http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0505/13/02.htm
Jumat, 13 Mei 2005


Bencana Alam, Polio, Malaria, Apa Lagi 


-- Namun melihat apa yang telah terjadi, musibah-musibah itu tampaknya tak bisa 
dilepaskan begitu saja dari kelemahan kita mengelola alam, memanajemen 
lingkungan, dan menjaga kesehatan diri.

TAK putus dirundung malang. Peribahasa itu menimpa Indonesia tahun-tahun 
belakangan ini, dan Jawa Barat khususnya. Hanya dalam tempo hitungan bulan 
saja, berbagai peristiwa massal penting menimpa warga Jawa Barat. Mula-mula, 
maaf kalau seperti mengulang-ulang, bencana tanah longsor di TPA Leuwigajah. 
Lalu disusul bencana alam lainnya sebelum tiba pada merebaknya wabah polio di 
Sukabumi. Belum lagi semua itu ditangani dengan tuntas, wabah malaria tiba-tiba 
mengancam. Kali ini, sebanyak 53 warga di Garut selatan dinyatakan positif 
terjangkit malaria. Tak heran kalau orang-orang tua menamai datang 
bertubi-tubinya semua musibah itu sebagai kembang-kembang kiamat.

Sebetulnya, di luar musibah-musibah dadakan itu, kita juga terselingi peristiwa 
penting peringatan Konferensi Asia Afrika. Dengan semua kejadian itu, tak aneh 
kalau kemudian muncul pertanyaan, masih adakah waktu bagi pemerintah kita untuk 
bekerja sesuai dengan rencana yang dicanangkan semula? Masih bisakah mereka 
mengonsentrasikan, baik pikiran maupun dananya, pada kegiatan lima tahunan yang 
telah diprogramkan? Pasalnya, yang telah terjadi itu di luar rencana, akan 
tetapi penanganannya harus dengan konsentrasi penuh. Masih bisakah birokrat 
kita menangani pekerjaan pokoknya, sementara yang di luar dugaan butuh 
perhatian intens? Kita tidak tahu, apakah karena semua itu maka pekerjaan rutin 
melayani publik jadi terabaikan?

Musibah sepertinya tak henti-hentinya datang. Melihat apa yang terjadi, malaria 
sepertinya tak akan jadi musibah terakhir kita meski kita mengharapkan yang 
sebaliknya. Tentu saja tak bisa dipastikan demikian. Namun melihat apa yang 
telah terjadi, musibah-musibah itu tampaknya tak bisa dilepaskan begitu saja 
dari kelemahan kita mengelola alam, memanajemen lingkungan, dan menjaga 
kesehatan diri. 

Berbagai musibah longsor umpamanya, terkait dengan kerusakan hutan dan lemahnya 
manajemen lingkungan. Polio terkait juga dengan kesadaran masyarakat akan 
kesehatan. Sementara berbagai kejadian malaria, juga tak bisa dilepaskan dari 
kerusakan lingkungan dan kesadaran masyarakat akan kebersihannya. Atas dasar 
itu, tak tertutup kemungkinan munculnya kasus-kasus lain yang sebetulnya 
berkaitan dengan kelemahan kita sendiri itu.

Menyimak penjelasan yang disampaikan petugas kesehatan, wabah malaria yang 
menimpa Garut disebabkan oleh plasmodium vivax, parasit yang dibawa nyamuk 
Anopheles aconitus dan Anopheles sundaicus. Jenis plasmodium ini biasanya tak 
menyebabkan kematian atau biasa disebut malaria tertiana. Gejalanya berupa 
demam yang dapat terjadi setiap dua hari sekali, biasanya muncul setelah dua 
minggu sejak terinfeksi.

Kasus malaria ini nyatanya tidak sekali ini terjadi. Tahun-tahun sebelumnya, 
peristiwa ini juga menyerang masyarakat di sepanjang pesisir pantai Garut 
selatan. Sebutlah di Kec. Caringin, Bungbulang, Mekarmukti, Pakenjeng, 
Pameungpeuk, dengan kantongnya di Kec. Cibalong.

Meski tampaknya merupakan kejadian rutin, kita tentu tak mengharapkan peristiwa 
itu berlanjut, bahkan menyebar ke tempat yang lebih luas. Oleh karenanya, 
penanganan atas kasus ini juga, seperti atas kasus lainnya, harus dilaksanakan 
dengan cermat dan tuntas. Sementara masyarakatnya, tentu harus meningkatkan 
kewaspadaan juga, termasuk di dalamnya dengan bersilaturahmi mengingatkan 
apabila sesuatu yang akan membahayakan orang banyak bisa terjadi.

Dengan datangnya musibah malaria ini, sekali lagi pemerintah harus menunjukkan 
sikap responsifnya. Namun bukan sikap responsif yang cenderung reaktif yang 
hanya muncul hanya karena kasus itu sudah terangkat ke permukaan oleh media 
massa. Melainkan sikap responsif yang bertanggung jawab mengingat dirinya 
adalah pengayom dari masyarakat, dengan atau tanpa ekspose media sama sekali. 
Berkaitan dengan itu, laporan asal bapak senang (ABS) dari daerah atau bawahan 
seperti pernah terjadi di masa lalu, sudah saatnya diakhiri. Ada yang jauh 
lebih penting daripada membuat atasan atau pusat senang yaitu membuat 
masyarakat hidup senang, sehat, dan sejahtera.***

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/OCfFmA/UOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke