialah keduanya tergolong
negara dengan jumlah rakyat terbanyak di dunia dengan
mencapai kurang lebih 3 miliar orang ke depan. Blok
baru ini segera akan menyandang predikat negara super
people. Dengan konsekuensi pasar tenaga kerja, pasar
konsumen, potensi SDM yang sangat besar tidak mustahil
memberi imbangan kepada AS yang super power. Dulu
negara dengan jumlah rakyat yang besar tidak
diperhitungkan dalam percaturan global, karena negara
maju bisa menciptakan keunggulan ekonomi dan
persenjataan yang tidak dimiliki negara dengan rakyat
yang banyak. Kini dengan globalisasi, di mana alih
kemajuan mudah dilakukan, jumlah rakyat yang banyak
justru mempercepat kebangkitan massal sebuah negara.

Bagaimana Indonesia?

Bagaimana Indonesia menyikapi pusaran baru Cina-India?
Yang pertama yang perlu dilakukan Indonesia adalah
memikirkan sejauh mana Indonesia akan mengambil peran
dan posisi dalam percaturan global kini. Apakah
Indonesia akan menjadi negara aktif di tingkat
internasional atau negara yang "asyik dengan dirinya
sendiri" (seperti Cina pada periode isolasi/tertutup
dari kancah internasional). Sejauh blok baru
Cina-India tidak memberikan dampak apa-apa terhadap
Indonesia, Indonesia tidak perlu masuk dalam blok ini.
Namun dalam relasi global pasti selalu ada dampak dari
persekutuan negara baru terlebih negera super people
Cina-India. Dalam konteks ini Indonesia perlu membuka
akses dan kemungkinan dengannya, terutama lewat
momentum Konferensi Asia Afrika di Bandung. Jika tidak
terlalu menguntungkan bagi Indonesia, sebaiknya
Indonesia jangan menambah kesibukan internasionalnya,
karena persoalan dalam negeri pun masih sangat banyak
untuk dibenahi.

Kedua, perlunya revitalisasi kebijakan luar negeri
Indonesia yang bebas dan aktif. Apakah hal itu masih
relevan dengan melihat percaturan global yang dinamis?
Dengan memosisikan diri sebagai negara yang bebas
dalam arti tidak memihak siapa pun, Indonesia perlu
mempertajam lagi makna kebebasan seperti apa itu.
Kebebasan politik luar negeri ini tidak berarti
menjadi safety player. Terhadap negara-negara yang
potensial dalam memajukan Indonesia, tingkat hubungan
dengannya haruslah lebih intensif daripada hubungan
dengan negara yang biasa-biasa saja, sebagaimana
fatsun hubungan internasional mengharuskan. Menjadi
safety player memang membuat Indonesia bisa diterima
banyak negara, tetapi tidak bisa mengambil keuntungan
maksimal dari hubungan yang ada. 

Kurang apa hubungan Indonesia dengan Malaysia, negeri
serumpun dan bagian dari ASEAN itu, toh dalam konflik
kepentingan Indonesia terasa dipecundangi oleh
Malaysia lewat sengketa Sipadan-Ligitan dan kini
Ambalat. Hubungan yang baik tidak bisa dipercaya
sebagai baik-baik saja seperti hubungan personal,
dalam konteks politik antarnegara hubungan baik tetap
memainkan kemungkinan "dikerjai secara politik" tanpa
bisa membalas karena kecolongan. Kita tidak sadar
bahwa sekeras-kerasnya Malaysia terhadap Barat
terutama AS, Malaysia juga menjadi bagian dari
negara-negara persemakmuran Inggris termasuk
Australia, yang keduanya adalah konco baik AS.
Malaysia pasti memperoleh keuntungan dari
persemakmuran ini. Blok Cina-India dengan demikian
juga tidak perlu dikhawatirkan sebagai ancaman masa
depan, toh keduanya juga mempunyai titik konflik dan
tetap terbuka untuk saling "bermain politik".

Ketiga, perlu dipikirkan juga bahwa politik luar
negeri Indonesia yang aktif, sebaiknya bukan dalam
makna aktif untuk mengambil peran di dunia dan
masalah-masalah internasional secara membabi buta. Hal
ini baik selagi Indonesia juga aktif menyelesaikan
masalah-masalah domestiknya. Tampaknya yang terjadi
justru sebaliknya, Indonesia aktif di dunia
internasional, tetapi tertinggal untuk aktif
menyelesaikan masalahnya sendiri. Cina mengalami
masa-masa politik luar negeri yang tertutup. Namun
Cina tidak tidur tetapi "asyik dengan dirinya
sendiri". Artinya, Cina tidak tinggal diam, tapi
diam-diam membangun ekonomi, SDM dan tentu
pemerintahannya yang antikorupsi.

Bencana dan musibah terus terjadi di Indonesia,
kiranya hal ini menjadi titik balik untuk menjalankan
politik dalam negeri yang all out, (meski dirundung
pesimisme korupsi dan stagnasi parpol) mumpung
ketinggalannya tidak terlalu jauh. Di sisi lain,
menerapkan politik "emang gue pikirin" di kancah
internasional yang tidak memberikan nilai tambah
apa-apa. Dengan demikian, persoalan blok baru
Cina-India di satu sisi perlu dicermati Indonesia,
tetapi di sisi lain memacu kita berkaca untuk
membereskan masalah-masalah domestik terlebih dahulu
sebelum bicara di tataran internasional. Apalagi
menjadi bagian dari sebuah blok. Kita tidak mungkin
menjadi pembela HAM atau motor klausul antikorupsi
misalnya, kalau di dalam negeri sendiri kita
melanggarnya dengan tanpa merasa apa-apa.*** 

Penulis, peneliti pada Center for National Urgency
Studies Jakarta


Mario Gagho
Agra University
www.ppi-india.org
---------
A WINNER works harder than a loser and has more time. 
A LOSER is always "too busy" to do what is necessary.


                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Yahoo! Mail - Find what you need with new enhanced search. 
http://info.mail.yahoo.com/mail_250


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/OCfFmA/UOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke