http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/18/opini/1759216.htm
Sintaksis Keluarga sebagai Rasionalitas Korupsi Oleh Tulus Sudarto FAKTA mutakhir yang menimpa Mulyana W Kusumah memanen aneka tanggapan pro-kontra. Di satu sisi, ada pihak yang merasakan penangkapan itu sebagai standar obyektivitas kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi. Penangkapan itu tampak sedikit absurd mengingat selama ini sosok tersangka dipercaya publik. Bobot integritasnya terbukti. Di lain sisi, dan ini bisa diduga, amat mungkin ada oknum KPU yang terlibat (Kompas, 11/4). Logika ini didasarkan dua postulat, menyangkut integritas Mulyana dan konteks luas korupsi sendiri. Siapa pun pasti shock mendengar kabar penangkapan figur publik itu. Reputasi kredibilitasnya nyaris tak disangsikan. Sementara domain korupsi dalam konteks masyarakat bangsa, lebih menentukan. Terhadap berita penangkapan itu, diam-diam disetujui, ada blunder fatal yang dilakukan oknum sehingga ketahuan mengemplang uang negara. Penalaran simpel yang lama dipercaya dalam sistem birokrasi kita adalah "jangan pernah makan sendiri". Melibatkan sebanyak mungkin orang akan membuat tindakan korupsi steril dari penyelidikan dan kecurigaan siapa pun. DALAM buku Young Heroes The Indonesian Family in Politics (Cornell: 1997), Saya Sasaki Shiraishi menunjuk keluarga sebagai sintaksis masyarakat bangsa. Indonesianis asal Jepang itu membuktikan, ideologi keluarga dipakai sebagai dasar bangunan bangsa. Bangsa tak lain adalah sebuah keluarga besar. Penelusuran jejak ideologi keluarga ini bahkan ditemukan sampai Ki Hajar Dewantara mendirikan pendidikan Taman Siswa. Slogan bijak yang dipakai harus diabadikan, yaitu ing ngarso sung tuladha ing madya mangun karsa tut wuri handayani. Padahal ada misinterpretasi yang terjadi atas filosofi itu. Distorsi paling gemilang jelas dilakukan Orde Baru. Secara faktual, lingkaran kekuasaan begitu eksklusif. Mereka yang dekat kisaran kekuasaan, dengan sendirinya akan makmur dan kaya. Sistem kroni berkembang subur, identik dengan segala kemudahan akses apa pun. Pada gilirannya, fondasi relasi domestik memengaruhi sistem lebih besar, entah ekonomi, sosial, politik maupun budaya. Reproduksi atas unit sosial di masyarakat dilakukan secara sistemik dan intensif. Secara ringkas, sintaksis keluarga dalam masyarakat bangsa kira-kira memiliki adagium: untuk hidup di Indonesia, tidak boleh tidak harus mempunyai relasi. Sintaksis keluarga itulah yang secara sistemik dan eskalatif menyuburkan praktik korupsi. Ada banyak dalil pergaulan yang tercipta dari sintaksis itu. Pertama, sesama anggota keluarga dilarang saling mendahului. Kalau hendak korupsi, jangan saling berebut. Tiap anggota pasti mendapat bagiannya sendiri. Logika ini mendukung fakta adanya pengotak-kotakan atas berbagai wilayah publik. Dengannya Indonesia dikenal sebagai republik kapling. Kedua, jangan pernah bertindak sendiri. Tiap orang di lembaga manapun pasti mencium adanya korupsi. Bahkan sudah mencolok mata. Namun, sejauh pihak lain dilibatkan, korupsi jalan terus. Amat sulit menyeret rombongan oknum sekaligus. Mereka yang protes tak lain adalah yang tidak mendapat bagian dari korupsi itu. Amat mungkin kasus Mulyana masuk kategori ini. Ketiga, korupsi adalah ritual keluarga. Setiap keluarga disatukan dalam perayaan bancakan uang negara. Masing-masing pihak merasa sebagai satu komunitas karena mendapat bagian yang seolah sudah menjadi haknya. Toh negara tak lain keluarga sendiri. Negara tidak mewakili simbol apa pun kecuali sesuatu yang harus dibagi bersama. Keempat, korupsi telah menjadi semacam tindakan profesional yang terang benderang. Selain menyangkut profesi dan kedudukan di suatu lembaga, korupsi menuntut keahlian tertentu. Seorang koruptor amatir selalu mudah diketahui. Kelima, tidak ada sanksi hukum untuk tindakan korupsi. Satu-satunya alasan adalah koruptor itu merupakan anggota keluarga sendiri. Bagaimana mungkin akan memenjarakan keluarga sendiri, sementara pihak lain juga sama sekali tidak bersih dari dosa struktural itu? Fakta ini menegaskan melempemnya pendekatan hukum (law enforcement) terhadap fenomena korupsi. KONTEKS besar itulah yang menjadikan korupsi sulit diberantas. Setiap orang tidak lagi terusik nuraninya saat melihat praktik korupsi. Secara filosofis, masyarakat sudah kehilangan rasa berontak (indignation) terhadap tindakan imoral. Secara jeli Kwik Kian Gie mengungkap kondisi jiwa dan pikiran masyarakat bangsa yang terkorup secara tuntas (Kompas, 17/12/04). Agenda ideal untuk pemberantasan korupsi pun sering hanya sekadar seremonial belaka. Sebatas upacara yang diidentikkan dengan aplikasi konkret. Kritik terhadap kepemimpinan nasional menunjuk hal itu. Hanya ikan teri yang ditangkap. Sementara koruptor kelas kakap masih melenggang santai. Lebih dari itu, ada jaring-jaring relasi multidimensional yang telah mengendap sebagai bangunan keluarga. Shiraishi sendiri menawarkan alternatif radikal, yaitu pembongkaran dasar bangunan sampai ke akar-akarnya. Unit keluarga dipandang terlalu lemah sebagai konstruksi dasar masyarakat bangsa. Dalam arti tertentu, usulan itu tampak naif. Sosialitas merupakan sui generis di masyarakat. Dalam cara tutur Durkheimian, kedekatan relasi antarindividu amat menopang kohesivitas sosial. Variabel keluarga dipandang sebagai menjadi ikon substansial untuk mendukung rasa komunitas itu (sense of community). Maka matriks itu tidak bisa dirobohkan begitu saja karena menyangkut tradisi dan perwatakan budaya yang sui generis-nya demikian. Sementara spekulasi untuk mendatangkan orang luar, semacam penjajah asing, guna menyumbang masa depan bangsa juga amat tidak realistis. Sejarah kolonial masa lampau diakui telah memberi keuntungan tersendiri dalam pembentukan karakter (character building) bangsa. Namun, mengharap situasi keterjajahan itu lagi hanya semakin membuat bangsa kita kembali pada masa kanak-kanak yang dependen. Ketika penjajah pergi, otomatis stimulan habis. Disorientasi pasti terjadi. Satu alternatif kemungkinan yang paling rasional adalah sikap obyektivitas dalam melihat permasalahan korupsi. Siapa pun pelaku korupsi harus dilihat sebagai seorang kriminal negara. Problematik dari posisi ini terletak pada asumsi filosofis, bangsa Indonesia telanjur dikenal sebagai bangsa yang subyektif, mendasari tiap pandangan hidup dari perspektif pribadi. Dengan demikian, memberantas korupsi berarti mendekonstruksi falsafah hidup. Mempertimbangkan urgensi bangsa secara keseluruhan, andaikan taruhan itu yang harus dibayar, tidak perlu skrupel memenjarakan para pelaku kriminal. Tiap anggota keluarga tidak perlu dibela tanpa reserve. Anggota keluarga yang melakukan kriminal tetap berurusan dengan konteks sosial yaitu sanksi legal. Tanpa obyektivitas itu mustahil ada titik perkembangan yang signifikan dalam pemberantasan korupsi. Berbagai analisis dan teori panjang lebar lagi akurat berkaitan dengan korupsi senantiasa mengerucut pada pandangan hidup (worldview). Mungkin pemberantasan korupsi harus dengan jerih payah dan keras. Bahkan mungkin keras kepala, mengimbangi para pelaku korupsi yang sedemikian berkepala batu. Tulus Sudarto Rohaniwan; Mahasiswa Magister Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Ever feel sad or cry for no reason at all? Depression. Narrated by Kate Hudson. http://us.click.yahoo.com/LLQ_sC/esnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

